You Are Special

You Are Special
Welcome Mike



Tidak terasa kandungan Mika sudah memasuki minggu ke 35. Hanya menunggu beberapa hari lagi ia dan Felix akan bertemu dengan anak ke tiga mereka. Felix begitu antusias menyambut kelahiran bayi ketiganya yang diyakini nya berjenis kelamin pria.


"Kenapa? tidak bisa tidur lagi?" tanya Felix lembut. Mika menoleh dan mendapati wajah tersenyum Felix. Mika memang mengalami susah tidur setelah perutnya membesar. Dan itu hal yang normal ibu hamil rasakan. Posisi apa pun tersa salah. Untung saja Felix selalu terjaga setiap kali Mika mengalami kesulitan untuk tidur.


Felix duduk dan segera meletakkan kaki Mika di pangkuannya. Felix memijat-mijat kaki Mika yang memang sudah membengkak.


"I love you" ucap Mika menatap lembut wajah lelah suaminya itu. Lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya pertanda Felix tidak cukup tidur.


Felix tersenyum. Felix tahu. Felix tahu bagaimana perasaan Mika terhadapnya karena ia juga merasakannya.


"Kau ingin makan sesuatu?" tanya Felix kemudian.


MIka mengangguk


"Ya, aku sangat lapar. Ingin sekali aku makan masakan jepang, tapi jam segini mungkin restoran jepang tidak ada lagi yang buka" ujar Mika seraya melirik jam yang menunjukkan jam 3 dini hari.


"Istri dan bayiku menginginkan sesuatu tentu saja aku harus memenuhinya. Aku tahu restoran jepang yang buka 24 jam sayang. Kau tunggu sebentar aku akan membelikannya untukmu" Felix meletakkan kaki Mika kembali ke atas tempat tidur dan beranjak dari tempatnya. Mika menahan tangan nya. Felix menoleh menatap Mika


"Aku tidak ingin kau pergi" rengek Mika.


Felix tersenyum lalu mengambil ponselnya menghubungi seseorang di sana.


"Ada apa?" hardik Roland dengan kesal nya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mika menginginkan makanan Jepang Roland" Felix mengabaikan kekesalan Roland.


"Kau bisa membelikannya Felix ke restoran yang biasa kita datangi. Itu buka 24 jam" jawab Roland malas.


"Masalahnya istriku tidak ingin kutinggalkan Roland dan tidak mungkin bagiku untuk membawanya ikut. Cuacanya sangat dingin itu tidak baik buatnya dan bayiku" Felix memberikan alasan.


"Kau sungguh menyusahkan Felix"


"Dan kau sungguh pengertian kawan"


🐣🐣🐣🐣


"Aku harap anakmu mewarisi ketampananku, Felix" rungut Roland begitu ia masuk dari pintu yang dibukakan oleh Felix. Raymond yang ikut bersama Roland tergelak melihat wajah kesal Felix. Ia memang menghubungi ke dua sahabatnya itu untuk berjaga-jaga salah satu diantaranya tidur kembali dan mengacuhkan panggilannya. Tapi tidak disangka kedua sahahabatnya itu sangat peduli padanya atau lebih tepatnya sangat menyayangi istrinya ,Mika.


Mika berjalan menghampiri ketiga pria tampan dan mapan itu. Ia melihat wajah kesal Roland dan Raymond yang masih menahan kantuk.


"Hai kak..hai Roland" Sapa Mika begitu berdiri di hadapan ketiganya.


"Maaf sudah merepotkan kalian lagi dan lagi dan terima kasih" ucap Mika penuh sesal.


"Sayang, kau tidak perlu sungkan begitu. Roland dan Ray tidak keberatan sama sekali. Karena ini adalah keinginan keponakan mereka. Tentu saja mereka tidak ingin keponakannya ileran terus jika mereka tidak memenuhi keinginanmu dan bayi kita. Bukan begitu kawan?" Felix menatap Roland dan Ray bergantian. Roland dan Ray mendengus dan berdecak kesal.


"Ambillah" Ray menyerahkan kantongan yang dibawanya.


"Awww..." jerit Mika yang membuat ke tiga pria itu kaget.


"Ada apa? Ada apa?" tanya Felix panik.


"Sepertinya bayimu bisa merusak plasentaku. Dia menendang perutku sama brutalnya dengan dirimu Felix" Mika memegangi perut nya yang terasa keram.


"Oh Shit..sepertinya air ketubanmu pecah Mika" teriak Roland yang pertama kali menyadari cairan yang membasahi pakaian yang dikenakan Mika.


"Oh my God..oh my God..apa yang harus kita lakukan" Felix panik dan menjambak rambutnya. Ray dan Roland menatap Felix dan Mika secara bergantian dan kepanikan terlihat jelas di wajah keduanya.


"Kau jangan panik sayang, tahan ya sayang,


bagaimana ini, kunci mobil mana kunci mobil" Felix semakin terlihat panik.


"Kita bisa memakai mobil kak Raymond, Felix" jawab Mika tenang.


"Oh benar. Raymond kita harus ke rumah sakit sekarang" Felix menatap Raymond lalu kembali menatap istrinya.


"Baiklah ayo kita segera ke rumah sakit dan Felix sepertinya kau yang seharusnya tidak panik. Dari tadi Mika terlihat tenang-tenang saja" ucap Raymond.


Felix menoleh menatap istrinya


"Kenapa kau tidak panik?" tanyanya dengan bodohnya seraya membukakan pintu mobi Raymond.


"Kau memintaku agar tidak panik" jawab Mika polos lalu masuk ke dalam mobil.


Raymond berusaha setenang mungkin mengendarai mobil dari mansion milik Felix menuju rumah sakit yang berjarak tidak lebih dari lima menit perjalanan. Ini kedua kalinya Raymond membawa Mika dalam kondisi seperti ini. Raymond melihat Felix dari kaca mobilnya. Felix terlihat panik tapi sangat telaten menenangkan Mika. Raymond tersenyum. Felix memang sangat mencintai Mika. Raymond memang tidak salah mengambil keputusan. Felix memang pantas buat Mika.


"Bertahanlah sayang" Felix menggenggam erat tangan Mika.


"Felix, Daren dan Felicia ingin sekali menyambut kehadiran adik bayi mereka" Mika mengelus perut nya yang masih keram dan terasa nyeri.


"Roland akan membawa mereka sayang"


Begitu sampai di rumah sakit, Felix dan Raymond segera membopong Mika. Mereka segera membawa Mika ke ruang pemeriksaan.


Tidak berapa lama Roland dan ke dua anak mereka muncul.


"Dad, bagaimana keadaan mommy dan adikku?" tanya Darren begitu berdiri di hadapan Felix yang terlihat kacau.


"Tenanglah dad, mommy dan adik bayiku pasti baik-baik saja" Felicia memberikan semangat pada Felix.


Felix beranjak dari kursinya. Mondar-mandir di hadapan Raymond, Roland dan ke dua anaknya.


"Berhentilah mondar-mondir seperti setrikaan di hadapan kami dad, kau membuat kami semakin khawatir" Darren mendelik kesal.


"Kenapa dokternya lama sekali di dalam sana" gumam Felix mengabaikan ucapan putranya Darren


"C'mon Dad, ini bukan pertama kalinya kau melihat mommy melahirkan" ujar Darren lagi. Melihat daddy nya yang tidak bisa diam dengan wajah panik itu membuat dirinya dan Feli juga merasa ketakutan.


"Yang di katakan Darren benar dude, duduklah dan tenangkan dirimu, jangan membuat kedua anakmu merasa takut melihat kepanikanmu" Roland mendekati Felix. Felix menatap kedua anak nya dan terlihat wajah khawatir di sana. Felix menghela nafas lalu mendekat ke arah ke dua anaknya lalu mengusap kepala keduanya.


"Tenanglah, mommy pasti baik-baik saja" ucapnya lembut yang dianggukki oleh ke dua anaknya.


"Suami dari Mrs.McKenzi?" panggil seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan. Felix berdiri.


"Istri anda ingin anda menemaninya" ucap nya seraya masuk kembali ke ruangan yang di ikuti oleh Felix.


Felix melihat Mika yang terbaring lemas dan pucat di atas ranjang. Mika meringis kesakitan tapi masih mencoba tersenyum begitu melihat suami nya Felix.


"Heii" sapa Felix begitu berdiri di samping Mika. Felix menggenggam tangan Mika lalu mencium keningnya.


"Sayang, kamu pasti bisa. Kau dan bayi kita pasti kuat" bisiknya di telinga Mika.


Mika hanya mengangguk seraya menahan sakit yang luar biasa. Air matanya mengalir begitu saja. Karena menunggu proses pembukaan demi pembukaan sangatlah menyakitkan.


"Sayang bertahanlah, sebentar lagi kita akan bertemu dengan dia. Sayang aku janji ini yang terakhir. Aku tidak akan membuatmu merasakan sakit lagi. Sayang, jika saja aku bisa mengambil rasa sakit itu aku bersedia menanggungnya. Seandainya saja aku bisa, aku ingin mengurangi rasa sakit mu sedikit saja sayang" Felix menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia tidak tahan melihat wajah pucat Mika yang menahan kesakitan luar biasa.


Tiba-tiba Mika meringis bertepatan dengan Dokter yang memberi aba-aba sudah melihat kepala bayinya. Mika mulai mengambil nafas dan mulai mendorong anaknya keluar seperti yang di perintahkan oleh dokter. Jantung Felix berdebar tidak karuan. Wajahnya memucat melebihi wajah Mika.


Setelah dorongan demi dorongan yang Mika lakukan, suara tangisan bayi pun terdengar. Senyum lebar dan perasaan lega terlihat di wajah Felix. Felix mencium kening istrinya. Air mata bahagia mengalir di wajahnya


"Terima kasih sayang..terima kasih..aku bangga padamu" ucap Felix berulang kali.


"Kau memang yang terhebat sayang" Felix kembali mencium kening istrinya.


"Selamat Mr dan Mrs. McKenzi atas kelahiran putra kalian" Dokter itu menyerahkan bayi mungil mereka ke pangkuan Mika.


"Hi Mike, i'm mommy" ucap Mika penuh haru.


T.B.C