You Are Special

You Are Special
Mantan



Author Pov


Felix dan Raymond sedang duduk diruang keluarga rumah Mika. Setelah Mika membuat kekacauan di klub yang membuat semua orang tercengang dan akhirnya pingsan karena mabuk, Felix dan Raymond mengantar Mika ke kediamannya. Dan mereka memang perlu membicarakan sesuatu hal sesama pria dewasa yang mencintai satu wanita.


"Kau tadi mendengar apa yang dikatakan Mika?" Felix memulai pembicaraan.


Raymond mengangguk.


"Aku ingin sekali membunuhmu" Raymond menjawab datar.


"Jika kau membunuhku Mika akan sangat membencimu" balas Felix enteng.


Raymond melebarkan matanya mendengar ucapan Felix yang terlalu percaya diri itu.


"Wah kau percaya diri sekali kawan. Hanya karena Mika menyatakan perasaannya padamu dalam keadaan mabuk level kepercayaanmu sudah meningkat saja" ejek Raymond.


Felix mengangkat bahunya acuh melihat tatapan mengejek Raymond pada nya. Lalu kemudian mereka tertawa bersama.


"Dan kau tahu aku tidak ingin Mika membenciku" ucapnya jujur.


"Ya, aku tahu dan maafkan aku" ucap Felix tulus dan jujur.


Raymond mengangguk.


"Aku sangat mencintainya tapi aku bukanlah pria bodoh dan egois yang memaksa wanita untuk tetap bertahan di sampingku. Aku tidak ingin Mika menikah denganku hanya karena merasa tidak adil padaku. Kau adalah sahabatku dan aku percaya padamu" ucap Raymond tulus dan jujur..


Felix sangat salut terhadap pengndalian diri yang dimiliki sahabatnya ini. Felix tahu Raymond pasti sakit hati dan kecewa padanya. Tapi Raymond masih saja terlihat tenang dan bijak.


"Apa kau tidak marah padaku?" tanya Felix penasaran melihat sikap tenang yang diperlihatkan sahabatnya ini.


"Tentu saja aku marah, bukan kah tadi aku mengatakan aku sangat ingin membunuhmu tapi dibenci oleh Mika adalah hal terakhir yang ku inginkan" ucap Raymond tegas.


"Percayalah, aku juga tidak mengingankan ini terjadi, aku benar-benar minta maaf padamu" ucap Felix penuh sesal.


"Oh..berhentilah meminta maaf kepadaku. Jika hati sudah mengarahkan tidak ada yang bisa mencegah nya. Dan itu bukan salahmu" Raymond beranjak dari tempatnya.


"Aku yakin, besok mantan tunanganku itu akan datang menemuiku dan meminta maaf dengan manjanya. Aku harap kau tidak cemburu" Raymond terkekeh mendengar diri nya menyebut Mika dengan sebutan mantan tunangan.


Ya, semua pasti baik-baik saja Raymond, yang kau lakukan sudah benar , ucap Raymond dalam hatinya.


"Tentu saja aku cemburu, dia bersikap manja dan sangat lembut di hadapanmu dan percayalah aku sangat iri padamu."


"Tapi aku lebih iri denganmu, kau mampu membuatnya jatuh cinta hal yang tidak bisaku lakukan selama menjadi tunangannya" canda Raymond lalu tersenyum miris menyadari kenyataan Mika memang tidak pernah mengatakan cinta kepadanya selama ini.


Felix menatap Raymond dengan tatapan menyesal dan bersalah.


"Berhentilah menatapku seperti itu dude, apa aku terlihat menyedihkan?" Raymond tertawa tapi Felix hanya diam dan terus menatap lurus kearahnya.


"Aku baik-baik saja. Percayalah dan jangan lupa kau jelaskan masalah Darren padanya, Mika mungkin mengira Darren sungguh anakmu dan Felix aku tidak akan segan-segan padamu jika kau berani menyakitinya" Raymond menepuk bahu Felix lalu pergi meninggalkannya.


Felix menghela nafas berat begitu Raymond pergi meninggalkannya. Felix berjalan menaiki tangga menuju kamar wanita_nya.


"Oh my God, kepala ku rasanya mau pecah" Mika meringis kesakitan.


"Kau meneguk dua gelas minuman sekaligus jadi wajar kepalamu terasa mau pecah mengingat itu pertama kalinya kau meminum minuman beralkhol."


"Apa yang kau lakukan di sini?" Mika menyipitkan matanya begitu melihat Felix yang berdiri di depan pintu kamarnya sambil memegang nampan berisi makanan.


"Terima kasih Felix harusnya kau mengatakan itu mengingat kau sudah memuntahkan semua isi perutmu ke bajuku. Dan dengan murah hati aku mengantarmu pulang dan sekarang bahkan aku membuatkanmu bubur dan membawa obat untuk meredakan mabukmu" Felix meletakkan nampan di hadapan Mika.


"Terima kasih dan maafkan aku soal muntahan itu"


"Makanlah" Felix tersenyum hangat lalu menyuapkan bubur ke dalam mulut Mika.


"Kau mengatakan kau mencintaiku" Felix memasukkan suapan kedua kedalam mulut Mika.


Mika mendelik kesal.


"Kau fikir aku akan percaya"


"Kau bisa menanyakan kepada semua orang yang ada di sana" jawab Felix tenang.


"Kau tahu sayang, aku sangat bahagia waktu kau menyatakan perasaanmu padaku. Ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan" Felix tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.


"Tunggu,..apa kak Raymond juga ada di sana?" Mika menyela perkataan Felix.


Felix mengangguk.


"Ya" jawab nya singkat. Mika segera beranjak dari tempatnya. Tiba-tiba Mika terhuyung dan Felix segera menangkapnya.


"Berhati-hatilah, kau masih pusing. Memangnya kau mau kemana hmm...?" Felix menatap Mika lembut.


"Aku mau menemui kak Raymond, dia pasti kecewa denganku. Aku selalu menyakitinya" Mika meneteskan air matanya menahan sakit di kepalanya ditambah membayangkan kekecewaan Raymond padanya.


"Tenanglah,.."Felix memeluk Mika menenangkan. Mika mendorong tubuh Felix.


"Bagaimana aku bisa tenang, kak Ray pasti sakit hati mendengar aku mengatakan cinta kepada pria lain yang tak lain adalah sahabat nya sendiri" teriak Mika.


"Raymond pasti akan mengerti" Ucap Felix lembut.


"Mengerti bagaimana, mengerti kalau tunangannya sungguh mengkhianatinya. Oh Tuhan wanita macam apa aku ini" bentak Mika lagi. Mika tidak mengerti kenapa dia malah melampiaskan kemarahannya pada Felix atas kebodohan yang dibuatnya sendiri.


"Dia pasti mengerti kalau kita saling mencintai."


"Apa maksudmu Felix, akan banyak orang yang terluka, mommy dan daddy akan kecewa kepadaku. Aunty dan uncle Josh juga akan terluka mengetahui aku menyakiti dan mengkhianati anaknya. Ashley juga pasti akan sangat terluka. Lalu Darren Felix, dia akan bingung kenapa mommy dan daddynya tidak bersama. Kenapa daddy bersama wanita lain. Lalu bagaimana kau akan menjelaskan kepada anak kecil itu?"


"Darren pasti akan mengerti..."


"Dari tadi kau asyik mengatakan mereka akan mengerti. Kau tidak boleh egois Felix, kau hanya memikirkan kebahagiaanmu dan tidak memikirkan perasaan orang lain" bentak Mika.


"Kau tahu Mika kau wanita yang sulit dimengerti. Katakan padaku apa yang harus ku lakukan. Apa aku harus mengorbankan perasaanku dan kebahagiaanku hanya untuk membahagiakan orang lain. Percaya lah Mika aku hanya manusia biasa dan aku tidak sebaik itu."


Felix memegang bahu Mika dan menatapnya lekat


"Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Itu kenyataan nya mereka pasti akan mengerti dan menerimanya. Percayalah padaku semua pasti baik-baik saja. Tidak bisakah kau mempermudah semuanya"


"Tidak!" Mika mendorong Felix


"Kau sungguh egois, kau benar-benar sudah gila. Kau tidak waras Felix, aku harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan akal sehatmu."


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Felix tajam emosinya mulai terpancing melihat tingkah Mika yang meledak-ledak.


Sejak kapan wanita ini tidak bisa mengontrol emosinya? tanya Felix dalam hatinya.


"Aku akan mempercepat pernikahanku dengan kak Raymond, dengan begitu kau akan kembali waras" sengit Mika lalu pergi meninggalkan Felix yang tersentak mendengar apa yang baru saja dikatakan Mika.


Felix segera tersadar begitu Mika membanting pintu dengan sengaja.


"Oh ada apa dengan emosi wanita itu"


"Berhati-hatilah, kau masih mabuk" teriak Felix.


"Dan pergilah dari rumahku sebelum aku kembali" jawab Mika dengan berteriak juga.


T.B.C