You Are Special

You Are Special
Tiga Puluh Satu



Mikayla PoV


"Sebelum kita kembali ke kantor kita makan dulu" ucap Felix membuka pembicaraan. Aku hanya menganguk.


"Berapa lama mommymu akan pergi?" tanya Felix lagi.


"Cukup lama, enam bulan mungkin. Begitu aku wisuda mommy dan daddy pasti pulang."


"Kau bisa mengunjungi mommy jika kau merindukan mommy mu. Percayalah mommy pasti akan senang dan kau tahu mommy sangat merindukanmu" ucap Felix tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.


"Baiklah akhir pekan ini aku akan mengunjunginya" janjiku.


"Benarkah" tanya Felix semangat.


"Ya" jawabku singkat seraya menganggukkan kepala.


"Kau tidak berkencan dengan Ray?"


"Oh, akhir pekan ini kak Ray pergi keluar kota memantau salah satu proyeknya" jawabku.


Felix menganggukkan kepalanya.


"Kau tidak di ajak ikut bersamanya."


"Tentu saja dia mengajakku, tapi aku menolaknya."


"Kenapa?"


"Dia tidak akan tega mendiamkanku berlama-lama yang berujung pekerjaannya tidak akan selesai hanya gara-gara mengurusiku" jelasku.


"Pernah sekali aku ikut dengannya memantau proyeknya bersama rekan kerjanya. Itu sangat membosankan dan aku memutuskan untuk jalan-jalan selama kak Ray membicarakan bisnis dengan rekannya. Tapi kau tahu apa yang terjadi, sekali lima menit kak Ray meneleponku hanya untuk menanyakan apa aku haus dan lapar. Apa aku di ganggu seseorang dan pertanyaan aneh lainnya. Bahkan tidak segan-segan dia meninggalkan rekannya hanya untuk memastikan apa aku baik-baik saja, dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya rekan bisnisnya memutuskan kontrak kerja sama mereka karena menganggap kak Raymond tidak profesional dan akhirnya Uncle Josh memarahi kak Raymond habis-habisan karena menyebabkan kerugian besar terhadap perusahaan."


Felix tertawa lepas mendengar ceritaku.


"Aku tidak menyangka Ray memiliki sisi seperti itu. Dia pasti sangat mencintaimu"


"Ya. aku juga sangat menyayanginya."


"Apa kau mencintainya" tanya Felix menatap ku sekilas.


"Aku tidak ingin kehilangannya" jawabku asal.


"Yang aku tanya apa kau mencintainya Mika?" tanya Felix penuh tekanan.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan semua orang, kau, Roland, Keyra bahkan Nayla juga menanyakan hal yang sama. Dia tunanganku dan aku sangat menyayanginya. Aku tidak mau kehilangannya."


"Apa artinya kau masih ragu dengan perasaanmu."


Aku melotot kearah Felix begitu mendengar ucapannya.


"Aku hanya tidak tahu di mana perbedaan mencintai dan menyayangi" jawabku jujur.


"Berarti aku masih punya kesempatan untuk merebut hatimu" Felix menghentikan mobilnya di depan salah satu restauran jepang.


"Kau juga mengatakan seperti itu tadi di hadapan ibuku" jawabku sebelum turun dari mobilnya.


"Jangan membuatku menganggap kau sudah tertarik kepadaku. Ingat aku ini tunangan sahabatmu" ucapku telak.


Felix terkekeh


Aku dan Felix masuk kedalam restaurant itu dan Felix memesan privat room buat kami.


Apa-apaan dia, kami cuma makan siang biasa dan hanya berdua kenapa juga harus memesan privat room segala. Aku harus waspada karena pria yang bersamaku ini tingkat kemesuman nya sangat tinggi


"Aku memang tertarik padamu" ucap Felix begitu pesanan kami datang.


"Aku mencintaimu" Felix menatapku lekat.


Oh Tuhan perasan apa ini. Aku merasakan puluhan kupu-kupu beterbangan dari dalam perutku. Kak Raymond sering mengatakan nya tapi kenapa rasanya jadi berbeda jika Felix yang mengatakan nya. Mikayla kendalikan dirimu.


Aku mengangkat kedua alisku mendengar pernyataan tiba-tiba dari pria yang ada di hadapanku ini. Sebisa mungkin aku menyembunyikan rasa gugupku. Belum lagi jantungku yang berdentum tak beraturan.


Kendalikan akal sehat mu Mikayla.


"Aku tunangan sahabatmu" ucapku setenang mungkin.


"Dia akan menghajarmu jika saja dia mendengar kau menyatakan cinta kepada tunangannya."


"Aku tahu, aku mengatakannya bukan untuk membebanimu atau merebutmu dari Ray. Aku hanya ingin kau tahu saja."


Aku mengangguk


"Baiklah kalau begitu aku hargai perasaan mutapi maaf Felix aku tidak mungkin bisa membalasnya, aku adalah tipe wanita setia" ucapku menatap lekat wajah nya yang terlihat kecewa.


"bisakah kita melanjutkan makan siang ini dengan tenang tanpa ada rasa canggung diantara kita" lanjutku lagi.


Felix terkekeh mendengar ucapanku.


"Baiklah, kau memang wanita yang sulit ditebak. Aku mengira kau akan histeris begitu mendengar pernyataanku. Tapi ternyata kau anteng-anteng saja bahkan kau memintaku agar tidak canggung."


Aku hanya tersenyum karena sesungguh dan sebenarnya jantungku masih berdetak kencang di dalam sana dan kupu-kupu itu masih saja menggelitikiku.


Uhuk.Uhuk.


Aku tersedak. Kali ini bukan hanya puluhan kupu-kupu yang beterbangan tapi ada ratusan bahkan ribuan kupu-kupu di dalam sana.


"Aku memintamu agar kita makan dengan tenang Felix, kau sudah membayar mahal untuk makanan ini jadi biarkan aku menikmati nya. Dan jangan buat aku terkejut dengan kata-kata manismu itu" ucapku setengah kesal.


Felix tertawa lepas mendengar perkataanku. Tiba-tiba dia menarik ku ke dalam pelukannya.


"Terimakasih sudah hadir di hidupku" Felix mengecup puncak kepalaku.


Reaksi normal yang seharusnya aku lakukan adalah mendorong nya mengingat aku sudah memiliki tunangan, fikiranku berkata demikian tapi respon tubuh ku berlawanan dengan apa yang ku fikirkan. Dengan manis nya tangan nakal ku ini membalas pelukan pria mesum ini.


Makan siang kami akhir nya dihabiskan hanya dengan kami berpelukan.


 


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


 


"Apa Ray akan mengizinkan mu pergi bersamaku mengunjungi ibuku" tanya Felix begitu kami sampai di parkiran kantor.


"Tentu saja."


"Dia tidak melarang mu pergi dengan pria lain" tanyanya lagi.


"Kau sahabatnya" ucapku enteng.


"Tapi aku juga pria, bahkan aku menyukaimu" jawab Felix tak kalah enteng.


Aku mendelik kesal


"Baiklah kalau begitu, kita batalkan saja berkunjung ke rumah ibumu."


"Oh ayolah, jangan seperti itu. Kau tidak bisa menarik janji yang sudah kau ucapkan" protes Felix.


Aku hanya mengangkat bahu ku acuh.


Ponselku berdering dan aku segera mengangkat nya setelah melihat nama kak Raymond tertera di layar.


"Hallo kak."


"Kau di mana sayang?" tanya kak Raymond di seberang sana.


"Di parkiran kantor kak"


"Apa Felix bersama mu, kakak hubungi ponsel nya tidak aktif."


"Ya, dia bersamaku"


"Katakan padanya, kakak dan Roland ada di ruangannya."


"Apa ada masalah"


"Tidak sayang, kakak, Roland dan Felix ada kerjasama bisnis dan kami perlu membicarakannya."


"Oh..baiklah kami akan segera ke sana."


"Kau pulang saja, Keyra sudah datang menjemput mu dan Nayla, kakak akan menyusulmu nannti."


"Tapi jam kantor masih ada tiga jam lagi kak."


"Tidak apa-apa, biar kakak yang bicara pada Felix, sepertinya Keyra lagi ada masalah."


"Benarkah? kalau begitu baiklah" jawabku sebelum memutuskan panggilannya.


"Ray.." tanya Felix memastikan


"Ya. Dia menelponmu katanya ponselmu tidak aktif."


"Aku lupa mengisi dayanya tadi" jawabnya.


"Kak Raymond dan Roland ada di ruanganmu. Kata nya kalian ada kerjasama bisnis yang harus dibicarakan."


Felix mengernyit bingung.


"Kau tidak mengetahuinya. Atau kak Raymond sedang membohongiku."


"Oh..tidak.tidak.tidak. Aku dan Ray memang ada kerjasama. Lalu dia mengatakan apa lagi?" tanya Felix.


"Dia menyuruhku pulang" jawabku.


"Kalau begitu pulang lah aku akan menyuruh Nayla pulang bersamamu" ucapnya.


"Tidak perlu, Keyra dan Nayla sudah menungguku di kantin" jawabku.


"Bagus kalau begitu, aku akan mengantamu ke kantin" ucapnya seraya menarik tanganku.


T.B.C