
Author POV
Setelah dua hari istirahat di rumah akhirnya Mika memutuskan untuk masuk ke kantor hari ini. Sebenarnya Mika tidak membutuhkan istirahat yang dia butuh kan adalah kesiapan jiwa dan mental untuk bertemu dengan Felix.
'Apa yang harus aku katakan jika berjumpa dengannya' Mika berbicara dalam hati.
Mika menarik nafas secara perlahan dan menghembuskannya kemudian
"Aku harus tenang dan sebisa mungkin bersikap biasa" ucapnya pada diri sendiri.
"Ini hanya tinggal beberapa hari lagi sebelum masa magang ini habis, ayolah Mika kau pasti bisa" Mika mensugesti dirinya sendiri.
Oh tinggal empat hari lagi, aku tidak akan melihat wajah itu lagi' batin Mika sedih menyadari akan hal itu.
Mika kembali menghembuskan nafasnya.
Tanpa Mika sadari Felix memperhatikannya sedari tadi. Felix tersenyum sumringah akhirnya dia bisa melihat wajah wanita itu setelah dua hari.
"Dua hari saja sudah terasa sangat berat, bagimana nanti ke depannya" lirih Felix yang hanya bisa di dengar olehnya.
"Selamat pagi nona Anderson" sapa Felix begitu dia berdiri tepat di belakang Mika.
Mika terlonjak kaget dan segera berbalik ke belakang. Felix tersenyum. Mika hanya menatapnya datar.
"Kau sudah baikan?" tanya Felix lagi dan hanya dibalas oleh Mika dengan anggukan kepala.
"Ada apa dengan tarikan dan hembusan nafas di pagi hari ini. Kau terlihat seperti memikul beban yang sangat berat" ucap Felix sesantai mungkin walau sebenarnya hatinya ingin sekali memeluk wanita itu ke dalam dekapannya. Tapi dia tidak ingin membuat Mika merasa tidak nyaman di dekatnya. Jadi yang bisa dilakukannya hanya mengendalikan dirinya.
"Ya beban yang sangat berat, bertemu denganmu logika dan perasaanku akan berperang hebat. Tubuhku bereaksi setiap berada di dekatmu tapi aku harus berusaha keras mempertahankan akal sehatku" tentu saja itu hanya Mika ucapkan dalam hatinya.
Kenyataannya Mika hanya bungkam dan hanya menatap Felix.
Ting
Pintu lift terbuka. Felix masuk ke dalam dan Mika hanya mematung di tempatnya.
"Kau tidak masuk" Felix menaikkan alisnya.
Mika menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku lupa belum sarapan, aku akan membelikannya sebentar" Mika beralasan.
Felix tersenyum
"Masuklah, aku sudah membawakanmu sarapan?" ucap Felix seraya mengangkat kantongan yang ada di tangannya.
"Benarkah, oh kalau begitu aku akan membelikan kopi."
"Aku juga sudah membelikannya. Aku merasa kau sedang menghindariku" tuduh Felix seraya menatap Mika.
"Kau pernah memintaku agar tidak merasa canggung, tapi sekarang yang aku lihat kau merasa canggung berada di dekatku Mika" ucap Felix.
"Aku hanya tidak ingin ada yang salah faham" ucap Mika.
"Maksudmu Raymond?" tanya Felix.
Mika bungkam
"Tidak akan ada yang salah faham jika kau bersikap biasa saja" ucap Felix.
"Masuk lah"
Dengan berat hati Mika masuk ke dalam lift.
Mereka hanya diam dan tidak berbicara sama sekali sampai lift berhenti di lantai ruangannya.
"Ambil sarapanmu, jika kau tidak nyaman makan bersamaku kau bisa makan di mejamu" Felix menyerahkan sarapan yang dibelikannya untuk Mika.
"Makan bersama akan terasa lebih enak" jawab Mika seraya masuk ke dalam ruangan Felix mendahuluinya.
Felix tersenyum
Mika dan Felix menghabiskan sarapannya dalam diam. Mereka sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.
"Aku sudah selesai, terima kasih sarapannya" Mika beranjak dari kursinya.
"Hari ini adalah hari kematian Marinka, setelah lima tahun aku tidak pernah mengunjunginya. Mau kah kau berbaik hati menemaniku mengunjunginya" ucap Felix dengan raut wajah berharap.
Mika terdiam dan menatap Felix bingung tidak tahu harus bagaimana.
Apa yang harus ku lakukan. Ini pasti berat buatnya, setelah lima tahun akhirnya dia mengunjungi makam adiknya. Aku ingin sekali menemaninya tapi bagaimana jika kak Raymond salah faham dan untuk meminta izinnya aku tidak tahu harus mengatakan apa, Mika menimbang-nimbang dalam hatinya.
"Kau bisa meminta izin Raymond terlebih dahulu" ucap Felix setelah melihat keraguan di wajah Mika.
"Tapi aku sangat berharap kau mau menemaniku" lanjut nya menatap Mika penuh harap.
"Baiklah aku akan menemanimu, katakan jam berapa kita akan pergi?" tanya Mika.
"Sekarang" jawab Felix singkat dan semangat.
"Baiklah, ayo kita berangkat" ajak Mika.
Felix mengangguk dan tersenyum. Mika membalas senyumannya dengan tipis.
"Apa kau pernah bertemu dengan Noura?" tanyaku memecahkan keheningan mereka yang sudah berada di dalam mobil.
Bodoh, kenapa aku harus membuka topik dengan menanyakan wanita sialan itu.
Mika merutuki kebodohannya.
Felix menggeleng.
"Tidak, aku akan membuat perhitungan jika aku bertemu dengannya" jawab Felix penuh amarah.
Hening. Suananya kembali hening.
"Bagaiman kabar ibu mu?" Mika berusaha kembali mencairkan suasana. Percaya lah Mika sangat tidak menyukai kecanggungan ini.
"Baik, dia sangat merindukanmu" jawab Felix tetap menatap kedepan.
Mika mengangguk.
Sekarang aku harus menanyakan apa, batinnya.
"Kau tidak ingin bertanya sesuatu padaku?"
Bodoh Mikayla Anderson. Harusnya kau tidak menanyakan itu.
Kembali Mika merutuki kebodohannya.
Felix terkekeh
"Banyak yang ingin ku tanyakan, hanya saja aku tidak ingin membuat suasananya menjadi canggung" Felix menatap Mika sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.
"Tapi dengan hanya kau diam saja, aku juga merasa tidak nyaman" ucap Mika jujur.
Felix tersenyum
"Baiklah, dua hari tidak bertemu denganku, apa kau sudah merindukanku?"
"Tidak!!" jawab Mika cepat.
Felix tertawa.
Akhirnya Mika dan Felix sampai di pemakaman setelah melakukan perjalanan hampir satu jam lamanya.
Felix keluar dari mobil dan terdiam sesaat.
"Apa kau ingin aku menemanimu ke sana, atau aku menunggumu di sini" ucap Mika yang sudah berdiri di hadapan Felix.
"Aku ingin kau menemaniku, aku ingin mengenalkanmu padanya" Felix tersenyum dan menggenggam tangn Mika untuk berjalan. Mika tidak menolak.
Setelah sampai di depan makam Marinka Felix bersimpuh.
"Hai sayang, kakak datang setelah sekian lama. Apa kau sangat merindukan kakak, karena percayalah sayang kakak sangat merindukanmu" Felix tersenyum getir.
"Sayang kakak tidak datang sendiri, kakak membawa seorang wanita cantik yang baik hati" ucap Felix memperkenalkan Mika.
Mika tersenyum.
"Hai Marinka, aku Mikayla. Aku harap kau bahagia di sana."
Felix menatap Mika penuh arti lalu mengangguk seraya tersenyum.
Mika mundur memberi waktu untuk Felix.
Mika memutuskan kembali kedalam mobil agar tidak menganggu waktu Felix dengan adiknya.
Sebelum sampai ke dalam mobil Mika melihat seorang anak kecil yang terjatuh. Mika berlari seraya menghampirinya.
"Astaga, adik kecil, kau tidak apa-apa?" Mika membantu anak laki-laki itu berdiri.
"Terima kasih aunty" ucap anak kecil yang berusia empat tahun itu.
"Ouh..ini pasti sangat menyakitkan" ucap Mika seraya berjongkok untuk melihat memar di kaki anak tampan itu.
"Tidak apa-apa aunty, aku seorang lelaki luka seperti ini tidak akan menyakitiku" ucapnya dewasa. Mika terkekeh lalu mengacak rambut anak kecil itu gemas.
"Baik lah anak tampan, sekali pun ini tidak menyakitimu tapi lukanya tetap harus di bersihkan, mari kita obati lukamu" Mika menuntun anak tersebut ke arah mobilnya.
"Katakan sayang, siapa namamu?" tanya Mika seraya membersihkan luka anak itu dengan kapas dan anti septik yang Mika ambil dari kotak P3K yang ada di dalam mobil Felix.
"Darren aunty, dan katakan siapa nama mu aunty?"
"Mikayla" jawab Mika seraya meniup-niup luka di lutut Darren.
"Sudah selesai" ucap Mika dan menatap Darren.
"Lain kali berhati-hatilah sayang. Jadi kau ke sini bersama siapa Darren?"
"Mommy aunty, aku datang bersama mommy untuk mengunjungi temannya" jelas Darren.
"Lalu ke mana mommy mu sayang?"
Darren menoleh kebelakang mencari sosok ibu nya.
"Mommy" panggil Darren begitu melihat sosok wanita cantik berjalan ke arahnya.
Mika menoleh kearah wanita yang di panggil Mommy oleh Darren.
Mika menyipitkan matanya setelah melihat wanita itu mendekat
Wanita ini tidak asing, di mana aku pernah melihatnya, batin Mika.
"Sayang, kau membuat mommy panik" ucap wanita itu seraya berjongkok mensejajarkan tubuh nya dengan Darren.
"Lalu luka apa ini, kau terjatuh lagi" tanyanya dengan khawatir.
Darren tersenyum dan mengangguk.
"Ya mom, dan aunty ini sudah membantuku membersihkannya" ucap Darren.
Wanita itu mendongak dan baru menyadari keberadaan Mika. Dia berdiri lalu tersenyum ramah.
"Terima kasih" ucapnya tulus.
Aku mengangguk lalu balas tersenyum.
"Aku mommy nya Darren, Ashley" Ashley mengulurkan tangan nya.
Tubuh Mika menegang begitu wanita itu menyebut namanya. Darah nya berdesir dan jantungnya berdegup kencang.
Pantas saja aku merasa tidak asing, dia wanita di fhoto itu, batin Mika.
Mika baru saja mau menyambut uluran tangan Ashley ketika dia melihat Felix sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Felix"
Mendengar Mika menyebut nama Felix, Ashley segera berbalik mengikuti arah pandang Mika.
Waktu seperti berhenti berputar. Felix menghentikan langkahnya dan mematung di tempatnya. Ashley menutup mulutnya dengan kedua tangan nya terkejut melihat Felix yang ada di hadapannya.Mika menatap Felix dan Ashley secara bergantian dengan perasaan yang tidak menentu.
"Mommy" Darren memecahkan keheningan.
Ashley mengalihkan tatapannya dari Felix ke Darren.
Felix mendekat
"Ashley" Felix memanggil Ashley begitu sampai di hadapannya.
Ashley menatapnya.
"Ini sungguh diri mu" ucap nya seperti tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Ashley mengangguk tanpa bisa menghentikan air matanya yang menetes begitu saja.
"Ff..Feellliix.." Ashley tergagap.
Felix langsung menarik Ashley ke dalam pelukannya.
"Kau kemana saja?" tanya Felix masih memeluk Ashley dalam dekapannya.
Semua itu tidak luput dari penglihatan Mika. Mika memalingkan wajahnya tidak ingin melihat pemandangan yang ada di depannya.
Ada apa dengan hatiku. Kenapa terasa sakit. Mommy aku membutuhkanmu.
T.B.C
Percayalah, jantung ku juga ikut deg-degan pas menulis part iniðŸ˜ðŸ˜