You Are Special

You Are Special
Akhir Pekan 2



Mikayla pov


Aku dan Keyra sampai di cafe milik keluarga Nayla. Setiap akhir pekan kami memang selalu menghabiskan waktu disini. Kak Raymond tidak ikut masuk. Ia langsung pulang dengan alasan ingin menghibur Roland.


Tentu saja yang di hibur bukan hanya Roland tetapi kekasihnya yang lain,  batinku.


Aku melihat Nayla masih sibuk melayani pelanggan. Begitu melihat kedatanganku dan Keyra ia langsung melambaikan tangannya.


Sepuluh menit kemudian Nayla datang dengan membawa makanan dan minuman buat kami.


''Hi guys..'' sapanya lalu mencium ku dan Keyra secara bergantian.


''Ada apa dengan suasana ini'' Nayla membuka percakapan seraya mendaratkan bokongnya di kursi. Nayla menatapku dan Keyra bergantian.


''Ceritakan, ada apa denganmu Key?'' tanyaku sambil menatapnya yang masih mengalihkan pandangannya ke arah jalanan dengan pandangan kosong.


Keyra menghembuskan nafasnya


''Sepertinya aku menyukainya'' lirihnya pelan.


Aku mengernyit bingung begitu juga dengan Nayla.


Keyra menatapku dan Nayla bergantian ''Roland, sepertinya aku menyukainya"


''Lalu, masalahnya apa? Kau tinggal mengungkapkan perasaanmu kan.'' ucap Nayla enteng sambil mengaduk minumannya.


Keyra kembali menghela nafas berat


''Sudah, tapi..''


''Oh my God, dia menolakmu?'' Nayla histeris memotong ucapan Keyra. Aku melotot kearahnya.


''Bukan, tapi dia mengajakku menikah'' ucapan Keyra sontak membuatku dan Nayla menganga.


''Lalu masalahnya dimana Key?" Tanyaku.


''Masalahnya di situ Ay, kau tahu aku tidak ingin menikah lagi, Roland juga tidak tahu tentang aku yang sudah mempunyai Rachel, dan tentu saja aku tidak yakin dia serius dengan ucapannya. Kau tahu dia pria ******** wanitanya ada di mana-mana aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi'' jelas Keyra panjang lebar.


Aku dan Nayla kompak menghela nafas berat. Kami tahu apa yang sudah terjadi dan dialami Keyra.


''Sudah, lupakan tentangku, bagaimana denganmu Nay, apa belum ada yang menyentuh hatimu dari sekian banyak pria yang mengagumi?" Keyra mengalihkan pembicaraan ke Nayla.


Nayla mengidikkan bahunya.


''Entah lah, aku juga tidak ingin berurusan dengan mereka. Para ******** itu hanya ingin tubuhku, jadi aku juga melakukan hal yang yang sama menikmati tubuh mereka'' Nayla terkekeh, tapi aku dan Keyra tahu ada kepedihan di dalam ucapan nya.


''Lalu bagaimana denganmu Ay, kapan rencananya kau akan meninggalkan Raymond?'' tanyanya enteng. Aku dan Keyra sontak menatapnya dengan ekspresi yang berbeda. Aku menatapnya tajam karena kesal, Keyra menatapnya dengan tatapan tidak percaya sambil menahan tawa.


''Itu tidak akan terjadi, kau tahu sebesar apa aku menyayanginya Nay'' ucapku sambil mengunyah makananku.


''Apa kau mencintainya?'' pertanyaan Nayla membuatku menghentikan acara makanku.


Aku mendongak mendapati Nayla dan Keyra yang juga sedang menatapku. Aku mengerutkan dahi ku.


''Apa bedanya menyanyangi dan mencintai, bukan kah itu sama saja. Sama-sama kita tidak ingin kehilangannya'' jawabku.


''Itu jelas berbeda Ay, kau menyayangi seseorang belum tentu kau mencintainya. Tapi bila kau mencintai seseorang otomatis kau juga menyayangi nya Ay'' Keyra menjelaskan.


Aku mengidikkan bahu.


''Yang aku tahu aku tidak ingin kehilangannya'' jawab ku acuh.


''Bagaiman dengan Felix?'' tanya Nayla bertepatan dengan suara ponselku yang berdering tanda ada panggilan masuk.


Aku melirik sekilas ke arah ponsel yang memangku letakkan di atas meja. Tidak ada nama. Aku mengacuhkannya.


Aku kembali menatap Nayla lalu memutar kedua bola mataku malas.


''Kau merusak moodku Nayla Lavine Scoot'' ucapku malas dan ponselku kembali berdering dengan nomor yang sama.


Keyra melirik ponselku


''Kenapa tidak di angkat? Memangnya apa lagi yang sudah di lakukannya padamu?'' tanya Keyra.


''Aku yakin Felix O'Neil itu tertarik pada sahabat kita ini, dan kali ini Raymond memiliki rival yang seimbang yang tak lain adalah sahabatnya sendiri'' Nayla terkekeh sambil menaik-naikkan alisn ya menggodaku.


''Hentikan wajahmu yang minta disiram itu Nayla'' ancamku.


Keyra dan Nayla tertawa.


''Jangan terlalu membenci seseorang, nanti kau mencintainya'' Keyra ikut menggodaku. Aku melotot tajam kearah dua makhluk menyebalkan itu.


Ponselku kembali berbunyi. Kali ini bukan panggilan masuk melainkan notifikasi tanda pesan masuk.


081126xxx


Jangan mengabaikan panggilanku. Angkat teleponnya, jika tidak aku tidak akan mengeluarkan nilaimu !


F.O.Mc.Kenzie


Aku terdiam menatap tidak percaya dengan apa yang ku baca di layar ponselku.


''Bagaimana dia bisa tahu nomorku?'' tanyaku lebih kepada diriku sendiri.


Nayla dan Keyra mengernyit.


''Siapa?'' Tanya mereka kompak.


Aku menghembuskan nafas lalu menyerahkan ponselku.


''Apa ku bilang. Dia memang tertarik denganmu Ay, kalau tidak buat apa dia menghubungimu di akhir pekan begini '' ucap Nayla antusias begitu membaca pesan Felix.


''Aku rasa matamu tidak buta Nay, kau bisa melihat disana lagi dan lagi dia mengancamku. Dia hanya ingin menyikasaku!'' gertak ku kesal.


Nayla dan Keyra terkejut mendengar aku yang meninggikan suaraku.


Aku menghembuskan nafas ku kasar.


''Maaf. Bukan maksudku untuk melampiaskan kekesalanku pada kalian. Percayalah aku sungguh tidak menyukai pria itu dan ingin magang ini cepat berlalu.''


Notifikasi pesan masukku kembali berbunyi. Aku menghela nafas. Tanpa melihatnya aku tahu pasti si pria mesum itu lagi yang mengirimiku pesan. Aku membuka pesannya. Sebuah alamat. Aku mendengus. Dia ingin aku mendatanginya yang benar saja.


Ting


Ponsel ku kembali berbunyi.


Jangan membangkang!!!


Darah tinggiku langsung naik begitu melihat tiga tanda seru dalam kalimatnya.


Aku segera mengetikkan alamat kafe Nayla sebagai balasan. Enak saja aku mau mendatanginya. Huh..dia fikir dia siapa. Apa dia tidak sadar aku masih marah padanya. Aku mematikan ponselku lalu memasukkannya ke dalam tas.


''Apa dia mengajakmu berkencan?'' tanya Nayla mulai menggoda lagi.


Aku memutar kedua bola mataku malas.


''Yang benar saja, kalau dia ingin berkencan tentu saja dia akan menghubungi wanita yang di sukainya, Noura'' ucap ku datar.


Keyra terlihat bingung dengan ucapanku tapi tidak dengan Nayla.


''Bagaimana mungkin Felix menyukai Noura, aku mendengar dari Roland dia hanya menganggapnya adik, walau sebenarnya Noura sempat menyatakan perasaannya pada Felix tapi ujung-ujungnya berpacaran dengan kekasihmu Raymond''


Perkataan Keyra membuatku sedikit terkejut.


''Jadi maksudmu Felix menolaknya?'' tanya Nayla.


''Huh..yang benar saja, dia tidak mungkin menolaknya. Kau hanya tidak melihat bagaimana manisnya mereka berdua di kantor. Lengket macam prangko'' sindirku.


''Bukan begitu Nay?" aku meminta pembenaran. Nayla mengangguk.


''Aku curiga pria tampan itu mempunyai kebiasaan buruk, menyukai wanita yang menjadi kekasih sahabatnya. Berhati-hati lah Key, mungkin sebentar lagi Felix juga mengincarmu'' ucap Nayla enteng dengan wajah minta ingin di tinju.


''Kau menyebalkan'' ucapku dan Keyra secara bersamaan seraya menatapnya dengan tatapan membunuh.


Nayla tertawa puas.


T.B.C