
Kini usia kandungan Mika memasuki bulan ke sembilan. Mika tidak sabar menanti kelahiran anak pertamanya. Mika juga sudah menyelesaikan kuliahnya dan sudah lulus saat kandungannya berusia tujuh bulan.
Semenjak hari dimana Roland membawa Felix ke rumahnya setelah itu dia tidak pernah berjumpa lagi dengan Felix. Mika hanya sesekali melihatnya di televisi yang meliput berita para pengusaha muda.
Mika sedang mempersiapkan perlengkapan babynya yang sewaktu-waktu bisa lahir mengingat ini adalah bulannya.
"Hai"
Mika mendongak begitu mendengar sapaan seseorang yang sangat berarti baginya. Mika tersenyum sumringah begitu melihat Raymond sedang berdiri di ambang pintu sembari melipat tangannya di dada.
Mika beranjak dari tempat nya seraya berlari memeluk Raymond.
"Ouh kau bisa menyakiti keponakanku" Raymond membalas pelukan Mika dengan hati-hati, ia takut perut buncit Mika tertekan oleh tubuhnya.
"Aku sangat merindukanmu, aku fikir kau tidak akan datang saat aku melahirkan" ucap Mika manja di dalam pelukannya.
"Bukankah aku sudah berjanji. Lagi pula aku hanya meninggalkanmu beberapa bulan kau sudah merindukanku, kenapa kau tidak menikah denganku saja" goda Raymond.
"Kakak.."rajuk Mika seraya melepaskan pelukannya.
Raymond terkekeh.
"Oh astaga..kau pipis dicelana?" pekik Raymond begitu melihat cairan yang memgalir dari paha ke kakinya.
Mika mengernyit lalu menunduk
"Oh God, air ketubanku pecah..Aaaww.." jerit Mika kesakitan.
"Kenapa..Kenapa..?" tanya Raymond panik.
"Sepertinya ini waktu baby nya mau keluar kak"
"Apa..astaga bagaimana ini. Oh apa yang harus kulakukan. Kenapa mommy sama daddy harus pergi berlibur disaat ini mereka tahu ini jadwalmu melahirkan, oh mereka keterlaluan. Bagaimana jika hari ini aku tidak datang, apa yang akan terjadi padamu" racau Raymond mondar mandir di hadapan Mika yang menahan sakit akibat kontraksi.
"Kakak akan menghubungi Roland. Oh tidak ia tidak akan membantu. Kau tenang lah dan duduklah dulu" Raymond menuntun Mika agar duduk di tempat tidur.
"Kakak akan hubungi Keyra dan Nayla mungkin mereka bisa membantu" Raymond semakin panik begitu melihat Mika yang kesakitan.
Mika menahan tangan Raymond
"Kakak, lakukan itu nanti, sekarang tolong bawa aku ke rumah sakit" ucap Mika.
"Oh.. iya rumah sakit. Yang kau butuhkan memang Dokter" Raymond segera mengangkat Mika dan membawanya lari ke dalam mobil.
Raymond semakin tegang dan gugup membawa mobilnya, selain dia harus hati-hati dia juga harus secepatnya sampai di rumah sakit. Mika sudah menahan tangisnya dari tadi.
"Tenanglah sayang, kau pasti baik-baik saja" Raymond menggenggam tangan Mika seraya menenangkan. Mika mencengkram kuat genggaman tangan Raymond.
Setelah melalui perjalanan kurang lebih lima belas menit akhirnya Raymond dan Mika sampai di rumah sakit. Perawat rumah sakit segera menyambut dan membantu Mika untuk naik di ranjang pasien.
"Raymond"
Raymon menoleh begitu mendengar namanya di panggil seseorang.
"Oh Felix, syukurlah kau di sini tolong kau temani Mika sebentar, aku akan memanggil Dokter dan mengurus administrasinya dulu"
"Ada apa dengan Mika?" Felix mendekat dan melihat Mika yang terbaring lemah dan pucat di atas ranjang dan juga sedang menahan kesakitan yang luar biasa.
"Oh astaga ada apa dengannya?" Felix panik dan wajahnya juga memucat seketika.
"Dia akan melahirkan, tolong kau temani dia" ucap Raymond lalu segera pergi tanpa menunggu jawaban Felix. Raymond sadar kehadiran Felix lebih dibutuhkan Mika dibanding dirinya. Dan ini bukan suatu kebetulan mungkin ini memang cara Tuhan untuk mempersatukan mereka. Raymond sudah mengetahui alasan dibalik Felix menikahi Ashley dari Roland.
"Mika apa kau baik-baik saja" tanya Felix begitu mereka sampai di kamar pasien.
"Felix" ringis Mika yang baru menyadari keberadaan Felix.
"Aakkww.." ringis Mika seraya mencengkram kerah baju Felix.
"Kenapa..kenapa..katakan dimana yang sakit?" tanya Felix panik.
Mika menggeleng.
"Keringatmu bercucuran sebesar biji jagung begitu kau masih mengatakan tidak" ucap Felix seraya menggenggam tangan Mika dengan satu tangannya dan mengusap keringat Mika dengan tangan satunya lagi.
"Apa sangat menyakitkan?" tanya Felix lembut.
Mika mengangguk dengan berurai air mata.
"Aakkhhh" pekik Mika lagi seraya menjambak rambut Felix dengan sekuat tenaganya.
"Maafkan aku" lirih Mika.
Felix menggeleng.
"Jika itu mengurangi rasa sakitmu itu tidak masalah buatku, kau juga boleh menggigit atau menamparku"
Mika semakin memperkuat jambakannya setiap dia mengalami kontraksi.
"Oh Tuhan, kau pasti sangat kesakitan. Dan kau apa yang kau lakukan di situ, segeralah panggil dokter kau tidak melihat dia sudah kesakitan" bentak Felix kepada salah seorang suster yang dari tadi ada di sana.
Sebelum suster itu pergi pintu kamarnya sudah terbuka dan menampilkan seorang pria yang diyakini Felix adalah Dokternya.
Dokter itu tersenyum seraya mendekat ke arah Mika dan Felix. Mika masih saja menjambak rambut Felix . Posisi Felix sekarang sedikit menunduk agar Mika lebih leluasa menjambak rambutnya
Dokter itu terkekeh
"Kau bisa membuat rambut suamimu botak jika kau terus menjambaknya seperti itu" goda nya. Mika dan Felix tidak mempedulikan anggapan Dokter tersebut yang mengatakan mereka suami istri.
"Tidak masalah jika rambutku nantinya botak Dokter, tapi segeralah periksa dia, dia sudah kesakitan dari tadi" jawab Felix.
"Baiklah mari kita periksa, ibunya sudah bukaan berapa" ucap Dokter itu seraya memasukkan tangannya ke dalam selimut yang menutupi tubuh Mika dari pinggang ke kaki.
"Stop, apa yang kau lakukan. Kenapa kau memasukkan tanganmu ke dalam sana" bentak Felix seraya menatap Dokter itu tajam.
Dokter itu tersentak kaget lalu kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya
"Apa ini anak pertama kalian, maaf tuan tapi saya adalah Dokter yang akan menolong istri anda melahirkan jadi saya harus memeriksa nya agar saya mengetahui istri anda sudah pembukaan berapa" jelas Dokter itu dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya walau sudah mendapat bentakan dan tatapan tajam dari Felix.
"Apa harus dengan memasukkan tanganmu ke dalam sana?" ujar Felix ketus.
"Felix..tenanglah. Biarkan dokter ini melakukan pekejaannya" Mika menenangkan kekesalan Felix yang tidak berdasar.
"Apa di sini tidak ada Dokter wanita?" Felix masih tidak mau mengalah.
"Aakkhh..Dokter sepertinya bayi ku akan keluar" teriak Mika yang merasakan dorongan dari dalam perutnya.
Felix terlonjak kaget.
"Kau tidak mendengar apa yang dikatakan nya, lakukan tugas mu sebagai seorang dokter" bentak Felix.
Dokter itu hanya geleng geleng kepala seraya tersenyum melihat tingkah Felix yang gugup. Mika menatap Dokter itu dengan tatapan bersalah.
"Kau dan bayi nya pasti baik-baik saja, ayo tarik nafas lagi" ucap Felix lembut.
"Ya, yang dikatakan suami mu benar kau harus tenang dan tarik nafas, begitu kau merasakan dorongan dari dalam mengedan lah agar bayinya terdorong keluar.
Setelah memakan waktu beberapa jam akhir nya bayinya lahir dengan selamat.
Perawat segera membersihkan bayi nya dan menyerahkannya kepada Felix.
"Bayi anda sangat cantik tuan"
Dengan tangan bergetar dan jantung berdebar Felix menerima bayi Mika dan tanpa bisa dibendung air matanya mengalir
"Welcome to the world honey"
"Kau sangat cantik sweety, persis seperti mommymu" Felix mencium seluruh permukaan wajah bayi itu yang tak lain adalah putrinya sendiri.
"Kau tidak memiliki gen daddy mu Raymond sama sekali sayang" Felix tersenyum hangat.
Felix mendekati ranjang Mika.
"Hei.." sapa Felix begitu dia berdiri di samping ranjang Mika. Mika tersenyum sumringah walau dia masih terlihat lemas.
"Selamat, kau sudah menjadi seorang mommy, dan putrimu sangat cantik. Aku bangga padamu. Kau sangat hebat" ucap Felix penuh haru.
Mika mengangguk dan mengulurkan ke dua tangannya untuk menggendong bayi nya. Mika mencium seluruh wajah putrinya
"Hai sayang, ini mommy" Mika menyapa bayi nya dan menangis haru.
"Terima kasih Felix sudah ada di sampingku dan merelakan kepalamu tadi, dan aku akan mengganti bajumu dengan yang baru nanti" Mika melihat baju Felix yang kusut dan bahkan beberapa kancingnya sudah terlepas akibat cengkramannya tadi.
Felix hanya mengangguk dan mata menatap takjub kepada bayi yang ada di dalam gendongan Mika. Untuk sesaat mereka terdiam dan hanya menatap bayi mungil itu.
"Apa khabar Ashley?" tanya Mika memecahkan keheningan.
Felix tersentak seperti baru menyadari sesuatu. Felix mendongak dan menatap Mika
"Maafkan aku tapi sepertinya aku harus pergi" ucapnya dengan berat hati
Mika mengangguk
"Sekali lagi terimakasih Felix" Mika menggigit bibir bawahnya seperti menahan sesuatu.
Felix mengangguk lalu memgusap rambut Mika kemudian mencium bayi mungil itu sebelum ia pergi meninggalkan Mika dan bayinya di sana.
"Felix" panggil Mika begitu Felix sudah berada di dekat pintu. Felix berbalik dan menatap Mika.
"Selamat juga buat mu" ucap Mika menatap Felix penuh arti.
Felix mengernyit bingung mendapat ucapan selamat dari Mika. Baru saja ia akan bertanya tapi ponselnya berdering. Felix menatap layar ponselnya lalu menatap Mika.
"Sepertinya aku harus pergi" ucapnya yang diangguki Mika.
"Oh sayang, kau sungguh diberkahi Tuhan. Daddymu sendiri yang menyambut kelahiran mu " ucap Mika seraya menatap putrinya lembut.
Mika mendongak begitu mendengar suara pintu yang terbuka. Mika mengernyit begitu melihat Darren yang berdiri di sana.
"Kemarilah sayang" Mika tersenyum hangat.
Darren mendekat, Mika mengusap kepala nya begitu berada di sampingnya.
"Putrimu sangat cantik aunty" gumam Darren yang menatap lekat pada bayi mungil itu.
Mika tersenyum
"Kau ingin menciumnya?" tawar Mika yang langsung diangguki semangat oleh Darren. Mika terkekeh lalu mendekatkan bayinya ke wajah Darren. Darren menciuminya dengan semangat.
"Wangi" ujarnya.
"Katakan sayang, apa yang membawa mu ke sini?"tanya Mika seraya menatap lekat wajah Darren.
Darren tersenyum kikuk.
"Jangan sungkan sayang, katakan saja apa yang mau kau katakan" bujuk Mika lembut.
Darren tiba-tiba menangis, Mika bingung dan panik
"Hei ada apa denganmu, apa aunty menyakitimu?"
Darren menggeleng
"Aunty, maafkan aku tapi bisakah kau menghilang dari hadapan daddy" gumam Darren pelan yang masih bisa didengar oleh Mika. Darren menunduk tidak berani menatap wajah Mika.
Mika terkejut mendengar ucapan Darren, tapi secepatnya ia mampu mengendalikan keterkejutannya.
"Darren, tatap aunty sayang, dan katakan apa yang sebenarnya terjadi" Mika mengangkat wajah Darren dengan satu tangannya agar bisa melihat wajahnya.
"Aunty, mommy sangat mencintai daddy, mommy juga sangat membutuhkan daddy tapi aunty jika kau terus berada di dekat daddy kau selalu menjadi prioritas bagi daddy, sehingga mommy sering terabaikan aunty. Aunty maafkan aku, tapi aku ingin membuat mommy bahagia" ucap Darren dengan penuh air mata.
Mika tersenyum hangat seraya mengusap air mata Darren.
"Jadi kau ingin aunty bagaimana sayang?"
"Pergilah sejauh mungkin aunty sampai daddy tidak bisa menemukanmu, dengan begitu aku bisa membuat mommy bahagia" ucapnya polos walau sebenarnya kata-katanya sangat menyakitkan. Mika mengerti apa yang dirasakan oleh Darren sekarang dia adalah seorang ibu jadi ia tahu tujuan Darren hanyalah untuk kebahagiaan mommynya.
"Kau anak yang baik sayang, mommymu sangat beruntung memilikimu" ucap Mika tulus
"Kemarilah sayang, biarkan aunty memelukmu"
Darren berdiri di atas kursi untuk mensejajarkan tingginya dengan Mika yang duduk di atas ranjang.
Darren lari ke pelukannya
"Maafkan aku aunty, tapi aku ingin mommy bahagia di sisa hidupnya" tangis Darren pecah di pelukan Mika.
Mika mengernyit mendengar kata-kata Darren "Apa maksudmu sayang, apa mommymu baik-baik saja?"tanya Mika penasaran.
Darren mengangguk di pelukannya.
"Mommy baik-baik saja. Aunty kau tidak marah padaku?" Darren melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Mika.
Mika menggeleng lalu mengecup dahi Darren.
"Baiklah aunty aku harus pergi, mommy dan daddy mungkin sudah mencariku" Darren turun dari kursi.
Mika mengangguk. Darren mendekati bayi Mika lalu menciumnya.
"Adik kecil, kakak pergi dulu. Tumbuhlah menjadi gadis yang cantik dan pintar" ucap nya dewasa. Mika terkekeh.
T.B.C.