You Are Special

You Are Special
Dua Puluh Enam



Aku memeluk Felix dari belakang untuk menahannya agar tidak melakukan hal yang lebih mengerikan lagi. Berhasil. Felix melepaskannya. Noura terjatuh dan pingsan.


Aku menuntut Felix berjalan ke arah sofa. Aku menuntunnya duduk di sofa dan segera mengambil air minum.


"Minum lah" aku meletakkan gelas berisi minuman di hadapan Felix. Felix mengambil dan meminum nya sampai tandas. kerongkongan nya mungkin kering setelah bertengkar dengan Noura.


Brak


Pintu dibuka dengan kasar. Aku menoleh dan melihat dua wanita cantik berlari mengahampiriku. Keyra dan Nayla.


"Apa yang terjadi di sini" ucap Nayla dan Keyra secara bersamaan.


"Kau tidak apa-apa"


"Kau baik-baik saja"


Kembali mereka mengatakannya secara bersamaan. Aku melihat wajah khawatir para sahabatku itu.


Aku menggeleng.


"Tenang lah aku baik-baik saja. Nanti aku akan bercerita tapi sebelumnya bisakah kalian membawa nya kerumah sakit" aku menunjuk ke arah Noura.


Keyra dan Nayla menjerit setelah melihat keadaan Noura yang mengenaskan.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sini" tanya Keyra seraya menatap ku dan Felix bergantian.


"Percayalah kau mungkin akan lebih terkejut setelah melihat wajah kekasihmu yang tidak kalah mengerikan dibanding wajahnya" ucapku.


Keyra mengernyit.


"Sudah lah, nanti aku akan menceritakannya. Sekarang bawa Noura kerumah sakit dulu" ucapku. Keyra dan Nayla mengangguk.


Begitu Keyra dan Nayla membawa Noura aku berbalik menghadap Felix yang masih duduk sambil menunduk.


Aku mendekati nya dan berdiri di hadapan nya yang masih menunduk.


"Kau tenangkan lah dirimu, aku akan membereskan ruangan dulu" aku menepuk bahunya dan beranjak pergi.


Felix menahan tangan ku lalu menarikku. Felix melingkarkan tangan nya di pinggangku. Dia memeluk ku dan kepalanya berada di perutku.


"Tetap la seperti ini aku mohon" lirihnya. Aku terdiam dan mematung.


Aku mengelus lembut kepalanya. Aku melihat bahunya bergetar. Felix menangis.


"Kau tidak perlu menahan nya dan kau tidak perlu malu di hadapanku, menangislah" ucapku lembut tanpa menghentikan tanganku dari kepalanya.


Felix mengerat kan pelukannya. Felix terisak. Aku merasakan kemeja ku basah oleh air matanya. Melihat nya rapuh seperti ini dadaku terasa sakit. Aku bisa merasakan kesedihannya. Kehilangan dua orang yang sangat di cintai nya dalam waktu bersamaan yang disebabkan oleh sahabatnya sendiri.


"Aa..aku..bbbersalah..dia menipuku..mmee..mereka menyembunyikan hal sebesar ini dariku" Felix tergagap dan kata-kata nya sangat kacau menandakan betapa rapuhnya dia.


Aku duduk dan segera menarik nya kedalam pelukan ku. Felix membalas pelukanku.


"Aa..aaku telah menghabisi nyawa orang yang tidak bersalah"


"Sstt...tenang lah Felix..." aku menepuk punggungnya.


"Kau tidak boleh menyalahkan siapa pun. Roland juga tidak salah. Dia hanya tidak ingin kau kembali terpuruk. Dan sesungguhnya mereka sudah berusaha menjelaskannya hanya saja waktu itu kau tidak menerima penjelasan apa pun. Jika saja waktu itu kau mengetahui cerita sebenarnya itu tidak akan merubah keadaan Marinka kembali hidup tapi yang ada kau pasti menghabisi Noura yang tidak lain adalah sahabatmu sendiri yang sudah kau anggap seperti adik sendiri" ucapku menenangkan nya. Aku menarik nafasku.


"Disamping Noura yang sudah melakukan kesalahan tidak bisa dipungkiri Noura juga lah yang memberimu semangat untuk bangkit kembali. Roland dan Raymond tidak bisa menutup mata dari hal itu disaat mereka sudah menyerah menyemangatimu. Itu semua sudah takdir Felix yang bisa kau lakukan hanya lah menerimanya dan berdamailah dengan diri mu sendiri. Semakin kau membenci yang ada kau semakin merasakan sakit percaya lah Felix" ucapku dan kembali mengelus rambutnya.


Felix melepaskan pelukannya. Mata kami beradu. Dia menatapku lekat. Entah sejak kapan aku menyukai tatapannya padaku.


Oh Tuhan aku mungkin sudah mulai tidak beres.


Felix mengelus wajahku dengan jemarinya. Felix mendekatakan wajahnya dan mencium kening dan pelipisku. Wajahku merona mendapat perlakuannya yang hangat.


Oh jangan sampai dia melihat wajahku yang merona.


Apa dia mau menciumku. Apa yang harus ku lakukan. Aku harus menghindar.


Felix menghentikan gerakannya mungkin menyadari ketidak nyamananku. Percayalah jarak kami sangat dekat sehingga aku bisa


merasakan hembusan nafasnya diwajahku. Aku mendengar bunyi detak jantung yang tidak beraturan. Aku tidak yakin itu milikku atau Felix.


Felix menatapku tanpa menghilangkan jarak antara kami. Aku harus menghindar, aku harus menghindar fikirku. Tapi tubuhku malah mengkhianatiku. Aku malah memejamkan mataku memberi izin Felix untuk menciumku. Tanpa membuang kesempatan Felix langsung mendaratkan bibir nya di atas bibirku.


Oh aku mungkin sudah tidak waras.


Felix menciumku dengan sangat lembut yang langsung sambut dengan mengalungkan tanganku di lehernya dan membalas ciumannya. Aku merasakan Felix tersenyum disela-sela ciuman kami. Percayalah ini pertama kalinya aku membalas ciuman seorang pria. Maksudku selama menjadi tunangan kak Raymond aku tidak pernah membalas ciumannya.


Oh terkutuk lah aku.


"Tatap aku Mika" pintanya lembut begitu ciunman kami terlepas.


Aku menggeleng.


Felix terkekeh lalu menarikku ke dalam pelukannya.


"Kau malu?" tanyanya. Aku mengangguk.


Pertanyaan macam apa itu. Tentu saja aku malu telah berciuman dengan sahabat tunanganku, bahkan aku juga merasa berdosa tapi percayalah aku tidak menyesalinya. Oh Mikayla yang nakal. Nayla dan Keyra pasti akan menertawakan ku jika mengetahui ini.


"Aku senang kau membalasnya, terimakasih dan percayalah bibirmu sangat manis dan sudah seperti imun buatku"


Wajahku sukses merona semerah tomat mendengar ucapan Felix. Aku mencubit dada bidangnya. Felix meringis.


"Ehemm"


Aku terlonjak dan mendorong Felix menjauh. Felix terpental. Aku terpekik tidak menyangka doronganku ternyata cukup kuat.


Aku menoleh untuk melihat siapa orang yang masuk dengan sopan tanpa mengetuk pintu itu. Aku melihat Keyra dan Nayla berdiri disana dengan raut wajah geli menahan tawa. Aku yakin mereka pasti melihat apa yang aku dan Felix lakukan.


Oh Tuhan apa yang aku takutkan terjadi juga. Ingin rasanya aku menghilang ditelan bumi daripada melihat wajah sahabat yang pasti akan mengejek dan menggodaku habis-habisan.


"Apa kalian tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk" sindir ku dengn wajah galak. Aku harus terlihat megerikan agar mereka tidak berani menggodaku.


"Maafkan kesopanan kami yang telah mengganggu aktivitas mu dan Felix, sepertinya kalian sedang sibuk silahkan dilanjutkan dan tidak usah sungkan" ucap Keyra sambil menahan tawa.


Ternyata wajah galakku tidak mempan.


Aku mendengar Felix terkekeh. Aku melotot tajam ke arah nya tapi dia malah mengacak rambutku gemas.


"Wajahmu merona, apa kali ini kau mau mengatakan kau tidak menikmatinya disaat kau melingkarkan tanganmu di lehernya" sarkas Nayla.


Aku molotot ke arahnya. Ingin rasanya aku menenggelamkan kedua sahabatku itu.


"Kenapa kalian ada di sini, bukannya aku menyuruh kalian mengantar Noura kerumah sakit" aku berusah mengalihkan pembicaraan sebelum aku dibuat lebih malu oleh kedua sahabatku didepan pria ini.


"Aku lebih tertarik mendengar cerita mu daripada menjawab pertanyaanmu" Keyra mengerlingkan matanya. Aku mendengus. Dan Felix kembali terkekeh. Sepertinya dia menikmati pemandangan dimana aku dibuat malu oleh dua sahabatku.


Huh...dimana wajah mengerikan tadi yang hampir membunuh sahabatnya sendiri.


"Kami sudah mengirimnya dengan ambulance, kau tidak mengatakan kami harus menemaninya kan" jawab Nayla enteng.


Brakk


Pintu dibuka dengan kasar. Aku, Felix, Keyra dan Nayla serentak menoleh kearah pintu. Roland dan Raymond berdiri di sana.


T.B.C


Author up tiga episode. Terus dan dukung author ya agar tetap lebih semangat. Buat yang sudah dukung karyaku, terimakasih banyak๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿค—