
Mikayla Pov
"Ashley, ini sungguh dirimu, kau kemana saja" Felix menarik Ashley ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat.
Hati ku sakit melihat pemandangan itu. Dadaku terasa nyeri seperti ada ribuan jarum yang menusuknya.
Aku tidak menyukai Felix yang memeluk wanita lain.
Oh Tuhan ada apa dengan diriku. Apa aku sungguh cemburu?
"Felix, kau..kau tidak marah lagi pada ku?" tanya Ashley ditengah isakannya.
Felix melepaskan pelukannya dan menanggkup wajah Ashley dengan kedua tangannya. Felix menatap Ashley dengan teduh, begitu juga dengan Ashley. Mereka saling tatap dan terlihat sangat jelas tatapan mendamba dan merindu di wajah keduanya.
"Maafkan aku, aku sudah salah faham" ucap Felix.
"Kau sudah mengetahuinya?" tany Ashley.
Felix mengangguk.
Ashley menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Felix. Felix menenangkan Ashley dengan mengusap-usap punggung Ashley.
"Ehhmm..." aku sengaja berdehem untuk membuat mereka menyadari kalau hanya tidak ada mereka disini, tapi ada aku.
Felix dan Ashley menoleh ke arahku. Aku tersenyum kikuk dan menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
Oh kenapa jadi aku yang salah tingkah.
"Oh..Mika kenalkan ini Ashley. Ashley ini Mika tunangan Raymond."
Dia tidak ingin Ashley salah faham jadi mengatakan kalau aku tunangan Raymond. Dia sangat menjagakan perasaan wanita ini. Oh ada apa denganku. Memangnya aku mau dikenalkan sebagai apa. Tidak mungkin kan sebagai kekasihnya sementara di depannya ada wanita yang di cintainya Ashley.
" Hai Mika, jadi kau tunangan Raymond." Ashley tersenyum ramah dan dan mengulurkan tangannya.
Aku menyambut tangannya dan mengangguk
"Mikayla" ucapku.
"Lalu siapa anak kecil ini Ashley" Felix menatap anak kecil itu secara seksama.
"Apa dia.."
Felix menggantung kan ucapannya tapi seperti mengetahui apa yang akan di katakan Felix, Ashley menganggukkan kepalanya.
Felix tercengang begitu Ashley menganggukkan kepalanya.
Ada apa ini. Apa sekarang mereka sedang berbicara melalui telepati mereka masing-masing.
Felix berjongkong untuk mensejajarkan tingginya dengan Darren.
"Hai jagoan, katakan siapa namamu?" tanya Felix menatap lekat kepada Darren. Seperti tatapan seorang ayah kepada anaknya.
Aku tersentak dengan pemikiranku itu.
Ayah.?!.apa jangan-jangan Darren anak nya Felix. Oh Tuhan jangan hukum hambamu ini.
"Darren uncle"
"Not uncle boy, call me daddy"
Kaki ku bergetar begitu mendengar ucapan Felix, hampir saja aku ambruk jika saja aku tidak berpegangan pada mobil Felix.
Oh Tuhan, dada ku terasa sesak.
Aku seperti kehabisan udara di sekitarku. Mata ku memanas. Aku segera menatap ke atas agar menghindari air mataku jatuh.
Darren menatap Ashley seolah meminta persetujuan. Ashley mengangguk.
"Benarkah uncle ini daddy ku mommy?"
"Uncle itu memintamu memanggil nya daddy. So, he is your daddy honey"
"Daddy.." Panggil Darren terharu dan meneteskan air matanya.
"Aku sungguh mempunyai daddy" ucapnya lagi.
"Kemarilah jagoan, Daddy ingin memelukmu" Felix merentangkan kedua tangannya. Darren segera berlari ke dalam pelukannya.
"I miss you dad," Darren menangis dalam pelukannya. Felix menciumi puncak kepalanya.
"Baik lah ayo kita pulang" ajak Felix seraya mengangkat Felix ke dalam gendongannya.
Felix membukakan pintu belakang mobil dan menaruh Darren di dalamnya. Aku mengitari mobil Felix dan berdiri di samping pintu belakang mobilnya. Sebelum masuk aku menatap ke arah Felix yang ternyata juga sedang menatap ku bingung.
"Kau duduklah didepan" Aku mengalih kan tatapanku dari Felix ke arah Ashley lalu masuk dan duduk di samping Darren.
Selama perjalanan aku hanya diam walau sesekali aku mendapati Felix yang sedang menatapku dari kaca mobilnya.
"Kau turun lah, aku akan mengantar Ashley dan Darren ke rumah. Ibu pasti akan senang" Felix menghentikan mobilnya di depan kantor.
Aku mengangguk dan tersenyum paksa. Ingin rasanya aku teriak.
Begitu aku turun dari mobil Felix segera melajukan mobilnya tanpa mengatakan apapun lagi.
Sesak.
Aku terduduk lemas begitu mobil Felix tidak terlihat lagi. Akhirnya pertahananku runtuh. Aku menangis.
"Mika"
Aku mendongak begitu mendengar seseorang memanggil namaku. Roland berdiri menjulang tinggi di hadapanku.
Roland mengernyit begitu melihat wajahku.
"Ada apa denganmu?" tanyanya.
"Aku tadi melihatmu turun dari mobil Felix, lalu kemana dia?"
"Roland, apa yang harus ku lakukan."
"Roland, disini sakit sekali" aku memegang dadaku.
"Hei..ada apa denganmu" dia mengulang pertanyaannya.
"Apa kau sakit?" dia terlihat khawatir.
Aku menggeleng.
"Roland apa yang harusku lakukan, apa yang harusku lakukan Roland. Bagaimana ini" isakku semakin menjadi.
"Oh Tuhan, sebenarnya ada apa denganmu?"
"Aku akan menelepon Raymond" Roland merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.
Aku menahan tangannya dan menggeleng
"Jangan"
"Aku tidak ingin kak Raymond melihatku yang seperti ini Roland."
"Percaya lah Mikayla kau membuatku bingung."
"Baiklah, ayo kita cari tempat untuk berbicara, aku juga akan menyuruh Keyra datang kesini" ucapnya.
Aku mengangguk.
"Minumlah"
Roland menyodorkan sebotol minuman.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ashley kembali" ucapku.
"Benarkah?" tanya Roland terkejut.
"Kau benar, dia wanita yang sangat cantik" puji ku tulus.
"Ya" Roland mengangguk setuju.
"Apa Ashley alasanmu bersedih" tuduh Roland tepat sasaran.
Aku menatap Roland yang juga sedang menatap penuh selidik. Aku menghembuskan nafas ku secara kasar.
"Roland, aku tidak tahu apa yang kurasakan, tapi aku sungguh tidak menyukai cara dia menatap dan memeluk Ashley."
Roland menganga.
"Kau dalam masalah Mika, kau sudah terjebak."
"Apa maksudmu Roland"
"Kau menyukainya"
"Jika memang benar aku menyukai nya apakah memang semenyakitkan ini Roland"
"Jatuh cinta akan terasa menyakitkan jika kau jatuh pada orang dan waktu yang tidak tepat Mika."
"Lalu apa yang harus kulakukan"
"Aku tidak tahu, hanya hatimu yang tahu"
"Aku tidak ingin menyakiti kak Raymond dan tidak akan mungkin Felix akan menatapku lagi disaat di hadapannya ada Ashley, cinta pertamanya"
"Mika, aku tidak tahu harus berkata apa. Kedua pria tampan itu adalah sahabatku dan kedua nya adalah pria yang baik tapi kau tidak mungkin memiliki kedua nya"
"Ya, kau benar. Apa aku terlihat egois Roland."
Roland mengangguk.
"Oh..kau sangat jujur dan itu menyakitiku. Tidak bisakah kau berbohong sedikit saja setidaknya untuk menghiburku yang sedang gundah"
Roland terkekeh.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Roland.
"Apa yang bisa ku lakukan selain tetap berada di tempat dimana seharus nya aku berada, begitu juga dengan nya."
Roland mengangguk.
"Aku tahu kau orang yang bijak dalam menyikapi sesuatu"
"Ya, lalu bagaimana denganmu. Apa Keyra sudah menerima lamaranmu?"
"Tidak, dia tidak berniat untuk menikah"
"Apa kau akan menyerah?"
"Tentu saja tidak! Aku pria sejati Mika aku akan terus berjuang untuk meyakinkannya" ucap Felix tegas.
Aku terkekeh.
"Katakan padaku apa alasan sahabatmu itu tidak tertarik dengan pernikahan?"
"Maafkan aku Roland aku tidak ada hak untuk membicarakan masa lalunya"
"Kau ingin bernegosiasi adik kecil" Roland berusaha membujukku.
"Aku tidak tertarik"
"Aku akan menceritakan tentang Felix dan Ray dan sebagai gantinya ceritakan tentang Keyra" Roland masih berusaha meyakin kanku.
"Segala hal tentang kak Ray aku sudah tahu, dan tentang Felix aku sudah tidak tertarik. Dan kau tahu aku tidak melakukan negosiasi hanya untuk mengkhianati sahabatku" sindirku.
Roland menatapku tidak percaya dengan mulut yang menganga.
"Kau curang, sebelumnya kau melakukan hal yang sama kepadaku hanya untuk mendengar cerita Felix" ucap Roland kesal.
T.B.C