
Ting Tong
Mika melihat jam dinding rumahnya. Jam 22.00. Mika mengernyit bingung siapa kira-kira yang datang bertamu malam-malam kerumahnya. Keyra dan Nayla biasanya akan langsung masuk begitu juga dengan Raymond.
Sambil berfikir Mika berjalan mendekati pintu kemudian membukanya. Mika terpekik kaget begitu melihat siapa tamu nya yang datang kerumahnya. Mika bahkan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa apa yang di hadapannya adalah nyata.
"Menyingkirlah, agar aku bisa membawanya masuk ke dalam" ucap Roland yang sedang menopang tubuh Felix di sampingnya.
Mika segera menyingkir dan mempersilahkan Roland masuk. Mika menutup pintu lalu menyusul Roland.
"Ini pesananmu, nikmatilah sebelum dia sadar" ucap Roland seraya menidurkan Felix di sofa panjang dan Roland pun duduk di sebelahnya.
"Apa maksudmu, apa yang terjadi padanya?" Mika menatap khawatir kearah Felix yang sedang tertidur.
"Aku hanya membuatnya mabuk demi memenuhi keinginanmu" jawab Roland enteng.
"Ralat Roland, ini keinginan bayi yang ada di dalam perutku bukan keinginanku. Aku hanya berusaha memenuhi keinginannya karena tidak ingin dia ileran nanti kalau sudah lahir" Mika beralasan dan jadi salah tingkah.
Roland mendengus.
"Kau tidak perlu malu di hadapanku, aku yakin ini keinginanmu, kau hanya membuat keponakanku sebagai alasan untuk memenuhi keinginanmu" goda Roland yang membuat wajah Mika merona.
Mika berdecak kesal dan memalingkan wajahnya yang merona.
"Kali ini kau berhutang banyak padaku nona Anderson, selain membuatnya mabuk aku juga harus menculiknya dari keluarganya. Katakan apa yang akan kau lakukan atas kerja kerasku yang tulus ini untuk membalas budimu karena aku yang baik ini sudah memenuhi keinginanmu" Roland tersenyum licik seraya mengangkat kedua alisnya.
"Sudah ku katakan ini keinginan bayiku, mintalah kepadanya begitu dia lahir" jawab Mika enteng seraya melipat tangannya di dada.
Roland melebarkan matanya mendengar jawban Mika yang datar.
"Wah..kau sangat tidak tahu terima kasih. Kau hanya perlu menceritakan tentang masa lalu Keyra dan aku akan menganggapnya sebagai ucapan terima kasihmu yang tulus" Roland membujuk Mika.
Mika menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudah ku katakan aku tidak akan mengkhianati sahabatku. Aku orang yang sangat setia Roland. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dariku. Pepatah mengatakan usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jadi berusaha lah lebih keras, mungkin kau masih kurang berusaha sehingga Keyra belum mempercayaimu sepenuhnya"
Roland berdecak.
"Setia apanya, jika saja kau tidak mengatakan Keyra juga mencintaiku tapi tidak percaya diri berada di sampingku karena masa lalunya, aku juga tidak akan sepenasaran ini, kau sudah mengkhianatinya" ucap Raymond kesal.
"Itu karena aku di bawah pengaruh alkhol, aku mabuk dan tidak sadar dengan apa yang ku katakan"
"Apa perlu aku membuatmu mabuk lagi agar kau mau membuka mulutmu itu lagi" ancam Roland.
"Kau ingin membunuh anakku" pekik Mika dengan tatapan tidak percaya.
Roland mendengus
"Semenjak kau hamil kau semakin pintar berkata-kata"
"Lalu katakan, kenapa kau membuatnya mabuk?" tanya Mika seraya melirik Felix yang masih tertidur.
"Katakan apa yang bisa ku lakukan selain membuatnya mabuk untuk membawanya ke hadapanmu. Kau ingin aku mengajaknya dalam keadaan sadar kesini dan mengatakan 'Felix, Mika sangat merindukanmu dan dia ingin kau mengusap perut buncitnya yang seksi itu' begitu maksudmu. Oh aku tidak segila itu adik kecil" Raymond beranjak dari kursinya lalu berjalan kearah dapur.
"Kau benar juga, lalu sekarang apa yang harus ku lakukan" Mika mengikuti Roland ke dapur.
"Penuhi hasratmu itu, tadi aku menawarkan menggantikan Felix mengusap perutmu yang buncit itu kau menolak, begitu aku membawa Felix ke sini kau bingung, sudah sana usap perutmu dengan tangannya sebelum dia sadar aku harus membawanya pulang" Roland mengambil air minum dari dalam kulkas.
"Betapa berdosanya kita menculik suami orang dan membuatnya mabuk hanya gara-gara keinginanku yang tidak masuk akal"
Mika menatap kesal kearah Roland
"Yang ada kau membuatku semakin berdosa dengan mengkhianati sahabatku Roland" Mika berbalik meninggalkan Roland.
Roland terkekeh lalu berjalan menyusul Mika. Roland mengernyit begitu melihat Mika berdiri dan mematung. Roland mendekat dan melihat ternyata Felix sudah bangun dari tidurnya dan sedang duduk menatap penuh rindu ke arah Mika.
"Ehemmm" Roland berdehem.
Felix mengalihkan tatapannya dari Mika ke arah Roland.
"Mungkin aku terlalu banyak minum, aku bahkan melihat Mika berdiri di hadapanku dengan perutnya yang sudah membesar Roland"Felix tersenyum getir.
Roland dan Mika hanya terdiam. Felix berdiri dan mendekat ke arah Mika. Felix mengelus wajah Mika seraya tersenyum hangat lalu mengecup keningnya.
"Oh Tuhan, aku yakin aku sudah mulai gila Roland, aku bahkan bisa menyentuh tubuhnya dan merasakannya. Ini seperti nyata."
Felix berlutut mensejajarkan tingginya dengan perut buncit Mika. Felix mengusap perut Mika lalu mengecupnya. Mika menahan nafasnya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan nya. Air matanya mengalir. Ingin rasanya dia berlari ke dalam pelukan Felix tapi dia menahannya dengan sekuat tenaga, mungkin memang lebih baik jika Felix menganggap ini hanya mimpi.
"Hai baby..ini daddy" sapa Felix seraya mengusap perut Mika. Mika dan Roland tercengang begitu mendengar penuturan Felix. Mereka saling pandang dan kemudian Felix terkekeh.
"Untung saja ini hanya mimpi, jika tidak Raymond pasti menghajarku karna mengaku sebagai daddymu, tapi kau tahu sayang aku sangat mencintai mommymu tapi aku sudah menyakitinya dan membuatnya terluka jadi baik-baiklah di dalam sana jangan membuat nya susah dan kesakitan lagi. Mommy mu sudah terlalu banyak bersedih jadilah penguat dan penghibur untuknya. Buatlah mommymu bahagia sayang" Felix kembali mengecup perut Mika.
"Astaga, kau bahkan menendangku sayang" pekik Felix.
"Kau pasti sangat menyukaiku" Felix kembali tersenyum getir. Mika tidak tahan lagi, ia segera berlari meninggalkan Felix dan Roland.
Felix berdiri
"Roland, apa di dalam mimpi kita juga bisa merasakan tendangan seorang bayi yang masih berada di dalam perut" tanya Felix menatap datar kearah Roland.
Roland menatap Felix iba lalu menghembuskan nafas nya.
"Kau hanya terlalu mabuk dude" Roland menepuk-nepuk bahu Felix.
"Tapi ini terasa nyata" lirih Felix seraya menatap ke dua tangan nya yang menyentuh perut Mika tadi.
"Lalu sekarang kita ada dimana?" Felix melihat sekelilingnya.
"Dirumahku" jawab Roland singkat
"Mungkin aku memang sudah terlalu mabuk, rumahmu bahkan terasa berbeda. Dan sejak kapan ada bau lemon di rumahmu"
"Sepertinya aku harus mengantarmu pulang sebelum kau semakin kacau" Roland menuntun Felix berjalan ke arah pintu.
"Tidak, aku menginap saja di sini, di sini terasa nyaman dan aku sangat menyukai aroma lemon ini" Felix melepaskan tangan Roland dari tangannya.
"Tidak, kau tidak bisa menginap di sini. Keyra sebentar lagi akan datang. Jadi kau sebaiknya pulang. Aku tidak ingin kau mengganggu malamku dengan Keyra" bohong Roland.
"Aku tidak akan mengganggumu Roland. Aku hanya merindukannya dan wangi lemon ini setidaknya mengobati rasa rinduku padanya Roland" lirih Felix.
"Aku akan membelikan pewangi ruangan yang banyak untukmu nanti. Wangi lemon. Jadi sekarang ayo kita pulang" Roland menarik Felix keluar dari rumah Mika.
Mika hanya bisa menangis menatap kepergian Felix dan Roland.
"Sayang, kau sudah senang, daddy datang dan mengusap perut mommy. Kau dengar tadi sayang daddy mu mengatakan mencintai mommy, tapi daddy mu sudah memiliki keluarga sayang jadi kita tidak boleh meganggu kehidupannya sayang" Mika mengusap perutnya.
T.B.C