
Happy reading🙂☺
Silahkan tinggalkan like dan komen ya pembaca yang budiman dan terimakasih buat yang sudah mendukung karya ku😁😁
Felix Pov
Aku mencoba menghubungi ponsel Mika begitu aku dan mommy mengakhiri telepon kami. Aku mencoba menghubungi Mika beberapa kali tapi tak kunjung diangkat.
Aku beranjak dari tempat ku dan memutuskan untuk mencarinya.
Kemana perginya gadis itu. Aku sudah mencarinya ke sana kemari tapi wajah cantik nya tidak terlihat juga. Apa mungkin dia di toilet. Wanita jika bersedih biasanya akan menangis dalam toilet selain kamarnya. Dia mungkin bersedih mendengar cemoohan Noura tadi.
Noura memang keterlaluan, jika saja dia bukan sahabatku aku pasti sudah merobek mulut nya dengan tanganku. Seenaknya saja menyebut Mika ******.
Mengingatnya saja membuat mood ku rusak. Sepertinya aku membutuhkan udara segar. Aku memutuskan untuk ke rooftop tempatku, Roland dan Ray menyegarkan fikiran selain klub dan wanita tentu saja.
Aku tidak mengerti dengan diriku. Aku merasa nyaman berada di dekat gadis kecil itu. Aku tidak tahu apa aku hanya sekedar menyukainya atau bahkan sudah mencintainya, tetapi yang pasti berada di dekatnya tidak pernah membosankan. Bahkan tubuh ku juga bereaksi tidak normal jika berada di dekatnya. Perasaan yang hangat yang tidak pernah kurasakan lima tahun terakhir ini. Bahkan jantung ku berdetak lebih kencang seperti genderang mau pecah setiap kali aku menyentuh gadis itu.
Aku seperti ABG labil setiap mengingat nya bahkan aku mau tersenyum sendiri seperti orang tidak waras bila mengingat tingkahnya yang polos. Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta dengan nona muda itu. Aku akan menyeret nya ke KUA begitu aku menemukannya. Aku menertawakan diriku sendiri menyadari fikiran konyolku itu.
"Aku tunangan Raymond, Ayrin Mikayla Anderson"
Aku mematung mendengar suara tepatnya ucapan seorang wanita yang baru saja menari-nari di fikiranku. Aku menatap lurus ke depan melihat Mika dan Roland sedang duduk berhadap-hadapan.
Apa tadi kata nya 'tunangan' . Aku pasti salah dengar aku meyakinkan diriku sendiri walaupun sebenarnya aku lebih mempercayai pendengaranku yang tidak bermasalah sama sekali. Aku mundur dan bersembunyi ditempat yang tidak bisa dilihat Roland dan Mika tapi masih bisa mendengar pembicaraan mereka.
Aku tidak mempercayai diriku memiliki sisi memalukan ini. Mencuri dengar pembicaraan orang lain. Dan untuk apa aku bersembunyi, aku bisa saja bergabung dengan mereka fikirku lagi.
Aku melangkahkan kakiku dan lagi lagi langkahku terhenti begitu mendengar kata demi kata yang keluar dari mulutnya.
"Apa yang bisa kulakan, kenyataannya aku memang tidak bisa memberikan apa yang ditawarkan Noura kepadanya. Aku tidak bisa membuka ************ ku begitu saja hanya untuk seorang pria, sekalipun itu Raymond tunanganku, aku tahu aku egois dan tidak adil juga buat Noura tapi aku bisa apa"
"You're still a virgin"
Roland brengsek setelah apa yang Mika bicarakan dia hanya menangkap hal itu. Dan Noura apa maksud nya membohongi ku. Aku benar-benar meragukannya sekarang. Dia tahu Mika tunangan Ray tapi dia bertingkah seperti orang yang tersakiti dan betapa bodohnya aku mempercayai itu dan bahkan beberapa kali menyakiti hatinya.
Aku segera berbalik untuk membuat perhitungan dengan Noura yang sudah membohongiku dan mempermainkanku.
"Sekarang ceritakan tentang Ashley apa yang terjadi dengannya, Noura menjebaknya bukan"
Langkahku kembali terhenti. Tubuhku menegang ketika nama wanita itu disebut. Aku berbalik lagi dan menatap wajah serius Roland.
Ada yang tidak beres dan sepertinya aku melewatkan sesuatu.
"Ya, dia menjebak nya dengan memberikannya obat perangsang"
Aku mematung di tempatku berdiri. Aku tidak peduli mereka melihatku atau tidak.
Darahku berdesir mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Roland. Kenyataan yang mereka sembunyikan sejak lima tahun lalu. Aku mengepalkan tanganku menahan emosi.
Apa-apann ini, mereka mempermainkanku dengan menyembunyikan hal sebesar ini dariku.
"Apa yang kau katakan benar" ucapku dingin.
Roland dan Mika tersentak mendengar suaraku.
Aku berjalan mendekati mereka.
"Katakan bahwa apa yang ku dengar itu salah" ucapku setenang mungkin. Roland bungkam.
Hatiku semakin memanas.
"Roland Orlando katakan bahwa yang aku dengar barusan tidak benar" bentak diwajah Roland. Roland tetap bungkam. Aku sudah tidak sabar dan segera melayangkan tinjuku bertubi-tubi ke wajah dan tubuh Roland. Roland tidak menghindar atau pun melawan. Dia mungkin mengetahui aku butuh pelampiasan.
Mika histeris tapi aku tidak mempedulikannya karena aku sendiri sudah dipenuhi dengan amarah, kecewa dan penyesalan yang sangat dalam bercampur jadi satu.
Aku melihat Roland terkapar lemas, aku beranjak dan pergi meninggalkannya. Aku harus membuat perhitungan dengan wanita ular itu. Noura.
Aku ke ruangannya dan menemukan dia sedang duduk manis di mejanya. Dia tersenyum begitu melihatku. Aku menariknya kasar lalu menyeret nya kedalam ruanganku.
"Ada apa Felix?" tanya begitu aku melepaskan. Dia mengelus pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeramanku yang kuat.
"Jadi kau dalang dibalik kejadian lima tahun lalu" tuduhku to the point.
"Apa maksud Felix, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba kau mengungkit kejadian itu" Noura berusaha mengelak.
"Katakan yang sebenarnya sialan, bagaimana kau menjebak Ashley dan Sean?" aku menatapnya penuh intimidasi.
"Apa Mika si wanita ****** itu yang mengatakan padamu"
Emosiku langsung mendidih mendengar dia menyebut wanitaku dengan kata laknat itu.
"Jangan menyebutnya seperti itu. Aku sudah pernah mengatakan aku tidak akan berbaik hati padamu jika kau melakukan hal yang tidak ku sukai wanita sialan" aku mencengkram wajahnya dengan tanganku.
"Katakan kenpa kau melakukannya, apa kau puas dan bahagia telah mempermainkan hidupku Noura"
" Ya. Aku puas dan bahagia telah menghilangkan dua parasit itu dari hidupmu. Marinka si gadis manja yang munafik dan wnita ****** Ashley yang menusukku dari belakang."
Darahku mendidih mendengar cara Noura menyebut dua wanita yang sangat berarti dalam hidupku. Tanpa bisa kucegah dan kendalikan aku menampar bahkan melempar Noura berkali-kali. Aku mendengar dia merintih kesakitan tapi aku tidak peduli. Aku seprti tuli dan buta melihat darah bercucuran dari tubuhnya. Aku sudah dipenuhi emosi, yang ada di fikiran ku wanita ini harus mati untuk bisa memohon maaf pada adikku.
Aku mengangkatnya lagi yang sudah terkulai lemas untuk kulempar kembali.
"Hentikan Felix, kau bisa membunuhnya. Aku mohon kendalikan dirimu"
Aku merasakan pelukan hangat yang menenangkan dibalik punggungku. Seperti mantra aku melepaskan Noura dan segera tersadar.
Aku berbalik dan melihat gadis-ku Mika menangis ketakutan. Aku segera menarinya ke dalam pelukaku.
"Maafkan aku, kau pasti ketakutan" ucapku seraya mengecup puncak kepalanya.
Mika mengangguk.
"Aku tidak ingin kau membunuh sahabatmu yang nantinya akan kau sesali. Tenanglah, semua pasti baik-baik saja" ucap Mika di sela-sela tangisannya.
Kata-katanya menyentuh relung hatiku. Hatiku menghangat mendengarnya. Emosiku yang meledak-ledak tadi menguap begitu saja hanya dengan dia menyentuhku. Tidak salah lagi aku menyukai gadis ini. Aku tahu dia ketakutan tapi dia masih berusaha menenangkanku.
Mika melepaskan pelukannya lalu menuntunku untuk duduk di sofa.
"Minum dan tenangkan lah dirimu, aku akan membersihkan ruanganmu dulu" Mika memberikan segelas air lalu beranjak pergi. Aku menahannya lalu melingkarkan tanganku di pinggangnya.
"Jangan pergi, tetap lah seperti ini sebentar saja" lirihku.
Aku tidak tahu mantra apa yang dimiliki gadis ini. Dia hanya diam tapi bisa membuatku nyaman dan tenang.
Aku merasakan jemarinya mengelus lembut rambutku. Seperti seorang ibu kepada anaknya. Pertahananku runtuh sebagai seorang pria. Aku menangis.
Oh shit ini sangat memalukan, menangis di hadapan wanita yang kau sukai
"Menangislah, kau tidak perlu malu dihadapanku. Aku di sini untuk menemanimu dan kau tidak harus menceritakan kesedihanmu jika itu menyakitkan buatmu. Tapi percayalah tidak ada gunanya menyesali masa lalu karena itu sudah berlalu yang penting adalah keadaan saat ini, kau sudah mampu bertahan dan melewatinya"
"Aku marah karena tidak bisa menghentikan penyesalan ku, aa..aku telah membunuhnya, aku menuduhnya dan mereka menyembunyikannya" ucapku terbata dan tak jelas.
"Ssstt...semua pasti baik-baik saja, itu semua sudah takdir, yang harus kau lakukan adalah menerimanya dan berdamailah dengan dirimu sendiri Felix" ucap Mika lembut yang entah sejak kapan duduk dan sudah memelukku. Aku membalas pelukannya erat.
Aroma lemon dan vanilla tercium di hidungku. Wangi yang akan menjadi favoritku selanjutnya.
Aku melepaskan pelukanku lalu aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, Mika gugup aku tersenyum lalu mencium kening dan pelipisnya. Aku melihat wajahnya yang merona.
Mika menunduk menyembunyikan rona di wajahnya aku mengangkat dagunya dan menatap lekat manik matanya.
"Can i..." tanyaku memberanikan diri meminta persetujuannya. Jantungku hampir saja copot begitu melihat Mika memejamkan matanya.
Tanpa membuang waktu aku segera ******* bibir ranumnya itu yang sudah menjadi candu buatku.
My vitamin
Aku bahkan bisa mendengar detak jantung ku yang berdebar tak karuan begitu Mika membalas ciumanku walau sangat kaku dan tidak berpengalaman. Polos.
That's my girl dan persetan dengan Raymond !.
T.B.C