
Empat Tahun Kemudian
"Sayang pakaianku..?" teriak Felix dari dalam kamarnya.
"Aku sudah meletakkannya di tempat biasa honey" jawab Mika setengah berteriak dari arah dapur yang sedang menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya. Darren dan Felicia.
"Aku tidak menemukannya sayang"
"Huh..Daddy berulah lagi" cetus Felicia.
"Sudah lah, nikmati saja sarapanmu. Bukankah kita sudah terbiasa dengan sifat kekanakannya Daddy" jawab Darren datar.
Mika hanya tersenyum kecut mendengar kedua anaknya membicarakan suaminya yang memang kekanakan itu.
"Sudah..sudah..jangan berbicara. Habiskan sarapan kalian, dan segeralah berangkat ke sekolah.
"Dan kau Darren kau tidak perlu belajar terlalu giat sayang. Aku bisa gila, di umurmu yang masih 13 tahun kau sudah duduk dibangku sekolah menengah atas. Di umur mu ini kau harusnya lebih menikmati waktumu bermain dengan teman-temanmu sayang, tidak perlu belajar terlalu keras. Tahun ini mommy sepertinya harus mempersiapkan diri mendengar kabar dari kepala sekolahmu lagi yang meminta agar kau segera di daftarkan ke universitas" ucap Mika. Bukannya Mika tidak bangga atas prestasi yang diraih putra nya itu. Hanya saja terkadang Mika kasihan melihat putranya itu jadi kurang bersosialisasi dengan anak-anak seumurannya.
"Ya mom, bukankah aku sudah mengurangi waktu belajarku mom. Dalam seminggu aku hanya belajar satu kali. Tapi aku tidak mengerti kenapa aku masih saja lebih unggul dibanding para kakak kelas itu. Mungkin kepintaranku tidak ada habisnya mom" Darren mengangkat bahunya.
"Ya..mommy rasa juga begitu" Mika menghela nafas frustasi, lalu menatap Felicia yang sedari tadi diam dan duduk manis menikmati sarapannya. Felicia yang merasakan bahwa dirinya sedang di perhatikan segera mendongakkan kepalanya dan tersenyum manis begitu mata nya bertemu dengan mata mommynya.
Mika kembali menghela nafas kasar
"Dan kau Felicia Breyonna, tidak bisakah kau mencontoh kakak mu Darren. Bagaimana bisa di usia mu yang masih 8 tahun ini kau selalu membuat kekacauan. Tiga kali seminggu surat panggilan orang tua selalu datang. Mommy tidak habis fikir kau membawa peralatan kosmetik mommy ke sekolahmu dan membuka jasa make over di kelasmu. Kau sungguh membuat mommy frustasi" Mika menggeleng-gelengkan kepalanya. Felicia yang di nasehati hanya bisa nyengir kuda.
"Darren, tidak bisakah kau memberikan sedikit kepintaranmu itu kepada adikmu Felicia, 0.05 persen mungkin sudah cukup sayang" ujar Mika dengan bodoh nya saking frustasi nya menghadapi sikap dan sifat putri nya itu.
"Andai saja itu bisa mom, aku akan memberikan seluruhnya" ucap Darren seraya mengelus kepala adiknya Felicia.
"Kau memang yang terbaik kakak" Felicia tersenyum sumringah. Mika mendengus. Darren memang sangat menyayangi Felicia. Darren akan melakukan apa pun untuk membuat Felicia tertawa dan bahagia. Melihat kedua anak nya yang saling menyayangi itu, Mika tersenyum hangat.
"Sayang, kemarilah kau lupa memilihkan dasi nya. Aku tidak bisa mencocokannya dengan pakaian yang ku kenakan" terdengar suara Felix kembali.
Darren dan Felicia mendengus.
"Dad, sebelum kau menikah dengan mommy kau yang memilihkan sendiri pakaianmu, dan kau tidak mengalami kesulitan sama sekali dad" teriak Darren.
"Sayang, lemari pakaiannya sudah berantakan. Aku tidak menemukan dasinya sama sekali. Dimana kau menyimpannya sayang"
"Dad, kau dan mommy sudah menikah empat tahun, bagaimana mungkin kau tidak mengetahui dimana letak dasimu dan kau tahu dad, kau selalu menggunakan alasan yang sama hanya untuk mengurung mommy bersamamu. Dad alasanmu itu sangat konyol" kali ini Felicia yang berbicara.
Mika tersenyum miris membayangkan betapa frustasinya suaminya di atas sana. Dan suasana seperti pagi ini sudah biasa dialami mereka selama empat tahun terakhir ini.
"Sayang, kancing kemejaku lepas. Tolong kau jahitkan sebentar. Dan sebelum kedua anakmu itu protes katakan pada mereka bahwa aku hanya memiliki satu kemeja seperti yang ku kenakan ini"
Darren dan Felicia berdecak kesal.
"Pergilah mom, kau urusi bayi besarmu itu" sarkas Felicia yang diangguki oleh Darren.
"Segeralah mom sebelum daddy mengatakan hal menggelikan lainnya seperti tidak bisa melihat karena matahari nya tidak ada di dekat nya" sindir Darren lagi.
Mika hanya tersenyum kecut mendengar sindiran ke dua anaknya itu. Dia juga tidak pernah menduga Felix akan menjadi kekanakan seperti ini setelah mereka menikah.
"Kenapa kau lama sekali sayang" Felix menarik tangan Mika dan segera mengunci pintu kamarnya sebelum kedua anak nya itu mengacaukan aktivitasnya.
"Aku harus memastikan anak-anak mu memakan sarapan mereka"
"Lalu bagaimana dengan ku sayang?" Felix mendorong tubuh Mika ke dinding.
"Felix.."
Felix membungkam Mika dengan ciuman nya. Mika pun menyambutnya. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan. Memberontak tidak akan berhasil sama sekali. Bahkan saat Mika mengingatkan bahwa pria itu akan terlambat menghadiri rapatnya ia tidak peduli sama sekali.
Felix meliahat jam yang melingkar indah di tangan nya.
"Felix kau mesum sekali. Tidak bisakah kau mengurangi kadar kemesumanmu itu"
"Aku sudah pernah mengatakan itu akan sangat sulit sayang. Kau sangat memabukkan,"
"Felix, anak-anak sudah menunggumu."
"Kita bisa melakukannya nanti, sayang" bujuk Mika.
"Ya, kita memang melakukannya nanti juga. Kita harus melakukannya sesering mungkin sayang agar kau bisa hamil lagi."
"Oh Tuhan, sayang bukankah kita memang melakukannya setiap hari."
"Ya, tapi sekarang dalam sehari kita harus juga melakukannya berkali-kali"
"Sayang, kau bisa membuat ku tidak bisa berjalan"
Setelah melakukan kegiatan menyenangkan di pagi hari secara kilat, Felix dan Mika segera turun ke bawah.
Felicia mengernyit melihat ibunya yang berjalan sedikit tertatih.
"Ada apa dengan cara berjalanmu, Mom? apa kau terluka?"
"Tidak sayang, mommy hanya tidak sengaja tadi menabrak benda tumpul di atas sana" jawab Mika asal yang membuat Felicia semakin mengernyit
Felix terkekeh
"Apa menjahit kancing baju daddy juga sangat melelahkan buat mu mom, nafas mu tersenggal-senggal dan tidak teratur. Dan keringat mu juga bercucuran, kau kelihatan lelah sekali. Apa daddy menyiksa mu mom?" tuduh Darren seraya menatap kesal ke arah Felix.
Felix mendengus.
"Kenapa kau selalu berpikiran buruk kepada daddy huh..? Kau tahu son, aku tidak mungkin menyakiti mommy kalian karena itu sama saja dengan menyakiti diri ku sendiri" ucap nya tegas seraya mengecup kening istrinya.
"Lalu kenapa mommy terlihat lelah sekali setelah turun dari kamar. Dan seperti yang dikatakan Feli dia jadi tertatih juga?" cecar Darren.
"Mommy tidak apa-apa sayang" jawab Mika dengan wajah merona
"Son, daddy tidak melakukan apa pun yang membuat mommy mu sakit, daddy hanya melakukan tugas daddy sebagai suami yang bisa membuat mommymu lupa bahkan untuk menyebut namanya sendiri" Felix mengerling nakal ke arah kedua anaknya itu.
Darren dan Felicia menatap jijik kearah Felix sekalipun mereka tidak tahu kemana arah ucapan Felix tapi percayalah muka Felix memang terlihat menjijikkan. Darren dan Felicia kompak beranjak dari kursi mereka dan meninggalkan Felix yang tersenyum penuh kemenangan.
"Terkadang aku malu mengakui dia sebagai daddy kita. Daddy terlalu menjijikkan" ucap Felicia kepada kakak nya Darren.
"Ya, selain itu aku juga kasihan pada mommy yang memiliki suami seperti daddy. Harusnya mommy menikah saja dengan uncle Raymond. Mungkin mommy akan lebih bahagia" jawab Darren enteng.
"Anak-anak daddy masih bisa mendengarkan apa yang kalian berdua katakan dan itu sangat menyakiti hati daddy" ujar Felix kesal.
"Kami memang sengaja agar kau bisa mendengar nya dad" jawab Darren terus berjalan tanpa menatap Felix.
"Kalian berdua ingin daddy memotong uang jajan kalian" ancam Felix yang membuat Darren dan Felicia berhenti dan memutar balik tubuh mereka. Felix tersenyum penuh kemenangan.
"Daddy, yang memegang keuangan adalah Nyonya di rumah ini jadi jangan mengatakan hal bodoh itu lagi" jawab Felicia telak dengan tersenyum sinis yang diikuti oleh Darren.
Felix melongo menatap kelakuan ke dua anak nya itu.
"Sayang, aku tidak tahu kenapa mereka sangat membenciku. Apa aku melakukan kesalahan sayang?" tanya Felix seraya menatap istrinya.
"Ya, Kau melakukan kesalahan. Kau memonopoli mommy hanya untuk dirimu sendiri sehingga mommy tidak ada waktu buat kami" teriak Darren dan Felicia kompak lalu pergi begitu saja.
Felix dan Mika saling tatap. Felix mengidikkan bahunya acuh dan Mika hanya geleng-geleng kepala.
T.B.C