
"Apa yang kau katakan benar?" suara rendah penuh tekanan itu mampu membuat bulu kudukku berdiri. Roland hanya diam tidak membantah atau pun membenarkan apa yang ditanyakan Felix.
Felix mendekati kami dan dia langsung mencengkram kerah baju Roland. Aku terpekik kaget.
"Katakan bahwa apa yang kau katakan itu tidak benar?" desis nya tapi dengan tatapan garang penuh amarah.
Roland masih diam membisu tidak merespon apapun.
"Katakan apa yang aku dengar itu salah Roland Orlando" teriaknya sambil melayangkan tinju nya di wajah tampan milik Roland.
Oh Tuhan apa mereka akan adu jotos di hadapanku. Apa yang harus ku lakukan. Batinku.
"Jawab aku brengsek!!" teriak nya tepat di wajah Roland. Roland sudah terlentang di lantai entah sejak kapan aku tidak menyadarinya.
Oh Tuhan wajah tampan yang sangat di kagumi Keyra itu sudah babak belur.
"Iii..itu memang benar Felix..Nnoo..Noura sendiri yang mengatakannya padaku" ucap ku pelan dengan suara bergetar tidak bisa menyembunyikan rasa takutku.
Felix memaling wajah nya dari Roland ke arahku.
"Kau bahkan mengetahuinya?" lirihnya dengan wajah yang sulit ku gambarkan. Ada rasa sedih, kecewa dan penyesalan di sana.
Tiba-tiba Felix berdiri dan tertawa kencang seperti orang kesurupan.
"Kau dan Ray menyembunyikan hal sebesar ini dariku." Felix menatap tajam kearah Roland.
"Bahkan orang lain lebih dulu tahu dibanding aku diriku sendiri yang mengalaminya. Apa kita masih bisa dikatakan sahabat Roland?" lirih Felix dengan suara yang sangat menyedihkan. Aku merasakan nyeri di dadaku mendengar rintihannya itu. Mungkin karena aku merasa kasihan dan iba atas apa yang dialaminya.
"Aku dan Ray berulang kali ingin mengatakan kebenarannya padamu. Tapi setiap aku dan Ray mau menjelaskan tentang kesalah fahaman yang terjadi antara kau dan Ashley kau seperti orang tidak waras setiap kami menyebut nama Ashley dan entah kenapa kau hanya mempercayai wanita itu, walau tidak bisa dipungkiri Noura juga yang membuatmu bangkit dari keterpurukanmu. Jadi katakan apa yang bisa kami lakukan!?" jelas Roland.
"Noura..Noura..wanita itu. Aku akan membuat perhitungan dengannya" Felix berlalu meninggalkanku dan Roland.
Aku berlari ke arah Roland untuk membantunya bangkit.
"Tolong kejar Felix, dia bisa menghabisi Noura" ucapan Roland menghentikanku untuk mendekatinya.
"Tapi.."
"Percayalah aku baik-baik saja" ucapnya seperti bisa membaca fikiranku yang tidak tega meninggalkan nya melihat kondisinya.
Dengan berat hati aku pergi meninggalkannya dan mengejar Felix. Aku berlari menuju ruangan Noura begitu aku keluar dari lift.
Begitu sampai didepan rungan Noura aku masuk tanpa mengetuk pintu. Ruangannya kosong. Tidak ada siapa-siapa. Aku mengambil ponselku dan menghubungi Felix, tersambung tapi tidak diangkat. Aku keluar dari ruangan Noura dan mencari Felix kesembarang arah. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya atau pun Noura.
Aku memutuskan keruangan Felix bisa saja dia ada di sana.
"Jadi kau dalang dibalik kejadian lima tahun lalu"
Aku mendengar suara berat Felix. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Aku menghela nafas begitu melihat ruangan nya yang masih rapi dan tidak ada barang yang berserakan. Berarti Noura masih baik-baik saja batinku. Aku melihat Felix berdiri di hadapan Noura. Mereka tidak menyadari kedatanganku. Aku memutuskan untuk berdiri sedikit lebih jauh dari tempat mereka berdiri. Aku tidak ingin dianggap menguping pembicaraan atau lebih tepatnya pertengkaran mereka.
"Setelah apa yang ku dengar dengan telingaku sendiri, aku bahkan masih tidak mempercayai kau tega melakukannya" ucap Felix.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu Felix, kau mengungkit kejadian lima tahun lalu dan menuduhku yang melakukannya." Ucap Noura tidak terima Felix menuduhnya.
"Aku bahkan selalu ada di sampingmu mendukung dan menyemangatimu agar bangkit dari rasa terpurukmu. Tapi ada apa denganmu dengan mengatakan aku dalang dibalik kejadian itu. Kau menyalahkanku atas kesalahan yang dilakukan mantan kekasihmu, percayalah aku juga bersedih dan merasa kehilangan atas kepergian Marinka" ucap Noura masih berusaha meyakinkan Felix. Ratu drama memang pantas dinobatkan padanya. Dia bertingkah seolah-olah dia tidak bersalah.
Aku mendengus. Ternyata dia memang tidak bisa marah dengan wanita itu.
"Aku tidak tahu apa yang sudah merasukimu dan siapa yang sudah mengatakannya padamu. Apa Mika si wanita ****** itu yang mengatakannya" teriak Noura histeris.
Apa-apan wanita ini. Kenapa namaku dibawa-bawa. Dan oh Tuhan dia lagi dan lagi menyebutku ******. Aku akan meminta Nayla merobek mulut manisnya itu yang seenaknya saja menuduhku.
"Jangan menyebutnya dengan kata laknat itu sialan!!!" Felix membentak Noura tepat di wajahnya dan tangannya mencengkram wajah mulus Noura.
Entah mengapa hati ku menghangat mendengar Felix membelaku.
Oh Ayrin Mikayla Anderson jangan terlalu percaya diri. Dia tidak mungkin marah hanya gara-gara Noura menyebutku ******
Aku menggelengkan kepalaku agar tersadar dari fikiranku yang tidak penting itu.
"Bukan kah aku sudah memperingatimu agar menjaga ucapanmu" ucap Felix sambil mencengkram wajah Noura lebih kuat. Noura meringis kesakitan.
"Kau menyakitiku. Hanya gara-gara wanita itu kau menyakitiku Felix" Noura menangis.
Aku tidak tahu dia pura-pura atau tidak tapi cengkraman Felix memang cukup kuat. Aku yakin itu akan meninggalkan bekas. Dan benar saja wajah mulusnya terlihat kebiruan begitu Felix melepaskan tangannya dengan kasar dari wajah Noura.
Felix berbalik dan mata kami beradu. Aku terdiam dan mematung. Felix menatapku lekat dan percayalah tatap nya sangat lembut. Darah ku berdesir dan jantungku kembali berulah.
"Kenapa kau ada di sana, kau menguping pembicaraan kami" ucapan Noura menyadarkan ku dan mengalihkan tatapan ku dari Felix ke arah Noura.
"Aa..aku tidak bermaksud menguping" aku tergagap.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Noura" Felix kembali membelakangiku.
"Bukankah aku sudah mengatakan aku tidak akan berbaik hati jika kau melakukan hal yang tidak ku sukai. Tapi tidak ku sangka kau bukan hanya melakukan hal yang tidak ku sukai tapi kau juga sudah menipu bahkan menyakitiku. Hal yang masih sulit aku percayai. Kau memang selalu ada di sampingku di saat terburukku tapi kenyataannya kau lah yang menciptakan mimpi buruk itu Noura." lirih Felix
Dada ku kembali terasa nyeri mendengar nada Felix yang penuh dengan rasa sakit dan kesedihan.
"Jadi katakan apa yang harus ku lakukan padamu" ucap Felix menatap Noura dengan sorot mata tajam penuh amarah.
"Marinka adikku satu-satunya, dia merengang nyawa membawa hatinya yang terluka akibat pengkhianatan yang diyakini nya dilakukan oleha sahabat dan kekasihnya. Tapi kenyataannya kau yang menjebak dan merencakanakannya dengan akal busukmu itu" sindir Felix dan menatapnya sinis.
"Apa kau masih mengelak dan tidak mengakuinya. Apa kau bahagia dengan menyakitiku dan juga adikku Marinka. Kau puas sudah menjebak sahabatmu sendiri."
"Ya, aku puas sudah menghancurkan dua wanita itu. Aku bahagia mereka menyingkir dari hadapanku, aku senang mereka tidak menempel lagi didekatmu"
Aku melihat mata Felix menatap Noura penuh amarah, rahangnya mengeras, tangan nya terkepal. Aku merutuki kebodohan Noura yang tidak bisa membaca situasi.
Apa wanita itu tidak bisa melihat kemarahan pria yang ada di hadapannya.
"Felix.." ucapku pelan dan mendekat kearahnya
Bugh..
Aku dan Noura menjerit bersamaan begitu Felix melayangkan tinjunya ke arah Noura.
T.B.C