
"Felix, aku turut berduka. Sungguh aku tidak menyangka Ashley akan pergi secepat itu" Mika menarik Felix ke dalam pelukannya. Mika baru mengetahui kejadian sebenarnya, kejadian dimana di hari kepergiaannya adalah hari kematian Ashley
"Jadi kau bisa bayangkan sayang, betapa hancurnya aku saat mengetahui kau juga menghilang" Felix mengeratkan pelukannya di pinggang Mika.
"Mika berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkan aku lagi. Mungkin saat itu aku hanya hancur tapi jika kau meninggalkanku lagi aku lebih memilih mati saja" Felix melepaskan dirinya dari pelukan Mika dan menatap teduh wajah wanita yang di cintainya itu.
Percayalah aku juga merasakan hal yang sama Felix. Hidup tanpamu seperti raga tak bernyawa.
Mika mengecup bibir Felix
"Aku tidak menyukai kata-katamu"
"Maka dari itu pulanglah bersamaku Mika" pinta Felix serius dengan sangat memohon.
"Pulanglah ke tempat dimana kau dan Felicia seharusnya berada" Felix mengelus lembut wajah Mika. Mika terdiam tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa kau ingin melihatku hancur lagi Mika?" tanya Felix. Mika menggeleng.
"Kau mau pulang bersamaku?" tanyanya kembali. Mika mengangguk.
Felix tersenyum. Felix mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Mika dalam. Mika menutup matanya meresapi ciuman sayang yang diberikan oleh Felix.
"Menikahlah denganku"
Mika sontak membuka matanya. Mencari kebenaran dimata Felix. Apa ia salah mendengar. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ingin rasanya ia berteriak dan mengatakan pada dunia bahwa pria yang di cintainya meminta ia untuk menikah dengannya.
Katakan ah sekali lagi. Aku mohon.
Mika menatap dalam mata Felix. Felix juga melakukan hal yang sama. Mika mengernyit dan mulai meragukan apa yang di dengarnya tadi.
"Apa tadi kau mengatakan sesuatu?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut nya. Mika menggigit bibir bawahnya karena merasakan kegugupan yang tiba-tiba menyerangnya.
"Menikahlah denganku Mikayla Anderson"
Air mata Mika mengalir begitu saja saat Felix mengatakan kalimat sakral itu dengan lugas.
Felix panik melihat reaksi Mika yang menangis. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? tanya nya dalam hati. Sesaat kemudian Felix seperti tersadar akan kesalahannya.
"Sayang maafkan aku, aku mohon jangan menangis.Aku salah sayang, tidak seharusnya aku memintamu dalam keadaan seperti ini. Seharusnya aku bertanya terlebih dahulu padamu sayang, tapi.."
Mika menggelengkan kepalanya kuat. Felix panik. Wajahnya memucat. Felix tidak tahu arti gelengan kepala wanitanya itu. Apa Mika menolaknya? Ketakutan mulai menyerang dirinya.
"Sayang, aku mohon jangan gelengkan kepalamu seperti itu. Aku bisa salah faham. Sayang, aku salah tidak seharus nya aku memintamu menikah denganku tanpa ada makan malam romantis, musik atau setidak nya sebuah cincin. Tapi percayalah sayang aku.."
"Aku bersedia. Aku mau Felix. Aku mau menyandang namamu di belakang namaku. Aku mau kita menua bersama. Aku mau Felix" isak Mika yang membuat Felix melongo. Jantung nya menggila. Kata-kata menua bersama yang keluar dari mulut Mika adalah kata terindah yang pernah di dengarnya.
"Tidakkah kau ingin memelukku Felix?" tanya Mika lagi di tengah isakannya. Felix terkekeh dan segera menarik Mika ke pelukannya. Mika menerimanya. Mika akan menjadi milik nya sepenuh nya. Apa lagi yang lebih membahagiakan dari ini.
Felix melepaskan pelukannya
"Aku mencintaimu" ucap Felix seraya mengusap air mata Mika. Felix menatap lekatmata Mika, mata yang sama dengan milik nya. Mika mengangguk.
"Kau tidak ingin menjawabnya, aku katakan aku mencintaimu. Sangat mencintaimu" ulang Felix penuh penekanan.
Mika terkekeh seraya menangkap wajah Felix
"Aku Ayrin Mikayla Anderson juga mencintaimu Felix O'Neil Mc.Kenzi" ucap Mika lembut tapi penuh dengan keseriusan.
Felix tersenyum lebar.
"Kau puas?" tanya Mika
Felix menggeleng.
"Tidak sebelum aku membuatmu menjerit di bawahku" bisik Felix seraya menggigit pelan daun telinga Mika.
"Mesum!" Mika beranjak dari tempat nya. Felix menariknya ke pangkuannya.
"Kau merasakan nya sayang, adik kecil ku sudah bangun kembali" Felix mengendus leher Mika.
"Oh Tuhan,, Felix ini masih terlalu pagi berhentilah menggoda ku" Mika meronta dalam pelukannya.
"Oh Shit, sayang berhentilah menggoyang-goyangkan bokong mu, yang di bawah sana sudah merasakan sesak yang luar biasa"
"Astaga Felix, bisakah kau mengurangi kadar kemesumanmu itu" delik Mika kesal dengan wajah merona.
"Oh God, kalian melupakan keberadaan anak di bawah umur ini lagi" dengus Felicia seraya mengambil bekalnya yang terletak di meja.
Mika langsung berdiri dari pangkuan Felix dengan wajah yang memanas. Felix terkekeh tidak merasa bersalah sama sekali.
"Dad, bisakah kau mengantarkanku sekolah sebelum kau melanjutkan tindakan senonohmu itu pada mommy?" ucap Felicia datar seraya berjalan meninggalkan mommy dan daddynya yang tercengang mendengar ucapannya.
"Sayang yang dikatakan putri kita ada benar nya. Aku akan mengantarnya dan kau sayang persiapkan dirimu. Setelah ini kita akan memproduksi bayi untuk memberikan Darren dan Felicia seorang adik" Felix mengerling nakal lalu mengecup kilat bibir Mika.
Mika mendengus.
🌞🌞🌞🌞🌞
"Katakan padaku, selama ini kau tinggal dimana, Dad?"
"New york" Felix menjawab singkat pertanyaan putrinya.
Felicia mengangguk.
"Jadi kapan Daddy akan kembali ke sana?"
"Setelah urusan daddy selesai di sini"
"Kapan itu?"
"Dua sampai tiga hari lagi"
Felicia murung mendengar jawaban Felix. Sebentar lagi daddy nya akan kembali ke kehidupannya. Felicia menggigit bibirnya untuk menahan tangis nya. Baru semalam ia mengenal daddy nya tapi mereka sudah harus berpisah.
Felix melirik putrinya yang sedang menunduk sedih. Felix terkekeh seraya mengelus sayang rambut putrinya.
"Daddy akan membawamu dan mommy ikut bersama daddy pulang" ucap Felix lembut.
Felicia mengangkat kepalanya dengan wajah berbinar
"Benarkah itu daddy?"
Felix mengangguk mantap.
"Tapi daddy kau sudah memiliki keluarga?" ucapnya lagi kembali murung
"Sayang, kau dan mommy mu adalah keluarga daddy" jelas Felix.
"Kau mengatakan kau sudah menikah dan mempunyai seorang putra?" Felicia menatap daddynya yang sedang menyetir.
"Sayang, daddy tidak mengatakan kalau daddy sudah menikah"
"Daddy aku sungguh tidak mengerti. Kau mempunyai seorang putra tapi kau mengatakan kau tidak menikah, bisakah kau menjelaskannya kepadaku daddy dengan bahasa yang bisa ku mengerti" ucap Felicia dengan wajah polos nya yang menggemaskan. Oh Tuhan betapa beruntung nya Felix memiliki putri cantik nan pintar ini.
"Sayang, daddy akan mengatakan satu rahasia. Tapi sebelumnya bisakah kau berjanji pada daddy tidak akan pernah mengatakan kepada siapa pun rahasia ini" pinta Felix.
Felicia mengangguk pasti.
"Baiklah daddy, aku janji tidak akan pernah mengatakannya kepada siapa pun" Felicia memberikan jari kelingkingnya ke arah Felix.
Felix terkekeh mengerti apa maksud putrinya Felix memberikan kelingkingnya yang langsung di tautkan oleh Felicia dengan punyanya.
"Sayang dengarkan baik-baik apa yang akan daddy katakan. Daddy tidak pernah menikah. Daddy hanya akan menikahi mommy mu. Daddy memang mempunyai seorang putra tapi ia bukan lah darah daging daddy, maksud daddy bukan anak kandung daddy. Ia daddy angkat menjadi anak daddy karna mommy nya meninggal empat tahun lalu sayang" jelas Felix penuh hati-hati agar bisa di tangkap dan di mengerti oleh putrinya.
"Bagaimana dengan daddy nya, dad?"
Tubuh Felix seketika itu menegang mendengar pertanyaan putrinya. Ia tidak menyangka putrinya akan menanyakan itu. Bagaimana sekarang Felix menjawabnya bahwa ia telah membunuh ayah Darren hanya gara-gara kesalahfahaman.
"Dad, kau mendengarkanku?" Felicia menyentuh lengan daddynya.
Felix menoleh menatap putrinya.
"Daddy nya sudah meninggal sebelum ia lahir sayang" ucap Felix getir.
"Oh kasihan sekali. Baiklah daddy aku akan memberikannya cinta yang banyak agar ia tidak merasa sedih lagi, lalu daddy katakan kapan kita akan pulang. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan nya. Oh aku bahagia sekali selain bertemu denganmu ternyata aku juga mempunyai seorang kakak" ucapnya antusias.
Felix terkekeh mendengar tingkah pola putrinya itu. Ia yakin Darren akan menyukai putrinya ini. Felix mengulurkan tangannya seraya mengusap rambutnya.
T.B.C