You Are Special

You Are Special
Felicia



Felix memasuki kamarnya dan mengunci dirinya dari dalam. Felix mengacak rambutnya frustasi. Felix berteriak sekeras-kerasnya untuk meluapkan amarahnya. Seakan tidak cukup Felix membanting semua benda yang ada di kamarnya hingga hancur dan berserakan di lantai.


Felix meluruh ke lantai dan menangis dalam diam. Bayangan tentang Mika yang mengandung anaknya membuat dadanya terasa sesak. Perasaan bersalah semakin dirasakannya mengingat Felix tidak ada di sampingnya selama kehamilan Mika. Felix tidak ada saat Mika mengalami ngidam yang biasa wanita hamil rasakan. Perasaan bersalah itu semakin besar tatkala ia sama sekali tak mengenali anak yang baru lahir yang di gendongnya beberapa bulan lalu adalah putrinya sendiri. Felix tersenyum getir mengingat kembali saat Mika yang memberikan ucapan selamat kepadanya. Betapa bodohnya dirinya tak menyadari hal itu. Dan sekarang disaat ia mengetahuinya Mika sudah tidak ada dalam jangkauannya. Mika menghilang membawa putri mereka.


Adakah yang lebih menyakitkan dari ini?


Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini.


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan pun berganti tahun. Felix benar-benar kacau dan hancur. Felix berubah menjadi sosok yang tidak terjamah. Ia benar-benar menutup diri dari dunia luar. Bahkan Roland dan Raymond sulit untuk berinteraksi dengannya. Dia benar-benar memutus hubungan dengan kedua sahabatnya itu.


Felix menatap kosong langit-langit kamarnya. Empat tahun berlalu pencariannya tidak ada hasil sama sekali. Felix betul-betul frustasi. Tak jarang ia menangisi keadaannya dalam diam. Percayalah menangis dalam diam sungguh menyakitkan, karena hanya mengeluarkan air mata tapi tidak dengan kesakitan yang kita rasakan.


Felix menyesali kebodohannya yang tidak berguna. Felix menyadari kebodohannyalah yang mendorong Mika memilih untuk pergi meninggalkannya. Apa lagi yang bisa dirasakannya selain kehancuran.


Felix tersentak begitu pintu kamarnya di dobrak keras dari luar. Felix melihat Roland dan Raymond yang menatapnya dengan ekspresi yang berbeda. Felix menatap mereka datar.


Raymond berdecak takjub melihat kamar Felix yang seperti kapal pecah. Barang berserakan dimana-mana. Belum lagi penampilan Felix yang sangat luar biasa. jenggot yang entah kapan terakhir kali di cukur. Dan jangan lupakan bau yang menyengat dari badannya. Ouh penampilan Felix benar-benar mengerikan.


"Sepertinya aku harus menambah pengamanan di rumahku agar pengganggu seperti kalian tidak seenaknya masuk dan merusak propertiku" sindirnya seraya memalingkan wajahnya dari dua sahabatnya itu lebih tepatnya yang sudah dianggapnya sebagai mantan sahabat.


"Katakan ada apa kalian kemari, apa perusahaanku sudah bangkrut" ucapnya enteng tanpa beban.


Roland mendengus


"Kau meragukan kemampuanku dan Ray "


"Bukan perusahaanmu yang bangkrut tapi sebentar lagi perusahaanku dan Roland yang akan bangkrut. Felix mau sampai kapan kau seperti ini. Aku dan Roland punya perusahaan masing-masing yang harus kami tangani juga. Tidak bisakah kau memaafkan kami dan berhentilah menyiksa kami dengan mengurus perusahaanmu" Ray menyuarakan kekesalannya. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar dan selama empat tahun itu ia menelantarkan perusahaannya hanya untuk mengurusi perusahaan Felix yang sedang galau.


"Aku tidak peduli dengan perusahaanku, Tuan Orlando mampu menangani itu semua" Ucap Roland acuh yang memang tidak terlalu memusingkan masalah perusahaannya. Alhasil Roland mendapat tatapan menusuk dari Raymond.


"Aku datang karena ingin memberitahumu cabang perusahaanmu yang di Florida sedang mengalami sedikit masalah. Aku sudah berusaha menanganinya tapi mereka ingin kau yang terjun langsung ke sana" Roland menatap sekeliling kamar Felix yang berantakan. Dia tidak tahu mau mendaratkan bokongnya dimana.


Felix mengernyit sesaat sebelum menghela nafas berat lalu beranjak dari tempatnya.


"Baiklah, tolong kalian bersihkan kamarku"


"Kau bisa meminta maidmu membersihkannya" tolak Raymond.


Felix menggeleng.


"Jika kau dan Roland ingin kumaafkan, lakukan apa yang kuminta" jawabnya acuh.


"Kau mau kemana?" tanya Roland.


"Bukan kah kau memintaku terbang ke Florida?" Felix balik bertanya dan menatap datar Roland.


Roland dan Raymond tersenyum mendengarnya.


"Akhirnya kau hidup kembali dude" ucap Roland.


"Welcome back brother" Raymond merentangkan tangannya berniat memeluk Felix.


"Berhenti di tempatmu Ray, aku belum memaafkanmu sebelum kau dan Roland membereskan kamarku dan mengganti pintunya" Felix berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi.


🐥🐥🐥🐥


"Mommy"



Mika merentangkan ke dua tangannya begitu melihat gadis cilik yang berlari ke arahnya yang juga merentangkan ke dua tangannya. Mika mengangkat gadis itu ke dalam pelukannya dan memutar-mutar tubuhnya.


"I miss u mom"


"Oh sayang, kau manis sekali. Baru beberapa jam kita berpisah kau sudah merindukan mommy" Mika menurunkan Felicia dari gendongannya.


"Kau tahu ini pertama kali kita berpisah mom" jawabnya.


Mika tersenyum seraya berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Felicia.


"Katakan bagaimana hari pertamamu sekolah honey?" Mika mengelus rambut putrinya.


"Ini sangat menyenangkan mom, aku mempunyai banyak teman baru" jawabnya semangat dengan tawa yang tidak lepas dari wajahnya.


"Wah..kau memang terlihat sangat menikmati hari pertamamu sayang" Mika menjentik hidung mungil putri cantiknya itu.


"Apa mommy mau mengantar pesanan lagi?" Felicia melihat mobil mommynya yang dipenuhi dengan kotak kue di dalamnya. Ya Mika membuka usaha toko roti untuk menghidupi dirinya dan Felicia. Usahanya cukup berkembang karena banyak peminat nya. Tidak diragukan lagi karena Mika memang pintar memasak.


"Ya sayang, kau tidak keberatan menemani mommykan sayang"


Felicia menggeleng


"Tentu saja tidak, aku senang bisa menemani dan membantu mommy" ucapnya seraya menggandeng tangan mommynya.


Mika membantu Felicia naik ke dalam mobil dan menempatkannya di bangku penumpang. Mika memasangkan sabuk pengaman nya. Mika mengitari mobilnya dan duduk di bangku kemudi dan menjalankannya. Sepuluh menit berlalu, akhirnya Mika sampai di tempat tujuannya. Sebuah perusahaan yang lumayan besar. Hilton Company. Mika membaca tulisan yang terpampang jelas di hadapannya.


"Baiklah sayang, kita sudah sampai" Mika membuka seatbelt Felicia dan membantu putrinya turun.


"Wow..perusahaannya sangat besar mom" Felicia menatap takjub gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Mika terkekeh seraya mengacak rambut putrinya.


"Mom, jika aku besar nanti, aku ingin bekerja di perusahaan besar seperti ini" ungkap Felicia.


Mika tertawa renyah


"Baiklah sayang, belajarlah yang rajin agar kau bisa bekerja di perusahaan seperti ini" Mika menggenggam tangan mungil Felicia memasuki perusahaan itu. Mika berbicara dengan security yang berada di depan pintu masuk. Setelah mengerti maksud kedatangan nya, security itu mempersilahkannya masuk.


Mika berjalan menuju meja resepsionis. Seorang wanita cantik menyambutnya dengan senyum ramah yang melekat di wajahnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu kepada Mika yang sudah berdiri di hadapannya.


Resepsionis itu kembali tersenyum.


"Ruang meeting ada dilantai 17 miss. Saya akan menyuruh beberapa orang untuk membantu anda mengantarkan pesanannya ke atas, tapi miss maaf sebelumnya anak kecil tidak diperbolehkan masuk ke sana" Resepsionis itu melirik Felicia lalu menatap Mika.


"Oh benarkah?" tanya Mika dengan raut wajah khawatir.


"Aku akan menjaganya di sini" ucap resepsionis itu membaca kekhawatiran di raut wajah Mika. Mika tersenyum lega.


"Terimakasih sebelum nya" ucapnya tulus. Resepsionis itu mengangguk.


"Sayang, kau tunggu mommy di sini, aunty cantik ini yang akan menemani mu. Mommy hanya sebentar, jadi kau jangan kemana-mana oke" perintah Mika yang langsung diangguki oleh putri nya.


"Oke mom, kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa menjaga diriku. Aku bukan anak kecil lagi mom"


Mika dan resepsionis itu terkekeh mendengar perkataan sok dewasa Felicia yang masih berumur empat tahun itu.


Mika pun berlalu begitu ia menyerahkan Felicia kepada resepsionis itu.


Sepuluh menit sepeninggalan ibunya, Felicia merasakan kebosanan. Felicia berjalan meninggalkan meja resepsionis itu tanpa disadari oleh wanita cantik itu.


Felicia terus melangkah dan berjalan, bahkan memasuki lift yang tidak diketahuinya menuju kemana. Begitu lift berhenti Felicia keluar dan berjalan menyusuri ruangan. Felicia membuka satu-satunya pintu yang ada di lantai itu.


"Sorry, sepertinya aku salah ruangan" ucap Felicia dengan senyum merekah di wajahnya. Felix yang awalnya terkejut atas kemunculan anak kecil yang tiba-tiba masuk keruangannya ikut tersenyum seakan tertular oleh senyuman Felicia.


Felix beranjak dari kursinya dan berjalan perlahan mendekati Felicia. Felix berjongkok di hadapan Felicia dan tersentak begitu manatap lekat wajah gadis kecil yang ada di hadapannya. Felix menggeleng-gelengkan kepalanya membuang jauh fikiran yang tiba-tiba merasuki otaknya.


"Ada apa uncle, apa kau merasakan pusing di kepalamu?" Felicia meletakkan punggung tangannya yang mungil di dahi Felix.


Felix terkekeh atas perlakuan polosnya.


"Kau menanyakan apa aku pusing, tapi tangan kecil mu ini malah memeriksa suhu tubuhku" Felix menjentik hidung mungil itu yang mengingatkan nya akan seseorang.


"Orang demam juga bisa merasakan pusing di kepalanya uncle" jawab Felicia tak mau kalah.


Felix terkekeh


"Kau mengingatkan uncle pada seseorang" ucap Felix seraya mencubit gemas kedua pipi Felicia.


"Lupakan saja wanita itu jika dia meninggalkanmu uncle"


Felix tertawa kencang begitu mendengar celutukan gadis kecil di hadapannya itu.


"Bagaimana kau tahu yang uncle maksud adalah seorang wanita?" tanya Felix penasaran seraya mengangkat Felicia kegendongannya. Hati nya menghangat tatkala Felicia melingkarkan tangannya di leher Felix.


"Lemon" gumam Felix pelan tapi masih di dengar oleh Felicia


"Yupz, mommy sangat menyukai segala sesuatu yang berbau lemon tapi sangat tidak menyukai buah lemon" ucap Felicia menggambarkan keanehan mommynya itu.


Felix mengangguk mengerti.


"Uncle juga mengenal satu orang seperti yang kau gambarkan"


"Wanita yang membuat mu patah hati" tanya Felicia dengan wajah polos nya yang tidak sebanding dengan ucapan-ucapan yang keluar dari mulutnya. Kembali Felix tertawa dan terkejut melihat cara Felicia berbicara.


"Kenapa kau bisa mengatakan seperti itu sweety"


"Terlihat jelas di wajah mu uncle, sama seperti mommy yang selalu terlihat bahagia di hadapanku tapi akan murung dan bersedih di dalam kamar nya, bahkan ia sering menangis, aku ingin sekali memeluknya tapi ia selalu menyembunyikan kesedihannya dan terlihat baik-baik saja di hadapanku jadi yang bisaku lakukan adalah menganggap seperti yang diinginkan mommy bahwa semuanya baik-baik saja" ucap Felicia murung.


Felix tertegun melihat raut sedih di wajah gadis kecil itu. Hatinya ikut tersayat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Felicia. Bagaimana mungkin anak sekecil ini memiliki pemikiran yang sangat dewasa.


"Bagaimana dengan daddy mu sayang, apa dia tidak menghibur mommymu?"


Felicia menggeleng.


"Aku tidak mempunyai daddy uncle" ucapnya pelan penuh dengan kesedihan.


"Maafkan uncle, uncle tidak tahu jika daddymu sudah tiada" ucapnya prihatin.


Felicia kembali menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu daddy ku sudah meninggal atau bagaimana, yang aku tahu aku hanya tidak mempunyai daddy."


Felix mengernyit.


"Maksudmu kau tidak mengenali daddymu"


Felicia mengangguk.


"Kau tidak pernah bertanya pada mommymu?" tanya Felix penasaran. Felix tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya. Sejak kapan aku jadi penasaran akan kisruh rumah tangga orang lain, batinnya.


Felicia mengidikkan bahunya.


"Tidak, aku yakin mommy sering menangis karena daddy jadi aku tidak ingin menambah beban kesedihannya" jawabnya bijak.


Felix tersenyum.


"Kau anak yang hebat sayang" ucap Felix tulus.


"Itu memang aku uncle" ucapnya sambil tertawa riang. Tidak terlihat lagi raut kesedihan di wajahnya. Felix terkekeh melihat perubahan emosi gadis kecil itu.


"Baiklah uncle, sepertinya aku harus pergi. Mommy mungkin sudah mencariku dan merasa khawatir begitu menyadari putrinya yang cantik tidak berada di tempat dimana ia menitipkanku. Aku yakin sekarang ia sudah menangis" Felicia terkekeh membayangkan betapa paniknya mommy nya sekarang.


"Wah..ternyata kau nakal juga sweety, kau menertawakan mommymu yang mungkin sekarang sudah panik. Baiklah uncle akan mengantarmu" Felix menurunkan Felicia dari gendongannya dan menggenggam tangan mungil itu seraya berjalan ke arah pintu.


T.B.C