
Felix berdiri di depan pintu kamar inap Mika. Dia melihat Mika sedang tertawa bahagia bersama Keyra, Nayla, Roland dan Raymond yang kebetulan sedang mengunjunginya.
"Kau pasti sangat merindukannya?"
"Sangat" jawab Felix tanpa mengalihkan tatapannya dari Mika dia tahu siapa yang bertanya.
"Kau juga sangat mencintainya"
"Tanpa harus kuungkapan dan kujelaskan kau juga mengetahuinya Ashley" Felix masih menatap lekat wanita yang berada di ruangan itu sambil menggendong bayi cantiknya. Sekuat tenaga ia menahan kakinya agar tidak masuk ke dalam.
"Maafkan aku" lirih Ashley.
Felix menghela nafasnya, lalu mengalihkan tatapannya dari ruangan itu ke wanita yang ada di hadapannya sedang duduk di kursi roda.
"Kenapa kau keluar dari kamarmu?" tanya Felix lembut.
"Felix sebelum aku mati.."
"Jangan berkata seperti itu, kau tidak akan mati. Darren sangat membutuhkanmu" Felix memutar kursi roda milik Ashley berniat meninggalkan kamar Mika sebelum Mika menyadari kehadiran mereka.
"Apa hanya Darren yang membutuhkanku? bagaimana dengan dirimu?" tanya Ashley.
Felix menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Ashley. Ashley mendongakkan kepalanya untuk melihat Felix yang hanya bungkam. Ashley tersenyum seraya mengusap tangan Felix
"Darren akan baik-baik saja bersamamu, Felix maafkan keegoisanku dan aku sudah memanfaatkan Darren agar kau berada di sampingku"
Felix hanya bungkam tidak merespon ucapan Ashley. Felix kembali mendorong kursi roda Ashley tapi Ashley kembali menahannya.
"Felix izinkan aku bertemu dengan Mika, aku ingin minta maaf dan mengatakan keadaan sebenarnya bahwa kenyataannya kau tidak pernah menikahiku. Tidak pernah ada pemberkatan atau pun catatan pernikahan secara negara. Aku akan mengatakan sejujurnya bahwa resepsi itu hanya untuk mengelabui Darren yang selalu bertanya tentang bagaimana pernikahan mommy dan daddynya."
"Sepertinya kau butuh istirahat" Felix memilih mengabaikan perkataan Ashley dan kembali melangkah menuju kamar inap Ashley.
"Aku mohon Felix" bujuk Ashley.
"Ashley, Mika sudah melahirkan anak Raymond, sebentar lagi mungkin mereka akan melangsungkan pernikahan mereka yang sempat tertunda dulu. Aku tidak ingin merusak kebahagian mereka untuk kesekian kalinya lagi" Felix menghembuskan nafasnya berat.
"Tapi setidaknya Mika tidak akan salah faham padamu"
"Tidak akan ada bedanya Ashley, tidak akan merubah apapun" gumam Felix.
"Tapi Felix sebelum aku mati, aku ingin minta maaf padanya, dengan begitu aku bisa tenang dan mengurangi rasa bersalahku"
"Umurmu masih panjang, kau tidak akan mati sebelum melihat Darren menikah dan memiliki anak" hibur Felix walau sebenarnya ia dan Ashley tahu kondisi sebenarnya seperti apa.
🐤🐤🐤🐤
Setelah menginap dua hari di rumah sakit akhirnya Dokter memperbolehkan Mika pulang setelah memerikasa dan memastikan keadaannya dan bayinya baik-baik saja.
"Baiklah sayang, sepertinya kita harus pergi" Mika mengecup kening putrinya.
"Sepertinya Daddymu tidak datang hari ini, sayang" Mika melihat ke arah pintu yang memang tidak ada siapa-siapa. Mika memang menyadari kehadiran Felix selama dua hari ini yang selalu datang mengunjunginya dan putri mereka dari luar.
"Ayo, kita berangkat sayang. Kita memang harus meninggalkan kota ini sayang. Kita akan memulai kehidupan kita yang baru. Hanya ada mommy dan dirimu sayang. Mommy berharap kita mampu melewati semuanya, sayang. Kau adalah penguat mommy, cahaya mommy dan kebahagiaan mommy. Jadi mulai sekarang namamu Felicia Breyonna Mc. Kenzie sayang, anak perempuan kuat yang selalu bahagia dan beruntung . Felicia mommy ambil dari nama feminim daddymu Felix. Kau menyukainya sayang?" Mika menciumi seluruh permukaan wajah putrinya. Putrinya menggeliat terganggu akan ciumannya. Mika terkekeh.
Mika berjalan menyusuri rumah sakit. Mika melihat Felix dan Roland yang berlari tergesa-gesa dengan wajah khawatir. Mika mengernyit. Ada apa dengan mereka? Tersirat kekkhawatiran dalam dirinya tatkala melihat Felix dan Roland yang terburu-buru. Mika menggelengkan kepalanya.
"Tidak..tidak.. sebaiknya kita pergi sayang, sebelum uncle Raymond datang menyusul dan menyadari kepergian kita" Mika segera pergi dan mengenyahkan fikiran buruknya tentang hal buruk yang mungkin sedang di alami Felix melihat wajah khawatir yang terlihat jelas di wajahnya tadi. Tekad nya sudah bulat untuk meninggalkan kota ini dan semua kenangannya. Mika tidak mengetahui selain keputusannya untuk meninggalkan kota ini, ada seorang wanita juga yang meninggalkan tempat ini bahkan dunia ini untuk selama-lamanya. Ashley.
🐣🐣🐣🐣
Felix duduk di ruang kerjanya sambil menatap layar komputer di depannya. Tiga bulan berlalu sejak meninggalnya Ashley dan menghilangnya Mika. Tidak banyak yang bisa dilakukan Felix. Dia hanya menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Mika, tapi sampai sekarang hasilnya nihil membuat keadaannya semakin kacau tak terkendali. Ia tidak mempunyai semangat untuk hidup lagi, semua pekerjaannya terbengkalai begitu saja. Untung ada Raymond dan Roland yang mampu mengendalikan perusahaannya hingga tidak mengalami kebangkrutan.
"Apa kau tidak berniat menyewa detektif untuk mencari keberadaan Mika?" tanya Roland yang baru masuk keruang kerja Felix.
"Ini sudah tiga bulan sejak menghilangnya Mika dan putrinya, tapi orang suruhanmu belum memberikan kabar apa pun" ucapnya lagi seraya duduk di depan Felix.
"Mika sangat pintar menyembunyikan dirinya. Terkadang aku berfikir ia sengaja meninggalkan tempat ini hanya karena tidak ingin berada di tempat yang sama dimana kaki ku berpijak. Mungkin ia sudah terlalu membenciku, Roland" ucap Felix frustasi.
"Daddy"
Felix dan Roland menatap ke arah pintu. Di sana berdiri Raymond dan Darren.
"Daddy" panggil Darren lagi seraya mendekat ke arah Felix.
Felix tersenyum hangat. Hanya dihadapan Darren dia terlihat hidup selebihnya ia seperti gelandangan yang sangat kusut.
"Ada apa sayang, kau menginginkan sesuatu?" Felix mengangkat Darren ke pangkuannya.
"Daddy maafkan aku" Darren menundukkan kepalanya tidak berani menatap Felix. Felix mengernyit.
"Apa kau melakukan kesalahan, son?"
Darren menganggukkan kepalanya.
Felix mengerutkan dahinya, lalu menatap Roland dan Raymond yang juga bingung mendengar pertanyaan Darren. Mereka tidak menyangka Darren mengetahui kalau dirinya sedang mencari Mika selama ini.
Felix menggeleng.
"Belum sayang, apa kau akan menganggap daddy pria brengsek?"
Darren menggeleng.
"Tidak daddy, aku akan berterima kasih jika kau menemukan nya. Dengan begitu aku bisa meminta maaf padanya" Darren menahan tangisnya.
"Ada apa sebenarnya Darren?" Felix menatap lembut putranya.
"Daddy mungkin kau akan marah setelah ini tapi kau mengatakan pria harus jujur mengakui kesalahannya bukan?" Darren memberanikan diri menatap wajah daddynya. Felix merasa tertohok mendengar ucapan Darren.
"Daddy, aku yang meminta aunty Mika untuk menghilang dari hadapanmu ke tempat yang tidak bisa kau temukan"
Felix, Roland dan Raymond tersentak dan saling tatap mendengar apa yang dikatakan Darren baru saja.
"Maafkan aku daddy, tapi waktu itu aku ingin mommy bahagia, aku mengira dengan menghilangnya aunty Mika, mommy akan bertahan hidup" Darren menangis. Felix menghembuskan nafasnya berat. Ia memeluk Darren ke pelukannya. Ia cukup terkejut dengan pengakuan Darren tapi apa yang bisa dia lakukan. Tidak mungkin ia memarahi anak berusia empat tahun ini. Darren hanya seorang anak kecil yang melakukan apa yang menurutnya benar saat itu.
"Kita pasti akan menemukan aunty, tenanglah" Felix menenangkan Darren dalam pelukannya.
Darren mengangguk dalam pelukannya. Setelah Darren tenang, Felix melepaskan pelukannya.
"Son, bisakah kau kembali ke kamarmu. Daddy ingin membicarakan sesuatu hal bersama sahabat daddy" ucapnya yang mendapat anggukan dari Darren dan segera turun dari pangkuannya.
Begitu Darren menutup pintu ruangannya. Felix menatap Roland dan Raymond bergantian.
"Ray, aku sudah lama ingin menanyakan ini kenapa kau tidak langsung menikahi Mika begitu tahu ia sedang mengandung anakmu yang sekarang sudah lahir"
Raymond dan Roland terkejut mendengar pertanyaan Felix. Raymond dan Roland saling tatap. Felix menaikkan alisnya melihat tingkah sahabatnya itu.
"Apa kau dan Roland menyembunyikan sesuatu?" tanyanya. Felix merasakan firasat buruk melihat raut wajah kedua sahabatnya itu.
"Felix sebelumnya kami minta maaf, kau mungkin akan membunuh kami setelah ini tapi Felix aku minta kendalikan dirimu setelah mendengar ini" ucap Roland penuh hari-hati yang di angguki Raymond.
"Ada apa dengan kalian, tadi Darren yang meminta maaf dan pengakuan nya cukup membuat ku terkejut dan sekarang kau dan Ray juga meminta maaf. Katakan kesalahan apa yang kalian perbuat. Aku harap jantungku masih kuat menerima kejutan dari kalian" sarkas Felix.
Roland dan Raymond kembali saling pandang. Roland menganggukkan kepalanya. Raymond menarik nafas nya panjang lalu menatap Felix dalam.
"Felix, bayi yang dikandung Mika dan sekarang sudah lahir adalah anakmu, darah dagingmu" ucap Raymond dengan satu tarikan nafas.
"A..Apa?" suara Felix tercekat. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Katakan bahwa ia salah dengar tadi.
"Yang dikatakan Ray benar, kau tidak salah dengar Felix. Mika melahirkan putrimu"
Dan detik itu juga Felix merasakan ribuan jarum menghujam hatinya. Nafasnya tercekat. Seakan udara ditarik paksa darinya.
Kenyataan yang baru di dengarnya seperti tamparan keras yang menghantam wajahnya.
Felix tertawa getir, air mata mengalir dipipinya. Oh Tuhan, permainan takdir seperti apa yang kau berikan ini?
"Felix" paggil Roland.
"Pergilah" usir Felix datar.
"Felix, aku dan Roland.."
"Aku minta kalian pergilah" ulangnya lagi menyela ucapan Raymond.
"Felix, Mika tidak mengijinkan kami memberitahumu"
"Lalu kenapa sekarang kalian memberitahuku brengsek" teriak Felix seraya menghamburkan semua benda yang ada diatas meja kerjanya.
"Felix kendalikan dirimu" Roland mendekatinya.
"PERGILAH ********, SEBELUM AKU LUPA KALIAN BERDUA ADALAH SAHABATKU DAN MENGHABISI KALIAN DETIK INI JUGA!!" bentaknya.
"Felix, maafkan aku dan Roland tapi.."
Ray menghentikan ucapannya begitu melihat Felix yang menatap tajam penuh amarah kepadanya dan Roland.
"Kau ingin aku sungguh membunuhmu dan Roland di sini" ucapnya datar tapi tidak dengan tatapannya.
"Keluar, dan jangan pernah menampakkan wujud kalian di hadapanku lagi" ucapnya seraya berbalik meninggalkan Roland dan Raymond.
Raymond dan Roland menghela nafas kasar begitu Felix meninggalkan mereka. Roland dan Raymond pun segera beranjak meninggalkan kediaman Felix.
T.B.C