You Are Special

You Are Special
Tiga Puluh Sembilan



MIKAYLA POV


"Kau istirahtlah, kau belum pulih sepenuhnya. Kakak ada di bawah jika kau butuh sesuatu" ucap kak Raymond begitu kami sampai di kamarku.


"Aku mau kita bicara kak"


Kak Raymond tersenyum. Disaat aku sudah menyakitinya dia masih saja bisa tersenyum hangat seperti ini kepada ku.


"Kita bisa bicara nanti, yang kau butuhkan sekarang adalah istirahat" ucap kak Raymond lembut.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Aku sudah tidak apa-apa. Aku baik-baik saja kak."


"Baiklah, katakan kau mau bicara apa sayang, hmm..?" kak Raymond menuntunku masuk ke dalam kamar. Kami duduk disisi pinggir ranjangku.


"Aku minta maaf" lirihku tanpa berani menatap wajah kak Raymond. Aku mendunduk sambil menautkan jemariku.


"Minta maaf buat apa?" kak Raymond mengangkat wajahku agar menatapnya. Dia tersenyum.


Terkutuklah aku yang sudah menyakiti pria ini.


"Aku sudah mengkhianati kakak. Aku tahu kakak pasti terluka dan itu pasti sangat menyakitkan" aku mulai menangis karena sedih, takut, malu, dan kecewa terhadap diriku sendiri bercampur jadi satu.


"Munafik jika kakak bilang tidak merasa tersakiti tapi kakak juga harus memikirkan posisimu. Kakak tahu hal itu terjadi di luar kendalimu. Kau juga pasti tidak menginginkan hal itu terjadi. Dan selain itu kakak juga pernah berbuat salah dan membohongimu" Kak Raymond mengusap air mata yang mengalir di wajahku.


"Aku mendengar apa yang kakak katakan tadi. Kakak tidak pernah menidurinya. Tapi lihat lah aku, aku bahkan sudah tidur dengan pria asing yang tak lain adalah sahabatmu sendiri. Kakak pasti merasa jijik denganku. Aku hina dan kotor."


"Hei..lihat kakak sayang, apa kakak terlihat merasa jijik padamu dan apa-apaan kata hina dan kotor itu. Kakak tidak suka mendengar apa yang baru saja kau katakan" kak Raymond menangkup wajahku dan mengelus rambutku.


Aku menatapnya, dia tersenyum.


"Apa akan terlihat egois jika aku meminta kakak untuk tetap bersama ku dan selalu di sisiku."


Kak Raymod terkekeh.


"Kakak tunanganmu sayang, jadi sudah sewajarnya kakak bersamamu dan selalu ada di sisimu."


Aku menghamburkan diriku kedalam pelukan nya.


"Jangan pernah tinggalkan aku kak."


"Tidak sayang, kakak tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau tahu kakak sangat mencintaimu, dan tidak akan pernah berhenti mencintaimu sampai kau sendiri yang meminta kakak pergi."


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Aku tidak akan pernah meminta kakak pergi" ucapku yakin.


Aku berusaha meyakin kan diriku sendiri Semoga keputusanku tidak salah. Aku memilih bertahan di sampingnya. Dari awal memang sudah seperti ini. Aku adalah milik nya dan dia adalah milikku.


"Benarkah?" tanya kak Raymod seraya melepaskan pelukannya dan menatapku dalam.


Aku mengangguk mantap.


"Yakin.." tanya nya lagi sambil tersenyum jahil. Tapi aku tahu dari nadanya dia tidak sedang becanda.


"Kakak meragukanku?"


"Istirahatlah, kakak akan meminta Keyra dan Nayla datang untuk menemanimu" kak Raymond beranjak dari tempatnya dan menuntunku untuk merebahkan diri.


Aku tahu kak Raymond sengaja mengalihkan topik. Mungkin kak Raymond juga butuh waktu untuk berfikir. Wajar saja dia merasa ragu. Pria mana yang tidak ragu jika tunangannya sudah tidur dengan pria lain.


Kak Raymond mengecup keningku sebelum pergi meninggal kanku.


Aku menarik nafas berat kembali teringat apa yang dikatakan Felix dirumah sakit. Jika memang benar nanti aku hamil apa yang harus ku lakukan. Benarkah kak Raymond masih mau menerimaku.


Ditengah lamunanku akhir nya aku tertidur. Aku tidak tahu berapa lama aku tidur. Tapi begitu aku bangun aku sudah melihat ada Keyra dan Nayla. Aku duduk dan menyenderkan kepala ku di ujung ranjang.


"Hai..kalian sudah lama?" tanyaku dengan suara serak khas bangun tidur.


"Baru dua jam" jawab Nayla acuh sambil memainkan ponsel nya.


"Kata Raymond kau pingsan dan sempat di bawa ke rumah sakit, kau baik-baik saja" tanya Keyra sambil mengeringkan rambut nya. Dia baru saja selesai mandi.


Aku hanya mengangguk


"Kak Raymond mana?" tanyaku.


"Baru saja pulang, Roland juga tadi datang mengunjungi mu. Hanya saja kau terlihat sangat pulas jadi Raymond melarang untuk membangunkanmu" jawab Keyra.


"Kau terlihat kacau, ada apa denganmu?" tanya Nayla tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel.


Aku terdiam dan menunduk.


"Jika kau belum siap untuk bercerita tidak usah dipaksakan" ucap Keyra seperti memahami apa yang ku fikirkan.


Aku mendongak dan meneteskan air mataku.


"I'm not a virgin"


"Haahh.."


"Welcome to the club"


Reaksi berbeda aku dapatkan dari kedua sahabatku ini. Suatu hal yang tidak mengherankan buatku.


"Nay,.." tegur Keyra


"tidak bisakah kau melihat situasinya. Ini Mika Nay, bukan aku atau kau yang menganggap hal itu biasa" lanjutnya.


Keyra menatapku lekat lalu memelukku.


"Jika itu menyakitkan buatmu sebaiknya tidak usah di ceritakan" Keyra mengusap-usap punggungku seraya menenangkan.


"Aku yakin bukan Raymond" tebak Nayla.


Air mata ku semakin tumpah begitu mendengar ucapan Nayla. Keyra melepas kan pelukannya lalu melotot kearah Nayla.


"Sorry" ucapnya pelan.


"Felix"


Keyra dan Nayla terpekik kaget begitu aku menyebut nama Felix.


"Bagaimana bisa..?" Keyra kehilangan kata-katanya.


"Noura memberikan aku obat perangsang"


"What.." teriak mereka bersamaan.


"Dasar ****** sialan. Harus nya kemarin kita tidak mengirimnya kerumah sakit. Wanita itu seharusnya kita kirim ke kuburan" Nayla naik pitam.


"Apa Raymond mengetahuinya" tanya Keyra.


"Tentu saja Noura sudah merencanakannya, Raymond pasti tahu. Kau tidak melihat wajahnya juga kacau tadi" Nayla menjawab pertanyaan Keyra.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Raymond" tanya Keyra lagi.


"Baik-baik saja. Dia memintaku untuk melupakan hal itu, tapi aku tahu dia kecewa dan terluka dan kau tahu Key aku merasa sangat hina" isakku lagi.


Keyra memelukku.


"Tenang lah, Raymond mungkin saja kecewa dan itu hal yang wajar tapi aku yakin rasa cintanya lebih besar padamu dibanding rasa kecewanya" Keyra selalu mampu menenangkanku dengan kata-katanya.


"Lalu bagaimana dengan Felix?" tanya Nayla lagi.


Aku melepaskan pelukanku dan Keyra.


"Raymond menghajarnya, wajah tampan nya sudah tidak berbentuk lagi karna Roland juga ikut menghajarnya . Dan kau ahu Nay Felix mengatakan perasaannya pada kak Raymond. Pria itu benar-benar ingin mati di tangan kak Raymond."


"Felix juga pasti sangat mencintaimu" ucap Nayla.


"Beruntungnya kau dicintai oleh dua pria tampan"


Aku tersenyum kecut mendengar penuturan Nayla barusan.


"Lalu kau sendiri, bagaiman perasaanmu?" Nayla menggenggam tanganku.


"Aku tidak tahu. Tapi dari awal aku tunangan kak Raymond jadi sekarang dan ke depannya juga akan sama. Lagian sebentar lagi kami akan menikah."


"Apa perasaanmu baik-baik saja?" Nayla menatapku lekat.


Aku menggeleng.


"Aku tidak mengerti dengan perasaanku, aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi saat ini aku tidak ingin memikirkannya. Aku sudah berbuat kesalahan yang sangat fatal aku tidak ingin membuat kak Raymond kecewa lagi dan aku memutuskan aku akan selalu bersamanya."


"Jangan hanya karna kau memikirkan perasaan orang lain kau mengorbankan perasaanmu sendiri" ucap Keyra.


"Apa maksudmu berkata seperti itu Key, jangan merasukinya dan membuat hatinya jadi bingung. Raymond sudah banyak mengalah dan sudah berbesar hati jadi sudah seharusnya Ayrin tetap pada tempatnya, yaitu disisi Raymond"


"Aku bingung denganmu Nay, terkadang kau mendukungnya dengan Felix dan sekarang kau malah mendukungnya denga Raymond" ucap Keyra.


"Sekarang kondisinya berbeda, Raymond banyak berkorban di sini Key."


"Jangan lupakan Raymond juga pernah membohongi Ayrin dan mengkhianatinya" jawab Keyra telak.


"Bisakah kalian pergi dari kamarku dan tinggalkan aku sendiri."


Aku mengusir Keyra dan Nayla yang membuatku semakin pusing mendengar suara mereka yang beradu mulut.


T.B.C