
"Good morning" Raymond menyapa Mika begitu dia melihat sosok Mika berdiri di depan pintu kamarnya.
Raymond sedang memasang dasinya bersiap-siap untuk pergi bekerja. Mika mendekat ke arahnya. Mika memgambil alih dasi Raymond dan memasangkannya.
"Kakak tidak tahu kau pintar memakaikan dasi" Raymond menatap sendu wajah wanita yang dicintainya itu.
"Aku sering melakukannya buat daddy."
"Kau baik-baik saja?" tanya Raymond menatap lekat wajah Mika.
"Kakak tidak ingin memarahiku" Mika mendongak dan mata nya beradu dengan manik abu milik Raymond.
"Kenapa kakak harus marah, apa kau membuat kesalahan" Raymond mengerutkan dahinya pura-pura bingung.
Mika mendengus.
"Perasaan semalam kakak tidak mabuk"
Raymond terkekeh
"Jadi pagi-pagi datang ke sini ingin minta maaf."
"Maaf" cicit Mika.
"Untuk?" tanya Raymond.
Mika berdecak kesal. Mika menyadari Raymond sedang mengerjainya.
"Baiklah, duduk lah dulu. Kakak juga ingin mendengar apa yang akan kau katakan." Raymond menarik tangan Mika agar mengikutinya.
"Aku ingin kakak, maksudku kita mempercepat pernikahan kita. Aku akan menghubungi mommy dan daddy agar segera pulang" ucap Mika serius.
Raymond mengerutkan dahinya bingung
"Kau ingin melanjutkan pernikahan kita"
Mika mengangguk
"Apa kakak berubah fikiran?"
"Tidak, bukan begitu maksud kakak kau dan Felix.."
"Aku tidak ingin membahas itu. Aku hanya mabuk semalam" Mika menyela ucapan Raymond.
"Mika dengarkan kakak, kakak tahu apa yang kau katakan semalam murni dari hatimu. Kau tidak perlu merasa bersalah pada kakak. Kakak tidak ingin menikahimu hanya gara-gara kau merasa tidak adil sama kakak. Mika, Felix sahabat kakak dan kakak percaya dia pasti bisa membahagiakanmu."
"Kakak juga bisa membahagiakanku, apa kakak merasa tidak percaya diri."
Raymond mengangguk.
"Kenapa?"
"Karna kau tidak mencintai kakak"
Mika tercengang tidak bisa mengatakan apapun mendengar jawaban Raymond.
"Sekeras apa pun kakak berusaha membahagiakanmu hasil nya akan terlihat biasa saja, berbeda jika yang membahagiankanmu orang yang kau cintai" ucap Raymond setenang mungkin walau hatinya hancur.
"Dari cara kakak bicara, sepertinya kakak tidak ingin menikahiku lagi."
"Jika kau bertanya tentang hati kakak, ingin rasanya kakak menarikmu ke pelaminan detik ini juga.Tapi sayang kebahagiaanmu bukan kakak. Di matamu hanya ada cinta buat Felix. Jangan pernah mengorbankan kebahagiaanmu hanya untuk membahagiakan orang lain" Raymond mengelus sayang rambut Mika.
"Dan kakak memang tidak pantas untukmu, kakak juga sudah menyakitimu" sesalnya.
"Percayalah kakak baik-baik saja, mommy dan daddy juga akan mengerti setelah kakak menjelaskannya" Raymond meyakinkan Mika agar ketika melihat keraguan di mata wanita itu.
"Aku yakin kakak mempunyai hutang budi yang sangat besar kepadaku di masa lampau, sehingga aku mendapatkan cinta sebesar ini dari kakak" Mika memeluk Raymond.
Raymond terkekeh mendengar penuturan Mika.
"Mungkin, dan sekarang kakak sedang berusaha membayar lunas hutang itu dengan mengarahkanmu menjemput kebahagiaanmu" ucap Raymond seraya mengecup puncak kepala Mika. Mika mengeratkan pelukannya.
"Pergilah" Raymond melepaskan pelukannya.
"Kakak mengusirku" Mika memanyunkan bibirnya.
"Ouh akhir-akhir ini kau sangat sensitif, ada apa denganmu. Kakak bisa terlambat ke kantor jika kau terus di sini dan memeluk kakak seperti ini" Raymond tersenyum geli melihat raut wajah Mika.
"Tapi kakak bagaimana dengan Ashley dan Darren?" ucap Mika murung begitu mengingat pertemuannya terakhir kali dengan Ashley.
"Antara Ashley dan Felix sudah tidak ada hubungan apa-apa. Semua sudah berakhir lima tahun yang lalu" Raymond meyakinkan Mika yang memang betul adanya.
"Lalu Darren, dia pasti berfikir aku sudah merebut daddy nya dari mommynya" ucap Mika sedih.
"Apa Felix sibodoh itu belum mengatakannya?" Pertanyaan Raymond membuat Mika menatap nya dengan tatapan bingung.
"Dasar pria itu. Darren bukan anak Felix dan Ashley. Darren anak Sean dan Ashley." jelas Raymond.
Mika melebarkan matanya. Perkataan Aslhey kemarin terlalu ambigu sehingga Mika jadi menganggap bahwa Darren sungguh darah daging Felix.
"Sekarang sudah tidak ada lagi yang membuatmu ragu, pergilah" ucap Raymond lembut.
"Kakak aku akan mendoakanmu agar kau mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Mulai sekarang aku akan lebih giat berdoa." ucap Mika tulus.
Raymond terkekeh.
Mika menyipitkan mata nya.
"Itu sangat berbanding terbalik denganku. Melihat tipe wanita yang kakak inginkan, aku curiga jangan-jangan selama ini kakak pura-pura mencintaiku"
Raymond terkekeh lalu mengacak rambut Mika gemas.
"Nayla" ucap Mika lagi.
Raymond mengernyit.
"Ada apa dengan Nayla?"
"Gambaran wanita yang kakak inginkan mengarah pada Nayla" jawab Mika datar
"Kau tidak berniat menjodohkan kakak dengan sahabatmu itu kan?"
"Jika kakak tertarik kenapa tidak"
"Ayolah kakak harap kau tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Kau tahu kakak dan dia tidak pernah akur."
"Kakak hanya belum mengenalinya."
"Kakak tidak tertarik sama sekali dan pergilah selesaikan urusanmu" Raymond mendorong Mika keluar dari kamarnya.
Mika pun kembali pulang kerumahnya. Dengan perasaan yang menggebu-gebu Mika masuk ke dalam rumahnya berharap Felix masih di sana. Mika berlari ke kamarnya tapi tidak menemukan Felix. Mika kembali turun ke bawah dan mencarinya kedapur dan ke setiap sudut ruangan dan hasilnya nihil.
"Baiklah, mungkin dia memang sudah pergi. Aku akan ke kantornya sekalian mengambil laporanku" ucap Mika kepada dirinya sendiri.
Dengan langkah seringan kapas dan senandung-senandung kecil yang keluar dari mulutnya Mika memasuki loby kantor. Hati nya berdebar tidak karuan. Dengan sadar sangat sesadar-sadarnya Mika akan menyatakan perasaannya sekali lagi kepada Felix.
"Ouh aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya nanti wajah pria itu" Mika tersenyum geli membayangkan reaksi Felix begitu mendengar pernyataannya.
Mika menarik nafasnya setelah berada di depan pintu ruangan Felix. Mika memperbaiki penampilannya sebelum masuk kedalam ruangan Felix. Dia ingin memastikan dirinya terlihat cantik di hadapan Felix .
"Mari kita lihat seberapa terkejutnya priaku itu melihatku di sini dan menyatakan perasaanku padanya" Mika memegang gagang pintu dan mendorongnya.
"Baiklah, aku akan menikahimu. Seminggu lagi kita menikah. Kau tidak keberatan kan pernikahan kita di adakan secara sederhana."
Ashley mengangguk seraya tersenyum bahagia, dia memeluk Felix dengan erat lalu kemudian mencium seluruh wajah Felix. Felix hanya diam tidak bereaksi.
Bagai disambar petir di siang bolong Mika mendengar Felix dan Ashley merencanakan pernikahan mereka yang akan diadakan seminggu lagi.
Jantung Mika memacu dengan cepat. Dia mematung di tempat nya menatap nanar ke arah Felix dan Ashley. Ashley berjinjit dan mendekatkan bibirnya kearah bibir Felix. Ashley mencium bibir Felix. Felix tidak membalas ciuman nya tapi dia juga tidak menolaknya.
Mika mencengkram kuat telapak tangannya. Tanpa bisa di ajak kompromi air matanya mengalir.
"Ff..Felix.." lirih Mika.
Felix dan Ashley melepaskan ciumannya dan menoleh ke arahnya.
"Mika" Felix tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya begitu juga dengan Ashley
Mika mendekat kearah mereka.
"Felix aku tadi..kau dan Ashley.." racau Mika tak jelas.
"Kau mendengar nya?" Felix bertanya setenang mungkin.
Mika bungkam dan hanya menatap sendu kearah Felix.
"Ya, aku dan Ashley akan menikah seminggu lagi" tegas Felix tapi dengan wajah datar.
Air mata Mika mengalir semakin deras begitu Felix mengatakannya secara lugas.
"Tapi Felix aku.."
"Kau datang untuk mengambil laporanmu?" Felix menyela ucapannya.
Mika menatap Felix dengan sangat terluka. Mika mengalihkan tatapannya ke arah Ashley yang diam saja dari tadi.
"Ashley katakan bahwa apa yang dikatakan oleh Felix hanyalah lelucon?" tanya Mika penuh harap.
"Mika maaf..aku dan Felix.."
"Ayolah Mika, sejak kapan suatu pernikahan bisa dijadikan sebagai bahan lelucon, dan ini ambillah" Felix menyela ucapan Ashley seraya menyerahkan buku laporan milik Mika.
"Maafkan aku, tapi seperti yang kau dengar tadi kami akan menikah satu minggu lagi dan banyak yang harus kami persiapkan, jadi jika sudah tidak ada urusan kau boleh pergi" usir Felix.
Mika menatap tidak percaya kepada Felix yang tega mengusirnya. Mika tidak bergeming dari tempatnya. Felix berjalan dan membukakan pintu dan mempersilahkan Mika pergi dengan tangannya.
Air mata Mika jatuh semakin deras. Dia tidak percaya pria yang dicintainya tega melakukan hal seperti ini kepadanya. Permainan apa yang sedang di lakoni Felix. Baru saja Mika akan merasakan manisnya cinta tapi hatinya sudah dibuat hancur berkeping-keping.
Melihat Mika yang masih saja berdiri di tempatnya Felix mendekatinya dan menarik tangannya agar segera pergi.
"Aku mencintaimu" Felix menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Mika.
"Felix aku mencintaimu, kali ini dengan sadar aku mengatakannya" Mika menatap sendu wajah Felix.
"Seperti yang kau katakan tadi pagi aku mencintaimu dan kau mencintaiku jadi.."
"Dan seperti yang kau katakan tadi Mika kita tidak boleh egois karena itu akan menyakiti banyak orang. Kita memang tidak bisa bersama karena pada kenyataannya aku akan menikahi Ashley dan kau akan menikahi tunanganmu Raymond" Felix mengembalikan perkataan Mika tanpa ekspresi di wajahnya
T.B.C