
Setelah Mika menerima lamarannya, akhirnya Felix membawa Mika dan Felicia kembali ke New York. Felix menyelesaikan masalah di kantor cabangnya hanya sehari. Ia tidak sabar ingin cepat-cepat mempersunting Mika. Bukankah hal baik tidak boleh di tunda. Sungguh Felix tidak ingin lagi kehilangan Mika. Dia akan mengikat wanita itu dengan cara menikahinya.
"Katakan mom, ada siapa saja di sana?"
"Hanya grandma dan kakakmu Darren sayang."
"Wahh..aku tidak sabar ingin bertemu mereka" Felicia tertawa bahagia. Felicia memang sangat menantikan ingin bertemu dengan kakak yang di katakan daddy nya itu sangat tampan.
"Dad, apa kak Darren akan menyukaiku?" Felicia menatap daddy nya yang sedang mengemudi.
Felix menatapnya sekilas lalu tersenyun hangat.
"Tentu saja sayang, kakakmu pasti akan sangat menyukai mu. Selain cantik tentu saja putri daddy ini mudah untuk disukai sama seperti mommymu" Felix mengerling nakal ke arah Mika.
Felicia mendengus
"Daddy memujiku hanya karna ingin merayu mommy. Baiklah jika kak Darren tidak menyukaiku aku akan memaksa dan membuat dia menyukaiku sebesar aku menyukainya" ucap Felicia antusias seraya merentangkan kedua tangannya.
Felix menghentikan mobilnya di depan mansion mewah milik keluarganya.
"Apakah kita sudah sampai mom?" tanya Felicia menatap lurus mansion yang ada di depannya.
Mika mengangguk
"Ya honey"
"Wah..daddy aku tahu kau kaya tapi aku tidak menyangka kau memiliki istana sebesar ini" Felicia berdecak kagum.
"Mommy, kau sangat beruntung memiliki pria kaya seperti daddy, aku tidak habis fikir kenapa kau bisa meninggalkannya" Felicia menatap mommynya tidak percaya seraya geleng-geleng kepala. Mika mendelik kesal mendengar ucapan putrinya itu. Felix yang melihatnya terkekeh.
"Daddy apa kau mencintaiku?" kembali Felicia bertanya seraya menatap Felix dengan senyum manisnya.
Mika mendengus melihat tingkah pola putri nya itu. Dia hafal betul tabiat putri nya itu. Tersenyum manis begitu pasti ada mau nya
"Senyum mu mengatakan kau mengingankan sesuatu" Mika menyentil hidung putrinya.
Felix tergelak.
"Tentu saja daddy sangat mencintaimu honey. Jadi katakan kau menginginkan apa?"
"Kau dengar itu mom, mulai sekarang aku tidak perlu lagi merengek-rengek padamu membelikanku boneka barbie untuk memenuhi koleksi barbieku. Aku tidak perlu lagi mendengar ocehan yang mengatakan tabunganmu akan habis"
"Oh sayang, mulutmu sangat manis sekali" ucap Mika geram seraya mencubit kedua pipi putrinya itu.
"Apa selama ini kau hidup menderita dan kekurangan?" Felix menatap Mika dengan tatapan bersalah.
Mika menggeleng.
"Tidak, kau bisa melihat bagaimana ramainya toko rotiku Felix. Jangan dengarkan apa kata putrimu. Aku hanya tidak ingin terlalu memanjakan nya" Mika menenangkan seraya meyakinkan Felix.
"Maafkan aku" Felix mengelus wajah Mika dan menatapnya lekat dengan tatapan sedih terlihat di matanya.
"Oh sayang kau tidak perlu merasa bersalah begitu. Percayalah itu bukan salahmu"
"Kau memanggilku apa?" wajah Felix berbinar seketika. Felix menahan senyum nya. Mika mengernyit.
"Ulangi apa yang kau katakan tadi" desak Felix. Mika semakin mengernyit bingung.
"Itu bukan salahmu" ulang Mika.
"Ya, sebelum itu kau memanggil ku apa?" Desak Felix semakin tidak sabar. Mika berfikir sejenak seraya mengingat-ingat apa yang di katakannya.
"Sayang" ucap Mika ragu-ragu.
Felix mengangguk dan tersenyum lebar.
"Katakan lagi" pinta Felix.
Mika tersipu malu
"Sayang" lirihnya pelan.
"Oh Tuhan, bisakah kalian lebih kekanak-kanakan dari pada ini"
Felix dan Mika sontak menatap kearah putrinya.
"Dan mau sampai kapan kita berada di dalam mobil ini. Maafkan aku dad, tapi dibandingkan melihat kekonyolan kau dan mommy, aku lebih tertarik untuk menemui grandma dan kakakku Darren. Setidaknya pertemukan aku dengan mereka terlebih dahulu, baru kalian lanjutkan kekonyolan kalian itu.
Sumpah demi apa pun Felix selalu dibuat terkejut oleh kata-kata yang keluar dari mulut putrinya itu. Celotehan-celotehan putrinya itu selalu diluar dugaan. Felix mengacak rambut putrinya itu. Mulai sekarang hidupnya akan lebih berwarna dan tentunya akan lebih bahagia dengan kehadiran dua bidadari cantiknya itu.
"Sayang, katakan padaku apakah putri kita selalu diluar dugaan seperti ini?" Felix mengalihkan tatapannya dari putrinya ke arah Mika.
Mika mengangguk
"Ya, dan kau tahu itu sangat menyiksaku Felix. Setiap putrimu berceloteh itu akan selalu mengingatkan ku akan dirimu"
Felix tersenyum sumringah dengan wajah berbinar-binar.
"Setidaknya aku tidak menderita sendiri sayang. Aku tidak menyangka kau mencintai ku sebesar aku mencintai mu sayang" Felix menatap teduh manik mata yang sama dengan manik mata miliknya.
"Mom, Dad..please.."
"Ok honey. Maaf kan kami. Baiklah ayo kita turun dan temui garandma beserta kakakmu itu" Felix membuka seatbeltnya lalu turun dan mengitari mobil nya untuk membuka kan pintu untuk Mika dan putrinya.
"Aku tidak sabar melihat wajah terkejut mereka sayang" Felix membawa Felicia ke dalam gendongan nya dan menggenggam tangan Mika. Felix menuntut Mika dan putrinya masuk ke dalam mansion.
"SURPRISE...."
Suara menggelegar di dalam ruang tamu. Felix dan Mika di buat terkejut. Di hadapan mereka selain Mommy Felix dan Darren sudah ada Rolad, Raymond, Nayla dan Keyra. Mika terharu dan tanpa bisa ditahan air matanya mengalir.
Felix mendengus kesal menatap tajam ke arah orang-orang yang ada di ruangan itu, khususnya Roland dan Raymond.
"Kalian merusak kejutanku" ujar Felix kesal
Felix berdecak kesal
"Katakan sedang apa kalian di sini?" tanyanya datar masih dengan raut wajah kesal.
"Selain membuatmu kesal tentu saja menyambut kedatangan Mika" jawab Raymond tak kalah enteng seraya merentangkan tangannya untuk memeluk Mika. Mika tersenyum dan menyambut pelukan Raymond.
"Long time no see adik kecil dan aku sangat merindukanmu" ucap Raymond tulus.
"I miss you too" jawab Mika seraya mengeratkan pelukannya. Dia sungguh merindukan pria ini. Pria yang sudah di anggap nya seperti kakak sendiri. Mika yakin Raymond juga sudah move on dan hanya menganggapnya seperti adik sendiri.
"Satu, dua, tiga" Hitung Felix kemudian menarik kerah baju Raymond dari belakang agar menjauh dan melepaskan pelukannya dari Mika lalu menarik Mika ke samping nya dan memeluk pinggang Mika.
"Ini pertama dan terakhir kalinya kau memeluknya Ray. Lain kali aku tidak akan memberikan toleransi" ucap Felix ketus.
Raymond terkekeh.
"Posesif huh..." sindir Raymond. Felix mengabaikannya.
"Oh..my wife, aku sangat merindukanmu dan percayalah kau semakin cantik" Roland mendekat dan bermaksud memeluk Mika.
"Dan percayalah kekasihku tidak merindukanmu sama sekali" Felix menarik Mika ke belakangnya sehinggah Roland tidak bisa memeluknya.
"Dan khusus untuk mu Roland, tidak boleh ada kontak fisik"
Semua tertawa mendengar keposesifan Felix.
"Wah kau sungguh tidak adil kawan. Kau tahu Felix, aku yang selalu di repotkannya saat mengandung putrimu bila Mika mengalami ngidam yang biasa di alami ibu hamil. Kau mungkin tidak percaya bagaimana siaganya aku menjaga kekasihmu itu dan anak yang ada di perutnya. Dan oh astaga apa gadis cantik ini putrimu. Bayi kecil yang di lahirkan Mika" pekik Roland menatap Felicia yang berada di gendongan Felix.
Mika mengangguk sambil tersenyum. Felix mendengus.
"Memangnya kau fikir siapa jika dia bukan putriku" ketus Felix.
"Oh astaga sweety, kau sangat cantik sama seperti mommymu. Kemarilah sayang peluk daddy, daddy sangat merindukanmu" Roland mengabaikan cibirin Felix dan mengulurkan tangan nya berniat mengambil alih Felicia dari gendongan Felix.
Felix memundurkan badan nya dan memukul tangan Roland.
"Sudah ku katakan tidak ada kontak fisik Roland, baik dengan Mika maupun putriku dan apa-apaan kau menyebut dirimu DADDY, jangan membuat putri cantikku ini bingung sialan" hardik Felix sengaja menekan kata daddy.
"Dan kau sayang jangan pernah memanggil orang lain dengan sebutan daddy selain kepada daddy oke" pinta Felix lembut seraya menatap putrinya.
Felicia mengangguk.
"Oke daddy" Felicia menyatakun ibu jarinya dengan jari telunjukknya sehingga membentuk lingkaran.
"Sayang, kau mencintai daddy?" tanya nya lagi.
"Of course daddy"
"Berjanjilah pada daddy jangan pernah mencintai pria lain sebesar kau mencintai daddy honey"
"Jika itu membuatmu senang, aku berjanji daddy" Felicia memberikan jari kelingkingnya.
Raymond dan Roland mendengus
"Kau berlebihan dude" ujar Raymond seraya memutar bola matanya malas melihat keposesifan sahabatnya itu.
"Ya..kau terlihat konyol. Tidak bisakah kau hanya menguasai Mika jangan membuat putri mu berjanji yang pada akhirnya tidak bisa di tepati nya" ledek Roland.
"Bisakah kalian berdua angkat kaki dari rumahku?" usir Felix menatap kesal kepada ke dua sahabat nya itu.
Roland dan Raymond mendelik kesal
"Kau kejam sekali"
"Felix, kau keterlaluan" Mika memperingati Felix seraya mencubit lengannya.
"Biarkan saja sayang. Mereka memang layak diperlakukan seperti itu. Mereka yang sudah menyebabkan aku kehilanganmu selama empat tahun ini"
"Daddy, maksudmu dua uncle tampan ini yang menyebabkan mommy pergi darimu?" Felicia menatap daddynya lalu kemudian menatap Raymond dan Roland secara bergantian
" Ya honey, mereka penyebabnya" jawab Felix.
"Oh Tuhan, Felix jangan mengotori otak kecil keponakanku itu dengan tuduhanmu yang tak berdasar itu" rungut Raymond kesal
"Dan percayalah Felix kau sungguh kekanakan sekarang" lanjutnya yang di abaikan oleh Felix tentunya.
"Sudah..sudah, dari tadi kalian asyik saling menggoda sehingga melupakan masih ada kami di sini" mommy Kelly turun tangan melerai pertikaian-pertikaian kecil itu.
"Dan oh sayang..bagaimana kabarmu?" Mommy Kelly memeluk Mika.
"Aku merindukanmu mom" Mika membalas pelukan mommy Kelly.
Mommy Kelly melepaskan pelukannya menyadari masih ada Nayla dan Keyra di sana. Dua sahabatnya itu juga pasti sangat merindukan Mika. Mommy Kelly memberikan waktu untuk ketiga sahabat itu untuk saling melepas rindu. Mommy Kelly mendekati Felix dan menatap Felicia haru. Lalu mencium dan memeluknya.
"Hai.." sapa Mika
"Kau keterlaluan. Kau pergi tanpa mengatakan apa pun pada kami, apa kita masih bisa di katakan sahabat" air mata Keyra mengalir.
"Maafkan aku" lirih Mika.
Keyra menggeleng.
"Kau harus di hukum" ucapnya seraya memeluk erat sahabatnya itu.
"Nay.." panggil Mika masih dalam pelukan Keyra.
Nayla mengangguk
"Selamat datang kembali sayang" Nayla bergabung dan memeluk kedua sahabatnya itu.
T.B.C