You Are Special

You Are Special
Dua Puluh Dua



Happy readingπŸ˜€πŸ˜„


Silahkan votment teman-temanβ˜ΊπŸ‘ŒπŸ™


Mikayla Pov


Jam weker di kamar ku berbunyi dengan nyaringnya. Aku terbangun dari tidurku yang bisa dikatakan tidak nyenyak sama sekali. Aku melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan angka enam.


Aku segera beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi. Aku menghabiskan waktu lima belas menit untuk mandi.


Sejujurnya aku sangat malas untuk pergi ke kantor hari ini setelah mengingat kejadian kemarin siang dan semalam adalah pertengkaran pertamaku dengan kak Raymond. Semalam dia mengatakan dia akan meninggal kan Noura.


Apa yang akan dilakukan wanita itu nanti begitu bertemu denganku? fikirku dalam hati.


Aku melihat pantulan diriku di cermin untuk memastikan penampilanku sudah rapi. Aku turun ke bawah dan menemukan ibuku sudah menungguku di meja makan.


"Pagi mom.." aku mendaratkan bokongku di kursi.


"Pagi honey.." mommy menyodorkan susu ke hadapanku yang langsungku minum habis.


Aku beranjak dari kursiku.


"Aku berangkat mom" aku mencium kedua pipi ibuku.


"Hati- hati sayang" mommy mengecup kening dan mengelus kepalaku.


"Oh ya sayang, tadi Daddy menghubungi mommy meminta mommy untuk datang mengunjunginya. Daddymu mengatakan dia merindukan mommy" ucap mommy sambil menuntunku berjalan ke luar.


"Jika daddy mengatakan merindukanmu, segeralah kunjungi dia sebelum wanita lain mengunjunginya mom" godaku.


Mommy melotot dan menarik hidungku.


"Bagaimana dengan dirimu?" tanya mommy mencemaskanku.


"Oh mom, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku akan mengajak Keyra dan Nayla menginap di sini. Jadi katakan mom kapan mommy akan pergi?"


"Baik lah mommy akan meminta Aunty Chatrin untuk menjagamu. Mommy akan berangkat empat hari lagi. Tapi sayang ini mungkin sedikit lebih lama karena pekerjaan daddymu yang menumpuk"


"It's ok mom. Pastikan saja kalian hadir di acara wisudaku" ucapku.


Mommy mengangguk.


"Pergi lah, nanti kau terlambat" .


Β 


πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž


Β 


Aku berhenti di coffee shop yang berada di seberang kantor Felix. Aku butuh secangkir kopi untuk menghilangkan kantukku yang memang tidak tidur dengan nyenyak semalam.


"Aku perlu berbicara denganmu" seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh dan melihat Noura berdiri sambil menatapku tajam. Aku mengernyit. Ia langsung menyeret tanganku kasar. Noura membawaku ke kamar mandi.


Apa-apan wanita ini. Cafe ini menyediakan kursi dan meja yang nyaman untuk sekedar berbicara. Bahkan jika yang ingin ia katakan bersifat pribadi cafe ini juga menyediakan ruangan tertentu. Dasar wanita aneh!


"Apa tidak ada tempat yang lebih layak untuk berbicara selain di sini" ucapku.


"Apa kau yang meminta Raymond untuk meninggalkanku."


Aku mengernyit.


Jadi kak Raymond bersungguh-sungguh dengan ucapannya semalam.


"Aku tidak memintanya." jawabku jujur


"Jika kau tidak memintanya apa kau menggodanya dengan merelakan tubuhmu yang tidak seberapa ini" ucapnya meremehkanku.


"Jaga ucapanmu!!" desisku


Noura tertawa kencang seperti orang kerasukan.


"Ya..ya..aku yakin Raymond tidak sudi menyentuhmu. Mungkin Raymond hanya kasihan padamu karna tidak akan ada pria yang tertarik dengan wajah polos yang terkesan bodoh ini dan tubuh yang tidak ada menariknya sama sekali" Noura menatapku dengan tatapan meremehkan. Percayalah ingin sekali aku mencongkel kedua bola matanya.


"Apa kau yakin Raymond bersungguh-sungguh akan meninggalkanku. Kau tahu hanya aku yang bisa memuaskannya disaat kekasihnya yang lain tidak bisa memenuhi hasratnya di ranjang dan dia tidak akan sudi untuk menyewa para ****** hanya untuk memuaskannya."


Aku tersenyum sinis mendengar perkataan Noura.


"Sebagai seorang wanita aku malu mendengar perkataanmu. Kau tahu Noura aku tidak perlu membuka selangkanganku hanya untuk membuat seorang pria bertahan di sampingku"


Aku melihat wajah Noura merah padam mendengar sindirin pedas yang ke luar dari mulutku.


Dia berjalan mendekat ke arahku dan menarik rambutku ke belakang. Aku meringis kesakitan. Percayalah tarikannya sangat kuat.


"Apa yang kau lakukan" Ucapku berusaha menahan rasa sakit di leher dan kepalaku.


"Kau merendahkanku wanita ******!!" teriaknya tepat di wajahku.


"Aku tidak merendahkanmu, tapi kau sendirilah yang membuat dirimu terlihat rendah"


"Berani nya kau menjawab perkataanku. Kau belum tahu siapa aku, aku bisa saja menghabisimu agar kau menjauh dari kehidupan Raymond."


"Lepaskan aku wanita sialan" aku menarik paksa tangan Noura dari rambutku. Tangannya terlepas dan aku melihat beberapa helai rambutku di tangannya.


Sialan dia menyakiti rambut cantikku, rutukku


"Jangan menganggap remeh ancamanku. Kau bisa saja bernasib sama dengan Ashley."


Aku tersentak mendengar ucapannya.


"Apa maksudmu? Apa kau yang membuat Ashley kekasih Felix menjauh darinya?" tanyaku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.


Noura menyipitkan matanya.


"Kau tahu Ashley?" tanyanya


Aku diam tidak menjawab pertanyaannya.


Noura mengangguk.


"Baik lah, karena kau sudah mengetahuinya aku tidak perlu berpura-pura lagi. Ya aku yang menjebaknya agar menjauh dari Felix. Aku fikir Felix akan menerimaku setelah Ashley menghilang tapi ternyata dia malah menutup hatinya untuk wanita. Tapi itu sudah tidak masalah bagiku. Karena kenyataannya hanya aku satu-satunya wanita yang ada di sisinya, karna dua wanita pengganggu itu sudah menghilang untuk selamanya" ucap Noura sambil tersenyum bangga.


Plak


"Apa kau sudah gila" teriaknya.


"Kau yang tidak waras" aku balas meneriakinya.


"Teganya kau mempermain kan perasaannya bahkan menjebak sahabatmu sendiri. Manusia macam apa kau ini. Bukan kah Ashley dan Marinka adalah sahabatmu"


Noura tertawa.


"Khawatirkan saja dirimu. Bisa saja sebentar lagi kau akan bernasib sama dengan mereka karana telah berani mengganggu hubunganku dengan Raymond"


"Kau yang mengganggu hubunganku dengan tunanganku."


Noura tersentak mendengar ucapanku.


"Jangan berpura-pura bodoh Noura, kau tahu betul aku tunangannya. Aku melihat dan mendengar bagaimana hari itu kau meminta Raymond untuk menjadi kekasihmu. Bahkan kau menggodanya dengan tubuhmu itu. Aku melihatnya"


Noura mendengus.


"Huh.. dasar wanita bodoh. Kau tahu, kau sangat menyedihkan, kau hanya bisa diam ketika melihat tunanganmu bercinta dengan wanita lain, sadar lah itu artinya kau tidak cukup menarik di mata tunanganmu."


Aku tersenyum getir


"Apa yang bisa ku lakukan ketika aku memang tidak bisa memenuhi hasratnya di atas ranjang. Aku bukan wanita yang rela membuka selangkanganku hanya untuk seorang pria, sekalipun pria itu tunanganku. Kesucianku hanya milik suamiku" ucapku tegas.


"munafik!" desis Noura dengan menatapku sinis.


"Kau tahu Noura, aku justru kasihan padamu. Kau rela melakukan hal picik hanya untuk mendapatkan seorang pria yang kenyataannya tidak tertarik denganmu. Dan sekarang kau bahkan merelakan tubuhmu hanya untuk pria lainnya agar bertahan di sampingmu. Bertaubat lah Noura sebelum semua nya terlambat dan kau menyesalinya" ucapku sebelum pergi meninggalkannya.


"Dasar wanita ****** wanita sialan! Awas saja kau Mika"


Aku mendengar Noura berteriak mengumpat dan mengancamku. Tapi aku tidak mempedulikannya karna aku memang sudah terlambat. Felix pasti akan memarahiku. ini sudah jam 9 pagi. Aku terlambat Satu jam.


Aku lari terburu-buru bahkan untuk merapikan penampilanku yang acak-acakan aku tidak sempat.


Aku menarik nafas begitu sampai di depan pintu ruangannya. Aku sudah mempersiapkan diri dan telingaku untuk mendengar semua ceramahnya atas keterlambatanku ini.


Aku mengetuk pintunya lalu masuk.


"Good morning sir" setenang mungkin aku menyapanya.


Felix mendongak dan mengernyit begitu melihatku.


"Apa kau baik-baik saja" tanyanya dengan raut wajah khawatir. Apa aku salah lihat. Apa dia mengkhawatirkanku.


Oh ayo lah Mika, buang jauh jauh fikiran konyolmu itu.


"Seperti yang anda lihat, saya masih bernafas dan tentu saja saya baik-baik saja sir" ucapku formal. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku jadi bersikap formal begini.


Felix mengangguk.


"Baik lah. Bisakah kau membelikanku sarapan. Aku tadi terburu-buru dan tidak sempat bersarapan" ucapnya.


Aku menganguk dan segera pergi untuk membelikannya sarapan.


Lima belas menit kemudian aku kembali dengan membawa sarapan milik Felix. aku hanya membeli sandwich dan sebotol air mineral.


Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Aku terdiam melihat pemandangan yang ada di depanku. Felix yang sedang menenangkan Noura yang sedang menangis.


Felix menyadari kehadiranku. Dia menoleh. Untuk beberapa detik kami menatap saling diam.


Apa yang akan kau lakukan jika kau mengetahui wanita yang saat ini kau peluk dan kau tenangkan adalah wanita yang sama yang sudah membuat mu hancur bahkan kehilangan orang yang kau sayang, ucapku dalam hati.


Aku mendengus lalu berjalan mendekat ke arahnya lalu meletak kan sarapan nya di meja. Aku berbalik hendak keluar dari ruangan yang tiba-tiba terasa panas.


"Apa kau menamparnya"


Aku menghentikan langkahku begitu mendengar ucapan Felix. Aku berbalik menghadapnya.


"Apa dia yang mengatakannya " tanyaku sambil melirik wanita licik itu sekilas.


Dasar tukang mengadu!


"Aku bertanya padamu, harusnya kau menjawab ku bukan malah bertanya kembali! ucapnya tidak suka.


"Ya, aku menamparnya. Lalu kau mau apa?" ucapku lantang.


"Kenapa kau melakukannya?" Felix menatapku tajam. Aku tidak menyukai tatapannya itu. Aku tidak terima dia menyalahkanku.


"Sebelum kau menanyakanku kenapa aku melakukannya tanya kepada wanita kesayanganmu itu apa yang sudah dilakukannya sehingga dia pantas mendapat tamparan dariku" Aku mengamuk lalu menatap tajam Noura. Aku melihat Noura menyunggingkan senyum sinisnya. Tentu saja Felix tidak melihat itu.


Dasar wanita ular!


"Apa maksudmu, kenapa kau jadi menyalahkanku. Aku hanya memintamu bahkan aku memohon agar kau merelakan Raymond padaku. Aku tidak bisa hidup tanpanya" Noura menangis.


Wah aku bahkan tidak percaya dengan penglihatanku akan kehebatan akting yang dilakukan oleh wanita picik ini.


Huh..yang benar saja merelakan kak Raymond. Dia fikir tunanganku itu barang yang bisa berpindah kepemilikan.


"Aku mungkin akan merelakannya jika wanita bukan dirimu" ucapku sinis.


"Ada apa denganku? aku mencintainya. Aku bahkan rela melakukan apapun untuknya agar dia tetap berada di sampingku."


Aku hampir saja bertepuk tangan melihat drama yang dilakukan oleh Noura. Dia hebat melakoni perannya wanita yang tersakiti.


"Aku tidak meragukan ucapanmu, karena tadi kau sudah menunjukkannya" Ucapku lalu berbalik meninggalkan pria bodoh dengan wanita licik itu.


Aku menghembuskan nafasku kasar begitu aku keluar dari ruangan Felix. Aku mengipas wajahku dengan tanganku untuk menghilangkan panas yang ku rasakan tadi di dalam sana.


"Apa Felix mengganggumu lagi"


Aku melihat Roland berjalan ke arahku sambil tersenyum jahil.


"Bagus lah kau datang. Tunjukkan pada ku dimana tempat yang bagus untuk menjernihkan fikiranku yang terkontaminasi ini" aku mengabaikan ucapannya tadi


Roland terkekeh.


"Kau mengajakku" tanyanya seolah tidak percaya.


Aku berjalan mengabaikan pertanyaan nya. Dia mengikutiku.


T.B.C.