
Mika memutuskan untuk segera pergi sebelum dia pingsan dan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Felix dan Ashley. Mika berjalan dengan tergesa-tergesa, air matanya sudah di pelupuk matanya.
Mika terduduk lemas dan menumpahkan air matanya.Dia tidak bisa membendungnya lagi pria yang di cintainya sudah menjadi milik orang lain.
"Ay.."
Mika mendongak. Raymond duduk di sampingnya dan menatanya khawatir.
"Kau baik-baik saja" Tanpa Mika menjawab sebenarnya Raymond tahu Mika tidak baik-baik saja.
Mika menggeleng
"Aku tidak baik-baik saja kakak, tamparan Noura di wajahku sangat menyakitkan kak."
Raymond terkekeh mendengar jawaban konyol Mika. Raymond tahu Mika menangis bukan disebabkan oleh tamparan yang diberikan oleh Noura melainkan karena hati nya sekarang yang tidak baik-baik saja.
"Kakak bagaimana bisa aku baik-baik saja, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, untuk pertama kalinya aku tahu apa itu cinta tapi disaat aku merasakannya saat itu juga hatiku harus hancur kak" tangis Mika pecah.
"Kakak, bisakah kau memelukku" pintanya.
Raymond segera memeluk Mika.
"Menangislah sepuasmu tapi setelahnya bangkitlah jadi Ayrin yang lebih kuat dan ceria seperti biasanya" ucap Raymond.
Raymond memeluk Mika dan membiarkan bajunya basah oleh air mata Mika.
"Kau sudah puas?" tanya Raymond lembut setelah tidak mendengar isakan Mika lagi.
Mika mengangguk, Raymond tersenyum.
"Bagaimana kalau kita pulang saja" ajak Raymond.
Mika mengangguk.
"Tapi sebelumnya kita temui mommy Kelly dulu, aku belum memberikan ucapan selamat padanya."
"Baiklah, mari kita temui aunty Kelly" Raymond menggandeng tangan Mika.
"Oh hai sayang, mommy mengira kau tidak akan datang" tatap mommy Felix penuh arti.
Mika tersenyum.
"Bagaimana aku tidak datang mom sementara mantan bossku mengundangku menghadiri hari kebahagiaannya"ucap Mika setenang mungkin.
Mommy Kelly mengangguk.
"Semoga kau bahagia sayang" Mommy Felix memeluk Mika erat.
Mika terkekeh.
"Harusnya aku yang memberikanmu selamat mom, kau pasti bahagia selain mendapatkan seorang cucu yang tampan kau juga sudah mendapatkan menantu."
Mommy Felix melepaskan pelukannya lalu mengelus sayang kepala Mika
"Ya, mommy bahagia sayang" ucapnya tanpa nada.
"Selamat aunty" Raymond memeluk mommy Felix.
"Terima kasih sayang" balasnya.
"Mom, maafkan kami sepertinya kami sudah harus pergi" ucap Mika penuh sesal.
"Kenapa cepat sekali, acaranya belum selesai."
"Mom, kak Raymond ada pertemuan dengan klien nya hari ini yang tidak bisa dibatalkan" bohong Mika seraya melirik ke arah Raymond.
Oh Tuhan bahkan untuk melarikan diri dari tempat ini aku harus berbohong, ucap Mika dalam hati.
Raymond terkekeh
"Ya aunty, pertemuan ini sangat penting buatku" jelasnya.
"Baiah jika memang itu urusan pekerjaan, mommy akan memanggilkan Felix dan Ashley."
"Oh..itu tidak perlu mom, mereka pasti sedang sibuk menyambut para tamu yang lain" Mika membuat alasan.
Seminggu setelah pernikahan Felix, Mika tidak pernah lagi bertemu dengannya. Ya wajar saja karena Mika kembali mengurung dirinya di dalam rumahnya. Dia menyibukkan dirinya dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah mulai dari membersihkan setiap sudut ruangan sampai memasak untuk dirinya dan para maid di rumahnya. Para maid di rumah nya bahkan bingung melihat tingkahnya karena dia melarang para maid itu membantunya.
Badan nya serasa remuk begitu dia menyelasaikan semua pekerjaan rumahnya tapi itu seolah tidak terasa baginya karena kenyataannya hatinya masih terasa sakit dan bayangan Felix tidak juga hilang dari fikirannya.
Mika memutuskan untuk pergi berbelanja. Tanpa ditemani Keyra dan Nayla atau pun Raymond, Mika belanja gila-gilaan. Mulai dari pakaian, tas, sepatu bahkan pakaian dalam mahal dibeli olehnya.
Mika merebahkan badannya di tempat tidur seraya menatap kantong belanjaan nya yang berserakan.
Mika menghela nafasnya.
"Ternyata apa yang dikatakan Keyra dan Nayla bahwa shoping bisa menenangkan hati, jiwa dan raga tidak benar. Aku masih saja mengingatnya" lirih Keyra.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang, moralku melarangku untuk mencintai ia yang sudah menikah tapi setiap mengingatnya perasaan itu malah semakin tumbuh."
"Ini tidak bisa dibiarkan" Mika beranjak dari tempatnya dan segera keluar dari kamarnya.
Mika menghembuskan nafasnya berat begitu sampai di depan rumah Raymond. Mika masuk ke dalam dan membalas sapaan para maid yang menyapanya.
"Dimana aunty dan uncle, bi?" Tanya Mika pada salah satu maid itu.
"Tuan dan Nyonya ada di kamar non"
"Kak Raymond?" tanyanya lagi.
"Tuan muda juga berada di kamarnya non"
"Baiklah, aku akan segera keatas" Mika menaiki tangga menuju kamar Raymond.
Mika mengetuk sebelum masuk.
"Masuk" terdengar suar Raymond dari dalam.
Mika masuk dan melihat Raymond sedang mengerjakan sesuatu di laptop nya.
"Kakak" panggil Mika
Raymond segera mengalihkan tatapannya dari laptop nya begitu mendengar suara Mika. Raymond tersenyum lalu beranjak dari kursinya dan mendekati Mika.
"Ada apa? Kau tidak bisa tidur?" tanya Raymond menarik tangan Mika agar segera masuk.
"Kakak menikahlah dengan ku!"
Raymond tersedak mendengar permintaan lebih tepatnya pernyataan Mika. Raymond menatap Mika seraya melipat kedua tangannya di dada.
Untuk beberapa saat Mika dan Raymond hanya saling tatap. Raymond menghela nafasnya ketika melihat keseriusan di mata Mika.
"Kakak tidak bisa"
"Kenapa? kakak tidak mencintaiku lagi?" tanya Mika terkejut begitu mendengar penolakan Raymond.
Raymond menggelengkan kepalanya.
"Kau yang tidak mencintai kakak" Raymond menatap sendu wajah Mika.
"Aku akan belajar mencintaimu kak" tegas Mika.
Raymond mengernyit
"Kenapa?" tanyanya lembut
"Aku tidak bisa seperti ini terus kakak, aku bisa gila jika terus memikirkan pria yang sudah menikah, ternyata melupakan atau melepaskan seseorang prosesnya sangat menyakitkan. Aku tidak kuat, aku mohon menikahlah denganku kakak. Aku yakin aku pasti bisa melupakannya dengan cinta yang kau miliki" Mika menatap Raymond penuh harap.
"Baiklah kita akan menikah, kabari mommy dan daddymu agar segera pulang" ucap Raymond.
Untuk kali ini aku akan egois, aku akan menikahimu walau ku tahu sebesar apa pun cintaku tidak akan menghilangkan bayangannya dari hatimu, batin Raymond.
"Terimakasih kakak"ucap Mika dalam pelukannya.
"Aku ingin kita menikah minggu depan"
"Secepat itu" Raymond melepaskan pelukannya.
Mika mengangguk
"Kakak keberatan?" terlihat raut wajah kecewa di wajah Mika.
"Tentu saja tidak. Kita akan menikah seperti yang kau inginkan. Permintaanmu adalah perintah buatku"
Mika tersenyum sumringah begitu mendengar jawaban Raymond.
Bagaimana bisa aku keberatan, menikah denganmu adalah keinginan terbesarku. ucap Raymond dalam hati.
"Baiklah, aku pergi dulu dan aku akan meminta mommy dan daddy segera kembali"
❤❤❤❤❤
Tidak terasa hari pernikahan Mika dan Raymond pun tiba. Mika takjub terhadap persiapan yang dilakukan oleh Raymond. Dalam waktu satu minggu dia mampu membuat pesta yang cukup mewah.
Mika duduk di ruangannya dengan gelisah. Dari semalam hatinya tidak tenang. Dan hari ini perasaannya semakin tidak karuan. Keyra dan Nayla baru saja pergi jadi tidak mungkin baginya untuk memanggil mereka kembali.
Pintu ruangannya terbuka. Felix berdiri di sana. Untuk sepersekian detik mereka saling menatap dalam diam.
"Hai.." sapa Felix seraya mendekat ke arah Mika. Setelah dia menikah dengan Ashley ini pertama kali mereka dipertemukan, itu pun di hari pernikahan Mika.
"Cantik" Felix menatap Mika lembut.
"Kau harus bahagia, sugar" Felix mengelus wajah Mika. Tanpa di duga Felix meneteskan air matanya. Mika dari tadi hanya diam dan menatap Felix lekat. Jantungnya berdetak dengan kencangnya.
"Akh..ini memalukan" ucapnya seraya mengusap air matanya.
"Aku sangat bahagia melihatmu akhirnya menikah dengan Raymond. Dia memang pantas mendapatkanmu." ucap Felix tulus.
"Ya, aku berharap tidak mengecewakannya dengan mencintai pria lain yang sudah menikah" Mika menatap lekat wajah yang sangat di rindukannya itu.
Felix tersenyum getir mendengar sindiran Mika padanya.
"Berjanjilah kau akan hidup bahagia"
"Apa kau bahagia?" tanya Mika mengabaikan ucapan Felix.
"Your happiness is my happiness" Felix menatap sendu mata coklat Mika yang juga sedang menatapnya.
"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?" pinta Felix.
Mika menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Felix begitu mendengar permintaan Felix dan menangis di sana.
"Jangan menangis di hari bahagia mu sugar, riasanmu akan rusak dan Raymond bisa menghajarku nanti" ucap Felix sambil tersenyum.
Felix melepaskan pelukannya lalu mencium kening Mika singkat.
"Selamat atas pernikahanmu sugar"
"Aku pergi, Ashley menungguku di luar" ucapnya. Mika mengangguk dengan berat hati.
Begitu Felix pergi, pintunya kembali terbuka. Roland sedang menatap takjub ke arahnya.
"Kau cantik sekali keponakanku" Roland mengerling nakal.
"Raymond pasti sangat bahagia, aku yakin dia tidak akan bisa mengedipkan matanya karena terpesona."
"Disaat aku mau menikah kau mengakuiku sebagai keponakanmu uncle, apa kau sudah bertemu dengan Kak Raymond?" tanyanya.
"Tidak, aku lebih tertarik menemuimu" goda Roland.
"Kau terlihat sangat gugup dan gelisah, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Roland.
"Ya, aku sangat gugup dan perasaanku dari semalam tidak enak belum lagi aku merasakan pusing yang sangat luar biasa dan mual-mual pagi ini" jawabnya.
"Kau mungkin meninggalkan sarapanmu. Ini hari pernikahanmu, jadi wajar jika kau gugup. Apa tuan dan Nyonya Anderson sudah sampai?"
"Satu jam yang lalu mommy mengatakan sudah dalam perjalanan menuju ke sini, aku akan menghubunginya kembali"
Mika mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi mommynya. Belum sempat Mika menghubungi nomor mommynya ponselnya sudah berdering.
Mika mengernyit karna tidak ada nama pemanggilnya. Mika mengangkat teleponnya.
"Hai wanita murahan" sapa suara di seberang sana yang langsung dikenali oleh Mika bahwa itu suara Noura.
"Ada apa?" tanya Mika dingin.
"Ouh kau pasti sangat bahagia, mengingat ini hari pernikahanmu dengan Raymond" ucap Noura sambil tertawa
"Tapi maafkan aku Mika, aku harus merusak kebahagiaanmu dan membuatmu malu. Dengan senang hati ku katakan calon suamimu sedang berada di ranjangku. Kami baru saja selesai bercinta" Noura semakin mengencangkan tawanya.
"Kau pasti berbohong Noura" bentak Mika yang membuat Roland ikut terkejut dan menatapnya penuh khawatir begitu mendengar nama Noura disebut.
"Bukankah sudah ku katakan, colon suamimu ini tidak akan bisa melupakan tubuhku ini, jika kau tidak percaya datang lah dan lihat sendiri, aku akan mengirimkan alamatnya" Noura memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban Mika.
"Roland, sepertinya Noura membuat ulah lagi" ucap Mika seraya memberikan ponselnya menunjukkan alamat yang baru saja dikirim Noura. Roland tahu itu alamat rumah Noura.
Mika dan Roland segera beranjak menuju tempat yang dimaksud oleh Noura. Begitu sampai di rumah Noura. Mika dan Roland langsung menuju kamar Noura dan melihat Raymond sedang terbaring di kamarnya dalam keadaan *****.
Noura yang menutupi tubuhnya dengan selimut tersenyum miring kearah Mika dan Roland. Mika mematung dan menatap nanar ke arah ranjang yang ditempati oleh Noura dan Raymond.
"Maafkan aku, aku harus merusak hari bahagiamu, apa yang bisa ku lakukan disaat Raymond meminta untuk dipuaskan" ucap Noura dengan muka setan.
Mika mendengus, berbeda dengan Roland, dia mendekat ke arah Noura dan mencengkram wajahnya.
"Dasar wanita murahan. Apa yang kau lakukan pada Raymond, ******!" bentak Roland.
"Roland hentikan, jangan mengotori tanganmu dengan menyentuhnya" ucap Mika datar tanpa mengalihkan tatapannya dari Raymond yang sedang tertidur.
"Mika, aku harap kau tidak mempercayainya" ucap Roland.
Mika menoleh kearah Roland lalu kemudian menatap Noura. Mika tersenyum.
"Kau tahu, aku sangat kasihan padamu Noura. Apa kau tidak bisa lebih pintar sedikit. Kau fikir aku akan percaya terhadap jebakanmu yang selalu menggunakan cara yang sama mulai dari Ashley, aku dan sekarang Raymond. Kau sungguh sangat menyedihkan Noura. Aku tidak akan membatalkan pernikahanku, kau tahu itu" Mika berbalik meninggalkan tempat Noura. Roland mengejarnya.
"Kau selalu membuatku bangga Mika" ucap Roland tulus bertepatan dengan ponsel Mika yang berdering.
"Halo" sapa Mika begitu mengangkat telepon.
"Miss Anderson"
"Ya" jawab Mika.
"Kami dari kepolisian ingin memberitahu bahwa Tuan dan Nyonya Anderson mengalami kecelakaan lalu lintas, dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit"
"Aa..apa" gugup Mika. Tubuhnya melemas dan terduduk di lantai dan air matanya mengalir dengan deras.
Roland mengernyit dan segera mengambil alih ponsel Mika. Wajahnya terlihat shock begitu mengetahui apa yang terjadi.
"Ya..kami akan segera menuju ke sana" ucapnya.
T.B.C