You Are Special

You Are Special
Hamil



Mika sedang memasak makan malam untuknya dan keluarganya. Setelah menikah dengan Felix, Mika memang lebih suka masak sendiri untuk keluarganya. Memiliki suami kaya tidak membuatnya manja. Mika bahkan tidak membutuhkan asisten rumah tangga untuk membantunya mengurus keluarganya. Hanya saja Felix memaksa dan tetap memperkerjakan beberapa para maid di rumahnya.


Mika yang sedang memasak makanan kesukaan keluarganya itu tiba-tiba merasa mual dan pusing mencium aroma masakannya. Perutnya terasa nyeri dan melilit. Beberapa kali Mika menahan rasa mual itu. Keringat mulai membasahi dahinya.


"Nyonya, anda baik-baik saja?" tanya maid yang menyadari wajah pucat Mika.


"Sepertinya aku masuk angin bi, tolong bibi lanjutkan. Sepertinya aku butuh istirahat" ujar Mika seraya memegangi perutnya.


"Baik Nyonya. Apa saya perlu menghubungi Tuan?"


Mika menggeleng seraya melambaikan satu tangannya.


"Tidak perlu bi. Aku hanya perlu istirahat sebentar" Mika menepuk bahu maid nya sebelum pergi meninggalkannya.


Begitu Mika sampai di kamarnya perasaan mual itu semakin hebat. Mika segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


"Oh Tuhan, ada apa denganku" gumam Mika.


Mika keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya yang masih sakit. Mika masih berfikir ada apa dengan tubuhnya yang tiba-tiba mendadak mual begini. Apa mungkin salah makan sesuatu atau terlambat makan? Mika menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak ada dari kedua kemungkinan itu yang menurut Mika yang menyebabkan sakit perut dan mual yang dirasakannya.


Mika tiba-tiba terpekik dan menyadari sesuatu. Mika segera melihat tanggal.


"Astaga sepertinya aku harus memeriksa sesuatu" Mika tersenyun sumringah seraya mencari sesuatu didalam laci meja riasnya. Tespack.


Mika kembali ke kamar mandi. Dengan hati sangat berdebar Mika melakukan test terhadap urinnya. Sesaat kemudian Mika memegang benda putih itu dan melihat dua garis merah di sana. Positif. Ingin rasanya Mika berteriak dan loncat tapi ternyata ia cukup waras dan tidak melakukan hal itu karena takut akan menyakiti janinnya.


Mika memegang dan mengelus perutnya yang masih rata seraya tersenyum lembut. Buah cintanya dan Felix kembali tumbuh di rahimnya setelah penantian empat tahun. Mika tidak sabar ingin melihat wajah bahagia suaminya itu.


👣👣👣👣


Jam menunjukkan angka lima. Waktunya suaminya pulang. Mika memoles sedikit bedak di wajahnya untuk menutupi wajah pucatnya sebelum Felix menyadari dan mengacaukan kejutannya.


Mika mendengar suara mobil suaminya dan segera turun dan menyambutnya di depan pintu. Begitu Mika melihat sosok Felix ia segera berlari ke dalam pelukannya.


Felix membalas pelukannya tak kalah erat. Felix sangat menyukai cara Mika menyambutnya saat pulang bekerja. Dan itu selalu mampu membuat Felix jatuh cinta setiap hari terhadap istrinya itu.


"I miss you" Felix mengecup puncak kepala istrinya.


"I love you" balas Mika seraya mendongak. Felix menggesek-gesekkan hidung nya ke hidung istrinya. Felix melepaskan pelukan nya dan menangkup wajah istrinya dengan ke dua tangannya lalu mendaratkan bibirnya di kening istrinya. Felix mengernyit begitu menjauhkan bibirnya dari kening istrinya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Felix menatap intens wajah Mika dan menyadari kalau istrinya itu terlihat pucat.


Mika mengangguk.


"Aku baik-baik saja sayang" Mika menyunggingkan senyum manisnya.


"Kau terlihat pucat dan kau keringat dingin begini. Apa kau yakin dengan ucapanmu sayang?" Felix terlihat khawatir.


"Aku baik-baik saja. Percayalah. Dan aku punya kabar bahagia untukmu" Mika tersenyun sumringah.


"Bagiku kau tidak terlihat baik-baik saja sayang. Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya, aku bisa mencari tahu nya sendiri" ucap Felix seraya mendudukkan istrinya di sofa.


"Bibi...." panggil Felix kemudian. Tak berapa lama maid yang menemani Mika memasak tadi muncul dihadapan Felix.


"Bibi, katakan seharian ini Nyonya melakukan hal apa saja?"


"Hari ini Nyonya tidak banyak melakukan banyak hal Tuan, Nyonya hanya istirahat di kamar, sejak tadi siang Nyonya mual dan muntah. Nyonya juga terlihat sangat pucat tuan. Tapi Nyonya melarang untuk menghubungi Tuan." jawab maid itu jujur. Felix menyipitkan matanya menatap istiri nya, Mika menghela nafas.


"Baiklah Bi, kau boleh pergi" ucap Felix kemudian.


"Sepertinya kau harus di hukum sayang. Katakan..."


Mika tiba-tiba berdiri dari tempatnya dan berlari ke arah kamar mandi. Mika merasakan mual lagi. Felix kaget dan segera menyusul mengikuti istrinya. Mika muntah-muntah dan kembali mengeluarkan isi perutnya.


Felix masuk ke kamar mandi dan rahangnya mengeras begitu melihat wajah Mika yang semakin pucat.


"Katakan sayang dimana letak kata baik-baik saja itu" sindir Felix. Mika mengabaikannya dan kembali memuntahkan isi perutnya.


Felix menyingkirkan rambut Mika dari wajah nya agar tidak mengenai muntahannya seraya memijit-mijit tengkuk Mika.


"Keluarlah, ini menjijikkan" pinta Mika dengan suara lemas.


"Kau ingin aku keluar dan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini?" tanya Felix tidak percaya.


"Oh yang benar saja. Dan ada apa dengan kata menjijikkan itu. Kau adalah istriku dan sekarang kau sedang tidak baik-baik saja. Ini salah ku karena tidak merawatmu dan kurang memperhatikanmu" ucap Felix penuh sesal.


"Ini biasa dialami.."


"Biasa katamu, kau sedang tidak baik-baik saja. Ayo kita ke dokter" Felix menyela ucapan Mika lalu menarik tangannya keluar dari kamar mandi.


"Ini juga salahku, aku terlalu memaksakanmu untuk melayaniku setiap malam"


"Bukan hanya setiap malam Felix, tapi di pagi dan siang hari juga kau memintanya" ralat Mika. Felix menghentikan langkahnya dan menatap wajah Mika. Mika tersenyum tipis.


"Apa aku menyakitimu?" tanya Felix dengan nada sesal dan wajahnya terlihat sedih.


"Tidak. Hanya saja terkadang aku merasa lelah tapi percayalah aku juga menyukainya." Ujar Mika dengan tersipu malu.


Felix terkekeh lalu mengacak rambut istrinya itu


"Mesum" ucap Felix yang membuat Mika melebarkan matanya.


"Kau..?" geram Mika dengan wajah merona.


"Maafkan aku sayang, aku janji akan lebih mengendalikan diriku. Tapi kau juga harus janji tidak sakit lagi seperti ini" Felix menatap Mika sendu.


Mika mengangguk


"Felix, jangan khawatir percayalah ini biasa dialami oleh wanita...."


Felix mengangkat sebelah tangannya meminta agar Mika tidak berbicara dan ia tidak ingin di bantah.


"Sebaiknya aku panggilkan dokter. Kau istirahat dulu" Felix segera mengangkat tubuh Mika dan membawanya ke atas ranjang. Felix meletakkan dengan sangat hati-hati. Felix mengatur letak bantal agar Mika nyaman dengan posisinya, lalu Felix menarik selimut menutupi tubuh istrinya.


"Felix dengarkan aku, kita akan menjadi.."


"Sayang, aku minta kau istirahat dulu. Aku akan menghubungi Dokter agar segera datang dan memeriksamu" Felix mengambil ponselnya dari saku celananya. Untuk beberapa saat Felix terlihat berbicara yang diyakini Mika sebagai Dokter keluarga Mc.Kenzie.


Mika menatap suaminya itu. Felix terlihat khawatir. Mika menarik nafas pasrah. Kabar Kehamilannya yang ingin diberitahunya langsung pada Felix berantakan. Karena sebentar lagi ia yakin Dokter yang akan memberitahu Felix. Mika kembali menghela nafas berat yang bisa didengar oleh Felix.


Felix menoleh menatap Mika


"Apa ada sesuatu yang sakit?" tanya Felix seraya mengelus kepala istri nya.


"Tidak" jawab Mika ketus. Felix mengernyit melihat perubahan istrinya yang mendadak dingin. Baru saja Felix mau bertanya kembali, terdengar suara ketukan di pintu kamar nya. Felix segera beranjak untuk membukakan pintu. Ternyata Dokter yang Felix hubungi tadi. Felix mempersilahkannya masuk untuk memeriksa istrinya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Felix langsung. Wajahnya terlihat khawatir. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.


"Istri anda baik-baik saja Mr.McKenzi" Dokter itu tersenyum hangat menatap Mika dan Felix bergantian.


"Kau bercanda Dokter" geram Felix


"Kau tidak melihat istriku pucat pasi begitu. Dan ia juga mengalami muntah-muntah, dimananya yang baik-baik saja" Felix menatap tajam dokter yang berdiri dihadapannya itu.


"Muntah dan mual itu adalah hal yang biasa. Itu adalah gejala yang umum dialami..."


"Astaga..kau sungguh membuatku semakin takut. Sesaat kau mengatakan biasa dan sesaat kau mengatakan gejala. Tidak bisakah kau mengatakannya dengan singkat dan jelas agar bisa kumengerti" hardik Felix.


Felix semakin kesal tatkala Dokter itu hanya tersenyum melihat kecemasannya.


"Selamat Mr.McKenzie saat ini istri anda...


"Aku mulai meragukan lisensi kedokteranmu. Istriku sakit kau malah memberikan ucapan selamat"


"FELIX, AKU HAMIL" teriak Mika kesal dengan kebodohan suaminya.


"Kau dengar itu dokter, istriku mengatakan dia.."


"APA?" Felix baru mencerna dan menyadari apa yang baru saja di katakan istrinya.


Felix menganga menatap istrinya. Felix mendekat dan duduk di samping Mika. Mika berdecak dan mendengus kesal.


Dokter itu terkekeh lalu mendekat kearah Felix seraya menyerahkan secarik kertas


"Sekali lagi selamat Mr.McKenzi istri anda sedang mengandung tiga minggu dan ini adalah vitamin yang harus anda tebus dan maaf sekali Mr.McKenzi sepertinya anda harus mengurangi kegiatan malam anda sebagai sepasang suami istri karena janin dalam perutnya masih sangat rentan" Wajah Mika merona mendengar penuturan Dokter tersebut.


"Baiklah Dokter sebelumnya saya minta maaf dan terima kasih" Felix menuntun Dokter itu keluar


T.B.C