You Are Special

You Are Special
Aku Merindukanmu



"Ceritakan pada uncle kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Felix begitu mereka keluar dari ruangannya.


"Mommy tadi sedang mengantar dagangannya ke ruang meeting."


"Barang dagangan?" Felix menyela ucapan Felicia dengan dahi berkerut.


"Mommy mempunyai toko roti. Perusahaan tempat uncle bekerja memesan banyak roti buatan mommy" jelas Felicia


"Uncle harus mencoba kue buatan mommy, uncle pasti ketagihan" ucap Felicia bangga. Felix hanya mengangguk menunggu Felicia melanjutkan ceritanya.


"Aunty cantik yang ada di meja resepsionis mengatakan anak kecil tidak boleh naik ke sana. Jadi mommy menitipkanku kepada aunty cantik itu. Aku bosan dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar dan seperti yang uncle lihat aku terdampar di ruangan uncle" jelas Felicia panjang lebar.


Felix terkekeh mendengar kata terdampar yang keluar dari mulut manis Felicia.


"Uncle apa kau mempunyai adik kecil?" tanya Felicia seraya mendongak ke atas melihat wajah Felix. Felix tertawa melihat tingkah gadis kecil itu. Ia segera mengangkat Felicia kedalam gendongannya agar leher anak itu tidak sakit karena harus mendongak setiap ia berbicara.


"Tidak..kenapa kau menanyakannya sayang?"


"Kau sangat tampan uncle. Aku ingin menikahi pria tampan sepertimu. Tapi tentu saja kau terlalu tua untukku. Makanya aku menanyakan apa kau mempunyai seorang adik kecil uncle."


Felix sontak tertawa mendengar pernyataan polos Felicia. Felix terpingkal-pingkal dibuat nya. Sudah lama Felix tidak merasakan perasaan seperti ini. Tertawa lepas dengan hati yang tenang dan nyaman. Hanya gara-gara gadis kecil yang baru ditemui nya ini mampu mengangkat beban berat dihati dan fikirannya.


"Tapi uncle mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat tampan" ucapnya kemudian disela-sela tawanya.


"Tapi dia sangat dingin dan sedikit angkuh. Kau butuh usaha yang keras jika ingin mendekatinya sweety."


"Jadi kau sudah menikah?" tersirat nada kecewa dalam pertanyaan Felicia. Felix mengangkat kedua alisnya menangkap nada kecewa dalam ucapan Felicia. Ia tidak menjawab pertanyaan Felicia tapi lebih memilih menggesekkan hidungnya dengan hidung gadis kecil itu. Felicia terkekeh geli.


"Apa kah anak laki-lakimu setampan dirimu uncle?"


Felix mengangguk.


"Dia bahkan lebih tampan dariku sweety" ucap Felix bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Felix keluar dengan Felicia masih di gendongannya. Setiap karyawan yang lewat di hadapannya memberi hormat padanya.


"Kalau begitu kenalkan aku padanya uncle, aku yakin kau tidak keberatan memiliki menantu secantik diriku bukan?" ucap Felicia penuh percaya diri.


Felix melebarkan matanya mendengar kenarsisan anak kecil itu.


"Wah..kau mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi honey" ucap Felix takjub. Felicia terkekeh.


"Aku anggap itu sebagai restumu uncle" jawabnya enteng yang sontak membuat Felix tertawa lepas lagi. Beberapa karyawan bahkan menghentikan langkahnya hanya untuk melihat tawa Felix yang jarang diperlihatkannya di depan karyawannya.


"Uncle sedari tadi aku melihat banyak orang yang memberi hormat padamu. Apa kau pemilik perusahaan ini?" tanyanya penasaran.


Felix tersenyum lalu mengangguk.


"Lebih tepat nya ibuku" ucapnya kemudian.


"Oh my God, kau tahu uncle aku ingin sekali bekerja di perusahaan besar seperti ini dan mommy mengatakan aku harus rajin belajar agar keinginanku tercapai. Tapi jika kau adalah pemilik perusahaan ini sepertinya aku tidak perlu belajar terlalu keras" ujarnya seraya tersenyum manis dan menatap lekat wajah Felix.


Felix mengerutkan dahinya.


"Kenapa?"


"Karna aku akan menikahi putramu dan bukan hanya menjadi pekerja di sini tapi aku juga akan menjadi pemiliknya bukan begitu uncle"


"Oh My God, kau mempunyai sisi matrealistis juga honey. Kau sungguh membuatku terkejut" Felix menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.


"Kita sudah sampai di ruang meeting honey, dimana mommymu?"


Felicia mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan tapi tetap tidak melihat sosok mommy nya di sana. Felix yang seperti menyadari bahwa wanita yang mereka cari tidak ada di sini menanyakan kepada salah satu karyawan nya yang sedang menata meja.


"Dimana wanita yang mengantarkan kue ini" Felix menganggkat satu kotak kue yang berada di jangkauannya.


"Sepuluh menit yang lalu dia sudah turun sir" ucap karyawan itu. Felix segera berbalik dan meninggalkan ruang meeting.


"Sepertinya sekarang mommy mu benar-benar sudah panik mengetahui kau tidak berada di tempat mu honey"


"Ya. mommy pasti sudah meraung seperti anak kecil" Felicia tertawa geli membayangkan wajah mommy nya yang ketakutan. Felix menggeleng-gelengkan kepala nya melihat kejahilan gadis kecil itu.


"Dia selalu berlebihan jika menyangkut diriku, aku tergores sedikit saja, mommy bisa menangis. Aku yang berdarah, mommy yang kesakitan" jelas Felicia menggambarkan sosok mommynya.


"Mommy mu pasti sangat menyayangimu" Felix memasuki lift dan menekan tombol angka 1 yang merupakan lantai dasar.


"Ya, aku juga sangat menyayanginya. Mommy bilang aku adalah sumber kebahagiaan dan penguatnya. Dia segala nya bagiku. Sebelumnya aku mengira kau belum menikah uncle, aku berniat menjodohkanmu dengan mommy. Kau pasti menyukainya. Dia wanita yang sangat cantik. Tapi sayang kau sudah menikah, padahal aku sangat menyukaimu" sesal Felicia.


Felix terkekeh.


"Tidak apa-apa uncle, kebahagiaan mommy lebih penting. Aku tidak bisa menikah dengan putramu tapi aku akan menjadi putrimu yang artinya aku juga akan menjadi pemilik perusahaanmu bukan" jawab nya enteng. Felix yang sengaja menggoda nya tadi dibuat melongo atas kepintaran gadis kecil itu.


Pintu lift terbuka. Felix dan Felicia keluar.


"Dari tadi kita sudah banyak bicara tapi kau belum mengatakan namamu siapa honey?" Felix menatap lembut Felicia seraya menyentuh hidung Felicia dengan hidung nya lagi.


"Kau tidak menanyakan uncle" jawabnya.


Felix terkekeh


"Baiklah, katakan siapa namamu anak manis?"


"Felicia yang berarti kebahagian dan keberuntungan, Breyonna arti nya kuat. Felicia Breyonna, anak perempuan kuat yang bahagia dan beruntung" Felicia memaparkan namanya.


Felix menatap takjub Felicia.


"Namamu sangat cantik honey, sama seperti dirimu. Kau tidak ingin menanyakan nama uncle?" tawarnya.


Felicia tertawa lalu mengangguk.


"Felix" ucap Felix singkat


"Wah..kita memiliki nama yang sama uncle" pekik Felicia girang. Felix mengangguk.


"Katakan nama panjang mu uncle?" pintanya lagi.


Felix terkekeh


"Felix O'Neil Mc.Kenzie"


"Astaga..bahkan nama belakang kita juga sama uncle" pekik Felicia girang. Felix menghentikan langkahnya dan menatap Felicia.


"Apa maksudmu honey?" ucap nya dengan suara tercekat. Tiba-tiba darah nya berdesir dan jantung nya berdegup kencang.


"Sweety katakan nama panjangmu" pinta Felix gugup.


"Felicia Breyonna Mc.Kenzie"


Felix tersentak dan menatap lekat manik yang sama dengan nya. Hati nya menghangat begitu mendengar nama panjang Felicia. Ini tidak mungkin kebetulan. Perasaan hangat dan nyaman ini tidak mungkin suatu kebetulan. Felix segera mengedarkan pandangan nya mencari sosok yang di rindukannya. Ia yakin firasatnya kali ini tidak salah.


"Mommy" teriak Felicia


Mika segera menoleh begitu mendengar suara putrinya. Mika segera merentangkan kedua tangannya begitu melihat gadis kecilnya sedang berlari ke arahnya.


"Ayrin Mikayla Anderson" gumam Felix. Felix mematung di tempatnya menatap lekat ke arah dua bidadari yang sangat di rindukan nya itu. Felix tersenyum menyadari sedari tadi ia berbincang dengan putrinya. Pantas saja ia merasa nyaman dan hangat di hatinya. Dengan jantung yang berdegup kencang Felix berjalan mendekat kearah dua bidadarinya itu.


"Mommy sudah mengatakan jangan pergi kemana-mana dan tetaplah di tempatmu. Kenapa kau tidak mendengarkan mommy. Kau ingin mommy mati gara-gara jantungan, huh.." omel Mika dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Felix terkekeh melihat Mika yang sedang memarahi putri mereka. Benar kata Felicia mommy nya wanita yang sangat cengeng. Mika nya yang di kenalnya kuat dan sabar itu ternyata berubah menjadi wanita yang cengeng sekerang.


"Tenanglah mommy. Aku baik-baik saja dan sekarang aku ada di hadapanmu. Aku tidak apa-apa" Felicia mengusap air mata mommy nya. Felix kembali terkekeh melihat sikap dewasa putrinya. Mika mendidiknya dengan sangat baik.


"Baiklah, ayo kita pulang. Mommy harus memikirkan hukuman apa yang pantas diberikan padamu" ucap Mika seraya menyentil hidung Felicia.


"Baiklah, kau boleh menghukumku sesuka hatimu, tapi berhentilah menangis" ucap Felicia lagi yang membuat Felix terkekeh.


Mika dan Felicia menoleh ke belakang begitu mendengar seseorang yang menertawakan mereka. Mika tersentak melihat sosok Felix berdiri di hadapannya. Jantungnya memburu, kakinya bergetar, waktu seakan berhenti berputar. Mika mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Felix tersenyum melihat tingkah wanitanya itu.


"Uncle" pekik Felicia senang.


Mika tersentak begitu mendengar putrinya memanggil Felix. Sejak kapan mereka bertemu. Dan kenapa Felicia memanggilnya dengan begitu akrab. Pertanyaan itu berkecamuk di hati Mika.


"Mommy, uncle Felix tadi yang menolongku, uncle ini mommy ku" ucap Felicia ceria seraya menarik tangan Felix mendekat kearah mommynya.


"I miss you like crazy" Felix menatap teduh manik mata yang sama dengannya.


Felicia mengernyit bingung dan menatap mommy dan Felix bergantian yang saling menatap dalam diam.


"Mika.."Felix mengulurkan tangannya untuk menarik Mika ke dalam pelukannya, tapi Mika menghindar lalu menarik tangan putrinya.


"Sayang, kita harus pergi dari sini" Mika berbalik dan menggenggam kuat tangan putrinya.


"Mau sampai kapan kau berlari dan bersembunyi dariku Mikayla Anderson. Apa waktu empat tahun itu masih kurang buatmu"


T.B.C