You Are Special

You Are Special
Ingin Dia



Mika akhirnya kembali pingsan di pelukan Felix. Roland yang tahu kondisi Mika khawatir dan segera menghubungi Dokter.


Dokter keluar dari kamar Mika setelah memeriksanya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Felix, Raymond, dan Roland secara bersamaan.


"Siapa diantara kalian suami dari wanita yang terbaring lemas di dalam sana?" tanya pria paruh baya itu mengabaikan pertanyaan mereka begitu berdiri di hadapan Felix, Raymond, Roland, Keyra dan Nayla.


Felix dan Raymond mengernyit bingung, begitu juga dengan Keyra dan Nayla kenapa Dokter itu mepertanyakan suaminya. Satu-satunya manusia yang tidak bingung adalah Roland yang memang sudah mengetahui kemana arah pertanyaan Dokter tersebut.


"Bagaimana keadaannya Dokter?" Roland mendekati Dokter itu dan mengabaikan empat orang dewasa di belakangnya yang masih bingung.


"Jadi kau suaminya" pertanyaan dokter yang mengarah pada pernyataan itu sontak membuat empat orang dewasa itu melotot tajam ke arahnya.


Roland mengabaikan tatapan tajam yang di arahkan padanya.


"Jadi dia baik-baik saja" tanyanya lagi penuh khawatir.


"Tolong perhatikan istri anda, jangan biarkan dia terlalu banyak berfikir yang bisa mengakibatkan dia stres karena itu bisa membahayakan janin yang di kandungnya" Penjelasan dokter itu membuat Raymond, Keyra dan Nayla tersedak. Lain hal nya dengan Felix. Tubuhnya menegang jantungnya berpacu dengan cepat.


"Maksud anda dia hamil?" Felix bertanya untuk memastikan.


Dokter itu mengangguk


"Ya, kalau begitu saya permisi dulu dan jangan lupa perhatikan juga asupannya karena itu sangat penting untuk perkembangan janinnya" Dokter itu pun berlalu meninggalkan empat orang dewasa yang masih terkejut akan kabar kehamilan Mika.


Begitu Dokter itu pergi mereka pun segera masuk ke kamar Mika. Mika menatap kosong ke arah lima orang dewasa itu yang juga sedang menatapnya dengan berbagai ekspresi.


"Aku tidak tahu harus berkata apa selain kata selamat Ay" Nayla yang pertama kali membuka suara.


Mika mengangguk dan tanpa bisa di cegah nya air mata nya mengalir. Mika mengelus perut datarnya dan itu tidak luput dari penglihatan lima orang dewasa itu.


Felix mendekatinya dengan wajah sumringah


"Apa dia.."


"Tidak, usia kandunganku baru memasuki dua minggu jadi tidak mungkin dia anakmu" Mika segera memotong ucapan Felix seolah tahu apa yang akan dikatakan Felix. Wajah sumringah Felix berubah menjadi sedih dan kecewa.


"Jadi dia?"


"Anak kak Raymond" Jawab Mika seraya menatap kak Raymond dengan wajah memelas. Raymond yang awalnya juga terkejut mendengar kehamilan Mika langsung mengerti arti tatapan Mika dan secepatnya dia menyembunyikan keterkejutannya itu. Untungnya Felix tidak memperhatikannya, sehingga tidak menyadari kebohongan Mika.


"What" pekik Keyra dan Nayla bersamaan. Mereka tidak mempercayai apa yang dikatakan Mika. Satu-satunya manusia yang tenang dan tidak heboh atas kehamilan Mika adalah Roland.


Felix menatap Raymond seolah meminta jawaban. Raymond tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apa dia harus mengatakan sejujurnya atau mengikuti kebohongan Mika.


Tiba-tiba ponsel Felix berdering menyelamatkan Raymond dari kebingungan nya.


"Halo.." Felix mengangkat teleponnya. Panggilan itu dari Darren.


"...."


"Apa mommymu baik-baik saja?" Felix tidak bisa menyembunyikan kekhawtirannya dan itu tidak luput dari penglihatan Mika.


"...."


"Baiklah, daddy akan segera ke sana" ucap nya seraya memutuskan sambungan telepon. Tanpa menoleh kearah Mika Felix segera pergi dengan tergesa-gesa dari kamar Mika. Mika menatap punggung Felix nanar seraya mengelus perutnya.


Yang mommy lakukan sudah benar kan nak, Daddymu sudah memiliki keluarga dan tanggungjawab. Kita tidak boleh merusaknya sayang, ucap Mika dalam hati.


"Kenapa kau berbohong?" tanya Raymond ketika hanya tinggal dirinya dan Mika di kamar.


"Dia sudah memiliki Ashley dan Darren, aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka, jadi lebih baik dia tidak mengetahuinya" Mika menundukkan kepalanya.


"Dia berhak tahu Ayrin, Felix adalah ayah dari bayi yang kau kandung"


"Apa aku harus mengorbankan kebahagiaan Darren hanya untuk kebahagiaan anakku kakak. Aku tahu aku terlalu percaya diri, tapi aku merasa jika dia tahu aku sedang mengandung anaknya dia akan berlari ke arahku kakak. Lalu bagaimana nasib Ashley dan Darren?"


Raymond menghelas nafasnya. Dia tahu apa yang dikatakan Mika memang benar. Raymond masih tidak mengerti kenapa Felix menikahi Ashley sedangkan Felix terlihat sangat mencintai Mika.


"Baiklah, setelah prosesi pemakaman mommy dan daddy Peter selesai, kita akan akan melaksanakan pernikahan kita yang tertunda" ucap Raymond.


Mika menggelengkan kepalanya.


Raymond mengernyit


"Apa maksudmu, apa karena kau melihat kakak dan Noura, kau jadi meragukan kakak?" Raymond terlihat sedih dan kecewa.


"Tidak kakak,, tidak!! bukan seperti itu, tidak sedikit pun aku meragukanmu. Hal yang paling gigih ku pertahankan selama ini adalah mempercayaimu kakak. Aku hanya tidak ingin kau berkorban terlalu banyak untukku kakak" Jelas Mika seraya menggenggam tangan Raymond.


"Tapi anakmu perlu seorang ayah"


"Aku dan anakku pasti baik-baik saja kakak. Kau tidak perlu memikirkannya. Fikirkanlah diri mu sendiri. Menikahlah dengan wanita cantik, anggun, tinggi seperti yang kau inginkan, dengan begitu akan mengurangi rasa bersalah ku padamu"


"Baiklah, jika memang itu keputusanmu" Raymond menghela nafas pasrah


"Tapi selama kehamilanmu tinggallah di rumahku, dengan begitu mommy bisa membantu dan memperhatikanmu"


Mika menggelengkan kepalanya


"Tidak kakak, aunty dan uncle pasti kecewa kepadaku" Mika menunduk seraya menautkan jemarinya.


"Kenapa kau mengatakan seperti itu sayang" Mommy Raymond berdiri di ambang pintu. Mika dan Raymond tersentak dan menoleh ke arah pintu. Mommy Raymond berjalan mendekati Mika.


"Tanpa kau menikah dengan Raymond, kau sudah kami anggap seperti putri sendiri, jadi tinggallah bersama kami" Mommy Raymond menggenggam tangan Mika.


Mika menangis seraya menggelengkan kepalanya.


"Tidak aunty, jangan membuatku merasa jadi tidak tahu malu dengan menerima kebaikan berlimpah darimu dan uncel. Aku janji kalian orang pertama yang akan ku cari kalau aku merasa kesulitan" Mika menatap mommy dan daddy Raymond.


"Baiklah jika memang itu sudah keputusanmu, kami tidak akan memaksanya lagi, tapi ingatlah kami akan selalu ada untukmu honey" ujar daddy Raymond seraya mengelus kepala Mika.


Dua minggu berlalu setelah kepergian mommy dan daddynya. Tiada hari tanpa air mata. Belum lagi morning sicknes yang dialaminya sungguh sangat menyiksanya, tapi tidak sekalipun dia mengeluh. Proses menjadi seorang ibu sangat di nikmatinya, walau tak jarang ngidam yang dialami nya sangat mengganggu ketenangan Keyra, Nayla, Raymond bahkan Roland.


Pernah suatu waktu dia terbangun tengah malam dan memasak kemudian meminta Keyra, Nayla segera datang ke rumahnya untuk memakan masakannya.


"Ayolah Key, apa kau ingin ponakanmu nanti nya ileran terus" rengek Mika diseberang telepon.


"Ay, besok aja yah. Sungguh Ay aku masih mengantuk sekali dan ini sudah jam dua dini hari Ay, kau telepon Raymond aja ya?" Keyra berusaha membujuk Mika.


Mika menggelengkan kepalanya walau pun ia sadar Keyra tak melihatnya.


"Anakku mau nya kau dan Nayla yang memakannya Key" rengeknya lagi.


"Baiklah, aku akan hubungi Nayla" ucap Keyra walau dengan dengan berat hati.


Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Usia kandungannya sekarang memasuki bulan kelima. Sering kali dia harus menekan kemauannya jika itu berhubungan dengan ayah dari bayinya. Tapi berbeda dengan hari-hari sebelumnya kali ini ia sungguh tidak bisa tidur. Mika sangat merindukan Felix walau moral nya melarangnya.


"Apa yang harus ku lakukan, sayang mengertilah keinginanmu kali ini tidak bisa mommy penuhi sayang" Mika mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Astaga" Pekik Mika terkejut, bayi nya tiba-tiba menendang perutnya.


"Baiklah, mommy akan hubungi uncle Roland, kali ini mommy akan penuhi keinginanmu karna mommy juga sangat merindukan daddymu"


Mika mengambil ponselnya dan menghubungi Roland.


"Yes wife, apa kau menginginkan sesuatu, katakan asal jangan memintaku memanjat pohon mangga lagi" ucap Roland dari seberang telepon.


Mika terkekeh. Roland adalah orang yang paling sering Mika susahkan untuk memenuhi keinginannya. Untungnya Roland mengerti dan tidak pernah mengeluh sama sekali.


"Jadi apa yang keponakanku kali ini inginkan?" tanyanya lagi.


"Ini sedikit sulit Roland, anakku ingin daddynya mengelus perut mommy nya" cicit Mika penuh hati-hati.


Roland terdiam begitu mendengar keinginan Mika kali ini.


"Roland..kau masih di sana?" tanya Mika akhir nya setelah menunggu beberapa detik.


"Aku bisa menggantikannya, aku akan datang dan mengelus perutmu" ucapnya enteng dan datar.


Mika berdecak kesal


"Lupakan kalau begitu" Mika menutup teleponnya sepihak.


T.B.C