You Are Special

You Are Special
Dua Puluh Tiga



Mikayla Pov


Roland mengajakku ke rooftop. Awalnya aku mengira dia akan mengajakku ke tempat lain. Aku tidak menyangka ternyata dia mengajakku ke sini. Aku bersyukur dia mengajak ku ke sini karena aku memang butuh ketenangan.


"Jadi apa yang mengganggu fikiranmu wife" Roland bertanya membuka pembicaraan.


"Dan ada apa dengan penampilanmu yang berantakan ini" Roland menatapku dari atas ke bawah seolah meneliti.


"Aku dan Noura berkelahi di kamar mandi coffee shop yang ada di seberang kantor. Dia menjambakku dan aku menamparnya" jawabku jujur


Roland tertawa kencang.


"Astaga, aku tidak percaya gadis kalem sepertimu bisa berkelahi. Dan kenapa para wanita selalu memilih kamar mandi untuk tempatnya berkelahi" ucapnya di sela-sela tawanya.


Aku mengidikkan bahu.


"Dia yang menyeretku ke sana, aku juga menanyakan hal yang sama padanya tapi dia mengabaikanku"


Roland semakin terbahak.


"Apa kau selalu ke sini jika kau gundah?" tanyaku mengabaikan Roland yang tertawa.


"Ya, aku, Felix bahkan Raymond juga sering ke sini, kau lihat saja pemandangan dari sini sangat indah dan tentu saja di sini jauh dari kata berisik" Roland menghentikan tawanya.


Aku mengangguk. Memang benar apa yang di katakannya pemandangan dari atas sini sangat indah dan menenangkan.


"Apa kau sudah lama berteman dengan Felix dan Raymond"


"Ya, bisa dikatakan cukup lama. Aku, Raymond, Felix dan Noura satu universitas di London dan satu jurusan."


"Berarti kau mengenal kekasih Felix, Ashley?" tanyaku. Roland terkejut dengan pertanyaanku. Mungkin tidak menyangka aku mengetahui tentang Ashley.


"Kau tahu tentang Ashley?" tanyanya serius.


Aku mengangguk.


"Mommy Kelly yang memberi tahuku" ucapku jujur.


Roland mengangguk.


"Aunty Kelly mungkin menyukaimu mengingat dia mau menceritakan hal sensitif soal keluarganya padamu"


"Aku memang orang yang mudah disukai" ucapku enteng memuji diri sendiri. Roland tertawa sambil mengacak rambutku gemas.


"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi antara Felix dan Ashley"


Roland menyipitkan mata nya mendengar ucapanku.


"Ayolah, aku yakin kau tahu sesuatu. Noura yang menjebaknya bukan"


Roland tersentak dan menatapku intens.


"Bagaimana kau tahu?"


"Noura yang mengatakannya"


"Kenapa dia mengatakan kebusukannya padamu?"


"Untuk mengancamku"


Roland mengerutkan dahinya lalu menatapku serius.


"Jangan mencari masalah dengan Noura. Dia wanita yang berbahaya" ucap Roland dengan nada rendah tapi tegas.


"Maka dari itu kakak, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi"


Roland terkekeh.


"Kau bahkan memanggilku kakak. Panggilan yang sangat manis" Roland menggodaku atau mengejek aku tidak tahu.


Aku diam dan hanya menatapnya intens tanda aku tidak ingin bercanda.


"Kenapa kau ingin mengetahuinya, apa kau menyukai Felix" tanya Roland dengan raut wajah serius. Tidak ada kerlingan nakal atau senyum menggoda di wajahnya.


"Tidak" jawabku cepat dan tegas


"Maaf kan aku, kalau begitu aku tidak bisa mengatakannya" ucap nya dengan raut wajah menyesal.


"Bagaimana jika aku memberikanmu penawaran" aku mencoba membujuk Roland.


Roland terkekeh geli.


"Oh gadis kecil ini ingin bernegosiasi, jadi katakan apa yang bisa kau tawarkan untuk membujukku."


Roland menyodorkan minuman kaleng yang dibelinya tadi sebelum kami naik ke atas.


Minumlah, kau mungkin akan haus jika ingin mendengar cerita tentang Felix."


"Aku akan memceritakan sesuatu padamu dan sebagai gantinya kau juga harus menceritakan tentang Ashley" aku mengambil minuman yang diberikan Roland.


"Tergantung, jika cerita mu tidak menarik aku tidak berjanji akan menceritakannya" ucapnya santai.


Aku mengangguk.


"Baiklah, mari kita dengar semenarik apa cerita yang kau tawarkan"


Aku tidak tahu Roland menggodaku atau menyindir karena aku tidak bisa membaca raut wajahnya.


"Aku sarankan kau jangan minum dulu sebelum mendengar habis ceritaku jika kau tidak ingin tersedak" ucapku memperingatkan Roland.


Roland terkekeh lalu mengangguk.


Aku menarik nafasku dalam lalu menatap Roland tepat di maniknya


"Aku kekasih Raymond" ucapku dengan satu tarikan nafas.


Roland terdiam dan menatapku tidak berkedip lalu sesaat kemudian dia tertawa terbahak sambil memegang perutnya.


Aku mendengus dan melipat tanganku di dada. Aku hanya diam dan menatapnya yang masih tertawa. Roland menghentikan tawanya.


"Jika kau kekasih Raymond maka aku suami dari Selena Gomez" Roland meneguk minumannya.


Aku mengerling kesal mendengar candaannya yang garing dan tidak lucu sama sekali.


"Aku tunangannya, Ayrin Mikayla Anderson"


Roland tersedak dan menyemburkan minumanyang ada di mulutnya.


"Aku sudah mengatakan jangan minum sebelum mendengar cerita ku sampai habis" Aku menyodorkan tissue untuk dia membersihkan wajah dan mulutnya.


"Kau tidak sedang berguraukan?" tanyanya.


"Apa wajahku terlihat seperti bergurau?" aku balik bertanya.


Roland menatapku, aku juga menatapnya. Kami terdiam sesaat dalam fikiran kami masing-masing.


"Semua menjadi terlihat sangat jelas. Pantas saja Raymond bersikap lembut dan terkesan melindungi ternyata kau tunangannya. Wah aku masih tidak percaya tunangan yang selalu dia banggakan ternyata adalah kau"


Roland menjeda ucapannya lalu menarik nafas sebelum melanjutkan


"Apa Noura mengancammu karna dia tahu kau tunangan Raymond" tanyanya dengan raut wajah khawatir


Aku mengangguk.


"Dari awal dia tahu aku tunangan kak Raymond. Di hari dia meminta kak Raymond untuk menjadi kekasihnya aku mendengar dan melihatnya"


Flash Back On


"Apa yang harus kita lakukan Ay, tugas ini harus di kumpulkan besok tapi komputermu malah berulah" ucap Keyra kesal.


"Sabar Key aku sedang menghubungi kak Raymond siapa tahu dia bisa memperbaikinya" ucapku.


"Bagaimana? tanya Keyra.


"Tidak di angkat" jawabku.


"Tidak biasa nya Kak Raymond mengabaikan panggilanku" lirihku


Keyra beranjak dari tempatnya dan menarik tanganku.


"Kita kerumahnya dan menyelesaikan tugas ini disana"


Aku tidak membantah dan mengikuti Keyra. Begitu sampai dirumahnya aku menanyakan kak Raymond pada salah satu maid dirumah itu yang tentu saja sudah mengenalku sebagai tunangan kak Raymond.


"Bi, kak Raymond ada?"


Dia terlihat gugup tapi aku tidak menghiraukannya. Tanpa menunggu jawabannya aku menarik Keyra menaiki tangga menuju kamarnya.


"Jadi lah kekasihku"


Aku menghentikan langkahku begitu mendengar suara wanita dari dalam kamar kak Raymond.


Keyra menatap ku bingung seolah bertanya 'ada apa?''


"Ya aku tahu, tunanganmu juga sangat manis" Noura mengambil fhoto yang ada di meja. Fhoto ku bersama kak Raymond.


"Aku yakin kau belum menyentuhnya"


"Dia bukan wanita murahan, dia gadis baik- baik" kak Raymond menatap Noura tajam


Noura terkekeh


"Ayolah Ray, kau tidak usah munafik. Aku tahu kau tidak brengsek seperti Roland tapi kau juga membutuh kan nya" Noura duduk di pangkuan kak Raymond sambil mengelus wajahnya dengan cara yang menggoda.


"Hentikan Noura.."


"Bukankah kau mencintai Felix?"


"Dia tidak pernah menatap ke arah ku bahkan setelah wanita itu pergi"


"Aku lelah berharap padanya"


"Jadi kau menjadikan ku pelarian?"


"Aku memang menyukaimu"


"Apa kau gila..."


Ucapan kak Raymond terhenti ketika Noura menciumnya dengan paksa. Kak Raymond tidak menolak dan juga tidak membalas ciumannya. Noura melepaskan ciumannya mungkin karna tidak mendapat respon dari kak Raymond. Hati ku memanas. Ingin rasa nya aku berteriak dan berlari ke sana. Tapi tidak bisa karena tiba-tibu mulut ku terkunci dengan rapat dan kakiku seperti ada yang menahannya ditempatnya.


"Jadilah kekasihku, aku akan memuaskanmu dan ku pastikan aku tidak akan menyakiti tunanganmu" Noura mencium dada bidang milik kak Raymond dengan bernafsu. Kak Raymond menarik Noura dan menciumnya dengan penuh gairah.


Sakit dan hancur itu yang ku rasakan.


"********, brengsek" Keyra berjalan mendekat ke arah pintu kamar. Aku menahannya lalu menggelengkan kepalaku. Aku menariknya agar pergi dari tempat itu.


"Apa yang kau lakukan, kenapa kau menghentikanku" tanya Keyra begitu kami ada di kamarku.


"Apa yang bisa ku lakukan Key, ketika apa yang dikatakan wanita itu benar, aku tidak bisa memberikan apa yang ditawarkan wanita itu"


"Jangan bodoh, Raymond mencintaimu apa adanya. Dia tidak memaksa mu untuk melakukannya." ucap Keyra menenangkanku.


"Tapi kak Raymond memang membutuhkannya Key, kak Raymond bahkan tidak menolaknya"


"Raymond pria normal, wajar dia bergairah ketika si ****** itu menggodanya" ucap Keyra penuh emosi.


"Tapi percayalah dia hanya mencintaimu" Keyra kembali menenangkanku.


"Tapi bagaimana jika kak Raymond meninggalkanku dn menerima wanita itu menjadi kekasihnya" suara ku bergetar. Aku menangis. Tiba-tiba rasa takut itu menghampiriku. Ya aku takut kehilangannya.


"Jangan konyol, kau jelas tahu sebesar apa Raymond mencintaimu" Keyra memelukku.


Tok.Tok.


Aku dan Keyra menoleh ke arah pintu.


"Ay, kau ada di dalam?" suara Kak Raymond


Tubuhku menegang. Aku belum siap bertemu dengannya.


Ceklek


Suara pintu di buka. Aku melihat kak Raymod berdiri di sana mengenakan pakaian yang berbeda dengan yang dikenakannya tadi.


Kak Raymond berjalan perlahan ke arahku dan Keyra.


"Kau menangis" tanyanya sambil menangkap wajahku dengan kedua tangannya. Aku melepaskan tangan kak Raymond dari wajahku.


'Tangan itu baru saja menyentuh wanita lain, aku tidak yakin tangannya sudah bersih dari bekas tubuh wanita itu'


"Ada yang mau kakak bicarakan. Penting" ucapnya sambil melirik Keyra.


Keyra mengangguk mengerti.


"Aku ke bawah dulu" pamitnya.


Kak Raymond duduk di sampingku sambil menggenggam tangan ku dan menatapku teduh.


"Kau pasti akan marah setelah mendengar ini, tapi kakak tetap harus mengatakannya"


'Oh Tuhan aku belum siap untuk mendengar dia memutuskan pertunangan kami'


Kak Raymond menarik nafas dalam sebelum berbicara.


"Sebelum kita dijodohkan dan bahkan bertunangan, kakak sudah memiliki kekasih" ucapnya.


'BOHONG' teriakku dalam hati.


Aku menatapnya datar tidak ada raut wajah terkejut sama sekali. Aku melihat kak Raymond bingung melihat reaksiku yang biasa saja.


"Kakak belum mengakhiri hubungan kakak dengannya. Maafkan kakak yang menutupinya selama ini. Tapi percayalah kakak hanya mencintai mu. Kakak minta jangan tinggalkan kakak. Kakak akan mengakhiri hubungan kakak dengannya tapi kakak mohon kau bersabar menunggu karna kakak butuh waktu yang tepat untuk semuanya agar dia tidak merasa diskiti. Dan kakak juga tidak ingin dia menyakitimu" ucap kak Raymond panjang lebar.


Aku menghembuskan nafasku mendengar kebohongan kak Raymond. Rasa nya sesak mengetahui orang yang kita sayangi tega membohongi kita. Sakit, sudah pasti.Tapi jauh di dalam hati ku aku juga tidak ingin kehilangannya.


"Baik lah, aku akan bersabar dan menunggu tapi pasti kan dihati kakak hanya ada aku" ucapku.


Kak Raymond tertawa sumringah. Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya.


"Terima kasih sayang, kakak mencintaimu. Kakak janji akan mengakhiri nya begitu waktunya tepat" ucap nya sambil mengecup puncak kepalaku dan mengerat kan pelukannya.


Flash Back Off


Aku mengakhiri ceritaku dan menoleh ke arah Roland yang sedari tadi diam dengan tenang mendengarkanku. Aku melihatnya menganga dengan mata terbelalak. Aku terkekeh melihat raut wajahnya.


"You're still a virgin"


Aku melongo mendengar respon yang pertama kali keluar dari mulutnya.


"Aku bercerita panjang kali lebar kali tinggi dan kau hanya menanyakan itu. Apa kau masih waras!!" Aku mengerling kesal lalu mendengus.


Dia tertawa


"Aku hanya tidak percaya masih ada wanita sepertimu di zaman ini, tapi percayalah aku bangga padamu" ucap nya tulus.


"Sekarang ceritakan tentang Ashley, aku yakin kau sudah mengerti kenapa aku ingin tahu tentangnya"


Roland mengangguk


"Baik lah apa yang ingin kau ketahui?"


"Semuanya" jawab ku singkat.


"Ashley adalah wanita yang sangat baik, lembut dan manis. Ashley, Marinka dan Noura adalah sahabat. Noura sangat menyukai Felix dan mengatakannya pada Marinka agar membantu nya untuk mengutarakan perasaan nya dan Marinka menyetujui nya. Dan mereka pun menyusun rencana. Belum sempat rencana itu mereka jalan kan Felix datang membawa Ashley ke rumah nya dan mengenalkannya sebagai calon menantu rumah itu. Marinka dan Noura terkejut. Marinka tidak tahu harus berbuat apa karna Ashley juga sahabatnya. Di luar dugaan Noura memeluk Ashley dan mengucapkan selamat. Tentu saja Marinka senang Noura berlapang dada menerimanya.Tapi tidak ada yang tahu ternyata dia merencanakan hal busuk dibelakangnya." Roland menghentikan ceritanya lalu meneguk minumannya.


"Singkat cerita dia memanfaatkan Sean pria malang yang menyukainya. Noura meminta Sean agar mendekati Marinka dan menjadikan nya kekasih. Rencananya berhasil. Marinka sangat mencintai Sean. Hingga suatu hari Noura meminta Felix dan Marinka datang ke sebuah hotel, dan disanalah awal kejadiaan naas itu terjadi. Ashley dan Sean bercinta disaksikan oleh Felix dan Marinka."


Aku terpekik. Aku menutup mulutku dengan ke dua tangan ku mendengar cerita Roland.


Hal apa lagi yang mengerikan dari itu, melihat secara langsung kekasihmu bercinta dengan kekasih adikmu.


"Bagaimana bisa Ashley melakukannya. Apa dia tidak mencintai Felix? " tanyaku tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutanku.


"Tentu saja bisa. Noura memberikan Ashley obat perangsang."


"Oh my God" pekikku begitu mendengar penuturan Roland.


"Lalu apa yang terjadi dengan Ashley dan pria yang bernama Sean itu?" tanyaku tanpa menyembunyikan rasa penasaranku.


"Ashley berusaha menjelaskan apa yang terjadi tetapi Felix tidak menghiraukannya. Kau tahu dia sangat membenci segala bentuk pengkhianatan."


"Lalu bagaimana dengan Sean?"


Roland menatapku dalam


"Dia menghabisinya dihari yang sama Marinka dimakamkan. Sean berulang kali memohon maaf. Tapi Felix tidak mengindahkannya. Kau tahu apa yang dikatakannya, 'Minta maaf lah pada adikku. Temui dia di liang lahat' lalu door dia menghabisinya."


Tubuh ku menegang. Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Felix menghabisi nyawa seseorang.


"Lalu Ashley?" Suaraku bergetar.


"Aku dan Raymond membantunya kabur sebelum Felix menemukannya. Felix pada waktu itu tidak mau mendengarkan siapapun. Dia seperti orang gila yang kerasukan sehingga ia tidak bisa melihat kebenarannya"


"Aku dan Raymond tidak sengaja mendengar pembicaraan Noura dan Ashley. Bagaimana Noura mengancamnya dan membuat dia ketakutan. Di sanalah aku dan Raymond mengetahui apa yang terjadi sebenarnya"


"Kau dan kak Raymond tidak memberitahunya dan menyembunyikan kebenarannya" tanyaku tidak percaya.


"Awalnya aku dan Ray berusaha memberi tahu nya tapi setiap kami menyebut nama Ashley dia mengamuk dan tak bisa dikendalikan. Anehnya hanya Noura yang bisa membuatnya tenang. Entah sihir apa yang dilakukan wanita itu. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika dia tahu Noura dalang dibalik kejadian itu"


"Apa yang kau katakan benar?"


Aku dan Roland menoleh kesumber suara. Tubuhku langsung menegang begitu aku melihat Felix berdiri dengan wajah sangat menyeramkan. Aku beralih menatap Roland. Mukanya pucat dan hanya menatap Felix datar tapi penuh makna.


T.B.C.


Terimakasih buat yang sudah mendukung cerita ku. Aku sangat menghargainya. 😘🤩🤗 dan jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain Future Husband tentang Keyra yang mandiri tapi rapuh disandingkan dengan Roland sang lady killer