You Are Special

You Are Special
Dua Puluh Lima



Bugh..


Aku dan Noura berteriak bersamaan begitu melihat Felix melayangkan tinjunya. Aku membuka mataku dan melihat ternyata Felix meninju dinding yang ada di belakang Noura. Aku yakin jika saja tinju milik Felix mengenai wajah Noura bisa dipastikan giginya sudah rontok.


Darah segar mengalir dari tangan Felix.


"Felix kau terluka" ucapku sambil memegang tangannya yang terluka.


"Menjauhlah darinya sialan" Noura menghempaskan tanganku dengan kasar dari tangan Felix.


Felix menatapnya tajam.


"Apa kau juga melakukanhal yang sama pada Ashley"


Noura menatap diam Felix mungkin tidak mengerti arah ucapan Felix.


"Apa kau juga meminta Ashley agar menjauhiku seperti yang kau lakukan pada Mika agar menjauhi tunangannya sendiri Raymond" ucap Felix dingin dan penuh tekanan.


Dia juga mendengarnya. Sejak kapan dia berdiri di sana dan menguping pembicaraanku dengan Roland.


Noura melebarkan matanya terkejut mendengar ucapan Felix yang mengatakan aku tunangan Raymond. Noura mungkin tidak percaya Felix mengetahui kebusukannya.


"Melihat raut wajahmu, aku yakin kau melakukan hal yang sama" Felix tertawa sumbang.


"Kau membuat ku seperti orang bodoh, sialan" bentak Felix. Felix mengacak rambutnya Frustasi.


"Felix..aaa..aku.." Noura memucat dan tergagap.


"Marinka sangat menyayangimu. Dia sudah menganggapmu seperti kakak sendiri. Ashley juga menyayangimu kalian bersahabat lalu aku, kau dan aku berteman sejak kita kecil. Kau tahu aku sangat menyayangimu Noura tapi kenapa Noura, kenapa kau lakukan itu"


"Aku mencintaimu" ucapan Noura yang lantang mampu membuat Felix bungkam. Felix menatap Noura tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kau bilang mencintai ku Noura, tapi yang aku tahu kau menghancurkan aku Noura, kau ingin aku mempercayai ucapanmu" Felix tersenyum miring.


"Lalu katakan apa salah Marinka dan Ashley?" Felix menatapnya penuh intimidasi.


"Bahkan setelah aku mengatakan perasaanku kau tidak mempercayai nya Felix" ucap Noura nanar dan terlihat kesedihan di mata nya. Kali ini kesedihannya nyata tidak dibuat-buat. Oh aku tidak boleh kasihan padanya.


"Aku sudah menyukaimu sejak kita kecil bahkan aku rela mengikutimu ke London sekalipun orang tua ku tidak menginginkan nya. Aku mengikutimu ke sana agar aku bisa membuat mu tertarik padaku dan mendekatimu dengen leluasa tanpa adanya gangguan Marinka, gadis manja yang selalu menempel di dekatmu" Noura tersenyum sinis.


"Hampir empat tahun aku mendekatimu dan selalu ada di sampingmu, tapi kau tidak pernah memandang ku Felix. Hingga akhirnya kita kembali ke sini, Marinka adik sialan mu itu mengenalkanmu dengan wanita ****** itu, Ashley"


Plaakk


Kali ini tangan Felix mendarat sukses diwajah mulus Noura. Darah segar keluar dari sudut bibir nya. Noura terpekik tidak menyangka Felix menyakitinya.


Tidak puas hanya dengan menampar Noura Felix mengambil sembarang benda yang ada didekat nya dan melempar nya ke arah Noura. Beruntung Noura sigap dan menghindar.


Aku memahami kemarahan Felix dan merutuki kebodohon Noura yang beraninya mencemooh dua wanita yang sangat disayangi pria itu. Dia memang pantas mendapatkan tamparan itu.


"Felix, kendalikan dirimu" ucapku seraya menenangkan nya dan mengelus lengannya.


"Kau menamparku" Noura memegang pipi nya yang memerah akibat tamparan Felix.


"Kau memang pantas mendapatkannya" ucapku. Noura menatap ku sinis.


"Kenapa kau masih di sini, pergilah dan jangan campuri urusanku"


"Aku tidak tertarik mencampuri urusanmu" balasku tak kalah sengit


"Aku tidak main-main dengan ucapanku nona Anderson. Aku bisa saja melenyapkamu jika kau tidak memgindahkan ucapanku"


"Kau mengancamnya" Felix mencengkram wajah Noura.


"Sebelum kau melakukannya, aku yang akan menghabisimu terlebih dahulu" Felix mendorong Noura hingga terjatuh.


"Kau menyakitiku brengsek" Noura menghempaskan tangan Felix dari rambutnya.


"Menyakiti kau bilang, lalu bagaimana denganku, Marinka dan Ashley. Apa kau sudah gila?" Felix menarik kasar Noura agar berdiri.


"Ya aku gila, itu semua karenamu. Jika saja kau memandangku, aku tidak mungkin menjebak Ashley dan Marinka tidak akan mati" teriak Noura histeris tepat di wajah Felix.


Oh Tuhan apa yang harus kulakukan. Aku yakin sebentar lagi Felix akan mengamuk sejadi-jadinya. Dan dimana Roland kenapa dia lama sekali.


"Apa tidak ada sedikit rasa penyesalan di hatimu Noura. Apa kau bangga sudah menyakiti para sahabatmu" tanyaku.


Tiba-tiba Noura tertawa kencang seperti orang gila. Aku dan Felix mengernyit.


"Menyesal? Tentu saja aku menyesal. Menyesal kenapa Ashley tidak mati saja. Kau tahu aku sangat bersyukur sudah menghabisi dua parasit itu. Aku yang sudah menyukai Felix hampir seumur hidup ku tiba-tiba direbut Ashley yang baru saja di kenalnya. Aku mengutarakan perasaanku pada Marinka, dia mendukungku agar menyatakan perasaanku pada Felix. Tapi sebelum aku sempat menyatakannya Felix datang membawa Ashley dan mengenalkannya sebagai kekasihnya. Apa yang dilakukan Marinka si gadis manja itu dia yang tadinya mendukungku malah terdiam dan memberikan selamat kepada kakak dan sahabatnya. Aku kecewa dan tentu saja aku sakit hati. Tapi kalian tidak ada yang mengerti perasaanku. Hanya ada Sean disampingku. Dia merangkul dan menenangkanku. Dia mengatakan dia mencintaiku sudah lama aku tahu itu tapi aku mengacuhkannya. Tiba-tiba ide untuk memanfaatkan Sean muncul aku memintanya mendekati Marinka untuk membalas sakit hatiku, setelah sakit hatiku terbalas aku akan menerima cintanya. Dia menyetujuinya tapi apa yang dilakukan pria brengsek itu dia malah jatuh hati pada Marinka. Dia mencintai gadis manja itu. Aku membencinya. Akhirnya aku sendiri yang turun tangan dan menjebak Sean dan Ashley dengan obat perangsang. Jadi katakan apa yang bisaku lakukan selain membasmi para parasit itu dari sekitarku. Sean yang mengkhianati ku dan Marinka yang munafik dan Ashley yang menusuk ku dari belakang. Jadi katakan Felix dimana letak kesalahnku" ucap Noura enteng tanpa beban.


Aku terpekik mendengar pernyataan Noura. Jadi pria yang dibunuh Felix yang bernama Sean itu juga tidak bersalah sama sekali.


Aku yakin wanita ini benar-benar sudah gila. Jika dia mencintai Felix sampai sebegitunya, lalu bagaimana perasaan nya pada kak Raymond.


"Kau berani mempertanyakan apa salahmu setelah apa yang suda kau lakukan sialan" Felix kembali menjambak rambut Noura dengan kasar.


"Katakan apa yang harus ku lakukan padamu" ucapnya penuh amarah dan mencekik leher Noura.


Noura meronta ketakutan bercampur kesakitan. Wajahnya memucat.


"Felix kendalikan dirimu, aku mohon tenanglah" Aku menarik tangan Felix berusaha menyadarkannya. Felix tidak menghiraukan aku. Aku mengambil ponselku untuk menghubungi Roland. Tidak di angkat.


Apa mungkin dia pingsan.


Aku menghubungi nomor Nayla, dia mungkin bisa mengatasi situasi ini fikir ku. Oh Tuhan lagi dan lagi tidak di angkat.


Oh Tuhan apa yang harus ku lakukan, aku tidak ingin melihat pembunuhan terjadi dihadapanku. Mikayla berfikir lah.


Aku tersadar dan kembali menekan salah satu nomor diponsel ku. Kak Raymond. Tersambung tapi tidak diangkat.


Keyra. Kali ini aku menelpon Keyra. Keyra aku mohon angkat lah batin ku begitu terdengar nada sambung dari seberang sana. Kembali aku harus kecewa. Keyra tidak mengangkatnya.


Ada apa dengan para manusia ini. Apa gunanya telepon canggih ini diciptakan jika untuk mengangkat panggilan saja susah. Aku mengetik sesuatu dan mengirimnya kepada kak Raymond, Roland, Nayla dan Keyra secara bersamaan. Mudah-mudahan salah satu dari mereka membacanya dan segera datang ke sini.


"Kau tanya kesalahanmu apa? Kesalahanmu adalah kau masih hidup dan berdiri di hadapanku. Tapi kesalahanmu itu suatu keberuntungan untukku. Dengan begitu aku akan dengan senang hati mengirimmu untuk bertemu dengan Marinka dan Sean untuk mendapat maaf dari mereka" Felix tersenyum miring. Percaya lah wajah nya sangat menakutkan.


Aku menelan ludahku.


"Felix aku mohon kendalikan dirimu, kau membuatku takut" Aku menarik ujung jasnya. Felix tak bergeming dia malah melempar Noura. Nour menangis dan ketakutan. Noura mencoba berdiri tapi Felix terlebih dahulu menariknya dengan kasar.


"Katakan apa kau sudah siap bertemu dengan adikku Noura" ucap Felix penuh tekanan dan menarik kuat rambut nya kebelakang. Aku yakin leher nya pasti sakit karna Felix melakukannya berulang kali.


"Felix sakit" rintihnya


"Aku tidak menanyakan itu Noura, yang aku tanya apa kau sudah siap menjemput ajalmu agar bisa bertemu dengan adikku" Felix kembali melempar nya. Noura terpental dan kepala nya membentur dinding dengan cukup keras. Kepalanya mengeluarkan darah. Aku histeris tapi Felix tidak mendengarnya sama sekali.


"Felix, kau menyakitiku" suara Noura bergetar.


Felix menginjak tangan Noura. Noura menjerit.


"Sakitmu tidak sebanding dengan sakit yang adik ku rasakan ******" ucap Felix dengan nada tinggi.


Felix kembali mengangkat Noura dengan kasar dan bersiap melemparnya kembali.


"Hentikan Felix, aku mohon tenang lah kau bisa membunuhnya" aku memeluk Felix dari belakang. Aku merasakan tubuh Felix menegang dan aku semakin mengerat kan pelukanku. Berhasil. Felix melepaskan Noura. Noura terjatuh dan pingsan.


T.B.C