
Mikayla Pov
Aku, Felix, Mommy Kelly dan Rachel sedang menikmati makan siang di taman belakang mansion ini. Mansion ini benar-benar indah. Sungguh aku sangat menyukainya.
"Mommy, tidak menyangka masakanmu sangat enak" puji mommy Kelly tulus.
"Ya, Rachel juga sangat menyukai masakan buatan mommy Ay, tidak seperti Mommy Rachel dan mommy Nayla masakannya tidak enak Rachel tidak suka" imbuh Rachle.
Aku tersenyum
"Mommy sangat suka memasak jadi aku sering melihat bahkan sesekali ikut membantunya mom" jawabku.
"Oh..Raymond pasti bangga memiliki calon istri sepertimu dan Raymond juga pria yang baik" Mommy Kelly menatapku hangat lalu menatap Felix yang sedang asyik menikmati makanannya tanpa terpengaruh dengan ucapan mommy Kelly.
"Katakan sayang, apa kau dan Raymond sudah merencanakan pernikahan kalian?" tanya mommy Kelly dengan tatapan antusias.
Aku melirik Felix sekilas yang masih saja diam menikmati makanannya.
Lalu aku menatap mommy Kelly kemudian mengangguk.
"Mommy dan Daddy sudah membicarakan nya dengan Aunty dan uncle Josh. Pernikahannya di adakan setelah aku lulus kuliah mom" jawabku.
"Oh benarkah. Itu berarti tinggal sebentar lagi" Mommy Kelly menatap Felix kembali yang ternyata sedang menatapku dengan tatapan terluka.
Aku tidak menyukai wajah terluka itu.Tapi aku bisa apa itu adalah kenyataannya.
"Mommy pasti akan kehilanganmu sayang" suara mommy Kelly mengintrupsiku untuk memutuskan tatapan kami satu sama lain.
"Aku akan sering berkunjung mommy, Raymond tidak akan mengekangku, aku tahu itu" aku menghibur mommy Kelly.
"Mom Ay, aku sudah selesai" Rachel membersihkan mulutnya.
Aku mengangguk dan tersenyum
"Anak pintar."
"Aku juga sudah selesai, aku ke atas dulu. Rachel kau mau ikut bersama Daddy, daddy akan menunjukkam sesuatu yang indah padamu" ajak Felix yang dibalas anggukan oleh Rachel.
"Baiklah dad, aku ikut bersamamu"
Felix beranjak dari kursinya dan mengangkat Rachel dalam gendongannya.
"Aku dan Rachel ke atas dulu" ucap Felix datar Mommy Kelly mengangguk. Felix pergi tanpa menoleh ke arahku. Dan kenapa aku merasakan kecewa hanya gara-gara dia tidak menatapku.
"Anak itu pasti patah hati. Tapi lupakan saja dia pasti mampu mengendalikan dirinya, mommy tidak ingin kau terbebani dengan perasaannya yang akhirnya akan berpengaruh terhadap hubunganmu dengan Raymond."
Aku tersenyum kikuk mendengar perkataan Mommy Kelly.
"Ceritakan sayang, bagaimana kau dan Raymond bisa bertunangan" tanya mommy Kelly.
"Daddy dan uncle Josh adalah sahabat yang sudah lama berpisah. Mereka kembali dipertemukan karena kerja sama bisnis. Empat tahun lalu daddy memutuskan untuk pindah ke sini berdekatan dengan perumahan milik keluarga Uncle Josh. Di sana lah pertama kali aku dan kak Raymond bertemu. Setelah dua tahun berlalu keluarga uncle Josh datang untuk melamarku atas permintaan kak Raymond katanya. Mommy dan Daddy menyambut baik lamaran itu karena kak Raymond memang pria yang baik" jelasku apa adanya.
"Apa kau mencintai Raymond sayang."
Pertanyaan itu lagi.
Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan mommy Kelly.
"Mom, maafkan jika aku lancang tapi bisakah kau menceritakan tentang Ashley."
Mommy tersenyum tidak ada raut wajah benci, kesal atau sedih dalam wajah nya saat mendengar nama Ashley.
"Ashley Wilson?" tanya mommy.
Aku mengangguk ragu karena aku tidak tahu nama belakang keluarga Ashley.
"Dia adalah wanita sederhana yang sangat baik. Ashley orang yang sangat lembut dan juga anggun. Pertama kali melihatmu kau mengingatkanku padanya."
Apa Felix menyukaiku karena aku juga mengingatkannya pada Ashley.
"Dia yatim piatu, dia tinggal bersama paman dan bibinya. Marinka mengenalnya karena mereka mendaftar di universitas yang sama. Saat itu Felix dan Noura berada di London. Setelah menyelesaikan study nya Felix kembali dan Marinka mengenalkannya pada Ashley. Felix langsung jatuh hati padanya, yang ternyata disambut baik oleh Ashley. Fekix sangat bahagia waktu itu. Tawa dan senyum selalu menghiasi wajahnya. Semua itu tidak bertahan lama karena kejadian naas itu pun terjadi" mommy Kelly menitikkan air mata nya. Aku beranjak dari kursiku dan mendekatinya.
"Maafkan aku sudah membuatmu sedih" aku memeluknya dari belakang.
Mommy Kelly mengusap tanganku
"Tidak sayang, itu bukan salahmu."
"Mommy justru berterima kasih padamu, karna dirimu Felix kembali."
"Sudah jangan difikirkan lagi" bantah mommy Kelly.
Aku mengangguk.
"Mom, apa kau membenci Ashley?" tanyaku pelan takut mommy tersinggung.
Mommy Kelly menggeleng
"Tidak, tapi mommy sempat marah kepada nya dan sekarang mommy justru sangat merindukannya. Mommy tidak tahu kemana gadis itu menghilang."
"Sudah lah, lupakan tentang Ashley mommy tidak ingin Felix mendengar kita membicarakan gadis itu. Pergilah ke atas mommy akan menyusul nanti" ucap mommy Kelly. Aku pun menurut dan segera pergi.
Aku berjalan menaiki tangga dan baru menyadari kalau aku tidak mengetahui letak kamar Felix di mana.
Mommy Kelly tadi mengatakan agar aku tidak sungkan. Maka aku tidak akan sungkan. Felix dan Rachel juga nanti pasti akan kelihatan.
Aku memutuskan tetap berjalan sambil melihat-lihat interior mension ini. Setiap sudut mansion ini selalu membuatku kagum bahkan ruangan kamar nya juga sangat besar dan luas.
Aku masuk kedalam salah satu kamar lainnya. Berbeda dengan kamar sebelumnya kamar ini gelap gulita. Aku meraba-raba dinding mencari saklar lampu dan akhirnya menemukannya.
Ruangan yang cukup besar seperti studio fhoto. Banyak fhoto berjejer di dinding. Bahkan fhoto kak Raymond ada juga di sana. Aku melihat satu persatu fhoto-fhoto itu hingga mataku tertuju pada satu fhoto yang dibingkai indah dan dipajang di dinding dengan ukuran yang cukup besar. Fhoto seorang wanita cantik yang menggendong seekor anak ******.
My Happiness, Ashley
Aku membaca tulisan di sudut bawah fhoto itu. Jantung ku berdetak kencang. Ternyata benar seperti yang digambarkan Mommy dan Roland. Ashley wanita yang anggun dan lembut, aku bisa menilainya hanya dengan melihat fhotonya. Hatiku mencolos dan terasa nyeri.
Ada apa ini apa aku cemburu. Kembalikan akal sehatmu Mikayla.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini" suara serak dan dingin itu membuat ku tersentak kaget. Aku berbalik dan menemukan Felix yang sedang menatapku dengan tajam dan dingin. Untuk pertama kalinya dia menatapku seperti itu. Dia mungkin marah karena kelancanganku.
"Felix, maafkan aku jika aku lancang..."
"Keluarlah!!" Felix memotong ucapanku.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Aku berjalan kearah nya lalu dia menarikku dengan kasar agar segera keluar dan menutup pintu itu dengan kasar.
"Maafkan aku" lirihku.
Felix mengabaikanku dan pergi meninggalkanku. Kenapa rasanya sangat sakit diabaikan olehnya.
Aku tersentak dari lamunanku karena mendengar ponselku berdering. Kak Raymond. Aku segera mengangkatnya.
"Kau masih di rumah Felix sayang?" tanya kak Raymond dari seberang sana.
"Ya kak" jawab ku singkat.
"Kakak akan datang menjemputmu."
"Kakak tidak jadi pergi."
"Tidak, daddy yang menggantikan kakak."
"Kenapa kakak tidak bilang."
"Kakak lupa sayang."
"Baiklah aku dan Rachel akan menunggumu." Aku memutuskan sambungan telepon lalu turun ke bawah.
Mommy Kelly tersenyum kepadaku begitu aku berdiri di hadapannya. Aku melihat Felix tidur di pangkuan ibunya dengan wajah nenghadap keperut ibunya. Aku tahu dia tidak tidur dia mungkin hanya menghindariku.
"Rachel di mana?" tanyaku tanpa menyembunyikan rasa kesalku. Mommy Kelly mengernyit. Sementar Felix masih bungkam padahal aku yakin dia mendengarnya.
"Rachel tidur dikamar Felix sayang" mommy Kelly yang menjawab.
"Mommy, bisakah kau mengatakan di mana letak kamar Felix. Aku akan membangunkan Rachel karna sebentar lagi kak Raymond datang menjemput kami" ucapku.
Felix duduk dan kemudian berdiri.
"Aku akan membawanya turun" ucapnya dingin dan menatapku datar. Aku mendengus.
Aku juga tidak sudi menginjakkan kakiku di kamarnya.
T.B.C