You Are Special

You Are Special
Tiga Puluh Tujuh



Happy reading😀😁


Mikayla Pov


Aku membuka mata ku secara perlahan. Aku merasakan remuk di sekujur tubuhku. Aku menoleh ke samping dan mendapati Felix yang tertidur pulas di sampingku sambil memeluk pinggangku. Aku tersenyum. Dia memang sangat tampan. Aku mengusap lembut kepalanya. Felix melenguh dan membuka matanya perlahan.


"Maaf aku membangunkan mu" ucapku.


Felix tersenyum lalu menggeleng.


"Jam berapa sekarang?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


Ouuhh..suaranya sangat seksi.


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk mengembalikan akal sehatku.


"Kau kenapa, apa kepalamu pusing?" Felix menatapku khawatir.


"Tidak" jawabku singkat bertepatan dengan bunyi perutku yang berkeroncong.


Felix tertawa dan mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas dan mengetikkan sesuatu di sana.


"Jam berapa sekarang?" tanyaku mengulang pertanyaan Felix tadi.


"Jam 3" jawab nya singkat


"What.." pekik ku kaget dan segera langsung berdiri.


"Aawww.." aku meringis kesakitan di area bawah tubuhku.


"Apa masih sakit?" tanya nya


"Maafkan aku" lanjutnya seraya beranjak dari tempatnya lalu mengangkatku ke dalam gendongan nya. Felix membawa ku ke kamar mandi lalu meletakkan ku di bathub dengan penuh hati-hati.


Aku baru menyadari ternyata ruangannya ini juga memiliki kamar mandi yang cukup besar.


Felix masuk ke dalam bathub dan duduk di belakangku lalu menggosok punggungku.


"Aku akan berbicara nanti pada Raymond."


"Jangan!!"


Tubuhku menegang mendengar ucapan Felix dan bereaksi spontan. Aku dalam masalah. Aku melupakan tunanganku. Aku mengkhianatinya. Apa yang harusku lakukan. Terkutuklah aku. Aku sudah tidak suci lagi.


Tubuhku bergetar ketakutan, aku menangis. Apa yang harus ku katakan pada orang tuaku. Bagaimana aku menjelaskannya pada kak Raymond. Mereka semua pasti kecewa.


"Hei.. look at me honey" Felix memutar tubuhku. Aku menunduk.


"Sstt..tenanglah. Aku bersamamu" Felix menenangkanku. Tangis ku semakin tumpah.


"Bbb..bagaimana ini. Aku sudah mengkhianatinya. Aku hina. Aa..aapa yang harus ku lakukan sekarang."


"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Aku akan berbicara padanya. Raymond pasti akan mengerti. Ini bukan salahmu. Noura yang merencanakan semuanya, aku akan bertanggungjawab." Felix masih berusaha menenangkanku.


"Nn..Nnoura pasti sudah mengadu kepada kak Raymond. Dia sudah merencanakan ini semua. Aku harusnya menyadari nya tadi ia terlihat begitu tenang. Apa yang harusku lakukan Felix" suaraku bergetar.


"Ayo kita bersihkan dirimu. Kita harus makan, aku sudah menyuruh sekretarisku tadi memesankan makanan untuk kita. Aku tidak ingin kau sakit."


Aku hanya mengangguk pasrah.


Sepuluh menit kami habiskan waktu di kamar mandi untuk membersihkan diri. Felix memakaikan pakaianku satu persatu. Aku sangat tersentuh dengan perhatian dan perlakuan lembutnya. Tapi saat ini aku lebih memikirkan kemarahan kak Raymond.


"Aku akan mengambilkan makanannya. Tetaplah di sini. Aku akan segera kembali" ucapnya seraya mengelus lembut kepalaku.


Aku mengangguk. Begitu Felix keluar aku menangis sejadi-jadinya.


Braakk..Bugh..


" Bajingan, Brengsek!"


Aku tersentak begitu mendengar keributan dari ruang kerja Felix. Perasaanku tidak enak.


Oh Tuhan, apa yang ku takutkan jangan sampai terjadi, ucapku dalam hati.


Aku berjalan menuju ke ruangannya. Aku terpekik kaget melihat Kak Raymond yang menghajar Felix dan ada Roland yang kewalahan menahan kak Raymond agar berhenti memukuli Felix. Kak Raymond berarti sudah mengetahuinya.


"Kk..kak..kakak" panggilku terbata.


Tiga pasang mata itu spontan menatap ke arahku dengan ekspresi yang berbeda.


"Mika..sejak kapan kau ada di situ?" Roland mengernyit bingung. Berarti Roland belum mengetahui apa yang terjadi.


Tinju kak Raymond kembali melayang kewajah Felix.


Aku menjerit.


"Hentikan Ray, kau bisa membunuhnya. Ada apa denganmu" Roland membantu Felix untuk berdiri. Aku mendekat ke arah mereka.


"Kau tanya ada apa, coba kau tanyakan kepada teman brengsekmu itu apa yang sudah dilakukannya!!" bentak kak Raymond dengan suara tinggi.


"Katakan padaku ada apa sebenarnya?" tanya Roland kepada Felix. Felix bungkam.


"Jawab brengsek!!" kak Raymond mengangkat tinjunya lagi. Aku segera berlari dan memeluk kak Raymond.


"Aku mohon, hentikan" lirihku sambil terisak di pelukannya.


"Aku yang salah" ucapku lagi.


Kak Raymond mematung. Felix menatapku nanar.


"Sebenarnya apa yang terjadi d isini" tanya Roland penasaran.


"Aku akan bertanggung jawab" jawab Felix.


Raymond mendengus dan aku masih memeluknya. Roland mengangkat kedua alisnya dan semakin bingung.


"Kau membuat kesalahan lagi?" Roland bertanya kepada Felix dengan menekan kata lagi dalam kalimatnya.


Felix mengangguk


"Aku meniduri Mika" jawabnya tegas. Aku langsung melepaskan pelukanku dan menatapnya. Felix juga menatapku. Wajahnya yang hancur masih bisa tersenyum dengan hangatnya ke arahku.


Aku melihat Roland yang mematung dengan mulut yang menganga untuk sepersekian detik. Kemudian dia menatap kak Raymond yang masih menatap Felix tajam lalu kemudian menatap ku tidak percaya.


Roland kemudian menatap Felix kembali dan melayangkan tinjunya.


"Bajingan!!"


"Sahabat macam apa kau brengsek!!"


Roland menghajar Felix habis-habisan. Felix hanya diam tidak melakukan perlawanan.


Aku menangis histeris.


"Aku mohon hentikan"


"Kakak tolong hentikan Roland, dia bisa membunuh Felix. Kau sudah menghajarnya tadi. Aku mohon kak" Aku menarik-narik tangan kak Raymond. Tapi kak Raymond seperti tuli tidak mendengar suaraku begitu juga dengan Roland.


Tiba-tiba kak Raymond berjalan mendekati Roland dan Felix. Kak Raymond menahan tangan Roland. Roland menoleh ke belakang.


"Cukup Roland. Kau bisa membunuhnya" ucap kak Raymond tidak bernada.


"Lepaskan Ray, biarkan aku menghajarnya untuk mu, dia pantas mendapatkan nya" ucap Roland emosi.


"Biarkan si brengsek ini mati" tambahnya lagi.


"Bukan salah nya sepenuh nya. Noura, dia mendatangiku tadi" jelas Raymond.


Roland tersentak dan baru mengerti kondisinya. Roland bangkit dari tubuh Felix dan membantunya berdiri.


Aku menghampiri Felix


"Kau tidak apa-apa?" tanyaku dengan menyentuh luka di wajahnya. Felix meringis.


"Oh maafkan aku. Aku menyakitimu" ucap ku lagi. Aku terisak. Felix menghapus air mataku yang mengalir di wajahku.


Felix menggenggam tanganku.


"Tenanglah, aku baik-baik saja" Felix menenangkanku. Aku tiba-tiba merasakan sakit di kepalaku. Tempat ku berpijak terasa berputar.


"Kau baik-baik saja" aku mendengar samar-samar suara seseorang yang terdengar sangat khawatir.


"Hei..sugar.."


"Mika"


"Sayang"


Semuanya gelap dan aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


T.B.C