
Brak
Pintu kembali terbuka dengan kasar. Aku, Felix, Keyra dan Nayla serentak menatap ke arah pintu. Disana berdiri Roland dan Raymond.
"Apa yang terjadi dengan wajah tampanmu" Keyra mendekat ke arah Roland dan mengelus wajah Roland. Roland memejamkan matanya menikmati sentuhan Keyra.
"Menjijikkan" sindir Nayla.
"Dan kau Keyra hentikan tanganmu yang bergrilya di wajah tampan nya itu" lanjutnya.
Keyra menyadari tindakannya dan segera menarik tangan nya dari wajah Roland. Roland menahannya.
"Lakukan seperti tadi. Percayalah itu mengurangi rasa sakitnya" ucap Roland memohon.
Keyra mendengus lalu sengaja menekan wajah Roland yang penuh dengan luka sebelum menarik tangannya paksa dari wajah Roland. Roland meringis.
Raymond berjalan perlahan mendekat ke arahku dan Felix. Aku melirik Felix dan ternyata dia juga sedang memperhatikanku.
"Kau baik-baik saja" tanya kak Raymond begitu sampai di hadapanku.
Aku mengangguk.
Kak Raymond menarikku mendekat ke arahnya lalu merangkul bahuku. Aku tersenyum kikuk. Sejak kapan aku merasa tidak nyaman dengan sentuhan tunanganku ini.
Aku melihat Felix menatapku nanar. Melihat tangan Raymond yang merangkulku dengan posesif.
"Bagaimana denganmu bung, kau baik-baik saja" tanya kak Raymond kepada Felix.
"Dan maafkan aku dan Roland. Percayalah kami tidak bermaksud menyembunyikan ini dari mu" ucap kak Raymond tulus. Felix tersenyum dan mengangguk.
"Lupakan itu, kau dan Roland tidak bersalah. itu semua sudah takdir. Mika mengatakan aku harus berdamai dengan keadaan dan diri ku sendiri. Ucapan nya seperti mantra buatku dan lihatlah sekarang aku baik-baik saja berkat tunanganmu itu" Felix melirikku sekilas. Kak Raymond melebarkan matanya. Melihat raut wajahnya Roland berarti belum cerita bahwa mereka sudah mengetahui kalau aku tunangannya.
"Aku masih tidak percaya ternyata Mika adalah tunanganmu. Jika saja Mika tidak memberitahu Roland mau sampai kapan kau menyembunyikan dariku dan Roland" ucap Felix sambil tersenyum kak Raymondpun mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, biarku perkenalkan secara resmi agar kau dan Roland tidak berani menggoda nya lagi" canda kak Raymond. Aku melihat Felix tersenyum getir.
Ada apa dengan pria itu. Dia jadi terlihat murung. Apa gara-gara ciuaman kami tadi dia jatuh cinta padaku. Akh aku masih amatiran tidak mungkin gara-gara itu.
"Felix, Roland ini tunanganku Ayrin Mikayla Anderson dan sayang ini sahabat ku Felix dan juga Roland" ucap kak Raymond sambil tersenyum. Aku mengangguk.
"Pantas saja kau ingin membunuhku waktu aku mengatakan akan menikahinya, ternyata kau adalah calon suaminya. Dan sekarang jadi terlihat jelas aku selalu bingung tapi malas bertanya kenapakau, Keyra dan Nayla sering memanggilnya Ay, ternyata Ay untuk Ayrin" ucap Roland yang mendapat cubitan di pinggang oleh Keyra.
"Dan katakan kapan kalian akan menikah?" tanya Roland.
"Apa kau dan Mika akan mendahuluiku atau menyusulku dengan Keyra"
Keyra memutar bola matanya malas.
"Siapa yang akan menikah denganmu" Keyra mendengus.
"Kau membuatku malu di hadapan teman-teman ku dan juga temanmu Keyra" ucap Roland dengan raut wajah kecewa yang dibuat-buat.
"Aku dan Ay akan menikah begitu dia lulus, bukan begitu sayang" kak Raymond meminta pembenaran dariku. Aku hanya mengangguk karna kenyataan nya memang demikian. Keluargaku dan keluarga kak Raymond sudah membicarakan dan menyepakatinya.
Roland bersiul.
"Wah ternyata diantara kita bertiga kau yang lebih dulu melepaskan status lajang. Aku bangga padamu sobat."
"Ya aku mengira Roland yang akan terlebih dahulu menikah mengingat begitu banyak wanita yang di tiduri nya. Aku tidak akan heran apalagi terkejut jika salah satu dari wanitanya yang bahkan dia lupa namanya siapa datang menemuinya dan mengaku sedang mengandung anaknya dan akhirnya mereka berujung di pelaminan" ucap Felix panjang lebar setelah bungkam sedari tadi.
Nayla dan Keyra terbahak mendengar penuturan Felix.
Roland mendengus
"Kau mengutukku" tanya Roland polos
"Come on dude, kau membuatku dalam masalah" ucapnya lagi sambil menatap Keyra yang masih terbahak.
Hening.
Aku melihat Felix mengepalkan tangannya dan rahang nya mengeras menahan emosi. Mungkin dia belum bisa memaafkan wanita itu. Merupakan hal yang wajar mengingat apa yang sudah dilakukannya pada Felix.
"Aku bertanya padamu Ray" ucap Roland lagi.
"Aku sudah mengakhiri semuanya dengan nya dan aku tidak perlu takut dia akan mencelakai Mika karna ada kau dan juga Felix yang menjaga nya jika tidak ada aku di sampingnya" jelas kak Raymond
"Lalu bagaimana denganmu dude, apa yang akan kau lakukan padanya" tanya Roland lagi kepada Felix.
Felix menatap Roland datar
"Aku tidak tahu. Mungkin tadi aku sudah menghabisi nya jika saja Mika tidak menahanku" Felix menatapku sambil tersenyum hangat.
"Baiklah lupakan segala hal yang tidak menyenangkan itu. Mari kita merayakan kemenangan ini" ucap Nayla penuh semangat.
Semua menatapnya dan mengernyitkan dahi.
"Kemenangan apa?" Keyra menyuarakan kebingungan kami semua.
"Kemenangan Mika sahabat kita yang terhindar dari wanita licik itu" ucap Nayla enteng.
"Baiklah, aku yang akan membayar tagihannya" ucap Felix yang disambut Nayla dengan tepuk tangan meriah.
¤¤¤¤¤¤¤¤
Dan di sinilah kami di salah satu klub ternama di kota ini. Ini kedua kalinya aku melangkahkan kakiku ke dalam tempat terkutuk ini. Ini mengingatkanku pada pertemuan pertamaku dengan Felix. Aku tersenyum samar mengingat kebodohanku dan kemesuman Felix yang menciumku yang berakhir dengan juice yang mendarat di wajahnya.
Tapi kali ini aku tidak perlu takut karna kali ini aku bersama tunanganku. Dan sekarang aku harus menikmatinya. Aku tidak akan membuang kesempatan ini. Besok-besok belum tentu kak Raymond mengizinkanku menginjakkan kaki lagi kesini.
Aku melihat Nayla dan Keyra yang menari dengan santai dan bebas mengikuti musik yang berdentum dengan keras. Roland beberapa kali menghajar para pria hidung belang yang mencoba mendekati Keyra dan Nayla. Ternyata dia pria yang cukup bertanggung jawab.
Aku menarik narik kemeja kak Raymond. Kak Raymond menatap ku sambil mengangkat kedua alisnya.
"Aku mau kesana kak" ucapku sambil menunjuk kearah Keyra dan Nayla.
Kak Raymond melebarkan matanya.
"Baiklah jika kakak tidak mengizinkannya" lirihku.
Kak Raymond terkekeh lalu mengacak rambutku gemas
"Gadis baik, baik lah kakak akan menemanimu" kak Raymond berdiri dan menggenggam tanganku.
"Kami akan turun kebawah apa kau akan ikut" tanya kak Raymond kepada Felix yang sedari tadi sangat betah dengan diamnya.
Felix hanya menggeleng.
"Aku perhatikan kau banyak minum hari ini. Kendalikan diri mu dude, kau sangat kacau jika mabuk" kak Raymond menasehati Felix
"Aku baik-baik saja" ucapnya dingin lalu meneguk minumannya kembali.
Aku melihat kesedihan di wajahnya aku jadi tidak tega meninggalkannya.
"Aku baik-baik saja, pergi lah" ucapnya lembut seolah bisa membaca fikiranku. Mata kami beradu, dia tersenyum lalu mengangguk.
"Kami akan segera kembali, kami hanya sebentar" ucapku sebelum aku dan kak Raymond meninggalkannya.
T.B.C