
"Bagaimana keadaan mommy dan daddy saya Dokter?" tanya Mika begitu dokter keluar dari kamar pasien.
"Maafkan kami Miss.Anderson, Tuan dan Nyonya Anderson tidak bisa diselamatkan" jawab Dokter itu penuh sesal.
Mika ambruk begitu mendengar jawaban Dokter bahwa kedua orang tuanya sudah tiada.
"Hei..kau baik-baik saja" tanya Roland begitu Mika membuka matanya.
"Mommy..Daddy..?" tanya Mika berurai air mata, Roland memeluknya.
Pintu terbuka dan muncul seorang pria memakai jas putih bersih ciri khas seorang dokter.
"Kau sudah bangun" ucapnya ramah dan penuh senyuman.
"Bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Roland khawatir.
Dokter itu kembali tersenyum.
"Kau tidak perlu khawatir, selamat kau akan menjadi seorang ayah" Dokter itu menatap Roland dan Mika bergantian.
Roland tersedak air ludahnya sendiri, sedangkan Mika semakin menangis begitu mendengar kabar yang diberikan oleh Dokter tersebut.
"Apa maksudmu Mika sedang hamil Dokter?" tanya Roland memastikan.
Dokter itu mengangguk dan senyuman tidak pernah hilang dari wajahnya sangat berbanding terbalik dengan keadaan Mika sekarang.
"Ya, istri anda sedang mengandung lima minggu" jawabnya seraya memberikan secarik kertas yang diyakini Roland adalah obat yang harus ditebus untuk Mika. Setelah Roland mengucapkan terima kasih Dokter itupun keluar meninggalkan Mika dan Roland yang masih shock.
"Kenapa takdir memperminkanku seperti ini Roland" lirih Mika berurai air mata.
"Aku tidak tahu harus sedih atau bahagia, disaat Dia mengambil kehidupan orang tuaku Dia juga memberikan kehidupan baru di dalam rahimku Roland. Sekarang apa yang harus ku lakukan?"
"Semuanya pasti baik-baik saja. Aku yakin kau mampu melewati ini semua. Kau wanita yang kuat. Pertama-tama kita harus mengurus pemakaman Tuan dan Nyonya Anderson dulu. Tapi sebelumnya aku menebus obatmu dulu. Aku yakin ini vitamin buat keponakanku" ucapnya seraya menggenggam tangan Mika lalu mengelus kepalanya. Mika mengangguk.
"Roland" panggil Mika begitu Roland berada di ambang pintu. Roland menoleh.
"Berjanjilah tidak mengatakan soal kehamilanku pada siapapun" pinta Mika.
Roland mengangguk dan tidak menanyakan apa pun.
"Baiklah, aku akan segera kembali" ucapnya sebelum meninggalkan Mika sendirian di sana.
Mika menangis sejadi-jadinya begitu Roland pergi. Siapapun yang mendengar tangisan nya pasti ikut merasakannya. Rintihan nya sangat menyayat hati. Mika beranjak dari tempatnya dan menuju kamar tempat mommy dan daddynya. Mika mendekati tubuh kaku mommy dan daddynya.
"Mommy, daddy aku sedang mengandung anaknya, anak kami. Apa yang harus ku lakukan sekarang mommy" isaknya seraya mengusap perut datarnya.
"Kenapa kalian tega meninggalkanku mom, dad.." isaknya.
"Bagaimana aku akan bertahan hidup mommy, apa yang bisa kulakukan tanpamu mom, kepada siapa aku sekarang aku harus mengadu dad..tidak ada lagi yang akan memanjakanku. Lalu bagaimana dengan bayi ku mom, apa aku mampu merawatnya"
"Mommy siapa yang akan memarahiku jika aku bertindak diluar batas, mommy aku hamil di luar nikah, bangun lah mommy marahi aku" Mika mengguncang tubuh mommynya.
"Daddy aku telah melanggar aturanmu, daddy seumur hidupku kau tidak pernah memarahiku, daddy kali ini aku ingin kau memarahiku" Mika kembali mengguncang tubuh daddynya.
"Kenapa kalian tega meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah kata. Bagaimana aku akan hidup tanpa kalian mom, dad. Tidak bisakah kalian mengajakku bersama kalian" Mika terduduk di lantai.
❤❤❤❤❤
Roland berjalan sambil menenteng obat Mika. Roland menyipitkan matanya begitu melihat seseorang yang baru saja keluar dari kamar pasien. Roland mendekat.
"Siapa yang sakit?" tanyanya begitu sampai di dekat Felix.
"Ashley sakit?" tanyanya.
Felix mengangguk.
"Tumor otak, stadium akhir"
Roland tersentak begitu mendengar apa yang dikatakan Felix.
"Apa itu alasanmu menikahinya?" tanya Roland penuh selidik. Felix hanya diam. Roland menghela nafas kasar. Sekarang dia mengerti kenapa Felix tiba-tiba menikahi Ashley disaat dia mengaku mencintai Mika.
"Entah takdir apa yang sedang mempermainkan kalian" ucapnya pelan yang masih bisa di dengar oleh Felix.
"Apa maksudmu?" tanya nya.
Roland menggelengkan kepalanya.
"Dan kau apa yang kau lakukan di sini?" Felix melirik obat yang di pegang Roland.
"Apa kau sakit?" tanyanya.
"Ini obat buat Mika"
"Mika sakit?" tanyanya penuh khawatir.
Roland mengangguk
"Felix orang tua nya mengalami kecelakaan dan nyawanya tidak tertolong. Kedua orang tuanya meninggal"
Wajah Felix memucat mendengar kabar berita yang diberikan Roland. Tubuhnya menegang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana sekarang keadaan wanita yang di cintainya itu. Di hari bahagianya dia harus mengalami
kesedihan dimana kedua orang tuanya meninggal.
Mika menatap kosong mommy dan daddy nya yang terbujur kaku tidak bernyawa lagi. Keyra dan Nayla duduk di sampingnya seraya menenangkannya. Mika tidak menangis lagi. Air matanya mungkin sudah kering karena dua minggu ini hari nya dipenuhi dengan tangisan.
"Ay..."
Mika menoleh begitu mendengar suara yang sangat di kenalnya. Raymond menatap nya penuh penyesalan dan kesedihan. Raymond segera menariknya ke dalam pelukannya.
"Kau harus kuat dan maafkan kebodohan kakak" ucapnya.
Mika melepaskan pelukannya lalu menatap datar ke arah Raymond.
"Ay.." panggil nya. Mika menggeleng lalu kembali menatap mayat mommy dan daddynya.
"Mika"
Mika menoleh cepat begitu namanya kembali dipanggil oleh pria yang merupakan ayah dari bayi yang di kandungnya. Mika berdiri dan berlari ke dalam pelukan Felix. Mika menangis sejadi-jadinya. Felix juga tidak dapat membendung air matanya. Hatinya tersayat mendengar tangisan wanita yang ada di pelukannya itu.
"Sayang, tenanglah kau harus kuat dan sabar. Ada kami di sini yang akan selalu menemani dan menyayangimu" Felix mengeratkan pelukannya.
"Percayalah semua akan indah pada waktunya. Ikhlaskan kepergian mereka, akan sulit dan menyakitkan buat mu tapi buat mereka bangga yang sudah mendidik dan membesarkanmu menjadi pribadi yang kuat. Mereka percaya kau mampu sayang" Felix mengusap punggung Mika.
Raymond yang melihat pemandangan itu tersenyum getir. Dia menyadari hanya Felix yang mampu menenangkan Mika.
Di hatimu hanya akan selalu ada Felix, kau tidak akan mampu memberikan hatimu kepada yang lain. Karena hatimu sudah dipenuhi oleh Felix. batinnya.
Roland menepuk bahunya seperti faham apa yang sedang di fikirkannya. Raymond menoleh lalu mengangguk dan tersenyum.
T.B.C.