You Are Special

You Are Special
Daddy



"Mau sampai kapan kau berlari dan bersembunyi dari ku Mikayla Anderson. Apa waktu empat tahun itu belum cukup buatmu?"


Mika menghentikan langkahnya mendengar ucapan Felix yang terdengar sangat putus asa di telingnya. Mika berbalik dan menatap Felix yang juga sedang menatapnya dengan tatapan memohon dan mengiba. Jantungnya kembali menggila. Pria yang sangat di rindukannya selama empat tahun terakhir itu kini berada tak jauh di hadapannya.


Lalu kenapa aku harus berlari lagi? Sudah cukup takdir mempermainkan kami, ucap Mika dalam hati.


Felix berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku mohon tetaplah di tempatmu, jangan berlari lagi. Biar aku yang berlari dan datang menghampirimu" Felix terus melangkah dan mengikis jarak diantara mereka.


Sekarang Felix tepat berdiri di hadapannya.


"Akhirnya aku menemukanmu"


Darahnya berdesir mendengar kalimat singkat yang di ucapkan Felix. Mika menatap lekat wajah pria yang di hadapannya. Pria yang selalu di rindukan dan di tangisinya setiap malam selama empat tahun ini. Mika menahan nafasnya tatkala Felix menyentuh wajahnya lembut. Felix juga merasakan perasaan yang sama. Jantungnya yang kembali menggila setelah empat tahun lamanya. Akhirnya Felix merasa hidup kembali setelah empat tahun lalu udara serasa di renggut paksa darinya. Oksigennya kini ada di hadapannya. Mika_nya.


Mika sudah tidak tahan lagi. Ia merindukan pria ini. Sangat merindukannya. Mika menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Felix. Felix terhenyak, kemudian senyum lebar menghiasi wajah tampannya. Felix mengangkat ke dua tangannya dan membalas pelukan Mika dengan sangat erat.


"Aku sangat merindukan aroma ini" Felix menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanitanya. Menghirup dalam aroma lemon dari tubuh Mika.


"Kenapa sekarang kau terlihat sangat kurus?" isak Mika di pelukannya.


Felix tergelak mendengar pertanyaan Mika. Jelas saja badannya tidak terurus lavi sejak kepergian Mika. Makan tidak teratur tidur pun tak nyenyak. Bahkan hanya untuk sekedar bernafas ia merasa sesak.


Felix melepaskan pelukannya.


"Jangan menangis" pinta Felix lembut seraya mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Felix menatap lekat wajah wanita yang sangat di rindukannya itu. Hanya Tuhan yang tahu betapa seringnya ia menangis dalam diam karena merindukan wanita ini.


"Aku begini karena merindukanmu," Felix mengusap lembut wajah Mika.


"Berbeda dengan dirimu, sekarang kau bahkan terlihat lebih cantik Miss.Anderson" Felix masih saja mengusap lembut pipi Mika


"Aku tidak menyangka kau akan memelukku terlebih dahulu. Reaksimu benar-benar membuatku terkejut. Aku hampir frustasi melihat kau memutar tubuhmu dan membelakangiku. Otakku berfikir keras apa yag harus kulakukan jika ternyata kau menolak kedatanganku" Felix terkekeh pelan.


"I miss you,Mika. I really miss you" Felix menarik Mika kembali ke dalam pelukannya.


Mika tidak menjawab, ia hanya lebih mengeratkan pelukannya di tubuh Felix, tapi Felix bisa merasakan bahwa Mika juga merindukannya sebesar ia merindukan wanita itu.


Felix mengurai pelukan mereka sedikit lalu menatap wajah Mika,


"Can i kiss you?" Felix menatap bibir pink yang sangat di rindukannya itu.


"Tidak biasanya kau meminta izin. Apa kau pria tua mesum yang sama yang selalu mencuri ciumanku" goda Mika.


"Aku belajar dari pengalaman, aku hanya tidak ingin di tampar olehmu" jawabnya enteng.


"So..can i?" tanya Felix tak sabar.


Mika tidak menjawab, Mika menggigit bibir bawahnya. Felix terkekeh.


"Kau menggodaku" ucap Felix seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Mika. Felix bahkan bisa mendengar debaran jantung yang berdetak tak beraturan. Felix tersenyum, ternyata bukan hanya dirinya yang gugup, Mika juga merasakan hal yang sama.


"excuse me, aku harap kalian tidak melupakan keberadaanku" ucap suara itu santai dan tenang.


Mika segera menjauhkan dirinya dari dekapan Felix. Wajahnya bersemu merah menahan malu. Apa lagi yang lebih memalukan dari situasi ini. Putrimu hampir melihat tindakan senonohmu.


Felix terkekeh seraya menundukkan kepalanya untuk melihat putrinya. Felicia menatap mereka berdua sambil melipat tangannya di dada lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Oh sayang, maafkan kami" ucap Felix.


"Kami tidak mungkin melupakan keberadaanmu sayang" Mika mengacak rambut putrinya gemas.


Felicia mendengus.


"Huh..yang benar saja. Aku tidak menyangka kau bisa lepas kendali juga moms. Jika saja aku tidak menghentikan tindakan senonoh kau dan uncle, aku yakin besok wajahmu sudah terpampang di berita" rungut Felicia yang sontak membuat wajah Mika merona. Felix terkekeh dan menggigit pelan hidung mungil Felicia.


"Aww.." ringis Felicia


"Kau menyakiti asetku uncle, kau marah karena aku menggoda wanitamu" Felicia memanyunkan bibirnya karena kesal.


"Kau mendidik putri kita dengan sangat baik Mrs. McKenzie" bisik Felix tepat di telinga Mika. Wajah Mika merona, jantungnya berdebar tak karuan mendengar Felix mengatakan kita dan caranya memanggil Mika dengan nama belakangnya. Mika menatap nya, Felix terkekeh lalu mengedipkan matanya. Wajahnya semakin bersemu merah.


"Mom, aku sangat lapar" rengek Felicia.


"Oh..baiklah sayang kita akan pulang" Mika mengambil alih Felicia dari gendongan Felix.


"Sepertinya kami harus pulang" ucap Mika pelan dan dengan berat hati. Felix menatapnya murung.


"Mom, tidak bisakah kita mengajak uncle makan bersama, sepertinya uncle juga belum makan"


Seperti mendapat air di tengah gurun pasir, Felix tersenyum lebar.


"Oh sayang kau sangat pengertian" Felix membawa Felicia kembali ke dalam gendongannya, mata nya melirik Mika yang sedang menundukkan kepalanya menyembunyikan senyumnya.


"Maaf Sir, 10 menit lagi rapat akan segera dimulai" seorang pria muda mendekati Felix


"Batalkan!" jawab Felix singkat padat dan jelas yang langsung diangguki oleh pria itu.


"Kenapa kau membatalkannya?" Mika mendekat ke arah Felix.


"Prinsipku adalah mengutamakan yang lebih penting" Felix menggenggam tangan Mika dan membawanya keluar.


"Rapatmu tidak penting?"


"Penting, hanya saja kau dan Felicia yang terpenting" Felix berhenti di depan mobil sport merah menyala miliknya.


"Wah.. kau memiliki mobil yang tak kalah tampan darimu uncle" decak Felicia penuh kekaguman. Felix tertawa mendengar Felicia menyamakan ketampanan nya dengan mobil miliknya.


"Apa kau ingin mencobanya?" tawarnya.


Wajah Felicia langsung berbinar mendengar tawaran Felix.


"Benarkah?" tanya nya memastikan dengan tawa lebar di wajahnya. Felix mengangguk lalu melepaskan genggamannya dari tangan Mika dan membuka pintu penumpang. Felix kembali menarik Mika dan menyuruh nya masuk seraya melindungi kepala Mika dengan tangannya agar tidak terbentur.


"Felix, mobilku?" protes Mika.


"Aku akan menyuruh orang kantor nanti mengantarnya" jawab nya seraya menutup pintu mobil.


Felix berjalan mengitari mobilnya dengan Felicia yang masih di dalam gendongannya. Felix masuk dan duduk di belakang kemudi dan mendudukkan Felicia di pangkuannya.


"Baiklah sweety, kita akan berangkat" ucapnya seraya menjalankan mobilnya.


Felix melihat sekeliling ruangan yang di jadikan Mika sebagai tempat usahanya membuka cake shop. Tempatnya tidak terlalu besar tapi tidak bisa dikatakan kecil juga. Felix menatap Mika yang sedang melayani pelanggannya. Senyum tak pernah lepas dari wajah nya. Cantik. Felix tersenyum bangga. Wanita nya itu memang terlihat lebih cantik sekarang.


Susah payah ia mencari keberadaan Mika keberbagai negara ternyata Mika masih berada di negara yang sama hanya dikota yang berbeda. Felix berjanji dalam dirinya tidak akan pernah lagi melepaskan wanita itu. Ia akan segera menarik Mika kepelaminan. Felix akan memberikan cinta yang besar untuknya hingga Mika lupa apa itu kesakitan.


"Maafkan aku, kau pasti sudah menunggu lama"


Felix tersentak dari lamunannya dan melihat Mika sudah berdiri di hadapannya. Felix tersenyum lembut seraya menarik Mika kepangkuannya, lalu mengecup punggung tangan Mika.


"Feliiixx" pekik Mika seraya melihat ke sekelilingnya. Dan benar saja karyawannya sudah menatap ke arahnya dengan tatapan kaget bercampur geli. Felix tidak peduli, ia malah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Mika dan menciuminya. Mika menahan nafasnya. Tubuhnya memanas mendapat sentuhan Felix di lehernya.


Mesumnya tidak menghilang sama sekali.


"Felix hentikan, semua orang memperhatikan kita" Desis Mika.


"Biarkan saja. Biar mereka tahu kau adalah milik ku, aku tidak menyukai kau tersenyum kepada pria lain"


Cemburu, batin Mika.


"Dan apa-apan ini tokomu dipenuhi dengan banyak pria. Aku yakin mereka datang hanya ingin melihatmu" ucap Felix kesal.


Mika berdiri dan menghempaskan tangan Felix dengan sedikit kasar.


"Jadi maksud mu kue buatan ku tidak enak?" Mika menatap tajam ke arah Felix.


Felix terkekeh.


"Bukan seperti itu maksudku.."


"Sudahlah, Felicia sudah menunggu lama di atas" Mika menyela ucapan Felix seraya berbalik dan berjalan menuju tangga, Felix mengikutinya dari belakang.


"Kalian lama sekali. Hampir saja aku mati kelaparan" ucap Felicia berlebihan.


Mika mendengus dan memilih mengabaikan sindiran putri cantik nya itu. Mika mengambilkan makanan buat Felicia dan Felix. Felix menatap Mika dan Felicia bergantian. Hati nya menghangat. Begini rasanya berkeluarga?


"Kenapa kau menatap ku dan mommy seperti itu uncle?" tanya Felicia ditengah kunyahannya.


Felix menggeleng.


"Uncle hanya merindukanmu sayang" ucapnya jujur. Aku bukan unclemu sayang, aku daddymu.


"Sekarang katakan padaku, apa hubunganmu dengan mommy uncle?"


"Kau tanyakan saja pada mommymu sayang" jawab Felix tersenyum hangat.


"Kenapa bukan kau saja yang menjawabnya?"


"Kau yang meninggalkanku, jadi kau yang harus menjawabnya"


"Huh, yang benar saja..kau tanyakan saja dirimu kenapa aku pergi"


"Oh Tuhan, Bisakah kalian berhenti" teriak Felicia yang sontak membuat Mika dan Felix menatap ke arahnya.


"Baiklah mommy, sekarang katakan apa kah uncle Felix adalah daddy yang selalu ku rindukan selama ini?" tanya Felicia terang-terangan. Felicia menatap lekat dan penuh harap pada Mommynya.


Mika menatap Felix yang juga sedang menatapnya. Felix dan Mika sama-sama terkejut mendapat pertanyaan yang dilayangkan putri mereka secara terang-terangan. Dari tadi mereka bingung bagaimana cara menyampaikan keadaan ini kepada putri mereka Felicia. Tapi tak disangka Felicia malah melayangkan pertanyaan yang mengarah kepada pernyataan.


Mika kemudian menatap putri nya. Apa yang harus di katakan nya sekarang. Jika ia menjawab iya Felicia yang pintar itu akan menanyakan kenapa mereka tidak hidup bersama selama ini. Jika ia menjawab tidak bagaimana perasaan Felix nantinya dan tatapan Felicia penuh harap itu akan berganti dengan tatapan kekecewaan.


"Mommy, bisakah aku menganggap diammu sebagai jawaban" desaknya lagi.


Mika tersentak dari lamunannya dan menatap putri nya dengan tatapan penuh arti. Felicia mengembangkan senyum di wajah nya lalu turun dari kursinya dan mendekati Felix.


"Dd..dad..daddy" panggil Felicia tergagap.


Hati Felix menghangat. Air matanya mengalir.


"Bisakah kau memelukku daddy?" pinta Felicia seraya merentangkan kedua tangannya. Felix segera berjongkok dan menarik Felicia ke dalam pelukannya.


"Ternyata aku mempunyai daddy. Dad..i miss you" tangis Felicia pecah begitu juga dengan Felix. Felix mencium puncak kepala putrinya. Felix melepaskan pelukan nya lalu mencium seluruh permukaan wajah putrinya.


"Maafkan daddy sayang, daddy baru menemuimu sekarang" ucapnya.


Felicia mengeleng.


"I'am happy, sungguh aku sangat bahagia, ternyata aku mempunyai daddy yang sangat tampan. Sekarang aku tahu dari mana aku mewarisi wajah cantik ini" ucapnya di tengah isakan nya. Felix terkekeh. Celotehan putri nya memang selalu diluar dugaan sama seperti ibunya.


Mika yang melihat pemandangan di hadapannya juga ikut menangis haru dan mendekat.


"Apa kau baru saja mengatakan bahwa mommy mu ini tidak cantik sayang?" Mika mengelus sayang rambut putrinya.


Felicia menggeleng.


"Kau cantik mom, hanya saja aku lebih cantik" jawabnya enteng tanpa beban.


"Jadi katakan kapan kau akan pulang daddy?" tanya Felicia mengalihkan tatapan nya dari mommy nya ke arah daddynya. Felix mengernyit mendapat pertanyaan putrinya itu.


"Kita baru saja bertemu sayang, kau sudah menanyakan kapan daddy akan pulang. Apa kau tidak ingin ikut bersama daddy?"


Felicia menggeleng.


"Tidak dad, mommy bisa kacau jika aku tidak ada di sampingnya. Lagian kau sudah memiliki keluarga bukan?"


Mika tertegun mendengar kenyataan itu.


Kenapa aku bisa melupakan kenyataan kalau Felix sudah menikah. Ada Ashley dan Darren.


Hati nya tiba-tiba terasa nyeri setelah menyadari kenyataan itu. Mika memegang dada nya yang terasa sakit. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia bendung.


"Mika" panggil Felix menyadari apa yang sedang difikirkan oleh wanita nya itu. Kesalahfahaman yang tidak pernah berujung.


Mika menatap nanar Felix.


"Oh maafkan aku. Pergilah ke kamar Felicia aku akan mencuci piring ini dulu" Mika mengambil asal piring di meja dan membawanya ke dapur. Felix menghela nafas.


"Baiklah sayang, tunjukkan pada daddy kamarmu dimana?" Felix menyentil hidung putrinya.


T.B.C