
"Kau sungguh sangat kacau kalau lagi mabuk dude" Roland meletakkan Felix di bangku penumpang. Roland mengitari mobilnya dan masuk ke bangku kemudi.
Felix terkekeh
"Kau tahu Roland, ini sangat menyiksaku. Aku sangat merindukannya. Kau tahu betapa kerasnya aku menahan hasratku dan mengendalikan tubuhku agar aku tidak berlari menemuinya" Felix menangis.
"Kau tahu Roland, cinta itu sangat serakah semakin kau mencintainya semakin kau ingin dia membalas cintamu. Tapi apa yang aku lakukan pada nya sungguh sangat menyakitkan. Di saat dia membalas cintaku dan melepaskan tunangannya Raymond, aku malah harus menikahi wanita lain tanpa memberi penjelasan apa pun padanya. Tapi terkadang semakin dijelaskan akan semakin menyakitkan, bukan begitu Roland?" Felix menengadahkan kepalanya.
Roland hanya terdiam dan menatap iba sahabatnya itu. Roland menghela nafasnya lalu kemudian menyalakan mesin mobilnya.
"Kau tahu Roland betapa bahagianya aku saat dia mengatakan cinta kepadaku, seperti ada baling-baling bambu di kepalaku yang membawaku terbang ke udara. Tapi begitu aku melihat Ashley yang menatapku penuh harap aku seperti terjatuh dari syurga ke neraka" ucap Felix datar tak bernada.
"Ouh kau sungguh sangat menyedihkan kawan" goda Roland seraya menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Mika.
"Ya memang menyedihkan" lirih Felix. Roland jadi merasa tidak enak hati karena maksud nya menggoda Felix ternyata dianggap serius oleh Felix. Roland menghela nafasnya. Felix menganggap omongannya serius wajar saja karna ia dalam keadaan mabuk dan dalam suasana hati yang gundah gulana jadi tidak menangkap bahwa Roland hanya berniat menggodanya.
"Aku bahkan sangat pengecut, aku mencintainya tapi aku juga yang menyakiti nya, bahkan aku adalah lelaki pertamanya. Betapa brengseknya aku ini" Felix tersenyum getir.
Roland hanya diam membisu mendengarkan keluh kesah sahabatnya yang sedang mabuk itu, takut salah-salah kata Felix merasa tersentil.
"Kau tahu Roland, begitu aku menikah dengan Ashley, aku berusaha menekan perasaanku terhadap Mika, tapi ternyata aku semakin berambisi untuk memilikinya. Bukan kah hidupku sangat malang Roland?"
"Aku sudah menyakitinya, tapi aku tetap ingin memilikinya. Aku bahkan tidak mempercayai diri ku sebrengsek ini. Aku sudah memiliki istri tapi di hatiku hanya ada dia" Felix tersenyum getir.
"Ceritakan padaku kenapa kau menikahi Ashley, apa karena penyakitnya" akhirnya Roland menyuarakan suaranya. Dia memang cukup penasaran kenapa bisa tiba-tiba Felix menikah dengan Ashley.
Felix menggeleng
" Itu hanya pernikahan pura-pura, aku melakukannya untuk Darren" jawabnya.
Flash back On
Felix berjalan dengan langkah ringan dan hati yang riang gembira. Dia yakin sebentar lagi Mika pasti menyusulnya ke kantor begitu dia menemui Raymond.
Felix bersiul seraya membuka pintu ruangan nya. Felix mengernyit begitu melihat Ashley ada di ruangannya.
"Kau di sini?" tanyanya seraya mendekati Ashley.
Ashley mengangguk dan tersenyum kaku
"Aku ingin mengatakan sesuatu" ucap Ashley penuh hati-hati.
Felix mengangguk
"Ya katakan lah, aku akan mendengarkanmu" Felix tersenyum.
"Sepertinya kau dalam suasana hati yang bahagia" ucap Ashley begitu melihat senyum yang tidak lepas dari wajah Felix.
Felix tidak menjawab tapi hanya tersenyum.
"Felix menikahlah denganku" pinta Ashley seraya menatap Felix penuh harap.
Senyum mengembang di wajah Felix seketika menghilang. Felix menghela nafasnya lalu menatap Ashley.
"Bukan kah kita sudah pernah membicarakan nya Ashley, aku mencintai Mika dan kau tahu betapa gigihnya aku bila sudah mencintai seseorang" ucap Felix lembut agar tidak menyakiti Ashley. Tapi namanya penolakan selembut apa pun kau mengatakannya akan tetap terasa sakit.
"Kalau kau bisa mencintainya dengan gigih, kenapa dulu kau tidak bisa mencintaiku juga dengan gigih Felix. Apa kah dulu pondasi kita yang kurang kuat atau memang kau tidak pernah mencintaiku sebesar aku mencintaimu" lirih Ashley sambil menangis.
"Ashley, jika saja kau melihat betapa rapuhnya aku dulu dan betapa hancurnya aku, kau tidak akan mengatakan seperti itu kepadaku. Aku akui aku memang salah tidak menyelidikinya terlebih dahulu tapi percayalah aku juga hancur waktu itu, benar-benar hancur dan terpuruk, tapi Ashley ini sudah lima tahun dan semuanya sudah berubah"
"Tidak, hanya kau yang berubah Felix" bantah Ashley setengah membentak.
Felix menghela nafas nya.
"Ya, aku yang berubah. Maafkan aku" ucap Felix melembutkan suaranya.
"Ashley, apa yang ku katakan adalah jujur apa adanya. Jika saja aku bisa mengarahkan hatiku, aku juga tidak ingin menyakitimu dengan menolakmu atau mengkhianati sahabatku Raymond."
"Ashley aku bukan lah pria baik yang mengorbankan kebahagiaanku hanya untuk kebahagiaan orang lain, dan masalah Raymond kami sudah membicarakannya. Ray sudah melepaskan Mika karena menyadari Mika tidak mencintainya"
"Apa Mika mengatakan dia mencintaimu" Ashley menatap Felix nanar.
Felix mengangguk.
"Ya, semalam dia mengatakan perasaan nya dan tentu saja aku sangat bahagia Ashley"
"Kau bahagia tapi orang lain menderita Felix" Ashley mendengus.
"Mika juga sudah berjanji pada ku akan menekan perasaannya dan mengabaikanmu tapi ternyata itu hanya akal-akalannya saja"
"Apa maksudmu Ashley, kau meminta nya untuk mengabaikanku. Astaga Ashley aku tidak menyangka kau sama saja seperti Noura, pantas saja Mika memintaku menikah denganmu ternyata itu adalah ulahmu" ucap Felix dengan kecewa.
"Jangan samakan aku dengan wanita sialan itu Felix" bentak Ashley tapi tidak berpengaruh sama sekali terhadap Felix. Felix hanya menatapnya datar.
"Sesungguhnya aku sangat kecewa dengan sikapmu Ashley, tapi kali ini aku akan mencoba memahaminya. Sebentar lagi Mika akan datang ke sini, aku tidak ingin dia salah faham dengan melihatmu di sini. Jadi jika tidak ada lagi yang mau kau katakan silahkan pergi" Felix beranjak dari kursinya dan berjalan untuk membukakan pintu agar Ashley segera keluar.
"Felix aku sakit parah" lirih Ashley pelan tapi masih bisa didengar oleh Felix.
Felix menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Ashley. Mata mereka beradu. Felix menghela nafas kasar.
"Ashley tolong hentikan ini jangan membuat nya semakin sulit dengan kau mengarang cerita seperti ini, karna itu tidak akan mempengaruhi perasaanku terhadap Mika" ucap Felix tegas.
Ashley menggelengkan kepalanya
"Aku tidak berbohong, kau bisa melihat ini catatan medisku" Ashley menyerahkan map yang diyakini Felix berisi catatan medis Ashley. Felix menerimanya tanpa membukanya.
"Ashley, mungkin ini akan terdengar kejam buatmu tapi tetap saja aku tidak bisa menikah denganmu. Pernikahan bukan lah permainan. Apa kau ingin aku menikahimu hanya karna kasihan karna kau terlihat sangat menyedihkan?" ucap Felix terang-terangan.
"Aku tidak peduli apa pun alasanmu yang penting kau bersedia menikahiku"
"Jangan konyol" Felix menatap kesal ke arah Ashley.
"Kenapa kau jadi keras kepala seperti ini Ashley, aku akan membiayai pengobatanmu sampai sembuh"
Ashley tersenyum getir lalu menggeleng
"Umurku sudah tidak lama lagi Felix"
"Apa maksudmu" Felix membuka berkas yang diberikan oleh Ashley tadi dan membacanya. Felix tersentak, lalu kemudian menatap Ashley dengan kasihan.
"Tapi Ashley tetap saja aku tidak bisa" ucap nya penuh hati-hati. Terselip penyesalan di nada suaranya.
"Demi Darren, kau sudah membunuh daddynya" ucapan Ashley membuat tubuh Felix menegang seketika. Dia menatap Ashley dengan tatapan tidak percaya.
"Setelah Darren lahir aku belum bisa membahagiakannya. Darren kehilangan daddynya karna mu Felix. Sebelum aku mati aku ingin memenuhi keinginannya dengan memberikan dia keluarga yang utuh. Felix kau bisa melihat betapa bahagianya Darren mengetahui kalau dia mempunyai seorang daddy, terlebih dia menganggapmu memang daddynya yang sebenarnya tapi kenyataannya kau adalah orang membuatnya kehilangan sosok daddy di hidupnya. Felix setidaknya tunjukkan sedikit rasa bersalahmu dengan memenuhi keinginannya" Ashley menangis seraya menggenggam tangan Felix yang masih terdiam membisu.
Flash back off
"Katakan Roland jika aku sudah melakukannya dengan benar. Katakan bahwa keputusan yang kuambil tidak salah" gumam Felix mirip orang berkumur, pelan cenderung tidak jelas tapi masih bisa didengar dan diartikan oleh Roland.
Roland menghela nafas nya panjang. Selama mendengarkan cerita Felix tadi sepertinya dia lupa bernafas saking seriusnya mendengarkan luapan hati seorang Felix yang tengah mabuk.
"Yang kau lakukan sudah benar dude" Roland menepuk-nepuk bahu Felix.
Felix mengangguk.
"Ya, aku memang harus bertanggungjawab atas kesalahan yang kubuat. Aku telah membuat Darren kehilangan seorang daddy jadi sudah sepantasnya aku membahagiakannya dengan mengorbankan perasaan ku terhadap Mika. Tapi aku sungguh tidak menyangka akan semenyakitkan ini melihat Mika terluka dan rapuh. Dia menjadi korban atas kesalahanku di masa lalu. Kau tahu Roland aku sangat bahagia mengetahui kehamilannya. Aku mengira itu anakku dan berencana akan menceritakan semua yang terjadi sebenarnya. Sebenarnya bahwa tidak ada pernikahan seperti yang dia fikirkan. Tapi ternyata harapanku terlalu tinggi dan aku terlalu serakah" ucap Felix dengan nada yang sangat menyedihkan.
"Mika memang sedang mengandung anakmu dude, hanya saja Tuhan sedang menguji cintamu dan Mika yang belum dimulai tapi sesungguh nya sudah terikat" ucap Roland dalam hati.
T.B.C