You Are Special

You Are Special
Tiga Puluh Tiga



Mikayla POV


Hari ini adalah akhir pekan. Aku akan mengunjungi Ibu Felix seperti yang sudah aku janjikan.


Pagi tadi Keyra juga sudah mengantar Rachel ke rumahku. Dan sekarang aku lagi bersiap-siap karena sebentar lagi Felix akan datang menjemput kami.


"Mommy Ay, kita mau kemana?" tanya Rachel yang duduk di pangkuanku.


"Kita akan mengunjungi Grandma yang baik hati sayang" jawabku sambil mencubit gemas pipi tembem miliknya.


"Apa uncle Ray ikut bersama kita?" tanyanya lagi.


"Tidak sayang, uncle sedang kerja di luar kota. Tapi akan ada uncle tampan yang akan menjemput kita."


"Aku tidak menyangka akhirnya kau mengakui ketampanaku" Aku melihat Felix berdiri tidak jauh dariku dan Rachel.


Felix berjalan mendekat ke arah kami.


"Aku tidak menyangka kau dan Ray sudah memiliki anak yang cantik seperti ini" ucap nya sambil mengelus lembut kepala Rachel.


Felix mengambil alih Rachel dari pangkuan ku.


"Hai sayang, katakan siapa namamu."


"Rachel uncle, dan kau uncle?"


"Felix, katakan sayang kenapa kau memanggil mommy Ay dengan sebutan mommy dan kau hanya memanggilku uncle" protes Felix.


"Lalu aku harus memanggilmu apa uncle."


"Daddy" jawab Felix singkat yang membuatku sukses tersedak air liur ku sendiri.


"Apa kau akan menikahi mommyku jika aku memanggilmu daddy" ucap Rachel polos.


"Tentu saja sayang"


"Baiklah kalau begitu. Aku senang mempunyai daddy yang sangat tampan" ucap nya kegirangan.


"Mom Ay, telepon mommy katakan padanya aku sudah menemukan daddy, jadi mommy tidak perlu bersedih lagi."


"Siapa ibu dari anak pintar ini" bisik Felix di telingaku.


"Keyra" jawabku singkat.


Felix tersedak begitu mendengar nama Keyra


"Aku bisa dibunuh Roland kalau begitu" ucapnya.


"Kau memang pantas dibunuh" jawabku ketus.


"Sayang, daddy tidak bisa menikahi mommymu, karena mommy mu sudah menemukan daddy buatmu yang lumayan tampan juga sayang. Tapi daddy akan senang hati jika menikahi mommy Ayrin mu ini" jawab Felix sambil mengerling nakal kearahku. Aku mendengus.


"Benarkah" tanya Rachel dengan wajah berbinar yang dibalas anggukan oleh Felix.


 


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


 


"Akhirnya kau datang juga mengunjungi wanita tua ini" ucap Mommy Kelly begitu aku, Felix dan Rachel sampai di kediamannya. Mommy Kelly memeluk ku dan Felix bergantian.


"Maafkan aku mommy, akhir-akhir ini aku sibuk mempersiapkan kuliahku yang sebentar lagi akan selesai."


"Baiklah sayang, katakan siapa anak cantik yang kau bawa ini?"


"Anak sahabat ku mommy" jawab ku


"Rachel sayang, kenalakan dirimu pada grandma" ucapku pada Rachel.


"Hai grandma, aku Rachel" dengan wajah ceria dan semangat Rachel memperkenalkan dirinya.


"Hai sayang.." Mommy Kelly mengangkat Rachel kedalam gendongannya.


"Oh..senang nya. Begini rasa nya menjadi grandma. Felix mommy ingin satu yang seperti ini" ucap mommy Kelly santai.


"Oh c'mon mom, aku ingin sekali memenuhi permintaanmu, tapi itu akan berhasil jika ada wanita yang mau menampung spermaku mom, bukan hanya satu aku bisa memberikanmu sebanyak yang kau inginkan mom" ucap Felix frontal yang sontak membuatku melebarkan mata ku menatap horor padanya.


"Perhatikan ucapanmu Mr. McKenzie ada anak kecil di hadapanmu" tegurku mendelik kesal.


Mommy Kelly tertawa


"Ya, kau benar. Carilah wanita yang baik dan menikahlah, agar ada yang melayanimu dan memberikan sel telurnya serta menyediakan rahimnya untuk menampung spermamu itu" jawab mommy Kelly tidak kalah santai.


Oh God apa-apan ibu dan anak ini membicarakan proses pembuatan bayi seperti membicarakan harga cabai dipasar .


"Aku sudah punya satu calon mom, tapi sayang wanita itu belum menatap ke arahku mom" ucap Felix sambil melirik ke arahku. Jangan tanya wajah ku sudah merona seperti tomat mendengar ucapannya. Dia memang tidak mengatakan secara gamblang wanita itu adalah aku tapi aku bisa merasakannya aku lah yang dia maksud.


"Sungguh?" tanya mommy Kelly dengan wajah berbinar.


"Kau harus lebih gigih son, agar dia memandang kearahmu. Katakan siapa wanita itu apa ibumu ini mengenalnya" mommy Kelly menatap lekat pada putranya.


"Ya. Dia ada di hadapanmu mom" jawab Felix enteng dengan menunjuk kearahku.


Aku mendelik kesal kearahnya.


Momny Kelly menatap ku dan Felix bergantian lalu kemudian dia mendengus.


"Kau mengerjai ibu mu ini son" ucap mommy Kelly setengah kesal.


"Mika sudah mempunyai tunangan, dan ibumu ini tidak mengajarkanmu untuk merusak hubungan orang lain" ucap mommy Kelly serius dan terlihat raut sedih di wajahnya.


Mommy Kelly menyerahkan Rachel ketanganku lalu pergi. Felix mengejarnya dan aku mengikutinya. Aku melihat Felix memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku mom, tapi aku sungguh mencintainya tapi percayalah aku tidak berniat untuk merusak hubungannya dengan tunangannya. Dan aku tidak mungkin merebutnya dari sahabatku mom."


"Sahabat?" tanya mommy Kelly seraya berbalik agar bisa menatap wajah anaknya itu.


"Iya mom, Raymond tunangan Mika" jawab Felix pelan tapi cukup membuat Mommy Kelly terkejut sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Percayalah Mom, aku juga tidak menginginkan ini, kau tahu aku sudah lama menutup hatiku untuk yang namanya wanita, tapi tanpa kusadari Mika mampu memasukinya mom dan bahkan dia mampu mecairkan hatiku yang beku" ucap Felix sedih. Mommy Kelly menarik Felix ke dalam pelukannya.


"Semua pasti baik-baik saja" ucap mommy Kelly menenangkan Felix. Felix menganggukkan kepalanya di dalam pelukan ibunya.


"Ibu masih tidak mempercayai Mika adalah tunangan Raymond, lalu bagaimana dengan Noura?" tanya mommy Kelly seraya melepaskan pelukannya.


"Cerita nya panjang, aku yakin mommy tidak akan suka mendengar ceritanya. Jadi sebaiknya kau tidak mengetahuinya mom" ucap Felix lalu menatapku. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Mommy Ay, Rachel lapar" rengek Rachel di dalam gendonganku.


"Benarkah sayang, Mommy akan membuatkan makanan. Tapi bisakah kau tunggu disini bersama grandma" ucapku seraya menurunkan Rachel dari gendonganku dan ia segera berlari ke arah mommy Kelly.


"Baiklah mom, aku ingin waffle dengan strowberri yang banyak di atasnya" pintanya.


"Baiklah sayang, mommy akan membuatkannya" jawabku.


"Mom, aku akan memakai dapurmu untuk membuatkan makan siang untuk kita."


"Jangan sungkan, anggap seperti rumah sendiri" ucap mommy Kelly tulus. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Grandma, rumahmu sangat indah boleh kah aku melihat-lihatnya?"


"Tentu saja sayang, grandma akan menemanimu" Mommy Kelly menggenggam tangan mungil Rachel dan berjalan ke arah taman rumah ini.


"Maid di sini bisa membuatkannya untuk Rachel" Felix mengikutiku ke arah dapur begitu mommy Kelly dan Rachel pergi.


"Aku memang ingin melakukannya. Aku sangat menyukai dapur ibu sejak pertama kali datang ke sini" jawabku jujur.


"Aku tidak menyangka kau pandai memasak."


"Kau akan terkejut setelah memakan masakanku" ucapku sombong.


"Aku jadi tidak sabar" balasnya.


"Kau mau berdiri saja di sana atau mau membantuku" aku mengeluarkan bahan-bahan yangku butuh kan untuk di masak. Aku memulainya dengan membuat adonan waffle untuk Rachel. Sesekali aku menggerakkan bahuku ke wajahku untuk menyingkirkan rambutku yang cukup mengganggu karna kebetulan aku membiarkan rambut ku tergerai begitu saja sebelum datang ke sini.


"Aku akan membantumu" Felix mendekat dan berdiri tepat di belakangku.


"Seperti memegangi rambutmu misalnya." Felix menyingkirkan rambutku dari wajahku dan menggenggamnya jadi satu di salah satu tangan besarnya itu. Sementara tangan satu nya lagi melingkar di perut datar ku. Aku terpekik dan wajahku memanas, belum lagi jantungku yang berdetak kencang seperti sehabis lari maraton berkilo-kilo meter.


"Felix, kau tidak harus menggenggamnya, kau bisa mengikatnya" ucapku setenang mungkin menyembunyikan kegugupan ku.


"Benarkah? Tapi aku lebih menyukainya seperti ini. Aku bisa mencium aromamu. Kau tahu aku sangat menyukai wangimu. Lemon." ucap Felix lalu mencium tengkukku.


Seketika itu juga aku tidak bisa merasakan kakiku berpijak di pijakannya. Tubuhku bergetar hebat. Perasaan apa ini.


"Ff..Felix...aa..aku bisa mengadukanmu pada Raymond. Kk..kau jangan mesum" ancamku terbata karena gugup.


"Kau mengancamku Sugar " ucapnya tanpa menghentikan aktivitasnya. Bahkan sesekali dia bahkan menggigit leher dan bahuku.


"Ff..Felix, aku merasa gerah bisakah kau melepaskan pekukanmu."


Felix terkekeh lalu melepaskan pelukannya dan memutar tubuhku agar berhadapan dengan nya. Felix mengurungku dengan kedua tangan kekar miliknya. Aku mengalihkan tatapanku kesembarang arah asal jangan melihat wajahnya yang aku yakini sudah tersenyum jahil untuk menggodaku.


"Lanjutkanlah, aku tidak akan mengganggumu" ucapnya. Aku menoleh untuk melihat dia serius atau tidak dengan ucapannya. Cup. Dia mengecup bibirku secepat kilat lalu pergi berlari meninggalkanku.


"Feliiixxxx...." teriakku.


T.B.C