
Mikayla POV
Aku membuka mataku secara perlahan. Sakit di kepalaku masih terasa. Aku melihat sekelilingku yang di dominasi warna putih. Aroma obat-obatan juga tercium di hidungku.
"Aku dirumah sakit" lirihku.
"Aku akan bertanggung jawab, maaf kan aku."
Aku mendengar suara Felix dari luar. Aku segera turun dari ranjang dan mendekat kearah sumber suara.
"Mika adalah tunanganku, dia tanggung jawabku." Itu suara kak Raymond. Aku menghentikan langkahku.
"Aku sangat marah padamu, tapi aku juga harus berfikir rasional. Ini bukan salahmu dan Mika sepenuhnya. Anggap ini sebagai kecelakaan dan aku akan melupakannya." ucap kak Raymond berusaha berlapang dada.
"Aku mencintainya."
Aku tersentak mendengar pernyataan Felix.
Apa dia sungguh ingin dihajar sampai mati oleh kak Raymond.
Tidak ada suara, aku mengernyit dan memutuskan untuk membuka pintu sedikit dan mengintip apa yang terjadi di luar sana.
Felix dan kak Raymond saling menatap.
"Aku tahu" jawab kak Raymond datar dan tidak ada nada terkejut sama sekali.
Astaga, sejak kapan kak Ray mengetahuinya. Apa itu alasan memgapa dia memintaku untuk memikirkan kembali pernikahan kami. Dia meragukanku.
Felix mengangkat kedua alisnya mendengar jawaban kak Raymond.
"Kau mengatakannya saat kau mabuk. Aku mendengarnya dan aku melihatmu dan Mika berciuman hari itu" ucap kak Raymond.
Felix tersentak begitu juga denganku.
Betapa rendahnya aku. Apa yang harus ku lakukan aku sudah menyakitinya.
"Kau tahu Felix rasanya sangat sakit saat aku melihatmu menciumnya dan bahkan sekarang kau sudah menyentuhnya, ingin rasanya aku menghancurkanmu, tapi aku akan mencoba berlapang dada, karena selama ini aku juga sudah menyakitinya. Ini mungkin balasan yang harus ku terima walau mungkin dia tidak tahu bahwa tak sekalipun aku meniduri wanita itu" ucap kak Raymond yang sarat akan kekecewaan dan kesedihan.
Air mata ku menetes.
Jadi selama ini aku sudah salah faham. Kak Ray tidak pernah tidur dengan wanita itu. Jadi yang di katakan wanita itu juga bohong. Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan mommy, daddy aku membutuhkan kalian. Masih pantas kah aku dengannya?.
"Aku tidak pakai pengaman"
Kak Raymond tidak menunjukkan reaksi apapun selain hanya menaikkan kedua alisnya.
"Seperti yang aku katakan tadi, Mika tunanganku, dia tanggung jawabku sepenuhnya. Apa pun yang terjadi dengannya aku tetap menerimanya. Apa yang yang terjadi antara kau dan dia adalah kecelakaan. Mungkin ke dapannya antara aku, kau dan Mika akan terasa canggung, tapi Felix aku minta jangan ganggu hubungan kami, karena aku tidak akan segan-segan padamu."
Setelah mengatakan itu kak Raymond berbalik. Dia terkesiap melihatku yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Sayang, kau sudah bangun" Kak Raymond menghampiriku.
Aku tersenyum kikuk lalu menganggukkan kepalaku.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Felix yang juga sudah berdiri di hadapanku.
"Kakak aku ingin pulang" aku menatap kak Raymond dan mengabaikan pertanyaan Felix.
"Apa kau yakin sayang?" tanya kak Raymond sambil memeriksa suhu tubuhku.
"Kakak, aku tidak demam, tadi hanya pusing kepala biasa" rengekku manja. Kak Raymond terkekeh dan aku melirik Felix sekilas dan ternyata dia sedang menunduk.
"Baiklah kalau begitu kita pulang, kakak akan katakan pada Dokter nya dulu."
Aku mengangguk dan kak Raymond pun pergi meninggalkan aku dan Felix. Suasana menjadi terasa canggung. Benar yang dikatakan kak Raymond rasanya jadi canggung.
"Mika"
"Felix"
Suara kami terdengar secara bersamaan.
"Tidak, kau duluan" jawabku.
Felik mengangguk.
"Baiklah, kau baik-baik saja?" tanya Felix dengan suara yang terdengar khawatir.
Aku hanya mengangguk.
"Melihatmu terjatuh di hadapanku, rasanya duniaku seakan ikut runtuh" ucap Felix tak bernada tapi aku bisa merasakan apa yang dikatakannya jujur.
"Mika.." panggilnya seraya menatapku lembut, aku mendongak dan membalas tatapannya datar.
Percaya lah sejujurnya aku ingin berlari kedalam pelukannya, tapi aku tidak boleh egois, kak Ray sudah banyak mengalah.
"Aku yakin kau mendengar apa yang aku dan Ray bicarakan, Mika maafkan aku tapi aku berharap benih yang ku tanam di dalam rahimmu akan menjadi. Aku tahu aku egois tapi dengan begitu kau bisa jadi milikku" ucap Felix sungguh-sungguh.
"Seperti yang kak Ray katakan, itu hanya kecelakan Felix, dan aku yakin benihmu tidak akan tumbuh di dalam rahimku."
Felix terlihat sangat kecewa dan sedih mendengar apa yang baru saja aku katakan.
"Kau bersungguh-sungguh mengatakan itu hanya kecelakaan disaat kita melakukannya berulang kali, kau tahu Mika kau menyakiti harga diriku" ucapnya sinis.
"Katakan padaku, apa kau sungguh tidak merasakan apa pun terhadapku. Mika, aku bukan nya terlalu percaya diri tapi aku bisa merasakan kalau kau juga menyimpan rasa kepada ku."
"Itu hanya perasaanmu saja, aku akan mengingatkanmu jika kau lupa aku sudah mempunyai tunangan" jawabku, lalu mengalihkan tatapanku dari wajahnya.
"Aku tidak melupakannya, tapi apa yang akan kau lakukan jika memang benar benihku tumbuh menjadi janin di dalam perutmu" Felix menatapku lekat dan tangannya mengelus perutku. Nafasku tercekat mendapat sentuhan tangannya di perutku.
"Itu tidak akan mungkin terjadi!" bentakku seraya menghempaskan tangannya dari perutku. Felix terkejut. Jangan kan Felix aku juga terkejut melihat reaksi spontanku itu.
"Kita tidak akan pernah tahu. Namanya kemungkinan pasti ada" ucapnya sungguh-sungguh.
Aku menarik nafas ku berat.
"Felix dengarkan aku, apa yang terjadi antara kau dan aku adalah kecelakaan. Aku sudah berbuat kesalahan yang sangat fatal yang bahkan diriku sendiri sulit untuk memaafkannya. Tapi kau lihat sendiri kak Raymond tetap mempertahan aku dan menerima aku apa adanya. Bahkan dengan besar hati dia lebih memilih untuk melupakan apa yang telah kita lakukan..."
"Kau dan aku tahu, hal yang terjadi itu juga bukan keinginan kita. Itu diluar kendaliku ataupun kau."
Aku mengangkat sebelah tanganku untuk Felix menghentikan ucapan nya dan jangan menyela ucapanku.
"Aku sangat menyesali apa yang sudah kita perbuat. Harusnya kita tidak melakukannya lebih tepatnya kau tidak melakukannya."
"Apa sekarang kau sedang menyalahkanku?" tanya Felix dengan raut wajah terluka. Aku bungkam.
"Aku sungguh tidak percaya kau benar-benar menyalahkanku" lirih nya seraya menunduk.
"Harus nya kau mencari pertolongan yang lain bukan malah meniduriku" ucap ku sinis.
Oh Tuhan aku pasti menyakiti nya dengan ucapanku.
Felix mengangkat wajahnya dan menatapku nanar.
"Katakan pada ku Mika, apa yang harus ku lakukan disaat satu-satunya pertolongan yang ada saat itu hanya lah aku membantumu melepaskan gairahmu, walau aku tidak munafik hasratku juga tidak bisa ku kendalikan. Aku ini pria normal Mika terlebih wanita itu adalah kau, wanita yang ku sukai."
"Tapi kau tidak harus meniduriku." bentakku
"Lalu apa yang harus ku lakukan, membiarkanmu mati dihadapanku, kau tahu dosis yang diberikan Noura si brengsek itu bukan sedikit kau langsung breaksi begitu meminum air itu" Felix menjelaskan.
"Sudah, aku tidak mau membahas itu lagi. Anggap itu tidak pernah terjadi. Dan Felix ini mungkin sedikit menyakitimu tapi aku mohon jangan ganggu aku lagi. Aku tidak ingin bersikap tidak adil kepada tunanganku, kak Raymond" ucapku seraya berbalik.
"Tunggu Mika.." panggil Felix. Aku menghentikan langkahku tanpa membalikkan badanku.
"Aku tidak akan mengggangu hubunganmu dengan Raymond. Tapi Mika jika takdir berkata lain, benih itu tumbuh menjadi janin, bisakah kau bersikap adil juga kepadaku" pintanya dengan sangat memohon. Percayalah suaranya sangat menyayat hati.
"Itu tidak akan terjadi" ucapku setengah yakin setengah tidak. Lalu pergi meninggalkannya.
T.B.C
Silahkan tinggal kan komentar kalian. Author jadi bingung mau ngeship siapa. Felix yang ganteng atau Raymond yang baik...😉😄😃