
Sepeninggalan Dokter itu Felix segera kembali mendekati istrinya. Felix tidak bisa menyembunyikan senyumnya dari wajahnya. Felix sangat bahagia.Felix duduk di hadapan istrinya. Menatap lekat wajah Mika dengan wajah berbinar. Felix menarik Mika ke dalam pelukannya. Felix memeluknya dengan sangat erat.
"Aku sangat bahagia sayang, sungguh sangat bahagia" ucap Felix haru. Felix melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah istrinya itu.
"Kenapa kau tidak memberitahuku, huh..?" tanya Felix kemudian dengan wajah sumringah seperti wajah Felicia yang baru dibelikan boneka barbie kesukaannya.
Mika berdecak kesal.
"Dari tadi aku sudah berusaha untuk memberitahumu dan sekarang kau menyalahkanku" sungut Mika.
"Ouh..hormon ibu hamil. Aku harus terbiasa dengan ini. Dan kau tahu sayang, aku akan sangat menikmatinya, menikmati semua perubahanmu selama kehamilanmu ini" jerit Felix dengan suara tertahan.
"Terima kasih sayang, mungkin ini akan terdengar aneh di telingamu mengingat ini adalah kehamilan keduamu. Tapi sayang izinkan aku mengatakan sesuatu yang seharusnya ku katakan saat kau mengandung anak pertama kita. Terima kasih telah memberikan kado terindah yang tiada banding nya. Terima kasih sudah menjadikan ku bukan hanya sebagai suami buatmu tapi juga sebagai seorang Daddy untuk anak-anak kita. Tidak ada kata yang bisa ku ucapakan selain kata terima kasih sayang" Felix mengecup kepala Mika berulang kali. Sungguh ia sangat bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya itu. Felix melepaskan pelukannya lalu mencium seluruh permukaan wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Selamat atas kehamilanmu sayang. Ternyata kerja kerasku berusaha setiap malam tidak sia-sia dan ini juga buah kesabaranmu yang meladeniku dalam usahaku setiap malam sayang" ucapan Felix membuat wajah Mika merona. Sungguh kadar kemesuman suami nya ini sudah sampai pada tingkat akut. Sekali lagi Felix mengecup dalam kening Mika.
"Selamat juga buat mu sayang" jawab Mika lalu mendaratkan bibirnya di pipi Felix.
"Kau tahu sayang, kau juga pantas mendapatkan ucapan terima kasih dariku. Terima kasih sudah menjadi suami yang hebat. Aku bangga menjadi istrimu, kau membuatku menjadi wanita seutuh nya dan paling penting aku sangat mencintaimu"Mika mengelus wajah Felix. Felix memejamkan mata nya menikmati sentuhan tangan mulus istrinya itu lalu kemudian menangkap tangan Mika dan menciumnya.
Felix merebahkan kepalanya dipangkuan Mika, wajahnya menghadap perut Mika. Felix mengusap perut yang masih rata itu dan menciumnya berkali-kali
"Jagoan Daddy, Mike sayang, baik-baiklah di dalam sana. Kau boleh menyusahkan daddy tapi jangan membuat mommy kesakitan" Felix kembali mencium perut rata Mika.
"Mike?" tanya Mika bingung.
Felix kembali duduk dan menatap istrinya Mika. Felix mengangguk
"Ya, nama anak kita sayang Mike O'Neil Mc.Kenzie"
Mika melebarkan matanya, menatap Felix tidak percaya. Umur kandungannya masih tiga minggu. Bagaimana bisa suaminya yakin bayi yang di kandungnya berjenis kelamin pria. Dan sumpah demi apa pun, Mika bahkan tidak percaya suami nya sudah mempersiapkan, lebih tepat nya memberikan nama buat calon anak mereka. Mika menggeleng-gelengkan kepalanya tidak tahu harus mengatakan apa.
"Aku harus memberitahu Roland dan Raymond kabar baik ini sayang" Felix mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Roland.
"Apa kau merindukanku?" terdengar sahutan dari seberang telepon.
"Aku akan menjadi seorang daddy" jerit Felix mengabaikan ucapan Roland, saat ini ia terlalu bahagia, jadi tidak ada waktu untuk melayani gurauan Roland.
Terdengar Roland berdecak dengan kesal
"Leluconmu sungguh tidak lucu, dude. Seluruh kota New York tahu pengusaha muda Felix O'Neil McKenzi adalah seorang daddy dari dua anak yang menggemaskan, Darren dan Felicia. Sudahlah kau menggangguku saja" ucap Roland kesal.
"Maksudmu Mika sedang hamil?" tanya Roland dengan nada geli. Felix mengangguk sekalipun Roland tidak bisa melihatnya.
"Selamat bro, ternyata senjatamu masih berfungsi dengan baik" celetuk Roland santai.
"Dan Roland aku akan cuti, tolong kau dan Ray urus perusahaanku" perintah Felix
"Memangnya kau mau cuti berapa hari?"
"Satu tahun"
"What?" Pekik Roland
"Kau sudah gila. Cuti satu tahun?"
"Ya, aku harus menjadi suami siaga, Roland. Aku akan menebus semua kesalahanku dan memastikan Mika dan anakku baik-baik saja" jawab Felix santai.
"Felix, aku mengerti kau mau menebus dosamu di masa lalu tapi tidak harus seperti ini. Mika hanya sedang mengandung, kau tidak seharusnya berlebihan seperti itu seolah ia sedang sekarat" gerutu Roland.
"Tetap saja aku harus siaga di sampingnya selama 24 jam full" ucap Felix enteng lalu memutuskan sambungan secara sepihak.
"Felix, kau tidak harus mengambil cuti panjang seperti itu, perusahaan membutuhkanmu" ucap Mika.
Felix menggeleng
"Kau dan bayiku lebih membutuhkanku. Katakan sayang apa kau menginginkan sesuatu, biasanya wanita hamil mengalami yang namanya ngidam bukan?" tanya Felix antusias. Sepertinya ia sangat menikmati peran baru nya ini menjaga istri yang sedang hamil muda.
"Tidak, aku tidak menginginkan apa-apa. Aku hanya merasa mual dan pusing. Hamil kedua ini terasa berbeda dibanding waktu hamil Felicia"
"Apakah menyakitkan sayang?" Tanya Felix prihatin.
"Tidak sayang, hanya saja aku khawatir bayi kita kekurangan nutrisi jika aku terus memuntahkan isi perutku" jawab Mika.
"Baiklah, kau tunggu dulu di sini, aku akan membawakanmu makanan dan sayang sepertinya kita harus pindah. Aku ingin kita membeli mansion yang jaraknya dekat dengan rumah sakit. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu dan bayi kita"
" Felix itu berlebihan"
"Dan sayang mulai hari ini kau dilarang naik dan turun tangga, sebelum aku menemukan mansion yang bagus dan cocok untuk kita kau di larang turun dari tempatmu" ucap Felix tanpa ingin di bantah. Mika hanya bisa menghela nafas atas sikap protektif suaminya itu.
T.B.C