White Mask

White Mask
BAB 06



Setelah ken menceritakan semua kepada ayahnya.


"nak tetap hati hati di luar sana begitu keras, kita berbuat baik saja salah apa lagi jika kita berbuat salah" ucap ayah ken


"iya ayah ken akan selalu mengingatnya" jawab ken


ken pun ijin kepada sang ayah untuk masuk ke dalam rumah duluan,


ken pun masuk lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan pergi tidur karena besok ia akan bekerja di tempat sahabatnya benny.


pagi hari ken bangun lalu ia ber olahraga sedikit saat di halaman ia melihat mobil yang semalam ia ambil dari pria tua itu.


'sebaiknya aku tak meletakkannya di depan rumah takut terjadi apa apa,, dan mungkin aku akan merombak sebagiannya agar tidak di kenali sehingga jika aku menggunakannya akan lebih mudah dan tak menimbulkan masalah' pikir ken


ken pun masuk ke dalam mobil lalu ia membawa mobil itu ke tanah kosong dekat lapangan olahraga kampungnya.


setelah memarkirkan mobil, ken pun bergegas ke gudang rumah mengambil sepeda nya yang dulu ia pakai saat SMP dan SMA, ia ingin menggunakan sepedanya saja untuk berangkat kerja dan keluar.


setelah mengeluarkan sepedanya dan membersihkannya, ken pun masuk rumah menemani kedua orang tuanya makan pagi.


setelah selesai makan pagi ayah dan ken berpamit ke ibu untuk pergi kerja,


setelah pamit ken pun bergegas mengayun kan sepedanya agar mencapai tujuannya bekerja.


----- di sisi lain


Melisa yang sedang keluar menghirup udara segar dan mencuci mata melihat pemandangan yang masih asri bersama kedua bodyguard mamanya yang selalu setia menemani kemana pun ia pergi,


sebenernya melisa tak suka dengan di dampingi oleh pengawal ibunya namun bagaimana lagi dia adalah putri semata wayang dari keturunan sekte tapak matahari yang memiliki 500 lebih murid perguruan dan pewaris sekaligus penerus mendiang ayah dan ibunya yang sebagai ketua sekte.


saat melisa dan rombongan ingin berkunjung ke kota Liba, setelah melewati jembatan dan menyusuri jalan tebing ia melihat dari kejauhan seperti telah terjadi sesuatu tadi malam.


"paman coba liat di depan seperti ada bekas ban mobil yang berbelok belok dan di sana seperti ada seseorang yang sedang tidur" ucap melisa kepada salah satu bodyguardnya agar mengeceknya


"baik nona namun itu sepertinya pria paruh baya dan bukan sedang tidur nona,,, biar saya cek " ucap salah satu bodyguardnya


Pria itu pun turun dari kursi penumpang depan, dan menuju ke TKP,mobil melisa pun maju sedikit dan parkir di pinggir.


pria tadi pun terkejut melihatnya.


"wah begitu sadis ini yang memukulinya..." ucap pria itu lirih


lalu ia menghampiri mobil, kaca mobil pun terbuka ia melaporkan sesuatu yang ia lihat.


namun saat ingin berbicara mata melisa melihat motor yang pernah ia kenal walau tak jelas namun corak dan nomor kendaraan itu melisa mengenalinya.


daya ingat melisa memang bagus jika jumpa peristiwa yang berkesan.


"paman bukanya itu motor kurir yang waktu itu kirim paket malam hari?" tanya melisa dan keluar dari mobil menghampiri motor itu.


ia melihat dengan seksama.


"paman coba bangunin pria itu jika sadar tanyakan apa yang terjadi, jika tak mau berbicara paksa supaya berbicara, karena ini motor seperti di hantam dengan mobil. namun tak ada mobil di sekitar sini" ucap melisa


melisa memang di latih sejak dini untuk menganalisa agar menjadi pemimpin yang bijaksana walau perempuan,


kedua bodyguard itu pun turun dan mengecek lokasi sekitar memastikan jika aman untuk nona mereka.


"hei bangun,,, jelaskan apa yang terjadi?" tanya salah satu pria itu


yang satunya mengambil air minum lalu menyiram ke muka pria yang tak sadarkan diri itu.


pria itu pun sadar.


awalnya pria itu enggan menjelaskan namun ia akhirnya berkata benar ia menabrak pengendara motor itu yang merupakan seorang remaja dia di suruh oleh seseorang untuk membunuh pemuda itu.


melisa yang mendengar hal itu pun menanyakan sesuatu lagi namun tak ada hal yang bermanfaat ia pun menyuruh bodyguard untuk mengurus pria itu.


tanpa berpikir panjang kedua bodyguard itu pun menggendong pria itu lalu melemparnya ke jurang yang letak di sebrang jalan.


'apakah kau baik baik saja?' gumam melisa dalam hati menanyakan seseorang saat melihat kondisi dan rekam peristiwa.


'mungkin aku akan tahu jika kamu datang mengantarkan paketku lagi' gumam melisa kembali


mereka pun melanjutkan perjalanan.


------- di sisi lain


ken yang sudah berada di tempat kerja pun ia bekerja dengan semangat ia sudah tidak menghiraukan masalahnya.


benny menghampiri ken.


"bro kemana motormu? mengapa menaiki sepeda? dan bagaimana kencanmu tadi malam" tanya benny


"motorku hancur di tabrak seseorang yang tak ku kenal, dan soal kencan tadi malam, ya maaf kawan kau memang benar, namun aku saat itu masih dalam pendirianku karena alasan mengenalnya cukup lama namun itu pun ternyata tak cukup" ujar ken


"ya sudah lah bro.. semua di buat pelajaran yang bermanfaat agar tak mudah jatuh hati apa lagi rela berkorban penuh " ujar benny


mereka pun melanjutkan kerja mereka.


hari pun telah mulai gelap mereka berkemas untuk pulang, ken pun pamit pada benny dan ayahnya untuk pulang terlebih dahulu.


hari hari ken lalui seperti biasa.


di sore hari setelah ken selesai bekerja di proyek bersama benny


"ben,,, bentar lagi kita masuk kuliah, apa kamu ingin berhenti kerja dulu atau akan mengurus kuliah?"


tanya ken ke sahabatnya sambil melihat pemandangan di atas proyek


"ya entah lah boy aku bimbang ni.. kalo aku kuliah aku akan kesusahan untuk melakukan pembayaran rutin. kalo aku kerja aku takut kuliahku ke ganggu, toh aku selama kerja diani baru mengumpulkan 150 dollar, dan itu pun tak cukup bagiku jika harus kuliah aku akan merepotkan kedua orang tua ku." jelas benny pada ken


ken yang sedang memandang indahnya pemandangan di atas tower yang hampir jadi ia meneteskan air mata ia pun juga merasakan apa yang di rasakan sahabatnya.


'mencari uang tak semudah yang di bayangkan, hasil keringat dan otot yang kita paksa bekerja ekstra tak sebanding dengan berapa yang kita keluarkan' gumam ken


ia menghapus air matanya lalu memandang benny.


"semua pilihan ada pada dirimu kawan, jika aku sudah tidak bekerja aku akan mengingat tempat ini dan pertolonganmu" ucap ken


"wedus kau ken... seperti mau kemana saja, jangan bicara tidak tidak pakai acra ucapan perpisahan. lue sudah melihat kedua pencabut nyawa apa.?" ucap benny


"ih kutu kampret lue.. kaku amat seperti tiang listrik!!! yah kalau maut aku baru baru ini sudah mengalami namun mungkin belum saatnya aku untuk pergi." ucap ken


"kaku gimana terus lu pikir aku harus bilang ih romantis lu kayak tai kuda ken,," ujar benny sambil melempar kerikil ke ken


"hah apa lu tadi bilang sudah pernah dan kamu bilang belum saatnya mati? kamu seperti di film film aja ken, mang sapa yang mau nyawa mu?" ucap benny


"loh loh gimana kamu ini, ini memang seperti di film film dan ku pemeran utamanya" ucap ken acuh tak acuh


" yah film bokep lu baru bener!!!!! mang siapa yang mau nyawa lu yang tak seberapa berarti ini, walau berarti hanya mungkin terpaksa?" tanya benny


ken tertegun sejenak mendengar itu.