
Suasana begitu ramai. Ada beberapa junior yang ikut mengkritik, ada juga yang mencemooh. Paul sedang mengamati ada senyum di wajahnya. Paul pun menambah bahwa dalam suasana itu ia memprovokasi sang senior. Rita menemani Paul di sisinya. Namun, kegaduhan belum selesai. Di luar, terdengar suara gemuruh dan raungan sebuah kendaraan masuk ke dalam halaman kampus.
Petugas keamanan tidak berani memberhentikan paksa mereka karena mereka tahu mobil mahal. Jika terjadi sesuatu bergaris lecet, mereka tidak bisa membayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk ganti rugi. Namun, kedua petugas pun berjalan mengikuti arah mobil tersebut karena mereka ingin mengingatkan agar lebih pelan-pelan.
Mata semua para mahasiswa pun tertuju ke halaman depan yang tak jauh dari gedung akademi dan taman. "Gila... Keren tuh mobil sport milik siapa?" ucap salah satu gadis peserta junior. "Itu Sian FKP 37... astaga...." Rita menoleh ke mobil sport. Dia melihat warna dan plat nomernya. Ia sepertinya mengenalinya. "Sepertinya aku pernah lihat itu dan tahu siapa yang menaikinya, namun siapa ya dan di mana," ucap Rita.
Paul yang berada di depan Rita pun menatap Rita. "Apa kau pernah kencan dengan sugar daddy? Atau kau ingin mobil seperti itu? Jangan menghayal tinggi. Ada segelintir pemilik mobil sport seperti itu di kota Waja ini," ucap Paul dengan mimik wajah yang sinis.
Rita pun membelalakkan matanya. "Bukan, bukan seperti itu. Waktu itu aku melihat seseorang menaiki mobil itu dan ciri-cirinya sama, namun aku lupa siapa," ucap Rita sehingga ia bisa membela diri dan takut kekasihnya berpikir buruk padanya.
Seseorang pun keluar dari mobil tersebut dengan wajah tegas dan badan tegap kekar, mengenakan jas hitam dan celana kerja hitam. Pria itu menyapu pandangannya dan mengamati sekitarnya lalu melangkah dengan tergesa-gesa.
Kedua petugas itu hendak menghampiri, tetapi mereka melihat siapa yang keluar dan nyali mereka sedikit mengecil. Mereka kalah dalam segala aspek penampilan dan postur. Jack melirik kedua petugas keamanan yang menghampirinya. Jack berhenti menoleh ke kedua petugas, "Maaf, saya terburu-buru karena menjemput bos saya. Saya dari Golden Hill Grup," ucap Jack, lalu melanjutkan langkahnya.
Kedua petugas diam di tempat. Tidak ada yang perlu dibicarakan, namun mereka bingung dengan kata "Menjemput Bos". Selama mereka bekerja di sini, tidak ada kejadian seperti ini. Yang ada hanyalah tuan muda keluarga yang kaya, tetapi ini bos. Mereka berdua pun kembali ke pos sambil ingin tahu siapa yang dipanggil "Bos" oleh pria garang itu tadi.
Jack yang melangkah sedikit tergesa menjadi pusat perhatian karena dia keluar dari mobil sport itu. Jack menemukan bosnya dan mengernyitkan dahinya. "Haduh, apa yang terjadi? Aku harus bagaimana jika aku tetap menyembunyikan identitas bos? Aku sendiri yang akan malu jika bos berhadapan dengan semut-semut ini... Namun, jika aku tunjukkan identitas bos... ah, aku bingung," ucap Jack lirih sambil terus melangkah.
Senior itu bingung ketika ia melihat pria dewasa itu melangkah menuju lokasinya. Setelah jarak 2 meter, Jack berhenti dan sedikit membungkuk. "Bos, ayo kita berangkat," ucap Jack.
"Ya, Jack... Maaf telah memperlihatkan kepadamu hal konyol seperti ini," ucap Ken.
Semua terkejut dan membuka mulut mereka, dan ada juga yang sambil menutup mulut. Rita menyipitkan matanya menatap Ken dari lantai 2. "Bos," gumam Rita. Paul pun membelalakkan matanya. Senior yang berada di sisi kiri Ken pun membelalakkan mata dan melangkah mundur.
Jack mendengar ucapan bosnya, lalu melirik ke arah senior yang dekat dengan bosnya. "Kau cari masalah? Lebih baik belajar. Kami tidak akan mau mengotori tangan kami untuk semut kecil," ucap Jack sedikit lantang. Di gedung dosen, ada beberapa dosen yang melihat kejadian itu.
Ken pun melangkah pergi ke arah mobilnya dan diikuti Jack. Jack yang menyetir pun berhenti ke pos penjaga dan menurunkan kaca mobil. "Ini buat kalian, kerja kalian bagus. Sekali lagi, aku minta maaf," ucap Jack sambil menyerahkan uang $500.
Kedua petugas keamanan itu pun menerimanya sambil sedikit membungkuk. "Terima kasih," ucap kedua petugas itu.
Ken hanya melirik. Jack menutup kaca mobil. Ken terkikik melihat Jack. "Kau orang baik dan peduli, Jack," ucap Ken.
"Aduh, bos jangan begitu. Anda membuatku malu. Itu tadi salah saya. Bos masuk dengan mobil melaju kencang," ucap Jack sambil menggaruk kepalanya.
"Baik, Bos," jawab Jack sambil melirik bosnya. "Apa yang terjadi?" gumam Jack.
Ken kembali ke posisi duduknya. Ia memejamkan matanya, dan ia dapat melihat jarak dan lokasi peristiwa. "Sistem aktifkan tembus pandang," gumam Ken.
[Ding]
"Hebat, kemampuan ini. Aku harus mengembangkannya lagi," gumam Ken. Dia melakukan percobaan kemampuan barunya.
Ken membuka matanya. Ia tetap dapat melihat peristiwa walau membuka matanya. Sistem membantu Ken mengarahkan pandangan tembus pandangnya. "Wah, ternyata tak perlu memejamkan mata juga bisa," gumam Ken.
Ken memandu Jack mengarahkan laju mobil mereka. Ada 20 perampok dan satu ketua Sandra berada di lantai dua di aula yang dijaga oleh 8 orang dan 1 ke ketua. Jumlah Sandra ada 25 orang dan bercampur dengan petugas dan masyarakat. Sedangkan perampok ada 8 orang yang berada di lantai dasar. 4 orang menyebar di berbagai tempat.
"Jack, ini akan sedikit merepotkan," ucap Ken sambil menghela nafas. Ia mengambil topengnya yang ia ikat di sabuk celananya lalu memakainya. "Apa yang sebenarnya terjadi, Bos?" tanya Jack.
Jack menoleh ke bosnya. Ia terkejut. "Wow, topeng yang keren. Dari mana bos memperolehnya? Aku baru melihat model seperti ini," gumam Jack.
"Ada perampokan. Nanti kita berhenti di Bank ABC. Jumlah Sandra ada 25 orang dan perampok ada 20 orang. Mereka menggunakan senjata api," ucap Ken.
Jack membelalakkan matanya. Ia sangat terkejut. "Apa rencana anda, Bos?" tanya Jack.
"Yah, aku masih memikirkannya...," ucap Ken sambil menyandarkan kepalanya.
Di sebuah Bukit yang bernama Bukit Tinggi.
Di perbatasan antara Jalan Penghubung Waja Selatan dan Waja Barat, juga termasuk sebagai jalan alternatif, Nona Luis ditanya mengenai jalan pertigaan penghubung.
"Bagaimana dengan jalan pertigaan penghubung, Nona Luis? Kalau masalah bukit ini, kami sudah paham gambaran yang anda buat. Kami akan mendesainnya lalu mengirimkan beberapa contoh sebagai referensi untuk anda pilih. Saya sedikit terkejut dan sedikit bangga dapat amanah proyek dari perusahaan terbesar di Waja," ucap ketua kontraktor.
"Bos saya menginginkan jalan ini ditutup dan dibuatkan jalan yang lebih baik sebagai gantinya. Mungkin kalian akan mengerjakan jalan itu terlebih dahulu sebelum bukit ini, karena Bos tak ingin mengganggu kepentingan masyarakat," ucap Angel.