
Setelah melakukan perjalanan setengah jam dari dataran Waja ke Liba dataran yang terhubung oleh jembatan paul pun sampai pada rumahnya di komplek elit kelas dua di dataran Liba.
Dataran Waja dan liba memang berdekatan namun hubungan mereka tidak sedekat seperti pulau mereka.
banyak terjadi kesenjangan dan perbedaan ekonomi, industri, perfilman dataran waja lebih unggul.
di negara itu terdapat 5 dataran dan berbagai macam bentuk.
Dataran Waja
Dataran Ma bi
Dataran Mat rasu
Dataran L i b a
Daratan Y a j a w i
dan sesuai urutan 2 dataran yang memiliki luas wilayah yang sama yakni dataran Waja dan Ma bi.
kring... kring.... kring...
suara telepon kantor kepolisan L i b a berbunyi.
"Halo ini kantor kepolisian pusat L i b a, ada yang bisa saya bantu..." ucap pria kekar
"Aku dan anak buahku akan kesana untuk menangkap cucu dari keluarga white yang bernama Paul white. apakah pihak l i b a tidak keberatan" ucap suara komandan yang terdengar santai namun penuh penekanan
"siap, dengan senang hati kami akan membantu mengawal dan berjalan tugas penangkapan" ucap suara pria kekar yang menerima telpon dari komandan dataran waja.
"baik kami akan tiba beberapa menit" ucap komandan
"siap di mengerti" jawab pria itu
panggilan pun terputus.
" huh bagai mana caraku bicara dengan patriak white jika mengetahui ini semua?" ucap petugas tadi yang menerima telpon
---- back paul-------------
Paul memarkirkan mobilnya di bagasi lalu ia berjalan menuju rumah saat membuka pintu paul langsung menemui kedua orang tuanya.
"ayah aku pulang... " teriak paul
"bagaimana pekerjaanmu di waja.... apakah ada informasi proyek pembangunan di daerah utara kita membutuhkan sebuah pijakan di sana dan membuat keluarga besar bangga ?" tanya sang ayah kepada anaknya.
memang keluarga white sedang merangkak memulai bisnis properti walau dari keluarga kelas dua notabene mereka di dunia hiburan.
" ayah kemaren aku mencoba mengambil alih proyek mercusuar di dermaga namun... namun aku kalah tender dengan keluarga hans.." ucap paul kepada ayahnya
ayah paul pun melempar gelas kopinya ke paul
"kau tak becus sudah berkali kali di beri ilmu tentang itu semua dan di beri jalan instan agar mempermudah kita melebarkan sayap di Waja... lalu jika kita gagal terus bagaimana kita dapat mendapat muka di keluarga besar white?" ucap sang ayah dengan nada tinggi peda sang anaknya
memang selama ini paul ke waja hanya untuk berfoya foya dan tidur dengan berbagai macam gadis di sana.
" aaa.. aku akan berusaha lebih keras lagi ayah agar dapat mewujudkan itu semua" ucap paul
tak berselang lama beberapa mobil patroli dan militer terparkir di halaman rumah keluarga paul.
mereka datang memang tidak membunyikan sirene agar pelaku / mangsa kabur karena mengetahui akan di tangkap.
para petugas yang terdiri dari 12 petugas pun masuk namun mereka di hadang oleh dua pengawal kedua orang tua paul.
" mengapa kalian menghadang kami? apakah kau ingin mati, kami sedang melaksanakan tugas penangkapan jika kalian masih menghalangi jangan salahkan jika anak buahku menghabisi kalian." ucap komandan kepada kedua pengawal itu
kedua pengawal itu tidak bermaksud untuk menghadang mereka hanya melaksanakan tugas. namun mereka tidak menjawab ucapan sang komandan tapi langsung minggir memberi jalan dengan menunduk dan punggung sudah basah karena ketakutan.
mendengar suara pintu utama di dobrak dengan keras dan membuat pintu terbuka Ayah Paul dan paul yang awalnya sedang berbincang pun berdiri dengan terkejut.
"apa yang kalian lakukan di kediaman White? kalian hanya petugas biasa jangan berani berani kalian membuat keributan di sini ."ucap sombong ayah paul walau ia hanya anak kedua dari keluarga white dia tetap menggunakan nama utama keluarga besar mereka.
komandan yang di belakang pun melangkah ke depan dan anak buah sang komandan sudah mengarahkan senjata ke keluarga ayah paul.
"mau kamu dari keluarga mana pun dan apa jabatanmu jika kriminal tetap kriminal.." ucap suara tegas dari komandan
"tangkap dia" ucap komandan seraya menunjuk paul
paul pun terkejut.
dia gemetar dan jantungnya berdebar kencang sehingga membuatnya berkeringat.
kedua petugas pun lalu maju dan menghampiri paul.
"tutu.. tunggu apa yang mau kalian lakukan.. atas dasar apa kalian ingin menangkap ku?" tanya paul sebagai pembelaan diri
komandan yang bertugas pun memicingkan matanya.
"kau tak tau apa tak mau mengaku? kau mengacau di wilayahku dataran waja dengan kejahatan pembunuhan berencana. dan kau masih mau tak mengakuinya? bukti sudah kuat, orang yang kamu suruh juga berada di kepolisan beserta bukti lain." ucap komandan keras
mata paul membelalak.
ayah paul pun terkejut dengan semua penjelasan komandan itu, lalu ia menoleh melihat anaknya sedangkan ibu paul yang berada di lantai dua beserta adik paul keluar kamar karena mendengar keributan dan mereka terkejut dengan kejadian di lantai dasar.
pllaaaaakkk....
tamparan keras mengarah ke wajah paul.
ya itu tamparan dari ayah paul.
"aku menyuruhmu ke dataran waja untuk melebarkan bisnis usaha keluarga kita bukan untuk membuatmu bergaya di sana... dasar anak bodoh" maki ayah paul emosinya membludak dan nafasnya tak teratur
jika masalah ini sampai terdengar patriak mereka apa yang terjadi dengan mereka.
ibu paul hanya dapat menangis, sedang kan adik paul hanya berdiri mematung ia masih di awal bangku SMA.
paul pun di borgol dan di bawa ke kepolisian dataran waja. petugas kepolisian Liba tak mengikuti mereka hanya mengantar saja sampai perbatasan.
--------------------------
Setelah ken selesai makan ia pun ke tempat tidur merapikan bajunya dan barang barangnya.
ibu ken melihat ken sibuk pun.
"ken semua sudah di rapikan dan di tata oleh seorang wanita cantik apakah dia kekasih anak ibu?!!" ucap ibu ken
ken pun terkejut.
" kekasihku siapa bu..? aku tidak memiliki kekasih ibu jangan bercanda, ." ucap ken
"lalu gadis muda cantik nan anggun itu siapa ia menemani mu dan setia menunggu mu dari kamu masuk RS sampai kamu di pindah ke kamar perawatan" tanya ayah ken
" iya nak lalu siapa dia jika bukan kekasih mu?" tanya ibunya
ken yang sedang membenarkan ponselnya, lalu menoleh ke ayahnya dan ibunya
"apakah nona melisa yang melakukan ini semua?" tanya ken bingung
kedua orang tua ken mengangguk bersamaan.
"iya nak kau benar, mungkin itu dia karena para pengawal memanggilnya nona Conner" ucap ibu ken
ken pun terkejut.
"bukan bukan dia hanya pelanggan di kantor dimana aku bekerja.. ayah ibu.." jawab ken