
Gavin tertawa senang sambil membayangkan ekspresi Alby saat membuka video tersebut. Dia yakin, Alby pasti marah dan emosi setelah melihat video yang dia kirim tadi. Lalu Stella, dia tidak akan mau disalahkan. Gavin tahu bagaimana karakter kekasihnya itu. Hingga pada akhirnya pertengkaran akan terjadi. Gavin berharap Alby emosi dan merasa jijik melihat Stella. Setelah itu, dia akan menceraikan Stella. Padahal pada kenyataannya tidak seperti itu yang terjadi. Justru sekarang Alby sedang memikirkan cara untuk membuat Gavin gantian cemburu.
"Apa yang kau tertawakan?" Seorang wanita yang duduk di samping jok kemudi terlihat kesal melihat "Suami Stella." Gavin tertawa seperti anak kecil.
Gavin memandang Wanita yang duduk di sampingnya sambil sesekali tertawa kecil lagi.
"Cesy, apa kau tahu? Tadi aku berhasil menemui Stella. Aku bahkan bercumbu dengannya. Sepertinya dia masih mencintaiku dan juga merindukanku. Dia begitu bahagia ketika bertemu denganku di ruang ganti tadi. Aku sengaja merekam kemesraan kami dan mengirimkan videonya kepada pria brengsek itu. Aku yakin, dia pasti cemburu. Apa kau tahu? Bagaimana ekspresi wajahnya ketika melihat video itu? Dia seperti ingin melahap manusia hidup-hidup. Mungkin jika dia memiliki kemampuan, dia sudah mengejarku tadi. Tapi, kau tahu sendiri kan bagaimana dia? dia pria lemah. Bertarung denganku tidak akan menang," ucap Gavin penuh percaya diri.
"Maksudmu suami Stella ... Alby?" tanya wanita itu ragu.
"Ya. Siapa lagi orang yang disebut dengan pria brengsek selain pria bernama Alby itu? dia sudah merebut Stella dariku. Stella hanya milikku. Tidak ada yang bisa memilikinya selain aku."
"Tapi dia adalah suami Stella," jawab wanita bernama Cesy itu.
"Aku tidak peduli dengan status pernikahan mereka. Yang aku tahu, hati Stella masih menjadi milikku. Hanya ada namaku di dalam hati dan pikirannya."
"Tapi kau tidak memiliki hak apapun atas dirinya!" ketus Cesy kesal. "Kau bahkan masih menjadi buronan polisi saat ini. Bagaimana mungkin kau memikirkan wanita yang sama sekali tidak menghargai perasaanmu?" Cesy mulai emosi.
"Cesy, kau ini adikku! Adik kandungku. Tugasmu membantu dan mendukung segala sesuatu yang aku rencanakan. Dengan sikapmu yang seperti ini, aku menjadi ragu. Apakah kau benar-benar mendukung ku?"
"Stop, Cesy!" teriak Gavin hingga memenuhi isi mobil.
"Kenapa kau harus marah? Aku ini seorang wanita. Tentu aku tahu apa yang dipikirkan seorang wanita seperti Stella. Wanita yang sudah tidak memiliki harga diri, dia tidak akan pernah peduli dengan yang namanya cinta sejati."
"Apa kau bisa diam?" Gavin memberhentikan laju mobilnya. Rahangnya mengeras. Pria itu benar-benar marah mendengar perkataan adiknya.
"Kau mau mengusirku karena aku menghina wanitamu? Bahkan sekarang kau sudah berubah menjadi pria bodoh yang tidak tahu diri. Kau rela mengusir saudara kandungmu demi membela seorang wanita yang sama sekali tidak memikirkanmu. Jika dia memang mencintaimu dia tidak akan menikah dengan pria itu. Apapun alasannya. Aku hanya tidak suka kau mengejar wanita itu. Kau seorang pria. Setidaknya kau harus punya harga diri. Jika kau terus-terusan bersikap seperti ini wanita itu akan semakin besar kepala.
"Ini Bukan soal perjuangan. Tapi ini sebuah permainan. Cesy, Aku dan pria itu sedang bersaing. Bukan hanya bersaingntuk memiliki Stella seutuhnya. Tetapi kami bersaing untuk menentukan siapa yang paling kuat dan pantas menjadi pemimpin di negara ini."
Cesy mengeryitkan dahinya. "Kau tidak perlu berpikir keras untuk mengalahkan pria seperti Alby. Dia hanya seorang pengusaha. Untuk mengalahkannya kita hanya membutuhkan seorang pembunuh bayaran," jawab Cesy dengan mudahnya.
"Cesy sayang, tidak semudah itu. Alby memang seorang pengusaha. Tetapi, seseorang berdiri di belakangnya dan menjadi pelindung baginya. Informasi yang aku dapat, beberapa pengusaha yang ingin menjatuhkannya bahkan ingin membunuhnya kabarnya hilang tanpa jejak. Aku yakin, orang yang berdiri di belakangnya adalah orang yang hebat."
Cesy memijat dahinya. "Terserah kau saja. Jika kau berjuang untuk menjadi pemilik wilayah kekuasaan di negara ini, aku dukung. Tetapi, jika kau berjuang untuk Stella, aku hanya bisa tertawa."
Gavin memandang ke depan. "Soal Stella aku tidak perlu berjuang lagi karena aku yakin wanita itu sudah cinta mati padaku," gumam Gavin di dalam hati.