
Perdebatan itu terhenti ketika dokter dan dua suster masuk ke dalam kamar tempat Alby di rawat. Stella kembali duduk di sofa. Sedangkan Ny. Zakari dan juga Cesy tetap berdiri di dekat tempat tidur Alby. Apapun yang terjadi, Nyonya Zakari akan membuat Cesy tetap bertahan di ruangan itu untuk menjaga putranya.
"Ada apa ini? Ini sudah malam. Suara orang-orang yang ada di ruangan ini terdengar sampai keluar. Ini bisa mengganggu pasien lain," protes dokter itu. Sedangkan dua suster wanita yang ikut bersamanya memeriksa selang infus Alby.
"Dok saya ingin dua wanita ini pergi dari sini," sahut Alby sambil menunjuk ke arah Ny. Zakari dan juga Cesy. Jelas saja hal itu membuat seorang Ny. Zakari marah. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu oleh putranya sendiri.
"Dua wanita kau bilang? Alby, aku ini Ibu kandungmu. Aku yang sudah melahirkanmu. Kenapa kau tega mengucapkan kalimat menyakitkan seperti itu di hadapanku?" lirihnya dengan wajah memelas.
"Maafkan Alby, Ma. Tapi mama sendiri yang mulai. Alby tidak akan seperti ini jika mama tidak memiliki rencana untuk mengusir Stella dari ruangan ini." Lagi-lagi Alby membela Stella. Perasaan Ny. Zakari semakin tidak karuan. Berbeda dengan Cesy. Wanita itu justru menjadi kagum dengan Stella. Dia ingin tahu sebenarnya apa yang sudah dilakukan Stella hingga Alby mau membelanya hingga seperti itu. Kalau di lihat secara kasar, Stella itu wanita yang sangat buruk. Sudah tidak perawan lagi dan memiliki kekasih yang sampai sekarang masih menjalin hubungan. Pria mana yang mau menerima Stella jika keadaannya seperti itu? Berbeda dengan Alby. Alby justru terlihat sangat tulus mencintai Stella. Ini membuat rasa cemburu di dalam hati Cesy. Entah kenapa tiba-tiba hatinya tergelitik untuk bersaing dengan Stella memperebutkan cinta tulus seorang Alby Zakary.
"Tante, tante jangan memarahi Alby seperti ini. Apa yang dikatakan Alby benar. Stella itu istrinya. Tidak sepantasnya kita mengusir Stella dari ruangan ini. Justru hanya Stella yang berhak menjaga Alby," ucap Cesy. Dia sengaja mengatakan kalimat semanis itu untuk mendapatkan perhatian dari Alby.
"Cesy, kenapa kau tidak membela Tante?" bisik Ny. Zakari.
"Tante, Alby tidak bisa dikasari. Untuk mengalahkan wanita itu, kita tidak bisa menggunakan cara kasar seperti tadi. Kita jangan sampai membuat Alby marah. Karena semakin kita membuat Alby marah, maka dia akan semakin di belain oleh Alby. Kita harus membayar Alby membenci wanita itu dengan sendirinya," sahut Stella dengan nada yang berbisik juga.
Ny. Zakari mengangguk. Kali ini dia setuju dengan pendapat Cesy. "Baiklah. Mama tidak akan memaksamu untuk mengusir Stella. Terserah kau saja. Jika kau tetap ingin wanita itu di sini, terserah! Mama dan Cesy pamit!" ketus Ny. Zakari. Wanita itu segera menggandeng Cesy dan membawanya pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dengan tangan terlipat di depan dada, Stella tersenyum melihat kepergian Ny. Zakari dan juga Cesy.
"Apa mereka pikir aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan? Mereka tidak akan mungkin menyerah begitu saja. Pasti mereka sedang merencanakan sesuatu untuk membuatku pergi dengan sendirinya. Dasar calon pelakor dan mertua durhaka. Mereka pikir kau sebodoh itu apa?" umpat Stella di dalam hati.