
Cesy melangkah cepat menuju ke tempat Gavin berada saat ini. Pertarungan di sana belum berakhir. Ada banyak sekali peluru yang mencari mangsa. Tetapi Cesy tidak peduli. Dia tetap melangkah masuk ke dalam dan berniat untuk menolong Alby dan juga Stella. Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahan kakak kandungnya. Rasanya dia sangat malu memiliki kakak seperti Gavin. Cesy juga sangat kecewa dan sakit hati ketika tahu kalau kakak kandungnya sendiri yang sudah menghamili Marta.
"Nona, kenapa Anda bisa ada di sini. Bukankah tugas anda di atas sana?" tanya salah satu pasukan The Wolf yang kebetulan berpapasan dengan Cesy.
"Diam kau!" ketus Cesy. Wanita itu tetap menerobos masuk ke dalam tanpa mempedulikan pria yang tadi sempat menghadangnya.
Gavin yang saat itu melihat kemunculan Cesy terlihat emosi. Cesy tidak seharusnya di sini karena tugas wanita itu adalah melindunginya. Kini dia sudah terluka parah. Jika Cesy sampai mendekatinya, maka semua rahasia yang selama ini dia simpan bisa ketahuan. Termasuk Alby dan Stella. Mereka akan tahu kalau sebenarnya Cesy adalah adik kandungnya.
"Cesy, kenapa dia masuk ke sini. Bukankah aku sudah bilang, jika terjadi penyerangan dia harus ada di gedung itu untuk melindungiku?" gumam Gavin di dalam hati.
Alby memandang ke arah Cesy juga. Pria itu kaget melihat wanita yang selalu ia pandang sebagai sahabat kini muncul dengan senjata api di tangannya. Bukan hanya senjata saja yang menarik perhatian Alby. Tetapi penampilan wanita itu. Dia terlihat seperti wanita tangguh. Berbeda jauh dengan sikapnya yang biasa terlihat manja.
"Cesy, untuk apa dia ada di sini? Kenapa penampilannya seperti ini?" gumam Alby.
"Kita harus segera ke rumah sakit. Perutku sudah tidak tahan lagi," lirih Stella.
Alby mengangguk. Dia segera mengangkat tubuh istrinya. Ketika ada pasukan Gavin yang ingin menghalanginya, Cesy justru menembak pria itu hingga tewas.
"Tuan, mari saya bantu," tawar Lea.
"Bantu Cesy saja. Aku bisa menjaga istriku," ucap Alby. Dia tidak mau wanita yang sudah menolongnya berada dalam bahaya. Lea diam sejenak memandang Cesy. Sebenarnya tadi wanita itu sempat mendengar anak buah Gavin memanggil Cesy dengan sebutan Nona. Tetapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah itu. Yang penting sekarang Cesy ada di pihaknya.
"Baik, Tuan. Jaga Nona Stella jangan sampai terjatuh," ucap Lea sebelum melangkah mendekati Cesy.
Alby segera membawa Stella keluar rumah. Dia sempat sedih melihat polisi yang ikut bersamanya telah tewas semua. Sekarang yang tersisa hanya beberapa pasukan milik Gavin dan beberapa pasukan milik Lea.
"Kalau saja kondisi Stella tidak seperti ini, aku pasti sudah membunuh pria itu. Aku juga tidak mau membebaskannya begitu saja karena dia sudah menghamili Marta. Tetapi untuk saat ini aku hanya ingin fokus pada kesehatan anak yang ada di dalam rahim istriku," gumam Gavin di dalam hati. Dia mempercepat langkah kakinya agar segera masuk ke dalam mobil.
Lea berdiri di samping Cesy ingin menembak musuh yang tersisa. Satu hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba saja Cesy memiringkan tubuhnya dan mengarahkan senjata apinya ke wajah Lea. Jelas saja hal itu membuat Lea tidak berkosentrasi lagi. Wanita itu mengeryitkan dahinya dengan wajah bingung.
"Nona, bukankah kita ada di pihak yang sama?"