
"Apa kau pikir akan semudah itu?"
Belum sempat Cesy menarik pelatuk senjatanya tiba-tiba seorang pria sudah melekatkan senjata api di pelipis kirinya. Hal itu membuat Cesy panik. Sekarang dia tidak lagi memikirkan keselamatan kakaknya. Dia harus memikirkan nyawanya sendiri yang kini ada di ujung tanduk.
"Siapa kau. Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin kau tidak ikut campur dengan urusan Bos Alby."
"Bos Alby kau bilang?" Cesy segera berdiri. Wanita itu bahkan mengabaikan senjata api yang kini melekat di pelipisnya. Dia ingin memandang pria yang sudah berani mengancam nyawanya.
Pria itu menurunkan senjatanya dan memandang wajah Cesy dengan seksama. Dilihat dari sikapnya pria itu sepertinya tidak tertarik untuk membunuh Cesy kali ini. Ia hanya ingin membuat Cesy membatalkan niatnya untuk menembak Alby dan juga Stella.
Cesy memperhatikan tato yang ada di lengan pria yang ada di hadapannya. Dia tahu tato itu milik siapa. "Tiger White?" celetuk Cesy pelan.
"Sebaiknya jangan pernah mengusir kami. Karena kami tahu cara membunuh tanpa menyentuh. Sudah banyak korbannya. Kami harap kau tidak salah satu target yang ingin kami jadikan korban."
"Kami tidak pernah memiliki masalah dengan kalian. Kenapa kalian menggagalkan rencana kami. Ini namanya kalian ysendiri yang mengibarkan bendera perang dengan kami," sahut Cesy tidak mau disalahkan.
"White tiger tidak pernah takut dengan The Wolf. Geng mafia yang kalian miliki adalah geng mafia pecundang. Pimpinannya adalah seorang pria yang bodoh. Tidak memiliki prinsip dan tujuan untuk maju."
"Aku memang sekarang diam. Tapi aku tidak akan memaafkanmu karena sudah menghina kakakku. The Wolf berdiri sampai sekarang berkat jasa kakakku. Dia pria yang hebat. Kemampuannya tidak pernah bisa diragukan. Seharusnya kalian sadar diri. Bukankah sampai sekarang kalian juga tidak memiliki pemimpin. Kalian berjalan dengan sesuka hati kalian."
"Anda salah, Nona. Seharusnya anda berpikir. Kami berdiri di sini untuk melindungi siapa."
"Kami tidak perlu dibayar untuk melindungi Bos Alby. Kami akan melindunginya dengan nyawa yang kami miliki."
"Bos Alby? Panggilan yang sangat keren. Sayang sekali jika pria yang dipanggil Bos itu tidak memiliki kemampuan apapun untuk membela diri. Dia bahkan tidak bisa menggunakan senjata api. Bagaimana mungkin dia bisa memainkan sebuah belati."
Tanpa mau banyak bicara lagi pria itu segera mendekati Cesy ingin menangkapnya. Namun Cesy segera menghindar dan memukul pria itu dengan kasar. Tanpa diduga pertarungan pun terjadi. Di atas sebuah gedung mereka saling memukul satu sama lain.
"Menyerah lah Nona kami tidak ingin menyakiti anda," ucap pria itu berharap Cesy mau menyerah.
"Tidak akan. Aku tidak akan pernah mau menyerah. Kau yang harus mati di tanganku."
Pria itu seperti menahan emosi. Jika saja dia diperbolehkan untuk membunuh Cesy mungkin sejak tadi wanita itu sudah mati. Namun dia harus sabar menghadapi wanita bawel yang ada di hadapannya. Sesekali dia lebih memilih untuk mengalah dipukul oleh Cesy.
"Hanya segini saja kemampuanmu?" ledek Cesy dengan taqa di bibir.
"Nona, bukankah Anda sangat kenal dengan Nona Marta. Saya ingin memberitahu informasi penting yang pasti membuat anda kaget. Setelah mendengarnya Anda pasti berpikir dua kali untuk melawan saya."
"Anda ingin membuat sebuah gertakan?" Cesy tetap waspada.
"Tidak, Nona. Sebelum anda melukai Bos Alby dan Nona Stella sebaiknya Anda harus mendengar berita ini terlebih dahulu. Apakah anda tahu kalau sebenarnya Gavin yang sudah menghamili Nona Marta? Jika anda tidak percaya, Anda bisa bertanya kepadanya langsung."