Want My Wife

Want My Wife
Bab. 31



Setelah sarapan, Stella jalan ke pintu. Sebenarnya dia penasaran, siapa yang datang. Seharusnya jam segini tidak ada petugas kebersihan yang datang. Stella membuka pintu itu tanpa mengintip lebih dulu. Wajahnya terlihat kaget ketika melihat adik iparnya berdiri di sana dengan tangan terlipat di dada.


"Selamat pagi, kakak ipar!" ketus Marta dengan tatapan tidak suka. Beberapa waktu ini Marta tidak terlihat karena sibuk jalan-jalan ke luar negeri. Bahkan dia sengaja pulang cepat karena Ny. Zachary memintanya untuk membujuk Alby agar mau pulang ke rumah.


"Anda tidak mengizinkan saya masuk?" tanya Marta lagi ketika Stella hanya diam saja di sana.


"Masuklah," jawab Stella malas. Dia tahu kalau kedatangan Marta hanya untuk mencari masalah.


Marta segera melangkah masuk. Wanita itu memperhatikan setiap sudut ruangan yang terlihat mewah dan modern. Hatinya iri. Seumur-umur dia merayu Kakak kandungnya agar dibelikan apartemen tetapi tidak juga dibelikan. Sedangkan Stella yang baru sebulan dinikahi, sudah mendapatkan fasilitas mewah seperti itu.


"Pasti di sini nyaman ya? Tidak perlu bertemu mertua setiap hari. Anda adalah nyonya di tempat ini." Marta menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Jika kau ke sini hanya untuk membuat keributan, sebaiknya pergilah. Aku ingin istirahat! Aku sama sekali tidak memiliki waktu untuk mendengarkan omong kosong mu!" ketus Stella dengan tangan terlipat.


"Sombong sekali anda! Apa anda pikir anda itu bisa memisahkan Kak Alby dan mama?" Marta beranjak dengan wajah galak. "Tidak! Selama saya masih hidup. Kak Alby akan selalu patuh sama mama!"


"Hei, anak kecil. Pikirkan saja masa depanmu sendiri. Jangan memikirkan orang lain. Satu hal yang harus kau ingat, aku tidak pernah memisahkan mereka. Alby sendiri yang tidak tahan tinggal di sana."


"Jika kau sopan, aku segan. Jika kau kurang ajar, jangan salahkan aku berbuat yang lebih kasar!" ketus Stella. Wanita itu memandang ke arah pintu. "Kau pasti tahu dimana pintu keluarnya. Pergi atau aku panggilkan security. Satu lagi, aku sama sekali tidak takut jika kau melaporkan semua kejadian ini sama ibu mertua ataupun Alby. Aku memiliki prinsip! Aku tidak mau di tindas oleh siapapun. Lebih baik mulai dari sekarang jaga dirimu dengan baik. Jangan suka Gonta ganti pria. Nanti kalau kau sampai hamil, kau tidak akan sanggup menjalaninya!"


Marta benar-benar kalah. Dia bahkan tidak tahu harus bicara apa lagi sekarang. Dengan wajah menahan emosi, wanita itu pergi meninggalkan apartemen. Dia bahkan tidak berpamitan sama Stella. Bertahan di sana juga tidak menjamin kalau Alby akan ada di pihaknya. Kakak kandungnya itu sudah tergila-gila sama Stella dan sudah pasti akan percaya dengan semua perkataan Stella.


"Awas saja kau. Aku pasti akan membalas perlakuan mu hari ini," umpat Marta di dalam hati.


Dia turun ke lantai bawah dengan wajah menahan emosi. Menuju ke parkiran tempat mobilnya berada. Karena tidak fokus, akhirnya wanita itu menabrak seorang pria. Dia hampir saja terjatuh kalau saja pria itu tidak menahan pinggangnya.


"Nona, maafkan saya."


Marta awalnya mau marah. Namun, emosinya mereda melihat pria tampan yang kini menahan tubuhnya.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" Pria itu tersenyum penuh arti. Pria itu adalah Gavin. Kini sebuah rencana licik sudah tersusun rapi di dalam pikiran agar dia bisa menghancurkan seorang Alby Zachary.