
Stella duduk di depan jendela sambil memikirkan kunjungan mertuanya dan Marta tadi. Setelah mereka berdua pulang, Stella terlihat tidak lagi bersemangat. Wanita itu merasa kasihan melihat mertuanya yang terus saja memohon kepada Alby agar segera pulang. Tetapi sebenarnya Stella sendiri juga belum siap untuk tinggal di rumah yang sama dengan mertuanya.
"Apa yang kau pikirkan sayang?" Alby memeluk Stella dari belakang. Mengecup leher wanita itu sebelum meletakkan dagunya di pundak Stella yang terbuka. "Apa kau memikirkan mama dan Marta?"
Stella tersenyum. Dia mengangkat tangannya lalu mengusap wajah Alby dengan lembut. "Apa tidak sebaiknya kita pulang saja. Mama pasti butuh teman untuk menghadapi kehamilan Marta. Marta juga membutuhkanmu sebagai kakaknya."
"Gak, sayang. Aku tidak mau ada masalah lagi. Aku tidak mau kau merasa tidak nyaman." Alby menarik tangan Stella agar wanita itu memandangnya. "Lupakan soal mama. Kita makan di luar ya. Sekalian jalan-jalan. Sebentar lagi bajumu tidak akan muat lagi. Dari sekarang kau harus mempersiapkan baju baru untuk dikenakan ketika perutmu besar nanti."
Stella mengangguk dengan wajah yang ceria. Mendengar sang suami ingin mengajaknya jalan-jalan, membuat Stella semakin bersemangat. "Kebetulan. Aku ingin makan Spaghetti," jawab Stella.
"Aku tahu dimana Spaghetti yang enak," jawab Alby. Pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku. Dia memandang Stella yang masih berdiri di hadapannya. "Bersiaplah. Kita akan berangkat sebentar lagi."
"Baiklah." Stella segera berlari ke kamar. Sedangkan Alby mengangkat panggilan masuk di teleponnya.
"Halo, siapa ini?"
"Kak Alby tolong kak. Aku dan mama di culik!"
Alby mengeryitkan dahinya. "Marta. Kau ada di mana?"
"Bagaimana rasanya ketika keluarga yang kau cintai ada di genggaman musuhmu? Aku bisa membunuh mereka kapan saja. Sepertinya kau juga tidak akan keberatan kan? Aku akan kirimkan jasad mereka ke rumahmu besok pagi!"
"Gavin, jika kau berani menyentuh mereka aku akan patahkan tanganmu!" ancam Alby. Dia sangat menyesal karena sudah mengabaikan Gavin sejak kemarin. Jika saja dia berhasil menangkap Gavin kemarin, pria itu tidak akan mungkin berhasil menangkap ibu dan adik kandungnya seperti ini.
"Aku tidak akan pernah membawa Stella bertemu denganmu. Aku bisa mengetahui tempat persembunyianmu dengan mudah."
"Benarkah? Buktikan dan jangan banyak bicara saja. Ingat Alby, waktu yang kau miliki tidak banyak. Jadi jangan pernah sia-siakan waktu yang kau punya!"
Panggilan telepon itu segera terputus. Alby menggenggam ponselnya dengan sangat keras. Baru saja ingin menyenangkan hati Stella, sekarang sudah ada halangannya lagi. Pria itu memandang Stella yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah menyesal.
"Gavin telah menangkap mama dan juga Marta. Dia memintaku untuk membawamu menemuinya. Tapi itu mustahil. Aku tidak akan membiarkanmu ada di dalam dekapan Gavin lagi. Aku tidak mau kau pergi dariku."
Mendengar perkataan Alby membuat Stella terdiam. Rasa senang karena ingin jalan-jalan hilang begitu saja. Wanita itu duduk di sofa yang ada di dekatnya. Sekarang dia sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Aku sudah bilang kalau dia pria yang nekat. Dia akan melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang dia inginkan."
"Tapi kau tenang saja. Aku pasti berhasil membawa mama dan Marta pulang dengan selamat, Stella. Aku akan meminta penjagaan di apartemen ini lebih diperketat lagi selama aku pergi. Maafkan aku karena kita harus batal makan di luar."
Stella menggeleng kepalanya lalu beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Alby berada. "Kemarin-kemarin aku merasa gelisah setiap kali kau pergi untuk bertemu dengan Gavin. Tapi kali ini aku bisa merasa sedikit lebih tenang sejak aku tahu kalau kau adalah ketua mafia. Aku yakin Kau pasti menang menghadapi Gavin. Sekarang kau adalah jagoanku Alby."
Alby tersenyum mendengar kata-kata semangat yang dikatakan Stella. "Ingat, jangan pergi kemanapun. Jangan buka pintu selama aku pergi."
Stella mengganggu lalu memeluk Alby. "Hati-hati. Segera kabari aku jika kau sudah tidak sibuk lagi."
"Baiklah. Jaga anak kita dengan baik selama aku pergi."