
Gavin mengukir senyuman tipis di bibirnya. Tanpa permisi, pria itu mengecup leher jenjang Stella dengan mata terpejam. Stella terlihat gugup. Biasanya tanpa perlu bicara, dia akan segera membalas pelukan dan kecupan itu. Tapi, sekarang justru debaran jantungnya menjadi tidak karuan. Berulang kali dia memandang ke pintu untuk memastikan Alby tidak menerobos masuk ke dalam.
"Kenapa Honey? Kenapa kau diam saja?" Gavin tidak suka jika kekasihnya itu diam seperti patung. Pria itu menarik tubuh Stella sebelum mendorongnya hingga merapat ke dinding. "Kau tidak merindukanku? Eh?" Gavin menaikkan satu alisnya. Dengan nakalnya pria itu menyentuh wajah Stella. Jemarinya turun hingga ke leher dan mendarat di dada yang begitu menggemaskan. Ketika Gavin ingin mengecup bukit kembar itu, tiba-tiba Stella bergeser ke samping.
"Alby di depan," ujar Stella cepat. Dia memandang ke cermin dan segera merapikan penampilannya.
Gavin menggerakkan giginya. Mendengar kabar kalau kekasihnya itu menikah dengan Alby saja sudah membuatnya muak. Di tambah lagi sekarang Stella tidak bebas lagi ia sentuh seperti biasanya.
"Kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Aku masih mencintaimu." Stella berputar dan memandang Gavin. "Tapi tidak di sini. Aku tidak mau ribut."
"Kita biasa bercinta dimana saja, Honey."
Deg.
Stella kehabisan kata-kata. Memang hubungannya dan Gavin sudah sejauh itu. Sejak seorang pria brengsek merenggut kesuciannya, Stella tidak lagi memiliki keinginan untuk menutup diri. Dia justru menikmati **** sebelum pernikahan bersama sang pacar yang tidak lain adalah Gavin.
"Gavin, tidak di sini!" ujar Stella lagi.
"Kau membuatku marah!" Gavin menarik paksa Stella dan segera mengunci bibir wanita itu. Dia mencecapi setiap detail bibir Stella dengan penuh kerinduan. Memiliki sepenuhnya bibir Stella. Kedua matanya terpejam untuk menikmati. Satu tangannya mengunci pinggang Stella agar tidak kabur lagi. Tangannya yang satu lagi, mulai menuruni baju yang kini dikenakan oleh Stella.
Stella sempat terhanyut oleh permainan Gavin. Wanita itu memang tidak pernah bisa menolak godaan kekasihnya. Justru Stella ingin lebih. Ya, wanita itu tidak ingat kalau dia sudah menikah. Dia tidak ingat kalau suaminya ada di depan sana sedang menunggunya.
"Hmmp." Sebuah ******* lolos dari bibir Stella ketika tangan Gavin yang nakal berhasil bermain di dada wanita itu.
"Kau tidak bisa menolakku, Honey," bisik Gavin. Pria itu sudah tidak sabar memiliki kekasihnya. Dia sangat merindukannya. Sangat-sangat. Rasanya dia seperti mati selama berjauhan dari Stella. Jika memang bisa, ingin sekali Gavin membawa kabur Stella dan menjadikan wanita itu satu-satunya miliknya.
Tok tok
Suara ketukan membuat Stella segera mendorong tubuh Gavin hingga pria itu terbentur di pintu.
"Siapa?" tanya Stella dengan napas tersengal.
"Nona, apa anda baik-baik saja?"
Stella bisa kembali bernapas lega ketika orang yang berdiri di depan sana hanya karyawan toko. Tidak tahu apa jadinya jika orang yang mengetuk pintu itu adalah Alby.
"Baik, Nona."
Terdengar langkah kaki karyawan itu menjauh. Stella memandang Gavin lagi sebelum mengutip pakaian dalam yang tadi mau dia coba. "Aku harus pergi."
"Tidak! Kita belum selesai!" tolak Gavin.
"Gavin, kau gila!" Stella segera membuka pintu sambil memeluk pakaian dalam yang akan ia beli. Meninggalkan Gavin begitu saja di kamar mandi.
Gavin yang emosi mengepal kuat tangannya. Karena tidak mampu meredam emosinya, dia akhirnya memukul cermin yang ada di hadapannya hingga membuat tangannya berdarah.
"Kalau aku sudah berhasil membersihkan nama baikku! Aku akan merebut Stella darimu Alby!" umpat Gavin penuh emosi.
Stella masih belum bisa mengatur napasnya. Dia menyerahkan pakaian dalam yang ia bawa kepada karyawan toko. "Hitung semua," perintahnya.
"Semua barang ini sudah di bayar Tuan, Nona."
Stella mengangguk saja. Dia merapikan lagi penampilannya sebelum melangkah ke tempat Alby menunggu. Alby yang tadi sedang sibuk bersama ponselnya kini sudah memasukkan ponselnya ke saku. Pria itu mengernyitkan dahi melihat Stella berkeringat. Padahal ruangan itu sangat dingin.
"Stella, kau baik-baik saja?"
Stella mengangguk tanpa menjawab dengan nada ketus seperti biasanya. Dia memandang ke luar toko. Di sana dia melihat Gavin lewat dengan Hoodie hitam dan masker. Tatapan mereka saling bertemu. Stella memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak mau sampai Alby juga melihat Gavin.
"Aku mau pulang."
Alby melangkah maju mendekati Stella. Tiba-tiba saja pria itu menyingkirkan rambut Stella hingga menemukan jejak kepemilikan di sana. Tangannya terkepal kuat dan rahangnya mengeras. Namun, sebisa mungkin dia tidak memperlihatkan emosinya di depan Stella.
"Baiklah. Sekarang kita pulang. Tapi, kita berhenti di butik sebentar untuk membeli baju ya. Setelah itu kita makan malam."
Stella seperti orang bodoh setelah bertemu Gavin. Wanita itu mengangguk setuju karena merasa bersalah. Dia melangkah lebih dulu ke depan. Alby menerima barang belanja Stella dan mengikuti Stella dari belakang.
Tiba-tiba ponsel Alby bergetar. Pria itu mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk. Alby harus melihat sebuah video singkat yang berisi apa yang baru saja dilakukan Gavin dan Stella di ruang ganti. Pria itu memejamkan matanya sambil mengatur napasnya yang sesak.
"Awas saja kau!"