Want My Wife

Want My Wife
Bab. 19



Gavin yang memang sudah di sulut api emosi, tidak bisa berpikir jernih lagi. Melihat Alby menghalangi langkahnya untuk membawa Stella, membuatnya ingin segera menghabisi nyawa Alby. Namun, Stella tidak tinggal diam. Wanita itu justru menghempaskan tangan Gavin dan berdiri di depan Alby. Dia memandang Gavin dengan wajah menantang.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berdiri di depannya? Kau tidak mau aku menyakitinya karena kau sudah jatuh cinta padanya?" tuduh Gavin.


"Apa tidak cukup kau melukainya tadi siang? Malam ini kau ingin menyiksanya lagi? Aku memang tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Tetapi, aku memiliki rasa prikemanusiaan. Apa memang seperti ini sifat aslimu Gavin? Apa seperti ini kelakuan seorang bos mafia? Berbuat seenaknya karena dia merasa paling kuat dan tak terkalahkan? Apa kau tidak lelah di kejar-kejar polisi? Apa sekarang kau sudah bosan hidup?"


Gavin tersenyum simpul mendengar perkataan Stella. "Kau membelaku atau membelanya? Stella, aku hanya ingin membawamu pergi. Apa itu salah? Honey, stop bicara omong kosong. Ayo kita harus segera pergi."


Gavin melangkah maju untuk memegang tangan Stella. Tetapi, satu hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba ada lagi tembakan dari sniper hingga membuat Gavin menjauhkan tubuhnya agar tidak terkena tembakan.


Stella yang juga syok melihat peluru meluncur di depan matanya. Alby segera menarik Stella dan memeluknya. Pria itu juga tidak mau sampai istrinya celaka.


"Aku tidak peduli dengan sosok yang selalu melindungimu. Jika dia memang benar-benar kuat, suruh dia menemuiku. Aku akan mengalahkannya!" tantang Gavin.


Gavin mengepal kuat tangannya. Malam ini dia tidak bisa bertindak gegabah. Sedikit saja salah ambil keputusan, dia bisa mati konyol di buat sniper yang tidak tahu dimana keberadaannya itu. Pria itu memandang Stella lagi dan berharap bujukannya kali ini berhasil membawa Stella pergi.


"Honey, ayo. Kita harus segera pergi sebelum polisi datang."


Stella menggeleng pelan. "Selesaikan dulu urusanmu dengan polisi-polisi itu sebelum kau memutuskan untuk membawaku pergi, Gavin. Aku tidak mau terlibat dalam masalah yang kau buat. Aku sudah lelah menjalani hidup ini. Tolong jangan paksa aku."


Alby tersenyum puas mendengar jawaban Stella. Walau dia tahu Stella belum mencintainya, tetapi harapan agar wanita itu bertahan di sisinya sangat besar.


"Oke, fine. Aku akan membuat polisi-polisi itu kalah. Kau nanti akan tahu sendiri, kalau aku tidak bersalah. Aku pasti bisa membuktikan semua itu. Setelah aku berhasil membersihkan namaku, aku akan datang lagi untuk menjemputmu. Siap tidak siap, aku akan membawamu pergi!" Gavin segera memutar tubuhnya dan pergi. Stella dan Alby masih berdiri di sana menyaksikan kepergian Gavin.


Alby memandang ke jendela dan tersenyum kecil. Pria itu merasa sangat puas dengan hasil kerja bawahannya. Walau sudah larut malam, tetapi sniper andalannya masih siaga untuk melindungi nyawanya. "Kau akan kaget jika tahu yang sebenarnya terjadi Stella. Tetapi aku mau kau mengetahui semuanya setelah kau jatuh cinta padaku," gumam Alby di dalam hati.