Want My Wife

Want My Wife
Bab. 45



Stella memandang wajah Alby dengan wajah memelas. Wanita itu begitu ketakutan tapi dia tidak mau sampai mati dibunuh oleh Gavin.


"Gavin, lepaskan istriku. Dia tidak bersalah. Kenapa kau melukainya hingga seperti ini?" Alby masih berusaha untuk membujuk Gavin.


"Berdiri Stella!" paksa Gavin.


Stella memaksa tubuhnya yang lemah untuk berdiri. Alby kaget Bukan main melihat gaun Stella dipenuhi dengan darah. Pria itu murka. Dia tidak suka wanita yang ia cintai disakiti oleh pria lain.


"Alby, anak kita," lirih Stella dengan derai air mata yang begitu deras.


Mendengar perkataan Stella membuat Alby naik pitam. Kini Gavin sudah melakukan kesalahan yang begitu fatal. Dia bukan hanya melukai Stella tetapi juga melukai calon anak yang ada di dalam kandungan Stella.


"Anak ini anakku. Jangan pernah bermimpi untuk mengakuinya!" Gavin mengalungkan tangannya di leher Stella lalu melekatkan ujung pistol itu di pelipis kanan Stella. Bersamaan dengan itu pasukan mafia milik Gavin juga muncul untuk menolongnya. Pria itu merasa sangat percaya diri walau kali ini dia tidak akan tertangkap lagi.


Satu pasukan polisi yang tertembak oleh sniper milik Gavin membuat suasana semakin kacau. Jika dilihat dari jumlah jelas saja polisi dan Alby akan kalah. Gavin tertawa puas.


"Kalian semua akan mati di tanganku!" teriaknya seperti orang gila.


"Alby pergilah. Tinggalkan tempat ini. Jangan membahayakan nyawamu sendiri. Aku baik-baik saja. Apapun yang terjadi dia tidak akan mungkin sampai hati untuk membunuhku. Tetapi denganmu. Sejak kemarin dia memang sudah mengincar nyawamu," ucap Stella kepada Alby.


Gavin mencium pipi Stella di depan Alby. Pria itu sengaja melakukannya agar Alby semakin sakit hati dan emosi.


"Di sini kau mati-matian mengakui anak yang jelas-jelas bukan anak kandungmu. Tapi di sana ada seorang wanita yang sudah mengandung anak kandungmu tetapi tidak kau akui!" ucap Alby dengan geram.


Stella kaget bukan main ketika tahu kalau anak yang dikandung Marta adalah anak Gavin. Namun wanita itu juga tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia melihat belati yang ada di pinggang Gavin. Ketika Gavin lengah wanita itu mengambil belati tersebut dan menusukkannya ke perut Gavin.


DUARRRR


Lea segera melepas tembakannya ke pria yang ada di dekat Gavin. Alby menarik Stella ketika Gavin menahan rasa sakit atas luka tusukan yang ia dapat. Pria itu menggenggam tangan Stella dengan begitu erat.


Di waktu yang bersamaan pasukan Gavin juga menembak ke arah gerombolan polisi yang ingin membantu Alby.


Adu tembak tidak bisa dihindari lagi. Masing-masing dari mereka saling menyelamatkan diri.


Alby yang berhasil memeluk Stella membawanya berlindung di bawah meja. Pria itu mengambil senjata dan menembak ke arah tempat pasukan Gavin berada.


"Sejak kapan kau pandai menembak?" tanya Stella pelan.


"Sejak aku cinta padamu. Aku tidak mau wanita yang aku cintai disakiti. Tenanglah aku sudah ada di sini. Kau dan anak kita pasti akan aman. Aku akan melindungi kalian berdua dengan nyawaku."


Dari kejauhan, Cesy mengintai Alby dan juga Stella. Jika wanita itu sampai menarik pelatuk senjatanya maka habislah sudah riwayat sepasang suami istri itu. Cesy terlihat marah ketika tahu kakak kandungnya dilukai. Dia juga tidak bisa menguping pembicaraan orang-orang yang ada di sana. Memang sudah sejak lama Cesy dendam sama Stella. Dia merasa iri karena Stella bisa di perjuangkan mati-matian oleh Gavin dan Alby.


"Maafkan aku Alby," ucapnya pelan sebelum menarik pelatuk senjata itu secara perlahan.