
Stella membuka matanya secara perlahan ketika merasakan usapan lembut dari tangan hangat Alby. Pertama kali melihat wajah suaminya, dia langsung ingin bangkit. Alby membantu Stella duduk. Pria itu tidak mau sampai Stella sakit lagi.
"Apa yang ingin kau lakukan?" protes Alby.
Stella segera memeluk Alby. Wanita itu terlihat sedih namun juga bahagia karena sekarang sudah berada di dekapan suaminya lagi. "Aku takut," ucap Stella pelan.
"Apa yang kau takutkan? Aku sudah ada di sini. Aku akan selalu menjagamu."
"Bagaimana kalau Gavin datang lagi dan membawaku pergi. Dia pria yang sangat gila. Apa saja akan dia lakukan demi mendapatkan apa yang dia inginkan." Stella terlihat sangat ketakutan. Dia tidak mau di bawa pergi oleh Gavin seperti kemarin.
"Tidak akan. Dia tidak akan bisa membawamu pergi dariku," jawab Alby penuh keyakinan.
"Alby, kenapa kau tidak bilang kalau pria yang sudah menghamili Marta adalah Gavin? Kenapa kau merahasiakan semua ini dariku?"
"Aku tidak mau kau jadi kepikiran. Aku bisa mengatasi masalah ini sendirian tanpa harus melibatkanmu."
"Lalu bagaimana reaksi Marta ketika dia tahu kalau Gavin adalah mantan kekasihku?"
"Awalnya dia syok berat. Tetapi sekarang dia sudah bisa menerima semua kenyataan ini. Dia tidak lagi memiliki niat untuk menggugurkan anak yang ada di dalam kandungannya."
Bercerita soal kehamilan Stella jadi ingat dengan pil kontrasepsi yang selama ini ia konsumsi. Rasanya tidak mungkin kalau dia hamil karena selama ini Stella tidak pernah terlambat meminum pil pencegah kehamilan tersebut.
"Kenapa aku bisa hamil?"
"Kau memiliki suami. Kita sering melakukannya. Wajar saja kalau kau hamil," jawab Alby dengan santai.
"Bukan seperti itu maksudku. Tetapi-"
"Kau bingung karena selama ini telah meminum pil pencegah kehamilan tapi tetap bisa hamil?" tebak Alby asal saja.
"Kau mengetahuinya?" Stella mengeryitkan dahi.
"Alby, kenapa kau melakukan semua ini?"
"Karena aku mencintaimu, Stella. Aku tidak mau sampai kehilanganmu lagi. Aku ingin kau mengandung anakku agar kita bisa bersatu."
"Bahkan aku tidak tahu kalau aku sedang hamil," jawab Stella.
"Stella, rasanya menunggu 100 hari seperti menunggu 100 tahun. Aku ingin mengetahui jawabannya sekarang. Apakah sudah ada namaku di hatimu. Apakah kau sudah bisa mencintaiku? Aku sangat membutuhkan jawaban itu sekarang. Aku tidak mau hidup dalam ketidakpastian lagi."
"Aku tidak tahu apa ini cinta atau bukan. Yang aku tahu, aku tidak mau jauh-jauh darimu lagi. Aku ingin kau selalu ada di sisiku," jawab Stella dengan sungguh-sungguh.
Alby merasa bahagia mendengarnya. Walau belum ada kata cinta yang keluar dari bibir Stella. Setidaknya wanita itu sudah menunjukkan tanda-tanda akan membalas cintanya.
"Stella, sebenarnya ada sebuah rahasia yang sampai detik ini aku simpan rapat-rapat. Lama-kelamaan Aku mulai tidak sanggup untuk menyimpannya lagi darimu. Aku ingin memberitahumu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu aku serahkan semuanya padamu." Alby memasang ekspresi yang begitu serius hingga membuat Stella menjadi khawatir.
"Rahasia apa? Cepat katakan padaku. Aku ingin mendengarnya sekarang juga."
"Stella, akulah pria pertama-mu!"
Stella menggeleng kepalanya dengan tatapan tidak percaya. "Apa maksudmu? Pria pertama apa?"
"Malam itu aku memesan wanita bayaran di sebuah hotel. Kau mengetuk pintu kamarku dalam keadaan mabuk. Aku yang sudah tidak bisa menahan diri segera menarikmu masuk ke dalam. Aku tidak tahu kalau kau bukan wanita bayaran yang dikirimkan untukku. Setelah semua terjadi, aku meninggalkanmu begitu saja di kamar hotel. Aku mendapat telepon setelahnya. Lalu, aku menyesal ketika tahu kalau kau wanita baik-baik."
Stella meneteskan air mata mendengarnya. Pria asing yang selama ini menjadi mimpi buruknya ternyata suaminya sendiri. Stella tidak tahu harus apa. Dia juga tidak bisa membenci Alby karena kini mereka sudah menikah. Alby sudah bertanggung jawab. Bahkan dengan sabar memperjuangkan cintanya.
"Maafkan aku, Stella. Aku berniat untuk bertanggung jawab dengan menikahimu. Tetapi kau sudah menjalin hubungan dengan Gavin. Aku benar-benar sangat menyesal." Alby memegang tangan Stella dan mengecupnya berulang kali. Pria itu terlihat sangat bersalah. Stella masih diam tanpa tahu harus berbuat apa. Kabar ini merupakan kabar baik sekaligus mengecewakan baginya.
"Kenapa harus seperti ini? Kenapa pria itu harus Alby!" gumam Stella di dalam hati.