Want My Wife

Want My Wife
Bab. 22



Stella telah tiba di parkiran apartemen mewah milik Alby Zakary. Ya, tanpa di sadari Stella, ternyata Alby bukan hanya sekedar membeli sebuah kamar apartemen. Tetapi, pria itulah yang memiliki gedung apartemen tersebut. Di bilang kaya, memang kekayaan Alby sangat berlimpah. Stella termasuk wanita yang beruntung. Ketika di luar sana banyak sekali wanita yang berjuang keras untuk mendapatkan perhatian seorang Alby Zakary.


"Tunggu di sini." Alby turun lebih dulu dari mobil ketika dua orang pria berpakaian rapi mendekati mobilnya. Alby bukan untuk menemui dua pria yang menghampirinya. Tetapi pria itu ingin membukakan pintu mobil untuk Stella. Dia memperlakukan Stella layaknya seorang permaisuri.


Stella segera turun dari mobil. Dia bahkan mau menerima uluran tangan Alby yang membantunya untuk turun. Setelah dia berdiri di samping Alby, dua pria itu menunduk hormat di hadapan Alby.


"Selamat datang, Tuan. Saya sudah menyiapkan ruangan terbaik untuk anda dan nyonya. Saya berani menjamin kenyamanan dan keamanan di ruangan tersebut. Letaknya di lantai 30. Khusus satu lantai itu hanya anda dan nyonya yang tinggal. Tidak ada akses ke lantai 30 kecuali satu lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh anda dan Nyonya. Penjagaan di depan lift juga di jaga oleh pria bersenjata. Semoga anda bisa merasa nyaman selama tinggal di apartemen ini," jelas pria itu secara detail. Pria itu adalah orang yang ditugaskan Alby untuk mengelolah apartemen tersebut. Selain bisa di percaya, pria itu juga sangat hebat dalam bela diri dan menembak. Alby merasa percaya diri kalau selama dia dan Stella tinggal di apartemen ini, Gavin tidak akan bisa menemui Stella seperti yang biasa dia lakukan selama ini.


"Baiklah. Antarkan kami ke sana." Alby memandang Stella dan tersenyum. "Ayo kita masuk."


Stella masih terlalu asyik memperhatikan gedung apartemen mewah tersebut. Desainnya yang modern membuat Stella sadar kalau suaminya itu kaya raya.


"Stella," sapa Alby lagi ketika Stella hanya diam saja.


"Hmm, ya." Stella juga melangkah maju. Dua pria tadi berjalan di belakang Alby dan Stella. Mereka memperhatikan keadaan sekitar untuk memastikan lokasi di sana aman.


Setibanya di depan lift khusus, Stella lagi-lagi tidak berhenti melihat kemewahan gedung apartemen milik suaminya itu. Memang Stella juga berasal dari keluarga menengah ke atas. Namun, keluarganya tidak sekaya ini. Sama halnya dengan Gavin. Stella tahu kalau Gavin memiliki cukup banyak uang untuk membahagiakannya. Tetapi pria itu tidak pernah memperlihatkan aset berharga yang ia miliki. Bahkan Stella sendiri tidak tahu, selain bisnisnya di dunia gelap. Usaha apa lagi yang dimiliki Gavin hingga pria itu bisa terlihat mentereng selama ini.


"Apa yang kau pikirkan? Kau takut?" bisik Alby ketika mereka sudah ada di dalam lift.


"Tidak. Aku hanya mengantuk saja," dusta Stella. Wanita itu memandang pantulan dirinya di cermin yang ada di depan. Wajahnya memang kusut karena akhir-akhir ini dia lupa untuk perawatan diri.


"Setelah tiba di kamar kau bisa tidur," jawab Alby. Dua pria yang juga ada di dalam lift hanya diam sambil menunduk. Mereka bahkan tidak berani memandang cermin yang ada di hadapannya.


Lift terbuka lebar. Kedatangan mereka di sambut oleh empat pria bersenjata. Stella tahu kalau suaminya memiliki banyak uang. Jelas saja membayar pria bersenjata seperti itu sangat mudah baginya. Empat pria bersenjata itu menunduk hormat dan meletakkan senjata mereka di samping. Dua pria tadi memberi jalan kepada Alby dan Stella.


Lagi-lagi Alby menggandeng tangan Stella dan tidak mau melepaskannya. Mereka berjalan beriringan menuju ke sebuah pintu yang ada di lorong tersebut.


Ketika melewati dua pintu, Alby ingin tahu sebenarnya ruangan apa itu.


"Bukankah kalian bilang hanya aku dan Stella yang akan menempati lantai ini? Kenapa harus ada dua kamar lagi?" Wajah Alby sedikit protes.


"Tuan, ruangan yang satu adalah salon dan ruangan yang satunya lagi bisa digunakan untuk olahraga. Kamar yang anda miliki memang sudah cukup luas dan lengkap. Tetapi, kami memisahkan ruangan untuk perawatan Nyonya dan untuk olahraga anda agar peralatan yang kami masukkan jauh lebih lengkap. Tanpa perlu keluar kamar, Nyonya bisa ke salon. Tanpa perlu turun ke lantai bawah, anda bisa olahraga di dalam ruangan ini. Ruangannya menghadap langsung ke danau. Apa anda ingin melihat ruangannya terlebih dahulu Tuan?"


Alby memandang Stella. Tanpa persetujuan istrinya, dia tidak akan membawa wanita itu untuk melihat detail ruangan gym dan salon yang baru saja dibicarakan.


"Apa kau mau masuk untuk melihat isi di dalamnya?"


Stella mengangguk setuju. Entah kenapa dia sangat tertarik untuk melihat isi di dalam ruangan itu.


"Baiklah, Tuan. Ini adalah salon." Pria itu membuka pintunya dengan menggunakan kartu. "Silahkan masuk."


Alby dan Stella masuk ke dalam. Ruangan yang sangat terang dan nyaman. Desainnya sangat mirip dengan desain salon ternama. Dikelilingi kaca yang sangat luas. Fasilitasnya sangat lengkap. Stella bahkan sudah merasakan betapa nyamannya perawatan di ruangan itu walaupun sekarang dia belum melakukannya.


"Kami sudah menyiapkannya Tuan. Jika Nyonya ingin ke salon, kami akan segera meanggilnya. Dia selalu stay di lantai bawah."


Alby mengangguk pelan. Dia berjalan mendekati kaca raksasa yang ada di hadapannya. Mengangkat tangannya dan menyentuh kaca itu sambil memikirkan sesuatu.


"Kacanya anti peluru. Nyonya akan tetap aman selama berada di dalam salon ini, Tuan."


Alby mengukir senyuman. Memang jawaban seperti itu yang dia inginkan. "Bailklah, tunjukkan aku di mana ruangan tempat kami tinggal. Sepertinya istriku butuh istirahat sekarang juga."


***


"Baby, kau benar-benar nikmat. Kau mernbuatku gila. Apa kau mau melakukannya sekali lagi? Aku akan gila jika lepas darimu."


Stella tidak dapat melihat jelas wajah pria itu. Dia menindih Stella dan mencumbunya dengan panas. Stella seperti pasrah saja. Dia tidak memiliki secuil tenagapun untuk mendorong pria itu dari atas tubuhnya. Tangannya yang nakal menggoda Stella hingga mendesah kenikmatan.


"Kau menyukainya baby?"


Stella berusaha melihat wajah pria yang bicara padanya. Kedua matanya melebar melihat pria itu.


"Aku pria pertamamu. Sampai kapanpun, hanya aku yang boleh memiliki tubuhmu!"


Stella terbangun dari mimpi eksotis yang mengganggu tidur siangnya. Wanita itu segera duduk dengan napas terengah-engah. Stella masih berusaha fokus dengan pandangan di depannya sebelum memandang ke samping dan mencari keberadaan Alby.


"Dimana dia?" tanyanya pelan. Stella menjambak rambutnya. Lagi-lagi mimpi buruk itu datang. Mimpi dimana Stella harus kehilangan kehormatannya. Dia seperti sudah pernah bertemu dengan pria itu. Di dalam mimpi wajah pria itu sangat jelas. Tetapi, ketika sudah membuka mata. Wajah pria itu tidak tersimpan lagi di dalam ingatannya. Stella selalu frustasi di buatnya. Belum lagi bisikan pria itu selalu membuatnya tidak nyaman.


"Stella, kau sudah bangun?"


Stella segera memandang ke pintu mendengar suara suaminya. Dia melihat Alby mengenakan setelan santai berwarna abu muda. Rambut pria itu basah yang menandakan kalau dia baru saja selesai mandi.


"Apa kau sudah makan siang?" tanya Stella.


"Belum. Kau ingin makan apa? Aku akan pesan makanan dari restoran terdekat."


"Tidak perlu." Stella menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya hingga memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Wanita itu hanya mengenakan tang top dan hot pant ketat. Bodinya yang bak ramping terlihat jelas dan menggoda. "Aku saja yang masak," tawar Stella. Tadi saat memeriksa dapur, wanita itu sempat membuka kulkas. Di dalamnya sudah dilengkapi sayur dan ikan yang lengkap. Stella hanya perlu menentukan sayur dan ikan yang akan ia masak.


"Kau yakin?" tanya Alby ragu. Dia tidak menyangka kalau Stella akan melakukan perannya sebagai istri hingga sedetail ini. Ini sungguh membahagiakan.


"Ya," jawab Stella singkat. Wanita itu mengambil ikat rambut dan mengikat rambutnya. Lehernya yang jenjang membuat Alby harus menelan ludah.


"Biar aku bantu," tawar Alby sebelum mengikuti Stella menuju ke dapur.