
Alby meletakkan jam tangan di dalam lemari sambil mengamati ruangan sekitar. Setiap sudut ia perhatikan dengan saksama. Ia tahu kalau seseorang telah meletakkan cctv di ruangan tersebut. Alby mengetahui informasi ini dari wanita yang tadi merawat rambut Stella di salon. Bahkan wanita itu terpaksa membius Stella agar dia bisa menangkap pria yang masuk ke dalam apartemen.
Kecurigaannya memuncak ketika dia melihat beberapa pria yang berjaga di depan lift tertidur.
Walau tidak berhasil menangkap pria yang menyamar sebagai cleaning servise tersebut, tetapi dia berhasil menemukan cctv yang belum terpasang. Entah apa tujuannya dan entah siapa yang menyuruh wanita itu tidak tahu. Dia segera memberi tahu Alby tentang semua yang terjadi. Informasi itu yang membuat Alby segera pulang untuk memeriksa keadaan istrinya.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Stella mengeryitkan dahinya melihat Alby berdiri mematung di depan lemari. Padahal tadinya Alby pamit ingin mandi.
"Aku menunggumu," goda Alby asal saja. Dia memutar tubuhnya untuk melihat Stella. Tanpa sengaja, Alby menemukan camera cctv yang diletakkan di meja rias. Dekat vas bunga. Ukurannya kecil namun Alby yakin kalau itu memang camera cctv.
"Ada yang ingin dibicarakan? Kenapa menungguku?" tanya Stella dengan polosnya.
"Untuk apa dia memasang cctv di sana? Apa ini semua rencana Gavin? Apa dia sengaja meletakkan camera cctv di sana agar bisa melihat wajah istriku setiap saat? Tidak! Tidak akan aku biarkan. Aku akan membuatmu menyesal karena sudah lancang mengintip istriku!" umpat Alby di dalam hati.
"Alby, ada apa?" tanya Stella lagi ketika Alby tidak kunjung menjawab.
"Apa yang bisa aku lakukan?" Stella mengeryitkan dahinya.
"Buatkan aku kopi. Setelah mandi aku ingin bekerja sambil minum kopi," jawab Alby.
"Baiklah. Saat kau selesai mandi, aku jamin kopinya sudah ada."Stella memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan kamar. Alby segera berjalan mendekati cctv tersebut. Ia ingin memeriksanya dari dekat. Alby memandang camera itu dari dekat. Camera itu aktif. Alby membawa camera itu dan meletakkanya di lain tempat. Posisinya bisa melihat jelas tempat tidur. Entah rencana apa yang sudah dia persiapkan untuk membuat Gavin emosi.
"Hei, apa kau bisa melihatku? Apa kau bisa mendengarku?" ucap Alby sambil memandang ke camera. "Oke, baiklah. Sepertinya kau sangat ingin tahu seperti apa hubunganku dengan Stella. Bukankah kau tidak percaya saat aku katakan kalau Stella telah menyerahkan dirinya kepadaku? Baiklah, aku akan buktikan nanti." Alby menahan kalimatnya. "Oh ya, siapkan tisu. Sepertinya kau akan menangis karena sakit hati. Aku mau mandi. Aku harus wangi sebelum melakukan aktifitas yang melelahkan." Alby mengukir senyuman licik sebelum meninggalkan camera tersebut.
Gavin mengepal kuat tangannya melihat tingkah laku Alby di camera cctv. Sebenarnya bukan hanya di kamar saja. Anak buah bayaran Gavin telah berhasil meletakkan camera cctv di dapur. Setelah emosi melihat Alby, kini pria itu bisa kembali tenang melihat wajah cantik Stella yang sedang membuat kopi. Walau sudah memakai baju tidur dan tanpa make up, tetap saja dia terlihat cantik.
"Stella sayang, aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu. Aku yakin kau tidak akan sanggup berpisah dariku. Kau masih sangat mencintaiku bukan?" gumam Gavin dengan penuh percaya diri. "Hari ini aku memang gagal menemuimu. Tetapi, setidaknya aku bisa melihat wajah cantikmu sayang." Gavin mengusap layar monitor yang ada di hadapannya seolah dia sedang mengusap pipi Stella. Pria itu bahkan juga mendekati wajahnya dan mencium Stella dari kejauhan. "Aku sangat merindukanmu sayang. Aku yakin kau tidak akan mudah melupakanku. Kau tidak akan mudah melupakan kenangan di antara kita."