Want My Wife

Want My Wife
Bab. 43




Alby hanya bisa diam dengan wajah melamun. Beban yang ia pikul saat ini benar-benar berat. Istri hilang, adik hamil di luar nikah, ibu kandung sakit dan tidak bisa jalan. Entah masalah mana dulu yang ingin dia selesaikan. Semuanya penting. Mereka bertiga adalah bagian terpenting dalam hidup Alby saat ini.


Lea yang juga ada di ruangan itu hanya bisa diam memandang Alby. Wanita itu ingin membantu. Bahkan tanpa di suruh juga sudah membantu Alby untuk mencari keberadaan Stella. Tetapi mereka belum berhasil. Lea sendiri juga merasa bersalah karena dia telah gagal menjaga Stella waktu itu.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan mereka," ucap Lea dengan nada yang pelan karena takut.


"Apa tidak ada petunjuk apapun tentang Stella?"


Lea menunduk lagi. "Tidak ada, Tuan."


"Bukankah semalam dia sempat menghubungiku? Apa kalian tidak berhasil melacak keberadaannya?"


"Tidak, Tuan. Maafkan kami."


Alby menjatuhkan tubuhnya di sandaran kursi. Pria itu menatap Lea yang kini masih menunduk. "Masalah ini akan selesai jika kita berhasil bertemu dengan Gavin. Sekarang target kita adalah dia. Gunakan cara apapun agar Gavin bisa ditemukan."


"Apapun, Tuan?"


"Ya, apapun!"


Lea tersenyum. "Baik, Tuan. Saya akan segera memberi anda kabar baik. Saya permisi dulu."


Alby hanya mengangguk saja. Pria itu memejamkan mata sambil mengusap wajahnya dengan tangan. Lelah. Rasanya sangat lelah. Makan tidak teratur di tambah tidur tidak nyenyak. Dia kehilangan semangat hidupnya kali ini.


"Stella sayang ... apa yang kau lakukan bersama pria itu? Apa saat ini kalian sedang bersenang-senang?"



Stella keluar dari kamar ketika Gavin menjemputnya. Sambil berjalan wanita itu memikirkan keadaan Alby. Dia sempat kesal karena sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Alby mencarinya. Wanita itu Sudah muat terus-terusan berada di samping Gavin.


"Sayang, kita jalan-jalan di luar ya. Tapi sebelum jalan-jalan sebaiknya kau minum susu dulu," ucap Gavin sembari menggandeng pinggang ramping Stella.


"Susu? Aku tidak suka susu," tolak Stella. Wanita itu memandang Gavin sebelum menyingkirkan tangan pria itu. "Jika memang ingin pergi ayo segera pergi. aku tidak perlu minum susu terlebih dahulu."


Rasanya Stella mulai curiga dengan gerak-gerik Gavin kali ini. Jarang-jarang Gavin memaksanya minum susu seperti ini. Sejenak Stella berpikir kalau mungkin saja Gavin ingin menjebaknya.


"Ini benar-benar aneh. Aku harus waspada," gumam Stella di dalam hati. Dia mengikuti langkah Gavin yang kini membawanya menuju ke meja makan.


"Ini susunya. Aku yang sudah membuat susu ini," jawab Gavin sambil tersenyum.


Stella melirik susu itu sejenak sebelum duduk. Biasanya setiap kali melihat susu dia sudah merasa mual. Tapi ini tidak. Justru Stella sangat ingin meminum susu tersebut.


"Cepat di minum. Kalau dingin tidak enak lagi," ucap Gavin. Pria itu mengusap punggung Stella dengan lembut.


Sebenarnya Stella ingin sekali meneguk susu itu. Tetapi dia tidak mau sampai terperangkap dalam jebakan Gavin. Wanita itu memegang susunya sebelum dengan sengaja dia lepaskan agar terjatuh.


Pranggg


Suara gelas yang pecah membuat Gavin kaget. Pria itu memandang susu yang ia buat sebelum memandang Stella dengan amarah tertahan. Stella cepat-cepat berdiri dengan wajah bersalah.


"Maafkan aku." Stella berjongkok. Dia ingin menunjukkan rasa bersalahnya di depan Gavin.


"Kau sengaja melakukannya!" Gavin menarik tangan Stella agar kembali berdiri.


"Aku tidak sengaja," sangkal Stella.


"Aku melihatnya dan kau memang melakukannya dengan sengaja. Kau tidak mau meminum susu itu bukan? Stella, seumur hidupku Ini pertama kalinya aku buat susu. Dan apa kau tahu? Susu itu aku buat untukmu. Aku tidak memasukkan apapun ke dalamnya!" Nada bicara Gavin yang meninggi membuat Stella percaya kalau memang susu itu tidak di campur apapun.


"Aku tidak suka susu," dusta Stella lagi.


"Tapi mulai sekarang kau harus minum susu demi anak yang ada di dalam kandunganmu!"


Stella mematung mendengarnya. Sama dengan Gavin yang kini membatu karena salah bicara.


"Anak kau bilang?"